Menuju konten utama

BPS Catat Inflasi Tahunan Juli 2026 Capai 2,88 Persen

BPS mencatat inflasi tahunan Juli 2026 sebesar 2,88 persen, didorong pangan, transportasi, dan emas. Secara bulanan justru terjadi deflasi 0,14 persen.

BPS Catat Inflasi Tahunan Juli 2026 Capai 2,88 Persen
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026). tirto.id/Muhammad Naufal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Muhammad Naufal

11.40 (1 menit yang lalu)

kepada Current, Uploader

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (year on year/YoY) mencapai 2,88 persen pada Juli 2026. Indeks harga konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 108,6 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

"Secara year on year, pada kondisi Juli 2026 terjadi inflasi sebesar 2,88 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 108,60 pada kondisi Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli tahun 2026," sebut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).

Ia menyatakan, berdasar kelompok pengeluaran, inflasi secara tahunan pada Juli 2026 didorong oleh tiga kelompok. Kelompok pertama, yakni makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 2,97 persen.

Kata Ateng, kelompok itu memberikan andil inflasi sebesar 0,87 persen. Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan juga sigaret kretek tangan (SKT).

Kelompok kedua, pengeluaran transportasi. Secara tahunan pada Juli 2026, transportasi mengalami inflasi sebesar 5,12 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,62 persen.

"Inflasi pada kelompok tersebut, yaitu kelompok transportasi, terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, dan juga sepeda motor," sebutnya.

Ateng melanjutkan, kelompok ketiga, yakni pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi secara tahunan sebesar 9,04 persen dengan andil inflasinya sebesar 0,61 persen. Inflasi pada kelompok tersebut terjadi pada komoditas emas perhiasan.

"Berikutnya inflasi tahunan pada Juli tahun 2026 menurut komponen. Seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,76 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar dengan andilnya yaitu 1,76 persen," ucapnya.

Sementara itu, Ateng menyebutkan, BPS mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (m-to-m) pada Juli 2026 atau terjadi penurunan IHK dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulanan Juli 2026 dengan andil deflasi sebesar 0,26 persen dan tingkat deflasi 0,89 persen. Sementara itu, kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen dan kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen.

Berdasarkan komponen, komponen bergejolak mengalami deflasi 1,68 persen dengan andil deflasi 0,28 persen. Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi 0,14 persen dengan andil inflasi 0,09 persen, dan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,25 persen dengan andil inflasi 0,05 persen.

Ateng menambahkan, menurut wilayah, deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,37 persen, dan inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 0,38 persen. Dari 38 provinsi, tercatat 27 provinsi mengalami deflasi, dan 11 provinsi mengalami inflasi.

"Seluruh provinsi tercatat mengalami inflasi tahunan, dengan inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47 persen, dan inflasi terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana