Menuju konten utama

Musim Kemarau, Sumsel Dikepung Karhutla Akibat Faktor Manusia

Kemenhut menjelaskan faktor pembakaran dengan sengaja dengan tujuan untuk pembersihan lahan.

Musim Kemarau, Sumsel Dikepung Karhutla Akibat Faktor Manusia
Penampakan lahan terbakar di wilayah Sumsel, Rabu (8/7/2026). FOTO/Manggala Agni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah wilayah di Sumatra Selatan mulai dikepung kebakaran hutan dan lahan seiring masuk musim kemarau. Karhutla terjadi dipicu akibat faktor manusia.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan setiap hari dalam sepekan terakhir terjadi karhutla di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim. Puluhan hektare lahan kosong terbakar habis yang menyisakan hamparan hitam di antara lahan lain.

"Tim Manggala Agni terus bersiaga karena titik api dilaporkan terus muncul di beberapa wilayah," ungkap Ferdian, Kamis (9/7/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan, api disinyalir akibat faktor manusia, baik sengaja maupun tidak. Kesengajaaan berupa praktik pembakaran untuk membuka kebun atau membakar sampah. Api pembakaran sampah melompat dan merembet ke lahan sekitar akibat pengaruh angin. Kebakaran tidak terkendali terlebih bahan bakaran di sekitar melimpah.

"Faktor manusia menjadi yang paling berpengaruh, kondisi alamnya hanya faktor pendorong menjadi luas atau menjadi berbahaya sekali ketika ada pemicu. Kalau pengalaman kami dan penelitian dari beberapa kampus di Indonesia, sangat jarang bisa terjadi kebakaran sendiri, biasanya ada yang membawa korek api," terang Ferdian.

Sementara faktor ketidaksengajaan berupa membuang puntung rokok pada gambut yang sangat kering. Situasi ini diperparah adanya angin dan kondiisi bahan bakaran lain yang kering seperti semak belukar atau rumputan yang sudah mati akibat racun atau obat.

"Jadilah kebakaran yang tidak terkendali. Pada segitiga api seperti itu, oksigen (angin), bahan bakaran (vegetasi kering, semak, gambut kering) bertemu dengan api," kata Ferdian.

Ferdian menjelaskan, faktor pembakaran dengan sengaja tersebut bertujuan untuk pembersihan lahan. Pihaknya menemukan kasus bekas lokasi karhutla beberapa tahun lalu kini telah menjadi perkebunan dan perumahan.

"Eks karhutla tahun 2023-2025 yang di sekitaran lalan lintas ada juga yang sudah jadi perumahan, arah kampus Unsri (Indralaya, Ogan Ilir). Dekat karhutla sekarang yang kami lihat, banyak kavlingan," kata Ferdian.

Ferdian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bahaya karhutla, baik lingkungan dan kesehatan. Pembukaan lahan dengan cara membakar adalah tindakan salah karena api sangat tidak terkendali di saat musim kemarau.

Untuk menangani karhutla yang makin meluas, Kemenhut mengoptimalkan patroli di beberapa wilayah rawan, seperti di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim. Koordinasi dengan BPBD dan satgas karhutla juga dimaksimalkan, sehingga api cepat dipadamkan sebelum meluas.

"Saat ini kami taruh tambahan personel di sekitaran Indralaya, kemudian frekuensi patroli kami tambah pada titik rawan," tutup Ferdian.

Baca juga artikel terkait KASUS KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama