tirto.id - Ribuan rakyat Maroko berenang melintasi perbatasan menuju Ceuta, wilayah Spanyol yang dekat dengan Afrika Utara. Sedikitnya 67 orang dilaporkan tewas dalam proses migrasi.
Ceuta telah lama menjadi pintu gerbang bagi para migran yang mencari kehidupan lebih baik di Eropa. Kota itu juga terus memperkuat perbatasannya sebagai respons terhadap upaya penyeberangan ilegal yang terus terjadi.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Jumat (31/7/2026), dikutip Time, menyatakan hampir 50.000 migran telah memasuki Ceuta sejak Kamis pagi hari sebelumnya.
Dalam pembaruan yang disampaikan kemudian pada hari yang sama, kementerian mengatakan lebih dari 48.300 migran telah dipulangkan kembali ke Maroko.
Duta Besar Maroko untuk Spanyol, Karima Benyaich, mengatakan dalam sebuah acara di Kedutaan Besar Maroko bahwa situasi di Ceuta "bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Kerajaan Maroko." Ia menambahkan bahwa negaranya lebih menginginkan migrasi yang legal, tertib, dan aman bagi semua orang.
Rekaman video dan foto memperlihatkan puluhan orang, yang sebagian besar tampak merupakan pria muda, melewati pagar perbatasan Tarajal yang memisahkan Maroko dengan wilayah Spanyol, Ceuta.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, melalui unggahan di media sosial menyatakan pemerintahnya tengah bekerja sama dengan otoritas Maroko dan mitra internasional "untuk memulihkan situasi normal secepat mungkin."
Kenapa Rakyat Maroko Pindah ke Spanyol?
Sejumlah teori mengenai migrasi ilegal ini pun bermunculan. Mengutip The New York Times, Jumat (31/7/2026), kelompok sayap kanan di Eropa, yang didukung Gedung Putih, menuding Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez sebagai penyebab gelombang migrasi karena kebijakan pro-migrannya.
Di sisi lain, Sanchez menyalahkan jaringan penyelundup manusia yang disebut telah menyesatkan para migran dengan memberikan kesan bahwa mereka akan mudah menetap di wilayah Spanyol.
Sementara itu, sejumlah migran mengaku kepada media bahwa aparat Maroko justru mendorong mereka untuk menyeberang.
Juru bicara Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex), Krzysztof Borowski, mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan penyebab pasti lonjakan tersebut.
"Masih terlalu dini untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya mengenai mengapa lonjakan ini terjadi atau bagaimana pergerakannya bisa begitu cepat," ujarnya.
Biasanya, aparat Maroko membatasi akses para migran ke Ceuta. Namun pekan ini, beberapa migran mengatakan polisi Maroko justru membiarkan mereka lewat sehingga ribuan orang dapat mendekati pagar perbatasan Spanyol dengan relatif mudah.

Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa Maroko sengaja menggunakan migrasi sebagai alat tekanan politik terhadap Spanyol.
Sejumlah analis menilai Maroko kemungkinan ingin mengingatkan Spanyol agar tidak semakin mempererat hubungan dengan Aljazair, negara tetangga sekaligus rivalnya.
Pada Juli lalu, Pedro Sanchez mengunjungi Aljazair setelah sebelumnya Menteri Luar Negeri Spanyol juga datang ke negara tersebut dan membahas peningkatan impor gas.
Bagi Lorenzo Gabrielli, peneliti senior migrasi dari Universitas Pompeu Fabra di Barcelona, dugaan keterlibatan Maroko cukup kuat.
"Hampir mustahil sekitar 50.000 orang bisa melintasi perbatasan Maroko-Spanyol dalam satu hari tanpa ada peran Maroko," katanya.
Kebijakan Migrasi PM Spanyol Turun Disorot
Sanchez selama ini dikenal sebagai pemimpin yang mendukung kebijakan migrasi terbuka dan menjadi salah satu pengkritik utama kebijakan keras pemerintahan Donald Trump terhadap migran.
Awal tahun ini, Sanchez menjadi sorotan dunia setelah membuka kesempatan bagi lebih dari satu juta migran ilegal di Spanyol untuk mengajukan legalisasi status tinggal.
Lawan-lawan politiknya menilai kebijakan itu menjadi daya tarik bagi para migran yang menyeberang ke Ceuta.
Pemimpin sayap kanan Prancis, Jordan Bardella, bahkan menuduh Sánchez telah "membuka pintu Eropa" dengan melegalkan ratusan ribu migran ilegal.
Namun, Sanchez membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan angka migrasi ilegal ke Spanyol dalam beberapa tahun terakhir justru lebih rendah dibandingkan Italia dan Yunani.
Menurutnya, lonjakan migran lebih disebabkan oleh jaringan penyelundup manusia yang memanfaatkan salah tafsir terhadap putusan pengadilan Spanyol bulan lalu. Putusan itu membatasi kewenangan aparat dalam mendeportasi migran yang berenang menuju wilayah Spanyol di Afrika.
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id































