Menuju konten utama

Ketika Erupsi Gunung Api di Bawah Laut Lahirkan Daratan Baru

Erupsi gunung api di bawah laut bisa membentuk dataran baru berupa delta lava hingga menjadi sebuah pulau, bahkan mampu menyatukan 2 pulau yang sudah ada.

Ketika Erupsi Gunung Api di Bawah Laut Lahirkan Daratan Baru
Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-Tangkapan layar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Erupsi gunung api di bawah laut ternyata mampu melahirkan sebuah daratan baru. Bahkan, erupsi gunung api juga bisa menyatukan dua pulau. Peristiwa semacam ini terjadi di Indonesia, Islandia, Jepang, hingga Tonga di Samudra Pasifik.

Aktivitas erupsi gunung berapi di bawah laut dapat mengakibatkan terbentuknya daratan baru yang disebut delta lava. Daratan baru menjadi tempat masuknya lava ke laut yang aktif.

Delta lava, seperti yang dijelaskan U.S. Geological Survey (USGS) (23/11/2017), dibangun oleh akumulasi lava di dekat dasar tebing laut, tempat masuknya lava ke laut. Kondisi yang sama erat kaitannya dengan erupsi letusan gunung berapi yang mengeluarkan lava, hingga mencapai lautan yang menyebabkan terbentuknya daratan baru.

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi

Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU

Erupsi gunung berapi di daratan pada umumnya mengeluarkan cairan magma, kemudian disebut lava ke daratan. Lava tersebut bergerak menyapu bersih apa saja yang dilewatinya.

Sampai di laut, lava bertemu dengan material lain: air. Sebagaimana dijelaskan USGS, lava cepat mendingin. Lalu menciptakan daratan baru yang dikenal sebagai delta lava.

Tak hanya lava dari gunung berapi aktif di darat, lava yang menghasilkan delta lava juga bisa muncul dari gunung berapi di dasar laut. Pasalnya, melansir National Ocean Service, sebagian besar gunung berapi di Bumi tersembunyi dari pandangan, berada di dasar laut di sepanjang punggung bukit yang menyebar.

Bagaimana Api Bawah Laut Ciptakan Daratan Baru?

Istilah “delta lava”, mengacu pada daratan baru akibat erupsi gunung berapi, semula disebut dengan istilah “bench”. Dikutip dari USGS, “bench” merupakan istilah umum yang digunakan untuk akumulasi lava di tempat masuknya lava ke laut.

Namun, para ahli geologi mengganti istilah ini dengan “delta lava”. Definisi geologis kata “bench” dianggap tidak sesuai dengan proses pembentukan daratan baru ketika lava memasuki laut.

Para ahli geologi menyebut “bench” adalah fitur erosi. Sedangkan, delta merupakan fitur pengendapan yang terbentuk akibat akumulasi material baru.

Ilustrasi Lava Fountain

Ilustrasi Lava. FOTO/iStockphoto

Delta lava dibangun oleh akumulasi lava di dekat dasar tebing laut, tempat masuknya lava ke laut. Ia terbentuk ketika aluvium, seperti lumpur dan pasir, diangkut ke hilir sungai. Kemudian diendapkan di sungai yang memasuki badan air lebih besar yang tenang atau bergerak lebih lambat, seperti laut.

Proses pembentukan delta lava dipengaruhi aliran lava yang bergerak menuruni lereng menuju laut. Sebagaimana dijelaskan USGS (8/12/2023), lava yang memasuki laut dapat membentuk daratan baru, yang dikenal sebagai delta lava.

Namun, delta lava tergolong sebagai kondisi atau material yang tidak stabil dan rentan terhadap keruntuhan tiba-tiba. Delta lava yang runtuh dapat memicu aktivitas eksplosif dan melontarkan batuan panas ratusan meter ke daratan dan/atau ke laut.

Hal itulah yang menyebabkan delta lava cukup berbahaya. USGS (23/11/2017) menerangkan, saat lava dengan suhu sekitar 1140 derajat Celcius (2080 Fahrenheit) mengalir ke laut, lava cepat mendingin, lalu menciptakan interaksi yang berpotensi eksplosif.

Ilustrasi Lava Fountain

Ilustrasi Lava. FOTO/iStockphoto

Ledakan kecil dan gelombang laut memecah lava menjadi potongan-potongan batuan dan pasir yang lebih kecil. Material tersebut diendapkan ke dasar di bawah tempat masuknya ke laut.

Akumulasi material yang tidak terkonsolidasi menghasilkan fondasi yang tidak stabil di tempat delta lava terbentuk. Ketika delta lava terus tumbuh, bagian depan dapat mulai ambles, karena peningkatan berat delta menyebabkan fondasi berbatu bergeser.

Saat delta lava menjadi terlalu berat, atau terkikis di lereng bawah, ia bisa saja runtuh. Keruntuhan dapat mencakup sebagian ataupun seluruh bagian.

Ketika delta lava runtuh, hal ini bisa memicu ledakan, melemparkan bongkahan batuan padat dan pecahan lava cair ke daratan dan laut. Runtuhan delta lava bisa lebih jauh mengikis tebing laut yang lebih tua, hingga bisa menyebabkan keruntuhan.

