Menuju konten utama

Riwayat Gempa Besar & Tsunami di NTT dalam Catatan Sejarah

Rekam jejak seismik membuktikan bumi Flobamora dikepung patahan aktif yang berulang kali memicu gempa kuat dan gelombang tsunami.

Riwayat Gempa Besar & Tsunami di NTT dalam Catatan Sejarah
Peta Nusa Tenggara Timur. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lima gempa besar dalam kurun 49 tahun terakhir (1977, 1992, 2004, 2021, dan 2026) membentuk satu garis waktu: Nusa Tenggara Timur (NTT) duduk di atas jaringan patahan aktif. Data BMKG dan berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa bentang kepulauan Nusa Tenggara menyimpan dinamika tektonik purba yang tak pernah lelap.

Posisi geografis kawasan NTT berada tepat di jantung salah satu zona transisi geodinamika paling rumit di Asia Tenggara. Di sisi selatan kepulauan, Lempeng Samudra Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia melalui zona subduksi aktif. Di sisi utara kepulauan, terbentuk struktur patahan naik busur belakang berskala masif yang melintasi perairan utara Flores, dikenal sebagai Flores Back-Arc Thrust.

Kajian geodesi yang dikutip dalam Geophysical Journal International (2020) oleh Xiaodong Yang dan kolega menunjukkan bahwa pergerakan lempeng di kawasan Flores mencapai 26 mm/tahun, dan 28 mm/tahun di dekat Pulau Wetar. Angka tersebut terdengar kecil, tapi ketika terakumulasi sepanjang ratusan kilometer jaringan patahan aktif, ia menjelma menjadi tekanan raksasa yang harus dilepas, kadang tenang, kadang skalanya merusak.

Catatan sejarah bencana gempa bumi di NTT menampilkan kerentanannya. Berikut jejak gempa besar dan tsunami yang pernah melanda wilayah tersebut, mengacu Katalog Gempa Bumi Merusak & Signifikan 1821-2025 terbitan BMKG.

Sekilas Data Riwayat Gempa Besar di NTT

TahunData Gempa
1977
  • Lokasi: Sumba/Sumbawa, NTB
  • Magnitudo: M 7,0
  • Kedalaman: 33 km
  • Tsunami: Ya, hingga 15 m
  • Korban meninggal: ≥100 jiwa (89 hilang)
  • Kerusakan: Beberapa perkampungan hancur
1992
  • Lokasi: Flores/Maumere, NTT
  • Magnitudo: M 7,5
  • Kedalaman: 28 km
  • Tsunami: Ya, hingga 26 m
  • Korban meninggal: 2.500 jiwa (meninggal/hilang)
  • Kerusakan: 90.000 orang kehilangan tempat tinggal
2004
  • Lokasi: Alor, NTT
  • Magnitudo: M 7,5
  • Kedalaman: 10 km
  • Tsunami: Ya
  • Korban meninggal: 31 jiwa
  • Kerusakan: 1.150+ bangunan hancur (rujukan gempa Alor 1991 terdekat)
2021
  • Lokasi: Laut Flores, NTT
  • Magnitudo: M 7,5
  • Kedalaman: 12 km
  • Tsunami: Ya, 0,07 m
  • Korban meninggal: 0 jiwa (1 luka berat, 97 luka ringan)
  • Kerusakan: 736 unit (266 ringan, 470 berat)
2026
  • Lokasi: Nagekeo, NTT
  • Magnitudo: M 7,7
  • Kedalaman: 15 km
  • Tsunami: Ya, hingga 0,94 m
  • Korban meninggal: 72 jiwa
  • Kerusakan: 28.901 unit rumah, belum termasuk fasilitas publik
Sumber Data: BMKG & BNPB

Gempa dan Tsunami Sumba 1977

Pusat gempa 1977

Pusat gempa 1977. (Sumber: Aditya R. Gusman, dkk. Bulletin of the Seismological Society of America, Vol. 99, No. 4, 2009)

Rekam jejak gempa besar modern di kawasan ini dimulai pada 19 Agustus 1977. Menurut Katalog BMKG, gempa yang berpusat di barat daya Pulau Sumba ini tercatat bermagnitudo 7 pada kedalaman 33 kilometer.

Di sisi lain, Christopher Lynnes dan Thorne Lay dalam analisis mereka di Journal of Geophysical Research (1988) menghitung magnitudo momennya jauh lebih besar, M 8,2-8,3. Perbedaan ini lazim karena beda metode pengukuran, bukan kesalahan data.

Gelombang tsunami dengan limpasan (run-up) setinggi lebih dari sepuluh meter saat itu menerjang pesisir selatan Pulau Sumba, menyapu pantai Sumbawa sampai pesisir selatan Lombok. Menurut catatan BMKG, sedikitnya 100 orang tewas, 89 orang hilang, dan 75 lainnya luka-luka. Beberapa perkampungan hancur tanpa sisa.

Gempa Bumi dan Tsunami Flores 1992

Lima belas tahun kemudian, giliran sisi utara yang bergolak. Sistem Flores Back-Arc sebagai struktur yang membentang sepanjang lebih dari 800 kilometer dari utara Bali sampai perairan utara Flores, akhirnya patah pada 12 Desember 1992, di lepas pantai Kabupaten Sikka.

Katalog BMKG mencatat magnitudo peristiwa ini M 7,5 pada kedalaman 28 kilometer, sementara Xiaodong Yang dan kolega menyebut angka momen seismiknya M 7,8-7,9, menjadikan Flores 1992 sebagai "peristiwa terbesar yang merobek wilayah lepas pantai dan membangkitkan tsunami destruktif raksasa" di antara rentetan gempa kawasan ini.

Guncangan tersebut sampai memicu longsoran di lereng bawah laut Flores. Efeknya, tsunami datang dalam waktu kurang dari lima menit. Warga Maumere nyaris tak punya waktu untuk lari. Gelombang setinggi 26 meter, menurut catatan BMKG, masuk ke daratan hingga 300 meter, lalu melumat Teluk Maumere serta Pulau Babi.

Korban meninggal atau hilang mencapai 2.500 orang, 1.490 di antaranya di Maumere dan 700 di Pulau Babi. Lebih dari 500 luka-luka dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Gempa Alor 2004

Pelepasan energi di perut bumi akhirnya merambat ke arah timur kepulauan NTT. Pada 12 November 2004 giliran Kepulauan Alor yang berguncang dengan magnitudo M 7,5 pada kedalaman dangkal 10 kilometer, memicu tsunami dan gelombang guncangan hingga VII-VIII MMI di Kalabahi. Sumber gempa ini menyatu dengan Zona Patahan Naik Wetar, kelanjutan struktur utara Flores sepanjang sekitar 350 kilometer.

Menurut catatan Bakornas Penanggulangan Bencana yang dikutip BMKG, 31 orang meninggal dunia dan sekitar 400 lainnya luka-luka. Xiaodong Yang dan timnya menjelaskan bahwa saat itu, rekahan aktif yang menembus hingga permukaan dasar laut di wilayah Wetar dan Alor berperan utama dalam membangkitkan tsunami lokal.

Gempa Flores 2021

Gempa Flores 2021

Gempa Flores 2021. (Sumber: BMKG)

Pada 14 Desember 2021, Laut Flores kembali berguncang dengan magnitudo M 7,5. Pusat gempa berada 112 kilometer di laut lepas, barat laut Larantuka, pada kedalaman 12 kilometer. Data BNPB yang dihimpun BMKG mencatat 736 unit rumah rusak (266 ringan dan 470 berat), serta 5.064 warga mengungsi. Satu orang mengalami luka berat dan 97 lainnya luka ringan, tanpa korban jiwa. Tsunami yang terpantau hanya setinggi 0,07 meter, jauh berbeda dari 26 meter pada 1992.

Seismolog Pepen Supendi bersama tim peneliti gabungan dari University of Cambridge, BMKG, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), merilis temuan penting dalam jurnal The Seismic Record (2022). Lewat metode relokasi gempa double-difference dan inversi bentuk gelombang, mereka memetakan jalur patahan baru.

Supendi dan tim menyatakan: "Kami mengungkap sesar yang sebelumnya belum teridentifikasi pemicu gempa Laut Flores M 7,3 pada 14 Desember 2021... mekanisme gempa utama menunjukkan pergerakan sesar mendatar menganan (dextral strike-slip) berarah barat-timur yang kami namai Sesar Kalaotoa." Jalur rekahan ini setidaknya merobek tiga segmen patahan sepanjang puluhan kilometer di dasar laut.

Melalui pemodelan perubahan tegangan Coulomb, tim peneliti memperingatkan bahwa pergeseran Sesar Kalaotoa menambah beban tekanan tektonik pada struktur sesar di sekitarnya, khususnya segmen tengah lores Back-Arc dan Sesar Selayar di barat laut.

Gempa NTT di Nagekeo 2026

Penyisiran lokasi terdampak gempa

Personel SAR Polri memeriksa kondisi bangunan yang rusak saat melakukan penyisiran di lokasi terdampak gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Penyisiran dilakukan di sejumlah titik terdampak gempa bumi untuk memastikan tidak ada korban yang masih belum dievakuasi. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Peringatan para ilmuwan mengenai akumulasi tekanan tektonik di utara Flores terbukti saat gempa bumi dangkal bermagnitudo M 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58.24 WITA. Berdasar Dokumen Laporan BMKG, pusat gempa NTT ini berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Analisis mekanisme fokal BMKG memastikan gempa Nagekeo 2026 dipicu oleh aktifnya Flores Back-Arc. Laporan resmi BMKG menyebutkan bahwa bidang patahan bergerak naik secara dominan dengan orientasi timur laut-barat daya, sudut kemiringan (dip) landai sekitar 22 derajat, serta nilai rake mendekati 90 derajat, menunjukkan dorongan vertikal kerak bumi akibat kompresi di perairan utara Flores.

BMKG mencatat nilai Percepatan Tanah Puncak (Peak Ground Acceleration/PGA) horizontal maksimum sebesar 622,80 gal pada komponen utara-selatan di Stasiun KMBFM Kuwus (Manggarai Barat), 549,66 gal di Stasiun Meteorologi Ruteng, dan 486,23 gal di Stasiun Langke Rembong. Guncangan di ShakeMap mencapai intensitas VIII MMI di Manggarai serta VII MMI di kawasan pesisir Sikka, Ngada, dan Nagekeo.

Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sempat mengeluarkan status Siaga dan Waspada tsunami untuk pesisir NTT, NTB, Sulsel, dan Sultra. Alat pemantau muka laut mengonfirmasi adanya tsunami lokal setinggi 0,94 meter di Stasiun Maurole (Ende), 0,38 meter di Pelabuhan Kewapante (Sikka), 0,36 meter di Labuan Bajo, 0,25 meter di Flores Timur, 0,17 meter di Dompu, dan 0,14 meter di Bakalang (Alor) sebelum peringatan berakhir pukul 07.31.30 WITA.

Data terbaru BNPB per 20 Agustus 2026 memperlihatkan dampak destruktif di seluruh daratan Flores. Jumlah korban meninggal dunia 72 orang, 900 orang mengalami luka-luka, dan sebanyak 82.691 warga terpaksa mengungsi.

Kerusakan fisik tercatat melanda 28.901 unit rumah tinggal, bersama ratusan fasilitas publik yang mencakup 804 gedung sekolah, 257 perkantoran, 237 sarana kesehatan, dan 195 rumah ibadah.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora