tirto.id - Dia lahir dari orang tua imigran Jerman. Ayahnya adalah anggota partai Nazi, yang kabur ke Cile pada 1950-an setelah Perang Dunia II. Lebih dari setengah abad kemudian, anak terakhir dari pasangan Michael Kast dan Olga Rist ini memenangkan pemilu Cile 2025, mengusung salah satu janji politik kontroversial, yakni membangun tembok tinggi di sepanjang perbatasan negara guna mencegah masuknya imigran gelap.
Sikap kerasnya terhadap imigrasi terinspirasi dari pemerintahan Donald Trump di AS. Itu pula yang membuat dia mengusulkan—dan akan diterapkan ketika sudah resmi menjabat presiden—pembentukan pasukan polisi "pembasmi" migran, seperti halnya ICE (Immigration and Customs Enforcement) di Negeri Paman Sam.
Dialah José Antonio Kast Rist, politikus sayap kanan mentok dari Cile berideologi ultrakonservatif, yang baru saja memenangkan pemilu 2025 dengan perolehan suara 58,16 persen. Ia unggul cukup jauh dari pesaingnya yang berasal dari sayap kiri, Jeannette Jara.
Banyak ahli politik Cile menilai bahwa kemenangan Kast akan membawa negara tersebut ke periode politik sayap kanan “paling kanan” sepanjang sejarah, sejak terakhir dicengkeram oleh rezim militer Pinochet pada 1990.
Anak dari Imigran yang Berupaya Membasmi Imigran
Di puncak periode ekspansi wilayah Jerman, pemuda berusia 18 tahun bernama Michael Kast bergabung dengan Nazi. Menurut dokumen yang diperoleh Associated Press, ia terdaftar sebagai anggota partai Nazi pada September 1942. Itu adalah momentum yang tepat sebab Jerman, di bawah kekuasaan Nazi kala itu, tengah memulai Perang Dunia II sekaligus menginvasi Polandia untuk memperluas daerah kekuasaannya, sehingga tentu saja membutuhkan prajurit tambahan.
Namun, Michael Kast menjalani tahun-tahun yang berat selama jadi anggota Nazi. Sebagai prajurit Nazi—Jerman kala itu mewajibkan wajib militer, terutama bagi anggota partai—ia mau tak mau terlibat dalam kecamuk Perang Dunia II, juga konfrontasi negaranya dengan Polandia, baik secara langsung maupun tidak.
Menjelang medio dekade 1940-an, Jerman digempur dari segala penjuru. Uni Soviet menyerobot Jerman dari sisi timur, sedangkan pasukan Sekutu (AS, Inggris, Prancis, dan lainnya) menyerang dari sisi Barat. Pada April 1945, Berlin dikepung Tentara Merah Uni Soviet, dihujani peluru. Pasukan Nazi pimpinan Adolf Hitler pun tak berkutik, tercerai-berai. Hingga akhirnya Jerman memutuskan menyerah kepada Sekutu pada 7 Mei 1945, setelah tak lama sebelumnya beriringan dengan kematian Hitler akibat bunuh diri.
Syahdan, selepas Perang Dunia II dan Jerman kalah telak, mantan tentara SS Nazi dan anggota partai berhamburan tak sama nasibnya. Ada yang diadili lantaran terbukti terlibat dalam genosida kamp konsentrasi Auschwitz. Ada yang, entah bagaimana bisa, tetap lolos dan kebal hukum, bahkan menjadi pejabat parlemen di Austria. Ada pula yang kabur ke negara lain, terutama ke negara-negara Amerika Latin.
Ayah José Antonio Kast, Michael Kast, adalah salah satu di antara yang berhasil kabur. Setelah bertahan dengan label mantan tentara cum anggota Nazi selama lebih kurang lima tahun pasca-perang, pada 1950, ia memutuskan bermigrasi ke Cile.
Awalnya Michael Kast hanya seorang diri bersuaka ke Cile. Setelah situasi dirasa aman, setahun kemudian, istri dan dua anak tertuanya menyusul. Mereka pun menetap di Paine, perdesaan kecil di selatan ibu kota Santiago.
Sebagai pengungsi alias imigran, apalagi berekam jejak kelam sebagai bekas anggota Nazi, Michael Kast terbilang tahan banting. Pada waktu-waktu kemudian, ia bahkan memiliki anak lagi di sana. Jose Antonio Kast adalah salah satunya, juga yang paling bungsu di antara sembilan saudara lainnya.
Namun, anak terakhir itu pula yang kemudian berupaya memutus—lebihnya menutup-nutupi—jejak keluarganya, yang merupakan imigran sekaligus mantan anggota partai Nazi.
Kast bahkan berkali-kali menolak menjawab pertanyaan dari para wartawan tentang latar belakang keluarganya, terutama sang ayah. Baru ketika media meramaikan pemberitaan tentang investigasi dokumen identitas sang ayah, Kast akhirnya mau buka suara, meski tetap menampik keterlibatan dengan Nazi.
“Ketika terjadi perang dan pendaftaran [militer] bersifat wajib, seorang anak berusia 17 atau 18 tahun tidak punya pilihan untuk mengatakan, 'Saya tidak akan pergi,' karena mereka akan diadili di pengadilan militer dan ditembak mati keesokan harinya,” katanya pada tahun 2018, sebagaimana dilansir oleh The Guardian.
Pada kenyataannya, keanggotaan dalam partai Nazi bersifat sukarela. Yang wajib hanyalah keikutsertaan seseorang dalam wajib militer.
Lepas dari itu, lahir dari keluarga imigran Jerman tak membuat Kast menyadari betapa niscayanya imigrasi di berbagai negara, apalagi di daerah konflik atau krisis. Ia justru menjanjikan untuk memblokade akses migran ke negaranya ketika ia resmi menjabat sebagai presiden pada 11 Maret 2026.
Salah satu agenda politik José Antonio Kast adalah menutup akses masuk imigran dan membasmi mereka (yang tak memiliki dokumen jelas). Hal itu dilakukan karena ia menganggap migran sebagai penyebab utama kejahatan di negara tersebut, meskipun Cile merupakan negara teraman ketiga di Amerika Latin berdasarkan survei World Population Review.
Pengagum Berat Diktator Augusto Pinochet
Consuelo Thiers, dosen University of Edinburgh, Inggris, menyebut bahwa Kast akan menjadi presiden berhaluan paling kanan sejak diktator Augusto Pinochet, yang berkuasa sejak 1973 hingga 1990.
Di bawah kepemimpinan Pinochet, ribuan orang dibunuh, ditahan tanpa proses hukum, dan dihilangkan tanpa tahu rimbanya hingga sekarang. Pada 1996, melalui lembaga Reparation and Reconciliation Corporation, Negara Cile secara resmi mengakui terdapat 3.197 kasus pelanggaran hak asasi manusia selama Pinochet berkuasa.
Pinochet sebenarnya sempat ditangkap di London, Inggris, dan bahkan di Cile. Akan tetapi, ia tak pernah diadili hingga kematiannya datang pada 10 Desember 2006. Amnesti Internasional, dalam rilis resminya, menyebut bahwa konstitusi warisan rezim militer Pinochet sendiri yang memberinya impunitas. Undang-Undang Amnesti 1978 (Dekrit 2191), yang diteken sendiri olehnya pada 1978, juga mendukung lolosnya ia dari jerat hukum atas pelanggaran HAM.
Meski hukum internasional, bahkan negara Cile sendiri, telah mengakui kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Pinochet, José Antonio Kast seolah tutup mata—atau setuju—terhadap gaya kepemimpinan itu. Ia justru menganggap jenderal tangan besi itu sebagai idolanya.
Bahkan, dalam kampanye pemilihan presiden 2017, ketika mencalonkan diri untuk pertama kali dan hanya beroleh 8 persen suara, Kast menegaskan keberpihakannya pada diktator tangan besi Pinochet.
"Seandainya dia [Pinochet] masih hidup, dia pasti akan memilih saya. Kami pasti akan minum teh bersama," ujarnya, dinukil dari The Guardian.
Namun, kalau menelisik lebih dalam jejak relasi keluarganya dan Pinochet, tidak mengherankan apabila presiden terpilih Cile itu mengagumi sang diktator.
Miguel Kast, kakak kandung laki-laki José Antonio Kast, adalah pejabat politik yang setia mendukung pemerintahan militer Pinochet. Ia pernah menjabat sebagai menteri direktur kantor perencanaan nasional (1978), menteri tenaga kerja (1980), serta presiden bank sentral (1982). Ia juga yang mendirikan Gremialismo, cikal bakal UDI (Independent Democratic Union), partai pendukung ideologis kediktatoran.
Keterlibatan saudaranya yang lain, Christian Kast, bahkan lebih dalam. Berdasarkan dokumen kesaksiannya di peradilan, Christian mengaku menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penangkapan massal yang terjadi di Paine pada 11-12 September 1973. Ia bahkan sempat masuk ke markas kepolisian untuk mengantarkan makanan—keluarganya adalah pebisnis makanan bernama Bavaria. Meski tahu betul ada banyak orang yang tiba-tiba ditahan di sana, ia tak pernah melaporkan kejadian itu.
Sang ayah, Michael Kast, juga berkelindan dalam kasus pelanggaran HAM di rezim militer Pinochet, terutama di Paine, meski bukan pelaku langsung. Berdasarkan laporan komprehensif yang diterbitkan surat kabar lokal, El Mostrador, pada 2014, salah satu armada truk yang dipakai dalam operasi pembunuhan dan penghilangan paksa itu adalah milik Michael Kast.
Tak hanya itu, ia juga mengetahui kekerasan ekstrem yang terjadi kala itu, tetapi tak pernah melaporkannya ke pihak berwajib. Terlebih, bekas anggota partai Nazi itu juga berelasi cukup dekat dengan jaringan sipil yang terlibat dalam tindak represif di Paine, Cile.
Memperkuat Cengkeraman Sayap Kanan di Amerika Latin
Tak bisa dimungkiri, kemenangan José Antonio Kast dalam pemilihan presiden di Cile membuat pemimpin sayap kanan di negara lain girang bukan kepalang.
Presiden Argentina Javier Milei, misalnya, memberikan ucapan selamat secara frontal dan banal menyinggung haluan seberang.
“Satu langkah lagi untuk kawasan kita dalam membela kehidupan, kebebasan, dan hak milik pribadi. Saya yakin kita akan bekerja sama agar Amerika merangkul gagasan kebebasan dan kita dapat membebaskan diri dari kuk penindasan sosialisme abad ke-21,” ujar Milei.
Menguatnya pengaruh politik sayap kanan di Amerika Latin tidak lepas dari pengaruh AS. Melalui lembaga yang disebut Atlas Network, Washington berusaha menyebarkan propaganda ideologi kanan konservatif secara subtil di tanah Amerika Latin.
Atlas Network adalah otak di balik kampanye penyelipan pengaruh ideologi kanan di negara-negara berkembang. Investigasi pada 2017 mengungkap peran para miliarder konservatif, baik dalam hal pendanaan maupun pengembangan pemikiran libertarian yang ramah bisnis.
Gurita Atlas Network meluas. Menurut catatan The Intercept, setidaknya ada 450 lembaga pemikir di seluruh dunia. Dananya, tentu saja disalurkan secara terpusat lewat corong Atlas di sentral Washington. Pada 2016 saja, mereka telah menggelontorkan lebih dari 5 juta dolar AS kepada para mitranya.
Dengan itulah Amerika Latin perlahan bergeser ke kanan, terutama dalam satu dekade terakhir. Dan kemenangan Kast di Cile pada 2025 memperkuat cengkeraman dominasi pemimpin berhaluan kanan ekstrem di wilayah tersebut. Jika pada 2017 pertarungannya dianggap masih berimbang, hampir sewindu kemudian, kondisinya sama sekali berbalik.
Dalam kurun setahun terakhir saja, sudah ada tiga negara di Amerika Latin yang memilih politisi sayap kanan sebagai presiden, yakni Bolivia dan Ekuador. Argentina di bawah rezim Javier Milei juga tak terkecuali, apalagi dengan keterlibatan langsung Donald Trump dalam pemilihan legislatif paruh waktu pada 2025 lalu.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































