Menuju konten utama

9 Teks Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan 7 Menit

Khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan bisa berisi pesan motivasi agar jemaah lebih giat beribadah. Berikut ini kumpulan teks khutbah Jumat singkat 7 menit.

9 Teks Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan 7 Menit
Ilustrasi Ramadan. Adapun khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan bisa memberikan motivasi agar para jemaah lebih semangat dalam beribadah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan 7 menit dapat menjadi sarana dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Teks khutbah akhir Ramadan ini bisa memuat beragam topik, terutama tentang amalan-amalan pada penghujung bulan puasa.

Adapun khutbah Jumat biasanya meliputi dua bagian. Khutbah pertama merujuk kepada tausiyah atau pesan, sementara khutbah kedua berisi doa-doa dan pujian kepada Allah SWT.

Penceramah bisa menyesuaikan isi khutbah Jumat singkat 7 menit dengan kondisi dan kebutuhan pendengar. Contohnya khatib bisa menyampaikan teks khutbah Jumat 7 menit yang memotivasi jemaah agar memaksimalkan ibadah di sisa waktu bulan suci.

Kumpulan Judul Khutbah Singkat 7 Menit tentang Jumat Terakhir Ramadan

Terdapat beberapa topik khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan yang bisa menjadi pilihan khatib. Mulai dari motivasi untuk memaksimalkan ibadah hingga cara menjaga semangat Ramadan di bulan-bulan selanjutnya.

Berikut kumpulan materi khutbah Jumat singkat 7 menit yang dapat menjadi referensi.

1. Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan: Maksimalkan Ibadah

Ilustrasi Salat
Ilustrasi Salat. foto/istockphto

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan rahmat dan magfirah-Nya.

Kita telah berada di penghujung bulan Ramadan, bulan penuh berkah ini begitu cepat berlalu. Ramadan adalah tamu istimewa yang membawa berbagai keutamaan lantaran di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatulqadar.

Oleh karena itu, sebagai hamba yang beriman, sudah seharusnya kita memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya. Khususnya di waktu-waktu terakhir Ramadan.

Jemaah yang dirahmati Allah, Rasulullah SAW telah memberikan teladan terbaik dalam memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, beliau berkata:

“Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut,” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan bagaimana kesungguhan Rasulullah dalam beribadah di akhir Ramadan. Beliau telah dijamin masuk surga, tetapi tetap bersemangat dalam beribadah di hari-hari terakhir Ramadan.

Sebagai umat Islam, tentunya kita harus mencontoh suri teladan kita yang tak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Kita harus berusaha meningkatkan kualitas ibadah kita, baik dengan memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, maupun berdoa.

Apalagi di 10 hari terakhir Ramadan ini terdapat Lailatulqadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini adalah malam penuh keberkahan karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya.

Maka, tak ada alasan bagi kita untuk bersantai-santai. Sebaliknya, marilah kita bersungguh-sungguh dalam beribadah, memohon ampunan, dan berdoa agar kita mendapatkan keutamaan malam Lailatulqadar.

Jemaah yang dimuliakan Allah, selain memperbanyak ibadah individu, kita juga dianjurkan untuk meningkatkan kepedulian sosial, salah satunya dengan memperbanyak sedekah.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Beliau semakin dermawan ketika berada di bulan Ramadan.

Salah satu bentuk kepedulian yang diwajibkan di bulan Ramadan adalah membayar zakat fitrah. Ibadah ini termasuk sebagai penyempurna ibadah puasa kita.

Selain zakat, kita juga dianjurkan untuk bersedekah, baik dengan materi, ilmu, atau tenaga. Bersedekah adalah ibadah yang tergolong mudah, tapi memiliki keutamaan yang luar biasa.

Jemaah yang dirahmati Allah.

Kesempatan di bulan Ramadan ini tidak akan datang dua kali dalam setahun, bahkan mungkin menjadi Ramadan terakhir kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita menyesal karena menyia-nyiakan momen berharga ini.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

2. Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan Singkat: Refleksi Diri

Ilustrasi Muhasabah Diri
Ilustrasi Muhasabah Diri. Getty Images/iStockphoto

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,

Hari ini, kita telah berada di penghujung Ramadan. Sebentar lagi bulan yang penuh rahmat ini akan meninggalkan kita. Setiap orang tidak tahu apakah akan bertemu lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang.

Sebelum bulan ini benar-benar berlalu, mari sempatkan diri kita untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Apakah kita sudah memanfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya? Apakah puasa kita benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Puasa adalah ibadah mulia yang bisa mendatangkan rida dan berkah Allah, bahkan bisa menghapus dosa jika kita melakukannya dengan penuh keikhlasan.

Di Jumat terakhir Ramadan ini, mari sejenak bertanya pada diri sendiri. Apakah kita telah mencapai tujuan puasa yang sejati atau hanya sekadar menahan lapar dan haus? Apakah hati kita menjadi lebih bersih? Apakah ibadah kita lebih khusyuk?

Jemaah yang dirahmati Allah, salah satu cara terbaik untuk melakukan refleksi diri. Adapun refleksi di akhir Ramadan adalah dengan merenungkan seberapa banyak waktu yang telah kita manfaatkan untuk ibadah.

Seberapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk tilawah Al-Qur’an, seberapa sering kita melaksanakan salat malam dengan sungguh-sungguh, atau seberapa banyak kita berdoa dan memohon ampunan kepada Allah.

Ramadan sejatinya mengajarkan kita banyak hal. Ia mengajarkan kita kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Keberhasilan dari puasa ini bisa dilihat dari sikap dan perilaku seseorang.

Jika seorang muslim masih sering melanggar perintah Allah, sering melakukan maksiat, tidak pernah ikhlas dalam beribadah, atau tidak peduli pada sesama, maka sia-sialah Ramadan yang ia lalui.

Jangan sampai kita semua menjadi orang seperti itu. Di penghujung Ramadan ini, mari lakukan muhasabah diri. Kita evaluasi apa saja kesalahan kita dan lakukan perbaikan sesegera mungkin.

Jama’ah yang dimuliakan Allah.

Refleksi diri di akhir Ramadan ini juga harus mencakup niat dan tekad kita untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita lakukan selama bulan suci ini.

Jangan sampai setelah Ramadan, kita kembali lalai dalam salat, malas membaca Al-Qur’an, atau enggan bersedekah. Sebaliknya, jadikanlah Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bertakwa.

Marilah kita memohon kepada Allah agar menerima segala amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan di tahun yang akan datang dalam keadaan iman yang lebih kuat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

3. Khutbah Jumat Singkat 7 Menit: Jangan Lupa Berzakat

Ilustrasi Zakat
Ilustrasi Zakat. foto/istockphoto

Jemaah Jumat rahimakumullah.

Sebagai umat Islam, kita telah diberikan banyak nikmat oleh Allah, salah satunya adalah kesempatan untuk menjalani ibadah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

Kini, kita berada di penghujung Ramadan. Di sisa waktu yang ada, mari manfaatkan setiap detiknya dengan amal ibadah yang lebih maksimal, termasuk menunaikan zakat.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib kita tunaikan, terutama zakat fitrah yang menjadi penyempurna ibadah puasa kita. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari hadis ini, kita memahami bahwa zakat fitrah memiliki keutamaan spiritual sekaligus sosial. Zakat fitrah adalah bentuk penyucian jiwa orang-orang mukmin. Zakat ini mampu membersihkan diri kita dari segala kekhilafan yang pernah dilakukan selama Ramadan.

Hal ini menjadi pengingat bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna, tidak luput dari kesalahan, dan kita membutuhkan pembersihan jiwa, salah satunya melalui zakat fitrah.

Di sisi lain, zakat fitrah juga merupakan bentuk kepedulian sosial, terutama bagi mereka yang kurang mampu dari segi finansial. Zakat fitrah seolah menjamin bahwa saudara-saudara kita tidak akan ada yang kelaparan di hari kemenangan, dan dari zakat fitrah ini pula tercipta tali persaudaraan antar sesama.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah, selain zakat fitrah, kita juga dianjurkan untuk menunaikan zakat mal bagi yang telah mencapai nisab dan haulnya. Zakat mal ini mencakup zakat penghasilan, zakat emas dan perak, serta zakat harta lainnya.

Bagi mereka yang memiliki simpanan harta yang telah mencapai nisab dan haul, mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen tentu bukan sesuatu yang susah, kecuali jika iman dan takwanya masih sangat kurang.

Harta yang kita miliki sejatinya adalah titipan Allah dan di dalamnya terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Jangan pernah takut kekurangan harta karena berzakat.

Zakat justru membersihkan harta dan membuatnya menjadi lebih berkah. Harta yang berkah pastinya akan mendatangkan lebih banyak kebaikan dalam hidup kita.

Saat ini, banyak lembaga zakat yang siap menyalurkan zakat kita kepada mereka yang berhak menerimanya. Jangan ragu untuk menyalurkan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita jadikan penghujung Ramadan ini sebagai momen untuk meningkatkan kepedulian sosial kita dengan menunaikan zakat tepat waktu. Semoga dengan zakat yang kita keluarkan, Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan keberkahan dalam kehidupan kita.

4. Teks Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan: Menyambut Hari Kemenangan

Ilustrasi Idul Fitri
Ilustrasi Idul Fitri. foto/IStockphoto

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah.

Berbahagialah kita yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan. Namun, di mana ada pertemuan, maka kita juga akan merasakan perpisahan. Kini, kita berada di penghujung bulan Ramadan dan bulan penuh berkah ini akan segera pergi meninggalkan kita.

Bulan Ramadan telah memberikan begitu banyak pelajaran dan memiliki banyak keutamaan. Walau berlalunya Ramadan membuat kita sedih, mari tetap bersyukur karena sebentar lagi kita juga akan memasuki hari kemenangan, yaitu Idulfitri.

Di hari inilah kita kembali kepada fitrah setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa. Idulfitri adalah momen kebahagiaan bagi setiap muslim yang telah menjalankan segala ibadah Ramadan dengan penuh keikhlasan.

Tentu ada alasan mengapa Idulfitri disebut sebagai hari kemenangan. Kemenangan yang dimaksud adalah keberhasilan kita melalui Ramadan baik dalam hal melawan hawa nafsu, menjaga ketaatan pada Allah SWT, kemenangan menggapai ampunan Allah, hingga kemenangan dalam menyucikan diri dengan berzakat.

Hari kemenangan yang kita rayakan bukanlah sekadar perayaan biasa, tapi juga merupakan simbol keberhasilan kita dalam beribadah. Kendati demikian, hal ini bukan berarti kita boleh mengurangi ibadah seusai Idulfitri.

Sebaliknya, kita harus jadikan Idulfitri sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Jamaah yang berbahagia, di hari kemenangan ini, ada banyak amalan yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah menjalin silaturahmi dan saling memaafkan. Silaturahmi adalah salah satu ibadah yang sangat bernilai jika dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahmi,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kepada kita tentang keutamaan dalam menjaga ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai hari kemenangan kita ternodai dengan perselisihan dan permusuhan. Idulfitri justru harus menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan.

Namun, sebelum Idulfitri tiba, mari pastikan bahwa kita telah menunaikan kewajiban kita di bulan Ramadan, salah satunya zakat fitrah. Zakat fitrah adalah amalan yang dapat menyucikan jiwa sekaligus mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Zakat fitrah juga memberikan manfaat tersendiri bagi orang lain, khususnya bagi mereka yang kekurangan dan memang berhak mendapatkan zakat. Jangan sampai kita merayakan Idulfitri dalam kebahagiaan sementara ada saudara-saudara kita yang masih dalam kesusahan.

Maka, tunaikan zakat fitrah dengan penuh keikhlasan agar kebahagiaan di hari kemenangan ini dapat dirasakan oleh semua orang. Menunaikan zakat fitrah juga merupakan salah satu bentuk kemenangan di bulan Ramadan yang patut dirayakan di hari Idulfitri yang akan tiba sebentar lagi.

Jemaah yang dimuliakan Allah, Idulfitri sudah semakin dekat, walau kita sibuk mempersiapkan perayaan ini, jangan biarkan ibadah kita semakin berkurang.

Sebaliknya, di penghujung Ramadan, kita harus semakin meningkatkan ibadah karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih bisa bertemu dengan Ramadan berikutnya di tahun-tahun mendatang.

Mari tetap giat beribadah, memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan sebaik-baiknya, dan marilah kita berbahagia menyambut hari kemenangan yang akan tiba. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan kita keberkahan di dunia serta kebahagiaan di akhirat.

5. Khutbah Akhir Ramadhan Terbaik: Lailatulqadar

Ilustrasi Malam Lailatul Qadar
Ilustrasi Malam Lailatul Qadar. FOTO/iStockphoto

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah.

Seiring dengan berkurangnya sisa waktu Ramadan, marilah kita semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Mari menjalankan segala perintah-Nya, menjalankan sunah Nabi, dan menjauhi segala larangan agama.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Ramadan adalah bulan ketika pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di bulan ini pula kita mendapatkan kesempatan untuk meraih pahala yang berlipat ganda serta menggapai ampunan Allah SWT.

Namun, saat ini kita telah berada di penghujung bulan Ramadan yang artinya bulan yang sangat istimewa ini akan segera meninggalkan kita semua. Sebelum Ramadan benar-benar pergi, Allah telah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat spesial bagi umat Islam, yaitu malam Lailatulqadar.

Lailatulqadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari 1000 Bulan. Ini adalah malam diturunkannya kitab suci Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan,” (QS Al-Qadr: 1-3).

Melalui ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa Lailatulqadar adalah malam yang sangat istimewa, di mana amal ibadah yang kita lakukan memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan ibadah selama 1000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Lailatulqadar adalah anugerah yang sangat besar dari Allah SWT sehingga umat Islam sangat dianjurkan untuk mencari malam kemuliaan tersebut, dan penghujung Ramadan adalah waktu-waktu terbaik untuk berburu Lailatulqadar, khususnya di malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.

Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan malam Lailatulqadar. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sesungguhnya bulan ini (Ramadan) telah datang kepada kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari (meraih)nya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan,” (HR Ibnu Majah).

Malam Lailatulqadar ini tidak ditentukan secara pasti kapan waktunya, tapi berdasarkan berbagai hadis, tanda-tandanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Salah satu tanda yang disebutkan dalam hadis adalah suasana malam yang tenang, tidak terlalu panas maupun dingin, serta sinar matahari di pagi harinya tampak lembut tanpa sinar yang menyilaukan.

Jamaah Jumat yang berbahagia, apa yang sebaiknya kita lakukan dalam menghidupkan malam Lailatulqadar? Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita dengan memperbanyak ibadah di malam-malam terakhir Ramadan.

Kita dianjurkan untuk memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bersedekah, dan juga iktikaf di masjid bagi yang tidak berhalangan. Jangan sampai kita melewatkan malam yang penuh keberkahan ini dengan kesibukan dunia yang tidak bermanfaat.

Betapa ruginya jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kesungguhan dalam beribadah, terutama di malam-malam terakhir Ramadan ini. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal karena melewatkan malam penuh kemuliaan ini.

Mari kita berdoa agar Allah memberikan kita kesempatan untuk meraih Lailatulqadar dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan keberkahan dan ampunan-Nya. Semoga Ramadan ini menjadikan kita insan yang lebih bertakwa dan lebih dekat kepada Allah SWT.

6. Khutbah Jumat Singkat 7 Menit: Ibadah Tak Boleh Surut

ilustrasi berdoa
ilustrasi berdoa. FOTO/iStockphoto

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah.

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua kewajiban yang ditetapkan Allah serta menjauhkan diri kita dari segala larangan-Nya dan hal-hal yang telah diharamkan oleh-Nya.

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya Ramadan. Akan tetapi, tidak terasa kini kita telah berada di penghujung bulan. Ini adalah jumat terakhir di bulan Ramadan yang artinya tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah kembali dengan bulan yang penuh berkah ini.

Di penghujung Ramadan, kita akan melihat fenomena yang cukup signifikan yang terlihat di kehidupan masyarakat. Semakin mendekati Idulfitri, maka sebagian dari kita akan makin sibuk dengan urusan dunia.

Ada yang sibuk membersihkan rumah, sibuk memilih dan membeli baju baru, mempersiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, hingga berusaha memenuhi kebutuhan lainnya untuk hari raya. Tidak ada larangan mengenai hal itu, tetapi jangan sampai kesibukan duniawi ini melalaikan kita dari ibadah kepada Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi,” (QS Al-Munafiqun: 9).

Ayat ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak lalai dalam mengingat Allah, terutama di 10 hari terakhir Ramadan yang memiliki keutamaan besar. Jangan sampai kesibukan mencari kebutuhan dunia membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang melimpah di penghujung bulan suci ini.

Jemaah Jumat yang berbahagia, di saat-saat terakhir Ramadan, Rasulullah SAW justru semakin meningkatkan ibadahnya. Kita boleh saja sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk hari raya, tapi jangan sampai kesibukan ini membuat kita lupa untuk beribadah.

Mari memperbanyak salat malam dan salat sunah, mari lebih sering membaca Al-Qur'an, mari lebih sering berzikir dan berdoa, serta terus memperbanyak amalan-amalan ibadah lainnya sehingga mendatangkan berkah dari Allah SWT.

Jemaah yang dirahmati Allah

Salah satu bentuk ujian di akhir Ramadan adalah bagaimana kita mengelola waktu dan hati kita. Tak bisa dipungkiri bahwa pasti ada godaan yang selalu berusaha membuat kita lalai dan merasa cukup dengan ibadah yang telah dilakukan sejak awal Ramadan.

Padahal, justru di akhir Ramadan inilah Allah menjanjikan pahala yang lebih besar, bahkan terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatulqadar. Betapa ruginya jika kita menghabiskan waktu-waktu berharga ini dengan hal-hal yang tidak bernilai ibadah dan lebih sibuk dengan urusan dunia.

Sebagai umat Islam, kita harus cerdas dalam mengatur waktu. Jika kita ingin berbelanja, lakukanlah di waktu yang tidak mengganggu ibadah kita. Jangan sampai masjid-masjid menjadi sepi di akhir Ramadan karena orang-orang lebih memilih pergi ke pusat perbelanjaan daripada menghabiskan waktunya di rumah Allah.

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Marilah kita bersama-sama menjaga semangat ibadah kita hingga akhir Ramadan. Jangan biarkan kesibukan duniawi menghalangi kita dari meraih pahala yang besar.

Jadikanlah Ramadan ini sebagai momen untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan dan ampunan di bulan suci ini.

7. Teks Khutbah Jumat 7 Menit: Menjaga Spirit Ramadan

Ilustrasi Ramadhan
Ilustrasi Ramadhan. foto/istockphoto

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Sebagai umat Islam, mari kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mari kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan berkah-Nya, termasuk salah satunya dapat kembali bertemu dengan bulan Ramadan di tahun ini.

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan menjadi bulan yang sangat istimewa bagi seluruh umat Islam di dunia. Di bulan inilah kita bisa mendapatkan pahala yang berlipat ganda serta ampunan dosa dari Allah SWT.

Untuk mendapatkan semua keutamaan bulan Ramadan tersebut, kita dianjurkan untuk melakukan berbagai amal ibadah. Selain salat wajib dan berpuasa, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan doa, memperbanyak baca Al-Qur'an, bershalawat, bersedekah, menjalin tali silaturahmi, dan masih banyak lagi amalan baik yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan ini.

Setelah hampir satu bulan lamanya kita menikmati Ramadan, akhirnya kita sampai juga di penghujung bulan. Kita akan segera berpisah dengan bulan yang sangat istimewa ini, tapi perpisahan dengan Ramadan bukan berarti kita juga harus berpisah dengan segala amal ibadah yang telah biasa kita lakukan.

Tak bisa dipungkiri bahwa kita semangat beribadah di bulan Ramadan karena mengharapkan pahala dan ampunan dari Allah SWT. Setelah bulan Ramadan pergi, maka segala keutamaannya juga akan meninggalkan kita.

Saat itulah kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah semangat ibadah yang telah kita jalani selama Ramadan akan berakhir begitu saja ketika bulan ini berlalu?

Bulan-bulan lain mungkin memang tidak memiliki keutamaan seperti bulan Ramadan, tapi kita harus ingat bahwa rahmat Allah bisa datang kapan saja dan bisa datang setiap saat asalkan kita selalu berharap dan mengusahakannya.

Di bulan-bulan selain Ramadan, segala amal ibadah yang kita lakukan tetap akan diganjar dengan pahala yang luar biasa besar asalkan dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Di bulan-bulan selain Ramadan, kita juga masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dosa dari Allah SWT asalkan kita bersungguh-sungguh memohon ampun dan bertobat dari segala kesalahan yang telah kita perbuat.

Oleh karena itu, Jangan sampai kita hanya semangat beribadah ketika bulan Ramadan saja. Meskipun Ramadan nanti telah pergi meninggalkan kita, jangan sampai ibadah kita menjadi surut.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian),” (QS Al-Hijr: 99).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah bukan hanya dilakukan saat Ramadan saja, melainkan harus terus dilaksanakan di sepanjang hayat.

Semangat beribadah yang kita bangun di bulan Ramadan hendaknya tetap kita jaga di bulan-bulan berikutnya agar kita menjadi hamba yang istiqamah di jalan-Nya.

Jamaah yang berbahagia,

Di bulan Ramadan, kita terbiasa melaksanakan salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta menahan diri dari perbuatan yang sia-sia. Kebiasaan-kebiasaan baik ini seharusnya tidak hilang setelah Ramadan berlalu. Rasulullah SAW bersabda:

"Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah SWT adalah amal yang terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa konsistensi dalam beribadah lebih utama daripada ibadah yang banyak, tapi hanya dilakukan sesekali. Maka dari itu, setelah Ramadan, kita harus tetap menjaga kebiasaan baik yang telah kita bangun.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan harus menjadi bekal untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Maka, mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah.

Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan kita. Semoga kita semua menjadi hamba yang istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat, dan semoga Allah selalu menerima amal ibadah kita semua.

8. Khutbah Jumat Terakhir Bulan Ramadhan: Sedekah Membuka Pintu Berkah

Ilustrasi Sedekah
Ilustrasi Sedekah. foto/IStockphoto

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Marilah kita senantiasa menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah semaksimal mungkin. Bertakwa berarti menjalankan perintah-Nya sekaligus menjauhi semua larangan yang ditetapkan Allah SWT. Ketakwaan membuat hidup kita menjadi lebih berkah, penuh ketenangan, serta mendapat kemudahan.

Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Ramadan, bulan penuh keberkahan yang telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.

Ada banyak kejutan hadiah di bulan Ramadan yang bisa kita dapatkan, mulai dari dilipatgandakannya pahala, pengampunan dosa, hingga kesempatan untuk bertemu Lailatulqadar yang disebut sebagai malam kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan.

Salah satu cara untuk mendapatkan semua hadiah itu adalah dengan bersedekah di penghujung Ramadan. Rasulullah SAW sudah sering memberikan contoh tentang bersedekah, begitu pula dengan sahabat-sahabat beliau.

Salah satunya Utsman bin Affan yang terkenal kaya raya. Meski memiliki harta berlimpah, ia tidak lalai dan tidak silau dengan dunia. Kekayaan itu justru ia manfaatkan untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Terutama di bulan Ramadan, Utsman bin Affan tak berhenti berbagi. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa Madinah pernah mengalami kelangkaan pangan saat Ramadan. Saat itulah Utsman bin Affan menggunakan uangnya untuk membeli banyak persediaan makanan.

Bukan untuk dirinya, tapi untuk dibagikan secara gratis kepada seluruh orang yang membutuhkannya. Hal ini ia lakukan karena yakin bahwa bersedekah di bulan suci memiliki keutamaan tersendiri, salah satunya mendatangkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Bersedekah bisa kita lakukan dengan segala apa yang kita punya. Jika punya harta berupa uang, sedekahkanlah. Jika memiliki pakaian bekas yang masih bagus dan layak pakai, sumbangkanlah. Jika memiliki tenaga, sedekahkan untuk membantu orang lain.

Jika memiliki ilmu yang bermanfaat, berbagilah agar menjadi sedekah jariyah. Bahkan, senyuman kita kepada sesama muslim bisa bernilai sedekah. Sedekah adalah amalan yang mudah dilakukan, kapan saja dan di mana saja. Hanya satu aturannya, yaitu ikhlas.

Maka, di penghujung Ramadan ini, jangan pernah ragu untuk bersedekah. Sedekah juga menjadi salah satu amalan untuk meraih keutamaan Lailatulqadar.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu bersedekah. Bukan hanya di bulan Ramadan, tapi di sepanjang tahun dan di sepanjang usia kita.

9. Khutbah Jumat Singkat 7 Menit: Meneladani Rasulullah SAW di Penghujung Ramadan

Ilustasi Muhammad
Ilustasi Muhammad. foto/IStockphoto

Ma'asyiral muslimin, jemaah salat Jumat yang berbahagia.

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa. Mari jadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan sandaran kita. Mari hanya berharap dan berdoa kepada Allah SWT yang dengan penuh cinta kasih telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita.

Jemaah yang dirahmati Allah.

Ramadan akan segera pergi. Selama hampir 30 hari, Ramadan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalankan setiap ibadah. Namun, bagaimana kita dapat meneladani Rasulullah SAW di penghujung Ramadan agar ibadah kita semakin sempurna dan bermakna?

Nabi Muhammad SAW adalah panutan sejati umat Islam sebagaimana firman Allah SWT:

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu…” (QS Al-Ahzab: 21).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam mengisi hari-hari terakhir bulan Ramadan.

Di sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya lebih dari hari-hari sebelumnya. Beliau menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta beriktikaf.

Sebagai umat Islam yang senantiasa mengharapkan rahmat Allah, sudah sepatutnya kita mencontoh setiap sifat dan perilaku Rasulullah SAW. Beliau telah memberikan contoh, maka kita tinggal mengikutinya agar bisa lebih dekat dengan Allah.

Jika beliau semakin bersungguh-sungguh beribadah di penghujung Ramadan, maka kita pun harus demikian. Jangan sibukkan diri dengan urusan duniawi dan menjadi lalai, tapi sibukkan hati dan seluruh anggota badan kita untuk beribadah.

Pastikan mata kita hanya melihat hal-hal yang baik, salah satunya melihat huruf-huruf Al-Qur’an. Pastikan bibir ini sering membaca kitab suci dan tak henti berzikir menyebut nama-Nya.

Tahan hati dan mulut kita agar tidak berkata yang buruk dan sia-sia. Tinggalkan kata-kata kasar dan kotor, hindari ghibah, jauhi fitnah, dan jangan sampai lisan kita menyakiti orang lain.

Kita pastikan juga kaki dan tangan kita selalu bergerak ke arah yang Allah ridai, seperti bersedekah, membantu orang lain, atau melakukan amal baik lainnya. Jika mampu dan tidak memiliki kendala, mari langkahkan kaki kita untuk iktikaf di masjid dan fokus dengan urusan akhirat.

Kita hidupkan hari-hari terakhir Ramadan hanya dengan ibadah. Kita maksimalkan nikmat sehat yang telah Allah berikan hanya dengan amal saleh sehingga kita bisa meraup banyak pahala.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Meneladani Rasulullah SAW di penghujung Ramadan berarti mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan berlalu. Ramadan bagaikan sebuah madrasah kehidupan yang seharusnya menjadikan kita lebih istiqamah dalam beribadah.

Maka, mari kita berusaha untuk terus mempertahankan ibadah dan kebiasaan baik yang telah kita bangun selama Ramadan agar tetap menjadi bagian dari hidup kita di bulan-bulan berikutnya.

Semoga Allah SWT selalu memberikan kita kekuatan dan kemudahan untuk meneladani Rasulullah di penghujung Ramadan ini dan seterusnya. Semoga kita semua menjadi hamba yang istiqamah dalam menjalankan kebaikan hingga akhir hayat.

Link Unduh Teks Khutbah Singkat 7 Menit Tentang Jumat Terakhir Ramadan

Teks khutbah Jumat singkat 7 menit dapat menjadi acuan bagi para khatib dalam memberikan pesan kebaikan di Jumat terakhir Ramadan. Khutbah ini bisa membahas berbagai hal yang lebih spesifik yang tentunya tetap berkaitan dengan hari-hari terakhir Ramadan.

Berikut link unduh teks khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan referensi:

Demikian kumpulan contoh khutbah Jumat terakhir bulan Ramadhan 7 menit. Semoga teks khutbah ini dapat menjadi inspirasi dan pedoman bagi para khatib dalam menyampaikan pesan yang bermanfaat.

Pastikan juga untuk melihat referensi khutbah Jumat Ramadhan terbaru lainnya di sini.

Kumpulan Khutbah Jumat Ramadan

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Yuda Prinada