Menuju konten utama

Kisah Dedek Taklukkan Rasa Takut Jadi Pengibar Bendera di Laut

Para penyelam turut melakukan underwater clean up sebagai bagiankampanye jaga kebersihan dan kelestarian ekosistem laut.

Kisah Dedek Taklukkan Rasa Takut Jadi Pengibar Bendera di Laut
Dedek Riani memasukkan bendera merah putih kedalam saku rompi di tabung selam di pantai Krueng Raya, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selembar bendera merah putih berukuran 60 x 90 sentimeter menjadi benda terakhir yang diperiksa Dedek Riani sebelum menyelam. Bukan sekadar kain, bendera itu akan menjadi amanah yang harus dia bentangkan di kedalaman 8 hingga 10 meter di bawah permukaan laut Krueng Raya, Aceh Besar.

Mahasiswi asal Banda Aceh itu duduk di antara deretan tabung selam. Matanya tertuju pada satu per satu peralatan yang akan menopang keselamatannya di bawah air. Masker, fin, tabung selam, hingga regulator diperiksanya dengan teliti.

Regulator menjadi perhatian penting. Alat yang terhubung dengan tabung selam itu berfungsi menurunkan tekanan udara tinggi dari tabung sehingga udara dapat dihirup dengan aman dan nyaman oleh penyelam.

Setelah memastikan semuanya berfungsi, Dedek mengambil bendera merah putih yang telah dilipat. Kain itu kemudian dimasukkannya ke dalam saku rompi yang menempel pada tabung selam.

Penyelaman kali ini berbeda dari aktivitas yang biasa dia lakukan selama dua tahun terakhir. Jika biasanya dia menyelam untuk berlatih atau menjalankan kegiatan organisasi, Riani kali ini mendapat tugas khusus: menjadi pembentang bendera dalam upacara pengibaran merah putih di bawah laut dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Tugas sederhana di darat itu berubah menjadi tantangan tersendiri ketika harus dilakukan di bawah permukaan laut.

“Pastinya gugub. Di darat saja bendera bisa terbalik, apalagi di air. Risiko bendera terbalik sangat besar,” ujar Dedek sembari menunggu antrean untuk naik ke perahu menuju lokasi penyelaman, Sabtu (15/8/2026).

Rasa gugup dan takut tak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. Namun, ada satu kalimat yang terus dia tanamkan dalam pikirannya.

“Bendera harus berkibar.”

Untuk menenangkan diri, Dedek melakukan self-talk positif.

“Aku bisa. Biasanya mudah kok. Harus bisa,” katanya.

Bendera Merah Putih Berkibar di Laut Krueng Raya

Dedek Riani memikul tabung selam di pantai Krueng Raya, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Dari Tak Bisa Berenang hingga Menjadi Penyelam

Perjalanan Dedek menuju dunia selam justru dimulai dari titik yang berlawanan. Dia mengaku sebelumnya tidak bisa berenang dan bahkan asing dengan dunia air.

Namun, ketertarikannya tumbuh ketika Dedek mengenal olahraga selam. Baginya, menyelam bukan sekadar kemampuan menghabiskan waktu di bawah permukaan laut. Ada tantangan fisik, mental, sekaligus keterampilan teknis yang harus dikuasai.

“Menyelam itu keahlian langka, tidak semua orang bisa mendapatkan atau melakukannya,” ujarnya.

Selama dua tahun menekuni dunia selam dan aktif sebagai anggota Ocean Diving Club (ODC) di bawah naungan Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Dedek perlahan menaklukkan ketakutannya terhadap air.

Kini, mahasiswi semester tujuh Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK itu justru dipercaya mengambil bagian dalam sebuah upacara yang menuntut ketenangan, ketelitian, dan keberanian.

Sebelum berangkat, Dedek bersama 22 penyelam lainnya mengikuti briefing formasi. Ketua tim selam ODC menjelaskan posisi masing-masing penyelam agar prosesi pengibaran bendera di bawah laut berjalan sesuai rencana.

Sebanyak 23 penyelam terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 13 penyelam ODC, 5 personel Polairud Polda Aceh, 2 personel Satbrimob Polda Aceh, dan 3 personel Basarnas.

Usai briefing, mereka memikul peralatan selam dengan berat mencapai sekitar 30 kilogram menuju bibir pantai. Tabung-tabung tersebut kemudian dinaikkan ke perahu yang membawa mereka menuju titik penyelaman di tengah laut.

Di tengah persiapan itu, Dedek tahu bahwa tantangan sesungguhnya bukan hanya bagaimana menjaga dirinya tetap aman di dalam air. Ada satu tugas lain yang terus memenuhi pikirannya: memastikan Sang Merah Putih terbentang sempurna.

Bendera Merah Putih Berkibar di Laut Krueng Raya

Para penyelam membentangkan bendera merah putih dipermukaan laut di Krueng Raya, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Nasionalisme hingga ke Dasar Laut

Ketua panitia kegiatan pengibaran bendera bawah laut, Khafidz Siregar, mengatakan semangat cinta tanah air tidak hanya dapat diwujudkan di daratan.

“Cinta tanah air itu bukan hanya berada di darat saja, tapi di bawah laut juga,” katanya.

Kegiatan bertema “Semangat Nasionalisme Penyelam Muda melalui Aksi Bawah Laut HUT ke-81 Kemerdekaan RI” itu juga tidak berhenti pada simbol pengibaran bendera.

Para penyelam turut melakukan underwater clean up sebagai bagian dari kampanye menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem laut.

Bagi Khafidz, pesan yang ingin disampaikan lebih besar daripada sekadar seremoni. Laut merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang juga harus dijaga. Mengibarkan bendera di bawah laut menjadi cara untuk mengingatkan masyarakat bahwa semangat kemerdekaan dan kecintaan terhadap Indonesia juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan serupa, kata dia, rutin dilakukan setiap tahun dengan lokasi yang berbeda.

Bendera Merah Putih Berkibar di Laut Krueng Raya

Bendera merah putih berkibar di laut Krueng Raya, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2026). Foto : Ocean Diving Club

Sementara bagi Dedek, penyelaman kali ini menjadi ujian terbesar selama dua tahun dia mengenal dunia selam.

Ketika perahu mulai membawa para penyelam meninggalkan bibir pantai, rasa gugup mungkin masih ada. Namun, di balik masker dan tabung yang melekat di tubuhnya, Dedek membawa satu tekad sederhana.

Tidak hanya untuk menyelam dan bukan hanya untuk menaklukkan rasa takut. Akan Tetapi untuk memastikan, ketika bendera merah putih dibawa ke dasar laut, bendera itu harus tetap berkibar dengan sempurna.

Baca juga artikel terkait HUT RI 2026 atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - News Plus
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi