Menuju konten utama

Neraca Perdagangan Barang RI Juni 2026 Defisit 0,45 M Dolar AS

Defisit tersebut terjadi karena kinerja perdagangan komoditas migas masih mengalami tekanan, meski perdagangan nonmigas tetap mencatat surplus.

Neraca Perdagangan Barang RI Juni 2026 Defisit 0,45 M Dolar AS
kantor badan pusat statistik (bps). tirto/andrey gromico.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026. Defisit tersebut terjadi karena kinerja perdagangan komoditas minyak dan gas (migas) masih mengalami tekanan, meski perdagangan nonmigas tetap mencatat surplus.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan defisit pada Juni 2026 terutama berasal dari perdagangan migas. Komoditas hasil minyak dan minyak mentah menjadi penyumbang utama defisit pada kelompok tersebut.

"Pada Juni tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 0,45 miliar US dolar," ujarnya saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

"Defisit pada bulan Juni tahun 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar 3,49 miliar US dolar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah," sambung Ateng.

Di sisi lain, neraca perdagangan komoditas nonmigas masih mencatat surplus sebesar 3,04 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Kata Ateng, secara kumulatif, BPS mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari-Juni 2026 masih surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang perdagangan nonmigas yang mencatat surplus 19,35 miliar dolar AS.

Sementara, itu perdagangan migas masih mengalami defisit 15,77 miliar dolar AS.

"Surplus sepanjang Januari-Juni tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yaitu surplus sebesar 19,35 miliar US dolar, sementara untuk komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 15,77 miliar US dolar," ucap Ateng.

Ia melanjutkan BPS mencatat tiga negara penyumbang surplus terbesar terhadap neraca perdagangan total Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026, yakni Amerika Serikat dengan surplus 8,55 miliar dolar AS, India sebesar 6,68 miliar dolar AS, dan Filipina sebesar 4,24 miliar dolar AS.

Di satu sisi, defisit terdalam berasal dari perdagangan dengan Tiongkok sebesar 13,61 miliar dolar AS, Australia 4,40 miliar dolar AS, dan Singapura 4,33 miliar dolar AS.

Kemudian, untuk kelompok nonmigas, surplus terbesar berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar 10,44 miliar dolar AS, India 6,73 miliar dolar AS, dan Filipina 4,02 miliar dolar AS.

Lalu, defisit nonmigas terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar 14,26 miliar dolar AS, Australia 3,97 miliar dolar AS, dan Prancis 1,49 miliar dolar AS.

Dari sisi komoditas, surplus nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juni 2026 berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar 17,55 miliar dolar AS, bahan bakar mineral sebesar 13,61 miliar dolar AS, serta besi dan baja sebesar 8,61 miliar dolar AS.

"Sementara itu, defisit utamanya berasal dari beberapa komoditas utama, mesin dan peralatan mekanik atau HS 84 defisit sebesar 15,93 miliar US dolar, mesin dan perlengkapan elektrik atau HS 85 defisit sebesar 7,98 miliar US dolar, serta plastik dan barang dari plastik atau HS 39 defisit sebesar 4,72 miliar US dolar," tutur Ateng.

Baca juga artikel terkait NERACA PERDAGANGAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama