tirto.id - Anak buah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Susiwijono Moegiarso, memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan segera berbalik arah mencatatkan surplus pada bulan depan. Sekretaris Kemenko Perekonomian tersebut optimistis performa dagang nasional kembali pulih setelah harga komoditas minyak mentah dunia, Brent dan WTI, mulai menunjukkan tren penurunan.
“Nah, ke depan mudah-mudahan kan ini harga minyaknya akan turun. Sehingga, defisit migasnya mudah-mudahan mulai berkurang. Sehingga, hitungan kita sih di bulan-bulan depan seharusnya bisa balik lagi ke surplus. Seharusnya ya, karena harga minyaknya sudah mulai turun,” ujarnya kepada wartawan, di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2026).
Mengutip Reuters, secara mingguan, harga minyak Brent turun tipis 0,02 persen, sedangkan WTI naik 0,12 persen. Pergerakan itu menjadi perubahan mingguan terkecil bagi kedua kontrak dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, defisit neraca perdagangan Mei 2026 yang sebesar 1,61 miliar dolar Amerika Serikat (AS) terjadi karena realisasi impor yang jauh melampaui ekspor. Pada Mei 2026, impor Indonesia tercatat mencapai 24,81 miliar dolar AS, naik 22,16 persen secara tahunan. Sedangkan, ekspor nasional tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen.
“Kemarin defisit setelah sejak Mei 2020 kan kita surplus. Cuman kalau kita lihat lagi, memang devisitnya kan lebih banyak. Karena devisit migasnya kan memang sangat tinggi. Sampai 3,7 sekian billion USD. Sementara kan non-migasnya kan masih tetap surplus kan masih 2 sekian billion USD,” jelas Susiwijono.
Meski minyak dunia sudah mulai melandai, pengiriman minyak ke Indonesia yang menggunakan harga kontrak berjangka membuat impor Indonesia mengalami kenaikan. Hal itu juga lah yang mendorong terjadinya defisit neraca dagang Mei 2026.
“Walaupun kemarin harga minyaknya sudah di bawah 80, di 73-an [dolar AS]. Cuma, kan impor yang di Juni itu kan masih harga yang bulan sebelumnya. Jadi, masih tinggi sekali. Dengan impor migas yang tinggi ya kemarin akhirnya defisitnya migas jauh lebih tinggi daripada surplusnya non-migas. Sehingga kemarin defisit,” tukas Susiwijono.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































