tirto.id - Di bangku sekolah, siswa sering diajarkan cara jitu memulihkan hutan gundul, yaitu dengan reboisasi atau menanam pohon sebanyak mungkin. Bahkan, kampanye reboisasi pernah jadi salah satu yang masif, hingga memecahkan rekor dunia.
Pada 11 November 2019, bertepatan dengan Hari Kehutanan Nasional Turki, Pemerintah Turki menanam 11 juta bibit pohon oleh lebih dari 2.000 relawan. Kampanye ini dipimpin langsung oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan berhasil memecahkan rekor dunia untuk jumlah pohon terbanyak yang ditanam di satu lokasi, yakni 303.150 bibit di Kota Corum, Anatolia Utara.
Namun laporan dari The Guardian mengatakan, 90 persen bibit pohon yang ditanam dikabarkan mati. Penyebabnya kekurangan air. Ini adalah wujud miris reboisasi berskala raksasa. Ratusan hektare lahan dibiarkan terbengkalai, dan hanya dimanfaatkan sebagai medium kampanye politik.
Sekarang pertanyaannya, kalau kampanye menanam jutaan bibit pohon kerap menemui kegagalan, lantas cara apa lagi yang mesti ditempuh demi memulihkan hutan gundul?
Lanskap Hutan Sejumlah Nekropolis
Salah satu contoh ekosistem hutan tanpa menanam pohon ialah Kota Pripyat, Ukraina. Kota mati yang ditinggalkan penduduknya lantaran meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl pada 26 April 1986 ini sudah jadi habitat hutan super rimbun. Tanpa perlu seorang pun repot-repot membawa bibit dan pupuk, pohon tumbuh meliar dengan alami.
Dulu, terminal yang menghubungkan Jalan Lenin dengan jalur utama Kota Pripyat tampak ramai. Maklum, ada 167 bus kota yang beroperasi, dan menjadi pusat armada penting antara Kiev dengan Republik Sosialis Soviet Belarusia. Namun setelah bencana melanda, kini terminal Pripyat terbengkalai. Hanya tanaman merambat yang menempatinya, menutupi hampir sekujur bangunan.
Fasilitas publik macam kantor pos pun bernasib sama. Hanya puing-puing dan bongkahan kepingan material yang tercerai berai. Kafe Pripyat juga demikian. Kafe yang berjuluk "The Dish" karena berada di area memiliki danau luas, dan menjadi destinasi andalan berenang ketika musim panas serta wahana seluncur es di musim dingin, pun terbengkalai.
Kini segalanya berubah sunyi. Persis seperti lanskap kota mati di film-film apokalips atau zombi.
Kota Pripyat adalah nekropolis yang menggambarkan wujud bencana manusia. Udara, tanah, dan air di sana telah tercemar berbagai zat radioaktif yang tak ramah manusia.
Pemandangan serupa juga tampak di Oradur-sur-Glane, Prancis. Inilah tempat yang berjuluk "desa martir", utamanya setelah luluh lantak akibat Perang Dunia II. Usai bom dan artileri Nazi Jerman membuat wilayah ini ditinggalkan, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, bangkai mobil berkarat di sembarang tempat, yang membuat siapa pun bisa merasa ngeri ketika tinggal di sana.

Mengerikan, lantaran Oradur-sur-Glane menyimpan kisah kelam karena pembantaian yang dilakukan divisi SS bernama Das Reich terhadap 643 warga sipil. Desa dibakar, mayat-mayat dibiarkan terpanggang di lapangan.
Namun otoritas Prancis telah menyulap desa ini menjadi destinasi wisata. Sekitar 300.000 turis mengunjungi Oradur-sur-Glane setiap tahun dan mencapai puncaknya saat musim panas.
Yang hampir selalu menjadi ciri khas nekropolis adalah topografi ekosistemnya. Lanskap Oradur-sur-Glane didominasi sabana yang terlihat hijau subur. Hutan kota juga tumbuh lebat dengan sendirinya.
Akan tetapi nasib Craco, Italia, berbeda dengan dua kota sebelumnya. Permukiman kota yang dibangun di atas dataran tandus Calanchi ini tak memiliki spesies pohon beraneka ragam. Di sekelilingnya, terhampar hutan monokultur zaitun yang dinilai sebagai kebutuhan komersial. Beberapa spesies pohon lain juga bisa ditemukan, tetapi jumlahnya tak banyak. Sisanya hanya tanaman perdu dan semak belukar kering.
Ini karena Craco berulang kali diterpa bencana maha dahsyat. Banjir bandang melibas kota pada 1972, kemudian gempa bumi pada 1980 yang mengakibatkan beberapa struktur tanah longsor. Kondisi ini membikin seluruh penduduknya minggat, membuat Craco menjadi "kota hantu".
Namun di balik bencana, industri film raksasa Hollywood melihat Craco sebagai harta karun. Hollywood jatuh cinta pada reruntuhan surealis dan daya tarik "kota hantu" yang cocok menjadi lokasi syuting untuk sejumlah film. Dua di antaranya adalah The Passion of the Christ (2004) dan Quantum of Solace (2008).
Hutan dan Kemampuan Regenerasi Alam
Di lahan bekas hutan, ada semacam tabungan rahasia. Di bawah tanah, ada banyak biji dan sisa-sisa akar yang tertidur. Sementara itu, angin serta berbagai fauna menjadi kurir yang bertugas menyebarkan benih ke berbagai titik.
Maka itu, proses regenerasi hutan boleh dibilang masih "membutuhkan bantuan" manusia. Sebuah proyek nirlaba bertajuk Justdiggit yang didirikan pada 2010 memperlihatkan bukti nyatanya.
Ini merupakan proyek simpel. Sebagaimana namanya, komunitas Justdiggit hanya perlu menggunakan cangkul. Mereka menggali lubang-lubang cetek. Fungsinya sebagai tandon yang bisa memerangkap air ketika hujan. Tanpa perlu mesin canggih atau menanam ribuan bibit, Justdiggit bisa menyulap lahan tandus dan gersang menjadi hijau kembali.
Di wilayah kering Singida Tanzania, penggembalaan berlebih dan pertanian intensif telah mencabut hak hidup jutaan pohon. Tanah yang menghidupi lahan pertanian dan padang rumput berangsur terkikis, membuat ekosistem hijau di sana rusak. Sementara itu, mata pencaharian utama penduduk desa adalah bertani dan berternak.
Pada 2022, organisasi TerraFund mendanai Justdiggit untuk merestorasi agroforestri di lahan tandus berbatu. Mereka menggunakan teknik kisiki hai atau "tunggal hidup" dalam Bahasa Swahil, dalam upaya Assisted Natural Regeneration (ANR).
Hasilnya, 67.000 spesies pohon endemik Tanzania tumbuh kembali di lahan seluas 1.600 hektare. Keberhasilan proyek ini berlanjut sampai sekarang. Pedoman dan tata cara ANR telah diwariskan ke lebih dari 2.100 rumah tangga petani di Singida. Laporan mutakhir mencatat, 167.500 pohon telah tumbuh kembali dalam kurun 2,5 tahun.
Lain itu, Justdiggit mengklaim gerakan pemulihan hutan gundul ala mereka ramah terhadap krisis iklim. Mereka tidak hanya berhasil melakukannya di Tanzania, tetapi juga Kenya. Modalnya sederhana: menggali lubang berbentuk bulan sabit "bunds" agar tanah bisa menyerap air hujan lebih banyak. Tanpa menyebar benih, menanam bibit, vegetasi alami hutan terbentuk secara alami.
Tentu masuk akal ramah iklim, karena yang dilakukan hanyalah praktik sederhana, dengan modal kesabaran dan optimisme luar biasa. Kalau dipikir-pikir, persis dengan makna lirik "tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman" dalam lagu "Kolam Susu" yang digubah Koes Plus.
"Restorasi hutan tropis harus bergantung pada regenerasi alami. Itu cara paling efisien untuk melakukannya. Ini adalah yang paling efisien secara ekologis. Ini yang paling efisien secara ekonomi," sambungnya.
Bagi DeWalt, perlindungan hutan tua dan hukum pembatasan deforestasi lebih lanjut sangat penting. Tetapi keduanya tak mampu memulihkan hutan gundul lebih efektif ketimbang membiarkan mereka beregenerasi secara mandiri.
Sebuah studi kolaboratif berjudul "Multidimensional tropical forest recovery" yang diunggah di jurnal Science memaparkan bahwa 12 atribut hutan mampu pulih dengan pola regenerasi alami. Studi ini berlokasi di 77 wilayah dengan 2.275 plot hutan tropis di Amerika Utara, Selatan, dan Afrika Barat. Adapun DeWalt dalam studi ini berkontribusi dalam lokus hutan tropis Panama tengah.

Namun waktu tak membagi kecepatan pemulihan merata. Menurut The Conversation, struktur hutan seperti garis tengah pohon terbesar baru mencapai 96 persen kondisi hutan tua setelah 80 tahun. Komposisi jenis pohon dan biomassa bahkan baru pulih setelah sekitar 120 tahun. Tanahnya sembuh lebih dulu, tubuh hutannya menyusul lama sesudahnya. Catatannya, hutan-hutan itu tumbuh di lahan yang pernah dipakai tak terlalu intensif; di tanah yang terkuras dan berjarak dari hutan lain, peluangnya jauh lebih kecil.
Skalanya pun besar. Pemodelan terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature memperkirakan 215 juta hektare lahan tropis berpotensi tumbuh kembali secara alami, dan bila hutan itu bertahan tiga puluh tahun, ia dapat menyimpan sekitar 23,4 gigaton karbon di atas tanah.
Indonesia menyumbang 13,6 persen potensi itu, kedua setelah Brasil. Hampir semua sampel hutan tropis berpotensi tinggi terletak dalam radius 300 meter dari tepi hutan yang masih ada. Jadi, hutan baru lebih sering lahir sebagai tetangga hutan lama ketimbang sebagai pendatang sebatang kara.
Sedikit Uluran Tangan Manusia
Menurut perkiraan World Resources Institute (WRI), organisasi yang fokus pada penelitian dan analisis isu lingkungan global, ANR menelan kurang dari sepertiga ongkos menanam. Untuk 21,6 juta hektare di Brasil saja, kajian yang dikutipnya menaksir penghematan US$90,6 miliar. Di Niger, petani sejak 1980-an menumbuhkan kembali lebih dari 200 juta pohon dengan cara serupa. Semua itu paling mungkin di tanah yang belum terlalu rusak dan dikelilingi sisa hutan. Bila tanah sudah padat oleh peternakan dan pertanian intensif, menanam biasanya lebih masuk akal.
Contohnya hadir di Paraná, Brasil, lewat proyek Cultivando Esperança yang dikisahkan WRI. LSM Mater Natura membantu pemulihan 265 hektare hutan di sekitar tepi sungai dengan memagari pohon-pohon yang tumbuh dan menanam jenis tertentu untuk memperkaya keragaman. Di bawah naungan pepohonan itu warga menanam yerba mate, sehingga hutan memberi mereka alasan ekonomi untuk terus menjaganya. Di sini manusia bukan penanam, melainkan penjaga pintu.
Lain itu, efektivitas pemulihan hutan gundul lewat mekanisme ANR bisa menengok kegagalan di Cagar Harimau Bandipur, India Selatan. Pelajaran yang dicatat proyek Junglescapes di sana menarik. Biaya ANR memerlukan sekitar seperlima ongkos upaya penanaman awal, dan tumbuhan yang "datang sendiri" tercatat menetap dan tumbuh lebih baik ketimbang yang sengaja ditanam.
Beberapa jenis bahkan kembali tanpa pohon induk dalam area sepuluh kilometer persegi, tanda bahwa biji menempuh jarak yang lebih jauh daripada dugaan. Lebih dari enam puluh warga dari enam desa ikut bekerja, dan pendapatan mereka dilaporkan berlipat ganda.
Lahan yang empat dekade lalu tak diinginkan siapa pun kini menjadi hutan 40 hektare berisi lebih dari 60 jenis pohon dan semak. Sejak 1984 ia menggelar pasar zaï hingga tiap pertemuan didatangi wakil lebih dari seratus desa, dan teknik itu diperkirakan memulihkan kemampuan produktif puluhan ribu hektare lahan di dua provinsi sampai 2016.
Namun demikian, kemandirian regenerasi hutan punya sisi rapuh. Menurut Sean Sloan dalam "The qualified prevalence of natural and planted tropical reforestation" (2024), hutan tropis yang tumbuh kembali secara alami lalu ditebang lagi dalam lima belas tahun berkisar 29 hingga 61 persen. Di Amazon, Brasil bisa mencapai 60 hingga 78 persen.
Hutan-hutan muda itu belum memiliki nilai efektivitas optimal. Namun potensi regenerasinya sudah kepalang terputus karena sudah ditebang. Sebabnya, hutan muda sering dianggap terbengkalai, kalah oleh harga komoditas, atau terpukul aturan yang justru mendorong pemilik lahan mencegahnya tumbuh. Karena itu pagar, patroli, dan insentif disebut penting agar hutan muda bertahan.
Menanam pun tak otomatis menyelamatkan. Menurut The Conversation, perluasan tutupan hutan di Dataran Tinggi Loess, Tiongkok, justru menambah erosi dan mengurangi air bagi warga. Sementara di Cile subsidi menanam pohon pada 2006 hingga 2011 memicu hilangnya hutan alam tanpa tambahan simpanan karbon secara nasional. Sloan menambahkan bahwa di Borneo, 49 persen areal perkebunan kayu serat dan sawit yang dibuka sejak 1973 berdiri di atas hutan yang baru ditebang dalam lima tahun sebelumnya. Tak semua pohon tanam adalah hutan baru.
Mana yang Lebih Efektif?
Dari bermacam cara pemulihan hutan gundul secara alami, masih ada lagi spektrum yang membelahnya. Dalam hal ini, yang paling dilibatkan adalah seberapa jauh peran manusia dalam proses regenerasi hutan.
Spektrum ketiga ditempuh lantaran dalam beberapa kasus, pembiaran terhadap regenerasi hutan menemui masalah ketika dibenturkan dengan ekosistem lainnya. Di sini, manusia tidak menanam bibit pohon, tetapi hanya berfungsi sebagai pelindung. Misalnya, dengan cara memasang pagar agar ternak tak melahap bibit pohon, sekat api dibuat, rumput invasif dibabat supaya pohon muda lapang bernapas. Bila regenerasi tak kunjung mengisi celah, barulah sebagian jenis sengaja ditanam (ANR).
Langkah-langkahnya sederhana. Bibit ditandai, dibebaskan dari gulma yang mengimpit, menekan penyebaran rumput liar, lalu memberikan pupuk secukupnya. Keunggulannya ada pada ongkos dan pada jenis pohon, sebab tumbuhan yang datang sendiri umumnya sudah selaras dengan tapaknya.
Kekurangannya pun dicatat terus terang. Pertumbuhan pohon lebih beragam dan sukar diramal, tahun-tahun awal menuntut banyak tenaga, dan para pemangku kebijakan masih lebih akrab dengan kampanye tanam-menanam. Mekanisme ANR juga hanya bekerja bila anakan atau benih dari hutan sekitar cukup tersedia.
Sebuah meta-analisis atas 133 studi di hutan tropis menemukan keberhasilan pemulihan keanekaragaman hayati 34 hingga 56 persen lebih tinggi, dan struktur vegetasi 19 hingga 56 persen lebih tinggi, pada regenerasi alami daripada pemulihan aktif. Syaratnya, faktor seperti tutupan hutan, curah hujan, usia pemulihan, dan gangguan masa lalu dikendalikan; tanpa itu, struktur vegetasinya tak berbeda. Dan keduanya tetap bercokol dari hutan tua yang tak pernah ditebang.
Bahkan Sloan menunjukkan bahwa luas hutan tanam dan hutan alami nyaris berimbang. Lewat citra satelit tahun 2000 hingga 2015, sekitar 32 juta hektare masing-masing, dia menguraikan risetnya. Akan tetapi rasionya bergeser menurut cara analis menghitung ketahanan dan kebaruannya.
Hutan yang dibiarkan pun masih memerlukan manusia untuk menahan kapak dan api, sementara hutan yang ditanam masih memerlukan alam dan satwa untuk membawa bakal biji mereka. Bisa jadi pemulihan "mandiri" dan "dibantu" hanyalah dua titik pada satu garis yang sama. Tugas manusia adalah membantu ekosistem tanah, air, dan udara menjadi tempat hutan tumbuh lebih layak.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































