Menuju konten utama
TirtoEco

Siklus Air Bumi Sudah Rusak, Manusia Bisa Apa?

Siklus air Bumi terganggu akibat pemanasan global dan campur tangan manusia. Menjaga hutan, air tanah, dan aliran sungai menjadi bagian dari solusinya.

Siklus Air Bumi Sudah Rusak, Manusia Bisa Apa?
Gambar siklus air (gambar daur biogeokimia air). (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Semasa sekolah dulu, konsep siklus air terdengar begitu sederhana. Air di permukaan Bumi menguap ke atmosfer, lalu diturunkan kembali lewat hujan, dan begitu seterusnya. Akan tetapi, beda teori, beda pula realitas. Sebab, apa yang disebut sebagai siklus air itu kini tidak sesederhana apa yang dulu dijabarkan di buku-buku cetak. Bahkan, menurut laporan terakhir Badan Meteorologi Dunia (WMO), siklus air Bumi sudah bisa dibilang "rusak".

Jadi, yang diajarkan di sekolah itu sebetulnya tidak salah. Air memang menguap, membentuk awan, lalu turun sebagai hujan. Siklus itu benar-benar terjadi setiap hari, dan akan terus terjadi selama Bumi masih berputar. Namun, yang kurang detail dijelaskan di buku pelajaran adalah bahwa siklus itu ternyata punya dua bagian berbeda, dan salah satunya sedang dalam masalah besar.

Ada bagian dari siklus air yang berjalan cepat, seperti hujan, aliran sungai, dan kelembapan tanah. Bagian-bagian ini bereaksi terhadap cuaca dalam hitungan jam sampai minggu. Di sisi lain, ada pula yang bergerak lambat, misalnya air tanah, gletser, dan tumpukan salju musiman. Bagian-bagian ini butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk terisi kembali maupun terkuras habis. Bagian yang lambat inilah yang belakangan disebut mengalami kerusakan paling serius.

Bulan ini, WMO merilis rapor tahunannya yang berjudul State of Global Water Resources. Di situ disebutkan bahwa sungai-sungai di seluruh dunia mengalami salah satu tahun terkering dalam 35 tahun terakhir.

Bukan cuma sungai, cadangan air di daratan, mulai dari air tanah, danau, salju, sampai lapisan es, sudah menurun sejak pertengahan dekade 2010-an. Sekjen WMO, Celeste Saulo, mengibaratkan cadangan tersebut sebagai "tabungan", yang biasanya mampu menahan dampak satu musim kering supaya tidak langsung terjadi krisis air. Masalahnya, kata Saulo, tabungan itu kini terus dikuras tanpa pernah diisi ulang.

Gletser pun bernasib serupa. Sepanjang 2025, seluruh kawasan gletser besar di dunia mengalami kehilangan massa es untuk tahun keempat berturut-turut. Total, kehilangan es dari 2023 hingga 2025 saja setara dengan air yang cukup untuk mengisi sekitar 560 juta kolam renang ukuran Olimpiade.

Menurut WMO, ada dua penyebab utama di balik semua ini. Yang pertama adalah Bumi yang makin panas. Atmosfer yang lebih hangat bisa menampung lebih banyak uap air, sehingga hujan yang turun pun jadi lebih deras dan lebih sering di luar kebiasaan. Pada saat bersamaan, panas itu juga mempercepat penguapan dan mengeringkan tanah, sehingga kekeringan pun makin parah. Dua fenomena yang tampak berlawanan, hujan ekstrem dan kekeringan ekstrem, ternyata berasal dari mesin pemicu yang sama.

Yang kedua adalah campur tangan manusia sendiri, lewat cara kita mengelola air sehari-hari. Tim ilmuwan NASA yang menganalisis hampir 20 tahun data satelit menemukan bahwa intervensi manusia terhadap siklus air global ternyata jauh lebih signifikan dari perkiraan sebelumnya. Menurut mereka, pertanian dan pengelolaan air adalah dua aktivitas yang paling besar pengaruhnya.

Salah satu contoh yang mereka soroti adalah Tiongkok bagian utara. Wilayah itu, ketika diamati, tengah dilanda kekeringan panjang. Meski begitu, lahan pertanian di sana tetap terlihat subur. Menurut peneliti NASA Sujay Kumar, itu terjadi karena petani terus memompa air dari cadangan air tanah, yang sebenarnya termasuk "tabungan" air Bumi, untuk mengairi sawah dan ladang mereka. Cara ini memang efektif dalam jangka pendek. Para petani berhasil panen. Namun, metode ini membuat tabungan air tanah ikut menipis tanpa sempat terisi kembali.

Ilustrasi Daur Air

Ilustrasi Daur Air. foto/Istockphoto

Pola serupa terjadi lewat pembangunan bendungan. Sandra Postel, Direktur Global Water Policy Project, mencatat bahwa bendungan dan waduk kini telah mengganggu sekitar 48 persen dari total volume aliran sungai di dunia, jauh meningkat dari hanya 5 persen pada tahun 1950.

Bendungan bekerja dengan cara yang berbeda dari pemanasan global, tapi hasil akhirnya serupa, yaitu mengacaukan ritme bagian cepat dari siklus air. Sungai yang tadinya mengalir mengikuti musim hujan dan musim kering kini alirannya diatur oleh kebutuhan manusia. Ikan dan makhluk air lain yang selama ribuan tahun menyesuaikan diri dengan ritme alami itu pun kehilangan pijakannya, dan populasi vertebrata air tawar di dunia telah menyusut hingga 83 persen sejak 1970.

Kombinasi dari atmosfer yang memanas dan campur tangan manusia ini membuat sungai-sungai dunia makin sulit diprediksi. Data PBB mencatat 402 daerah aliran sungai di seluruh dunia kini mengalami penurunan aliran air yang signifikan dan, akibatnya, 107,5 juta orang merasakan dampaknya secara langsung.

Permasalahan pun kemudian merambat ke level ekosistem. Lebih dari 90 dari 185 negara di dunia kini memiliki setidaknya satu jenis ekosistem air, mulai dari sungai sampai rawa, yang berada dalam kondisi terdegradasi. Ini merupakan sebuah tanda bahwa bagian cepat dan bagian lambat dari siklus air kini kesulitan untuk saling menopang seperti seharusnya.

Untungnya, di tengah rentetan kabar buruk ini, ada angin segar. Rusaknya siklus air ternyata bukan berarti kiamat, karena ada metode-metode yang bisa dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan itu.

Di Lembah Verde, Arizona, misalnya. Dulu, petani di sana mengalihkan hampir seluruh aliran sungai ke saluran irigasi mereka, sampai lebih dari delapan kilometer sungai nyaris kering. Namun, setelah bekerja sama dengan The Nature Conservancy, para petani menempuh cara yang lebih cerdas dan berkesinambungan. Yakni, dengan memasang pintu air otomatis bertenaga surya yang hanya mengambil air sesuai kebutuhan. Hasilnya, aliran sungai di musim panas kini dua kali lipat lebih besar dibanding sebelumnya, sekaligus menjadi tanda bahwa bagian cepat dari siklus air di sungai itu mulai kembali ke ritme alaminya.

Pendekatan berbeda datang dari sebuah klub golf di dekat Sydney, Australia, saat kekeringan panjang melanda pada awal 2000-an. Alih-alih terus mengambil air bersih dari sumber alami untuk menyiram rumput, mereka mengolah limbah dari saluran pembuangan di bawah lapangan golf secara lokal, lalu memakainya untuk menyiram lapangan. Cara ini menekan penggunaan air bersih mereka hingga 92 persen, yang berarti mengurangi tekanan pada bagian cepat siklus air tanpa perlu menunggu hujan datang.

Tiongkok, sementara itu, punya pendekatan skala besar lewat konsep "kota spons". Setelah banjir besar melanda sekitar 230 kota pada 2013, akibat air hujan yang tidak lagi bisa meresap ke tanah kota yang sudah tertutup aspal dan beton, Presiden Xi Jinping menyerukan agar kota-kota dibangun layaknya spons yang menyerap air hujan, bukan sekadar mengalirkannya ke selokan.

Dalam dua tahun, Pemerintah Tiongkok memilih 16 kota percontohan, termasuk Beijing, Guangzhou, Shanghai, dan Wuhan, untuk menerapkan konsep itu. Dasar pemikirannya, kalau tanah dan tumbuhan bisa menyerap air hujan sebagaimana mestinya, bagian cepat dari siklus air tidak akan langsung berubah jadi banjir begitu saja.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Tahun lalu, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat merasakan dampak pahit dari kerusakan siklus air ini. Curah hujan yang meningkat secara abnormal membuat hujan deras turun selama berhari-hari di sana. Akibatnya, ketiga wilayah itu mengalami banjir dan longsor yang menewaskan ratusan orang.

Dr. Hatma Suryatmojo, peneliti hidrologi hutan dan konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM), mengakui bahwa curah hujan di wilayah-wilayah tersebut saat itu memang ekstrem. Di Sumatra Utara, contohnya, curah hujan pernah mencapai lebih dari 300 milimeter dalam sehari. Akan tetapi, Hatma juga mengingatkan bahwa penyebab utama banjir dan longsor adalah hilangnya hutan yang berfungsi sebagai spons akibat alih fungsi lahan serta pembalakan liar.

Dengan demikian, untuk Indonesia, salah satu metode yang bisa dilakukan untuk membenahi siklus air adalah dengan menekan laju deforestasi sekaligus melakukan reforestasi. Hutan yang sehat bakal membuat siklus air menjadi sehat pula karena, lewat keberadaannya, air dari langit tidak mengalir lalu menggenang lalu menjadi hujan kembali dalam waktu singkat, melainkan disimpan sebagai tabungan.

Pada akhirnya, solusi dari kerusakan siklus air ini mengerucut pada satu hal: tindakan manusia. Siklus air mengalami kerusakan karena ulah manusia, entah itu lewat pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil maupun manipulasi lintasan air. Maka, yang bisa mengembalikannya juga manusia sendiri. Caranya sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan. Yakni, dengan memberi kesempatan pada air untuk bersiklus secara natural. Bukan dengan menolak progres, tetapi dengan memastikan agar progres tersebut senantiasa berkesinambungan.

Baca juga artikel terkait SIKLUS AIR atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi