tirto.id - Baru saja melepas sepatu khusus (safety boots) usai melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), suara ponsel Mat Junani berbunyi. Dia mendapatkan kabar adanya titik api baru yang perlu ditangani segera.
Tanpa basa-basi, Mat Jay begitu sapaannya, langsung bergegas siap-siap. Pria berusia 44 tahun ini kembali mengenakan sepatu dan menaruh kembali ponsel di dalam tas dan ditaruh di dalam posko kerja kembali.
Belum juga sempat minum apalagi istirahat sejenak, Mat Jay memanggil anak buahnya untuk berkumpul. Mat Jay merupakan Kepala Regu IV Manggala Agni Daops XIV Sumatra Wilayah Kerja Banyuasin.
Mat Jay menjadi bagian dari tim Manggala Agni yang melakukan operasi pemadaman karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Wilayah ini menjadi salah satu fokus penanganan karena termasuk daerah rawan karhutla dan terbukti setiap hari muncul kebakaran dengan areal cukup luas.
Mat Jay mengomandoi dua anak buahnya lebih dulu berangkat menuju titik api menggunakan sepeda motor. Mereka bertugas mengecek vegetasi, ketersediaan air, dan medannya sehingga tim yang menyusul menggunakan mobil dapat membawa peralatan sesuai kebutuhan.

Mat Jay memiliki anak buah dalam regunya sebanyak 14 orang. Sejak April 2026, mereka ditugaskan siaga di Ogan Ilir mengingat prediksi BMKG mulai terjadi kemarau.
Awalnya tim pemadam mendirikan tenda sebagai posko kerja. Namun perkiraan musim kemarau lebih kering dan lama membuat mereka harus mencari tempat permanen agar bisa men-drop semua perlengkapan.
Manggala Agni akhirnya mengontrak sebuah rumah di Pipa Putih, Pegayut, Pemulutan, Ogan Ilir. Lokasinya terbilang strategis dan masuk dalam zona merah yang berada tak jauh dari lokasi langganan kebakaran.
"Kami sengaja kontrak rumah untuk poker (posko kerja) biar lebih kondusif, ada dua regu di poker ini," ungkap Mat Jay, Kamis (30/7/2026).
Bagi tim Manggala Agni, poker bukan tujuan utamanya untuk istirahat sepenuhnya. Sebab kerja mereka tak kenal waktu, kapan saja ada laporan titik api langsung bergegas.
"Sakingnya kami tak sempat lagi istirahat, makan juga kadang sering telat," kata Mat Jay.
Pekerjaan penuh risiko dan tantangan itu tetap digeluti Mat Jay sejak 2006 silam. Baginya, semua pekerjaan memiliki pengorbanan dan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan kebakaran adalah pilihan hidupnya.
Sejak April 2026, Mat Jay lebih sering meninggalkan istri dan kelima anaknya yang tinggal di Desa Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumsel. Beruntung dia memiliki keluarga yang sangat memaklumi pekerjaannya sehingga mereka ikhlas dan terbiasa hidup tanpa pendampingan sosok ayah.
"Kalau saya tidak di rumah, yang antar jemput anak-anak sekolah istri saya. Yang penting saya sehat dan pulang selamat," kata Mat Jay.
Untuk memudahkan pekerjaan dan mengembalikan tenaga yang terkuras, regu pemadam bekerja bergantian. Satu minggu berada di poker dan sepekan bersiaga di kantor daops.
Meski berada di kantor, tim regu tetap bersiaga dan kerap kali dikerahkan untuk membantu pemadaman jika api sulit dijinakkan. Artinya, bagi mereka tiada hari tanpa bersinggungan langsung dengan karhutla, selama musim kemarau.
"Mau di poker atau di daops sama saja, siaga terus dan pasti turun ke lapangan. Tidak bisa tidur bersantai, apalagi tidur nyenyak," kata Mat Jay.
Agar stamina tubuh tetap bugar dan kekompakan antar tim selalu terjaga, Mat Jay mengedepankan kekeluargaan. Sebagai kepala regu, dia bertanggungjawab terhadap anggotanya.
Atmosfer pekerjaan yang selalu tinggi berhadapatan dengan api yang sangat panas dan cuaca tak menentu, membuat Mat Jay mengupayakan suasana kerja tetap cair. Dia juga harus mengamati setiap anggotanya yang sudah lelah, sakit, atau ada masalah pribadi.
"Saya selalu pastikan tim yang bertugas kerja tanpa tekanan dari luar, jangan sampai tensi tinggi memengaruhi pekerjaan. Kalau ada yang mengeluh, saya istirahatkan dulu, itu pentingnya melihat kondisi anak buah," tutur Mat Jay.
Ketika ada waktu senggang, Mat Jay kerap mengajak rekan setimnya bersenda gurau agar lelah dan tegang memadamkan api berangsur hilang. Mereka bisa semangat ketika operasi berlanjut.
"Kebahagiaan kami jika api sudah padam, makanya ada istilah pantang pulang sebelum padam," kata Mat Jay.
20 Tahun Berkarir Jadi Tim Manggala Agni
Selama 20 tahun menjadi anggota tim Manggala Agni, beragam pengalaman dan cerita ia lakoni selama ikut operasi pemadaman. Termasuk juga terlibat langsung dalam karhutla hebat pada 2015 yang menimbulkan kabut asap pekat dan menjadi sorotan dunia.
Ketika itu, Mat Jay dan tim sempat melewati masuk kawasan dengan medan ekstrem. Mereka harus berjalan di rawa-rawa berlumpur penuh dengan cacing.
"Kami jalan kaki puluhan kilometer sambil memikul peralatan untuk menjangkau titik api. Tapi lelah hilang jika tim kompak, semuanya jadi semangat. Medan seekstrem apapun, bagi kami sudah biasa," kata Mat Jay.
Sementara karhutla tahun ini menjadi momen yang paling tak bisa ia lupakan. Peristiwa itu terjadi saat terjadi karhutla di Desa Rambutan, Ogan Ilir, beberapa hari lalu.
Api dengan cepat membesar hingga masuk ke pemukiman warga. Bahkan satu kampung nyaris dilahap api karhutla.
Begitu masuk ke lokasi, tim Manggala Agni disambut puluhan emak-emak dan anak-anak dari kejauhan. Warga sempat frustrasi menjinakkan api yang sudah berada di samping dan belakang rumah.
Kedatangan tim pemadam seakan menjadi obat luka warga di saat segala upaya dilakukan. Sorak sorai anak-anak menyambut tim berkostum merah itu dengan penuh semangat.
"Kejadian malam beberapa hari lalu, paling membuat saya terharu, hampir meneteskan air mata melihatnya. Kami disambut bak pahlawan, anak-anak dan emak-emak semua teriak, hore Manggala Agni datang. Itu pertama kali kami alami selama ini," kenang Mat Jay.
Imbau Masyarakat Hindari Aktivitas Memicu Karhutla
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, melihat upaya tim pemadam yang berjibaku memadamkan api dengan banyak risiko mestinya tidak dipandang sebelah mata.
Mereka berjuang, berkorban, dan mempertaruhkan nyawa demi menjadikan daerah bebas karhutla dan kabut asap.
Sayangnya, banyak pihak yang masih sengaja membakar lahan untuk membuka kebun. Api tersebut berpotensi menyebar dan membesar jika tidak ditanggulangi segera.
"Makanya kami selalu imbau masyarakat atau pihak mana pun tidak membakar lahan, menghindari api saat aktivitas di hutan. Karena penanggulangannya berat, pemadamannya sulit," kata Ferdian.
Ferdian menyebut hampir di seluruh wilayah Sumsel saat ini telah terjadi karhutla, terutama di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Musi Banyuasin.
Lahan yang terbakar juga semakin luas, hingga 25 hektare per kejadian sehingga memerlukan waktu pemadaman lebih lama.
"Kita terus waspada karena BMKG memprediksi Agustus ini adalah puncak musim kemarau, banyak sungai kering dan lahan sangat mudah terbakar," tutup Ferdian.

Masuk tirto.id


