Tebing yang tampak stabil di sekitar tempat masuknya lava ke laut termasuk area berbahaya. Tak hanya itu, bahaya lain juga mencakup tsunami lokal dan gelombang besar yang bisa membawa air laut sangat panas menuju ke daratan.

Gunung Anak Krakatau

Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, wilayah Provinsi Lampung. foto/ANTARA

Kisah Anak Krakatau Indonesia & Pulau Surtsey Islandia

Delta lava pernah tercipta di Indonesia, tepatnya akibat erupsi gunung api Anak Krakatau. Melansir laman Volcano Discovery (14/9/2026), ledakan efusif-eksplosif terjadi di gunung berapi tersebut.

Aliran lava di sisi selatan bergerak maju menuju muara laut sehingga membentuk delta lava baru. Aktivitas ini dikaitkan dengan emisi uap dan gas yang melimpah, yang disebut laze (lava haze), yakni uap asam yang dihasilkan oleh lava yang memasuki laut.

Sebagaimana diketahui, Anak Krakatau merupakan salah satu gunung berapi aktif yang berada di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Letaknya relatif dekat dengan pesisir Banten dan Lampung, yakni berada di tengah laut.

Gunung berapi ini muncul setelah terjadi letusan eksplosif Krakatau pada 1883 yang menghancurkan Pulau Krakatau. Dikutip dari artikel ilmiah Igan Supriatman Sutawidjaja berjudul “Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau setelah Letusan Katastrofis 1883” (2006), Anak Krakatau muncul ke permukaan laut pada 1929 silam.

Peta Gunung Anak Krakatau

Peta Gunung Anak Krakatau. FOTO/iStockphoto

Tak hanya di Indonesia, Islandia juga memiliki kondisi geografis yamg tak jauh berbeda akibat erupsi gunung berapi. Melansir laman Iceland Review (8/7/2008), Pulau Surtsey, Islandia, merupakan pulau yang terbentuk dari serangkaian letusan gunung berapi yang terjadi sejak 1963 hingga 1967.

Pulau Surtsey sekaligus merupakan pulau paling selatan Kepulauan Westman Islands. Letaknya sekitar 32 kilometer dari pantai selatan Islandia. Pulau ini tercatat sebagai salah satu situs baru Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Letusan gunung berapi di Surtsey pertama kali terjadi pada 14 November 1963 di sekitar 18 km barat daya Haimay. Dilansir dari laman Surtsey, fase eksplosif menjadi ciri khas letusan Surtsey di awal.

Pulau Surtsey Islandia

Pulau Surtsey Islandia. wikimedia/NOAA/DOmain Publik

Efek pendinginan laut berlangsung cepat sehingga magma panas berubah menjadi tefra (abu vulkanik). Karena produksi tefra sangat besar, sebuah pulau pun terbentuk. Hingga pada akhir Januari 1964, ketinggian pulau mencapai 174 m atau lebih dari 300 m di atas dasar laut tempat semuanya dimulai.

Pada tahun-tahun berikutnya, terjadi serangkaian letusan gunung berapi yang membentuk punggungan bernama Surtla serta pulau-pulau lain, seperti Syrtlingur dan Jólnir.

Pulau Nishinoshima Semakin Luas & Bersatunya Dua Daratan di Tonga

Terbentuknya daratan baru akibat aktivitas vulkanik atau erupsi gunung berapi juga bisa memunculkan sebuah pulau. Seperti diwartakan NASA (24/6/2015), salah satunya adalah aktivitas vulkanik di sepanjang tepi barat “Cincin Api” Pasifik yang memunculkan sebuah pulau kecil pada akhir November 2013.

Pulau baru yang terbentuk menyatu dengan Nishinoshima yang berada di dekatnya dan terus tumbuh. Pulau-pulau kecil tersebut akhirnya bergabung pada Desember 2026.

Sebagaimana dijelaskan di laman NASA (16/7/2014), luas permukaan daratan baru yang telah bergabung bahkan mencapai beberapa kali lebih besar daripada Nishinoshima asli yang terbentuk pada tahun 1973-1974.

Peta Jepang

Peta Jepang. foto/istockphoto

Tak hanya Nishinoshima yang semakin luas, aktivitas vulkanik juga bisa menyebabkan bersatunya dua daratan di Tonga, negara kepulauan di Pasifik Selatan.

Mengutip artikel NASA (19/1/2022), citra awal dari satelit komersial serta pencitra radar Eropa dan Kanada menunjukkan bahwa hanya sedikit bagian dari Hunga Tonga-Hunga Ha'apai yang masih berada di atas permukaan air.

Pulau vulkanik tersebut pertama kali muncul dari laut pada Januari 2015. Aktivitas erupsi menumpuk abu di sekitar kerucut vulkanik baru dan menghubungkan pulau-pulau yang lebih tua dan berbasis lava, Hunga Tonga dan Hunga Ha'apai, untuk menciptakan sebuah gabungan yang bernama Hunga Tonga-Hunga Ha'apai.

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru

Ilustrasi erupsi gunung api. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/bar

Baca juga artikel terkait GUNUNG BERAPI atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo