Menuju konten utama
Edusains

Ada Jaringan Jamur Raksasa di Bawah Tanah, Apa Fungsinya?

Jaringan hifa jamur AM di bawah tanah mencapai 110 kuadriliun kilometer. Jaringan ini membantu tumbuhan menyerap nutrisi, air, serta turut menyimpan karbon.

Ada Jaringan Jamur Raksasa di Bawah Tanah, Apa Fungsinya?
Arbuscular mycorrhizal. wikimedia/Msturmel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada sebuah jaringan raksasa di bawah tanah tempat kita semua berpijak. Saking besarnya, panjang jaringan ini diperkirakan mencapai sepuluh persen dari panjang Galaksi Bima Sakti. Ya, galaksi. Bukan planet, bukan tata surya, melainkan galaksi. Bisa dibayangkan seberapa besar jaringan tersebut. Dan jaringan ini dibentuk oleh makhluk unik bernama jamur.

Temuan tersebut disampaikan oleh tim peneliti dari Society for the Protection of Underground Networks (SPUN), sebuah organisasi yang didirikan pada 2021 khusus untuk mempelajari jaringan bawah tanah. Studi mereka diterbitkan di jurnal Science pada 11 Juni 2026 dan menjadi yang pertama kali secara resmi memetakan jaringan jamur bawah tanah secara global.

Jamur yang dimaksud bukanlah jamur yang biasa tumbuh di pohon lapuk atau bebatuan lembab. Ini adalah jenis jamur yang disebut arbuscular mycorrhizal, atau disingkat AM. Mereka tidak menghasilkan tudung seperti jamur yang biasa kita lihat, melainkan tumbuh membentuk jaring benang-benang tipis mikroskopis yang disebut hifa.

Hifa tak ubahnya pipa-pipa halus yang tertanam di dalam tanah, melilit dan menembus akar tumbuhan. Lewat hifa, jamur AM menjalin simbiosis mutualisme dengan sekitar 70 persen dari seluruh spesies tumbuhan darat di Bumi, mulai dari rerumputan di padang sabana hingga pohon-pohon hutan tropis.

Cara kerjanya, tumbuhan menyerap karbon dari udara melalui fotosintesis, lalu sebagian karbon itu dialirkan ke jamur. Sebagai imbalannya, jamur menggali jauh lebih dalam dari yang bisa dilakukan akar tanaman, mengekstraksi nitrogen, fosfor, dan air, lalu mengirimkannya kembali ke sang inang.

Menurut Dr. Justin Stewart, ahli biologi evolusi dari SPUN sekaligus penulis utama studi tersebut, dalam satu sendok teh tanah yang sehat bisa terdapat hingga sepuluh meter hifa. Jika dibentangkan seluruhnya, total panjang hifa AM fungi di lapisan tanah atas Bumi diperkirakan mencapai 110 kuadriliun kilometer, atau hampir satu miliar kali jarak antara Bumi dan Matahari.

Lalu, bagaimana para peneliti bisa mendapatkan angka sebesar itu?

Mereka mengumpulkan data dari lebih dari 16.000 inti tanah yang diambil dari 322 studi berbeda di seluruh penjuru dunia. Data itu mencakup sembilan dari empat belas bioma global Bumi, dari hutan tropis basah hingga padang rumput beriklim dingin. Namun, data lapangan saja tidak cukup untuk memetakan seluruh planet lantaran masih banyak wilayah yang belum terjangkau peneliti.

Proses selanjutnya membutuhkan bantuan akal imitasi. Tim SPUN melatih model pembelajaran mesin menggunakan data iklim, kimia tanah, dan vegetasi, lalu membiarkan model itu memprediksi kepadatan hifa untuk setiap satu kilometer persegi daratan di seluruh Bumi. Hasilnya dipadukan dengan analisis gambar beresolusi tinggi dari lebih dari 300.000 hifa individual yang ditumbuhkan di laboratorium menggunakan robot pencitraan khusus.

Dari situ, diperolehlah peta global pertama yang menunjukkan di mana jaringan jamur ini paling lebat dan di mana paling tipis. Para peneliti menemukan bahwa kepadatan jaringan jamur ini paling tinggi ada di padang rumput liar seperti sabana, stepa, sampai lahan basah berumput. Contohnya, lahan basah Sudd di Sudan Selatan, Everglades di Florida, dan dataran tinggi Tibet. Total, wilayah-wilayah seperti ini menampung kurang lebih 40 persen dari seluruh biomassa jamur AM di Bumi.

Arbuscular mycorrhizal

jamur Arbuscular mycorrhizal. wikimedia/Rajarshi Rit

Kepadatan jamur AM lebih tinggi di area padang rumput karena tumbuhan herbaseus seperti rumput cenderung mengalokasikan jauh lebih banyak karbon ke jamur mikoriza dibandingkan pohon-pohon berkayu. Selain itu, padang rumput memiliki sistem akar yang sangat lebat dan hampir seluruhnya didominasi oleh tanaman inang jamur AM, sehingga jaringan jamurnya pun ikut tumbuh lebih padat.

Jaringan ini juga bekerja dengan kecepatan yang mengesankan. Riset sebelumnya dari kelompok ilmuwan yang sama menunjukkan bahwa material bergerak melalui hifa dengan kecepatan hingga 120 mikrometer per detik. Jika dikonversi ke ukuran manusia, kecepatannya setara dengan sekitar 400 kilometer per jam.

Setiap tahun, jaringan jamur AM secara keseluruhan memompa sekitar empat miliar ton karbon dioksida ke dalam tanah. Angka ini setara dengan sekitar 11 persen dari total emisi CO₂ akibat aktivitas manusia per tahun. Jadi, secara tidak langsung, makhluk-makhluk mikroskopik ini adalah salah satu penyerap karbon terbesar yang ada di planet kita.

Namun, selain menunjukkan keajaiban jamur AM, peta bawah tanah itu juga memberikan gambaran yang mengkhawatirkan. Ketika para peneliti membandingkan kepadatan hifa di lahan pertanian dengan ekosistem liar, hasilnya sangat kontras. Lahan pertanian rata-rata memiliki kepadatan hifa sekitar 47 persen lebih rendah dibandingkan ekosistem alami yang sebanding. Ini berarti hampir separuh jaringan jamur yang seharusnya ada di tanah pertanian sudah tidak ada lagi.

Penyebabnya beragam. Penggunaan pupuk fosfor dan nitrogen yang berlebihan membuat tanaman tidak lagi membutuhkan jasa jamur untuk mencari nutrisi, sehingga alokasi karbon ke jamur menurun drastis. Pembajakan tanah secara mekanis memotong dan merusak hifa yang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh kembali. Lalu, penggunaan fungisida tentu saja memperburuk situasi.

Tanah yang kehilangan jaringan jamur AM cenderung kurang baik dalam menyimpan karbon, kurang efisien dalam mendaur ulang nutrisi, dan lebih rentan terhadap pencucian nitrogen serta fosfor ke badan air di sekitarnya. Ini berkontribusi pada masalah seperti eutrofikasi sungai dan danau, di mana kelebihan nutrisi memicu ledakan alga yang menghabiskan oksigen.

Peta yang sama juga memperlihatkan bahwa padang rumput liar, yang menampung sebagian besar biomassa jamur AM, adalah ekosistem yang paling sedikit mendapat perlindungan resmi di dunia. Padang rumput dikonversi menjadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dibandingkan hutan. Ditambah lagi, riset sebelumnya menunjukkan bahwa 95 persen dari titik-titik keanekaragaman hayati jamur AM berada di luar kawasan lindung yang semestinya.

Arbuscular mycorrhizal.

jamur Arbuscular mycorrhizal. wikimedia/Rajarshi Rit

Peta tersebut juga berfungsi mencari seberapa dalam jaringan ini sebenarnya bisa ditemukan. Studi dari University of Michigan yang diterbitkan di The ISME Journal pada Juli 2026 menemukan bahwa jamur, termasuk spesies yang belum pernah diketahui sebelumnya, juga hidup jauh di bawah tanah hingga kedalaman 500 meter, jauh melampaui zona yang biasanya diteliti.

Quinn Moon, kandidat doktoral dari yang memimpin studi itu, menemukan bahwa satu tetes air dari sumur gas yang digali ke dalam batu serpih kuno bisa mengandung sebanyak 250 sel jamur, sebanding dengan jumlah sel jamur dalam satu tetes air laut. Sebagian besar dari jamur-jamur itu kemungkinan telah terisolasi di sana selama ribuan tahun, sejak lapisan air dari lapisan es zaman purba meresap ke dalam bebatuan.

Temuan ini bisa mengguncang fondasi ilmu iklim. Selama ini, karbon yang tersimpan dalam batuan dalam tanah dianggap tidak aktif secara biologis. Akan tetapi, jika ada komunitas jamur yang aktif memecah bahan organik di sana, maka model siklus karbon global selama ini mungkin perlu direvisi.

Semua ini membawa kita ke pertanyaan yang lebih besar: apa yang seharusnya kita lakukan dengan semua informasi ini?

Jawabannya, menurut para peneliti, dimulai dari mengakui bahwa jamur ini ada dan penting. Sudah terlalu lama keanekaragaman hayati bawah tanah tidak masuk ke dalam perhitungan konservasi, agenda iklim, maupun kebijakan pertanian. Peta baru dari SPUN adalah langkah awal untuk mengubah itu, dengan memberikan data konkret yang bisa digunakan oleh pemerintah, petani, dan perencana lingkungan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Bagi para petani, penelitian ini membuka kemungkinan untuk mengelola lahan dengan cara yang lebih bersahabat terhadap jaringan jamur, mulai dari mengurangi pembajakan berlebihan, membatasi penggunaan fungisida, hingga mempertimbangkan kembali dosis pupuk kimia. Bagi pembuat kebijakan, peta ini bisa menjadi dasar untuk memperluas kawasan lindung ke padang rumput yang selama ini luput dari perhatian.

Dan bagi kita semua, jaringan jamur AM menunjukkan bahwa kehidupan yang paling penting di planet ini sering kali adalah kehidupan yang tidak bisa kita lihat. Di bawah tempat kita berpijak, ada jaringan raksasa yang bekerja tanpa henti untuk membuat planet ini senantiasa hijau, sejuk, dan bisa ditinggali.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi