Menuju konten utama

Belajar dari Gempa NTT: Mengenal Sesar Flores dan Mitigasinya

Kawasan Flores Back-Arc Thrust merupakan salah satu tatanan tektonik yang kompleks di Indonesia dan memicu pelepasan seismik dan pergeseran signifikan.

Belajar dari Gempa NTT: Mengenal Sesar Flores dan Mitigasinya
Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sabtu (16/8/2026) pagi, nuansa damai di Nusa Tenggara Timur (NTT) berubah mencekam setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang sejumlah wilayah. Tidak lama berselang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengeluarkan status peringatan tsunami di beberapa daerah NTT.

Masyarakat yang tinggal di Pulau Flores, seperti Sikka, Mbay, Borong, Ruteng, Ende, sampai Maumere, panik. Rumah hingga fasilitas publik hancur setelah gempa bumi terjadi. Sebut saja Ruang tunggu Pelabuhan L. Say, Maumere, NTT rusak berat akibat gempa tersebut. Satu orang, Bernadus Muda (66), meninggal dunia akibat terkena reruntuhan gedung itu.

Oskar Sawa, salah seorang warga yang berada di Pelabuhan L. Say mengaku sedang berada di ruang tunggu saat gempa terjadi. Dia berada di lokasi karena mengantar keluarga yang akan berangkat dengan menumpang Kapal KM Bukit Siguntang menuju Kalimantan. Ketika gempa terjadi, Plafon hingga dinding bangunan runtuh. Para penumpang yang menunggu di dalam ruang tunggu pun mulai berteriak panik dan berlari menyelamatkan diri.

“Karena teriak histeris, makanya semua lari tidak tahu arah lagi ke mana-mana. Ada yang lari ke laut, ada yang lari ke darat. Ada yang loncat ke dalam air laut,” kata Oskar saat ditemui kontributor Tirto pada Sabtu (18/8/2026) lalu.

Tidak hanya di Pelabuhan L. Say, kepanikan masyarakat juga terjadi di RSUD Maumere. Ratusan pasien dan warga lari berhamburan, menyelamatkan diri ke halaman parkir RSUD saat gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA.

Berdasarkan pantauan kontributor Tirto di lokasi, para tenaga kesehatan RSUD Maumere tampak memberikan pelayanan darurat kepada para pasien di halaman parkir.

Lebih memprihatinkan lagi, masyarakat yang tinggal di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, kini menghadapi ancaman lanjutan setelah gempa bumi. Mereka terancam kelaparan karena akses komunikasi dan transportasi menuju pulau tersebut telah putus.

Gempa bumi tersebut juga menyisakan kecemasan bagi ribuan masyarakat NTT. La Adi (60), seorang warga Wuring, Sikka, NTT, mengaku trauma dengan gempa besar yang pernah dialaminya pada 1992 silam.

Oleh karena itu, saat gempa terjadi Sabtu (15/8/2026) lalu, ia dan keluarganya memilih mengungsi ke halaman Kantor Bupati Sikka sebelum dipindahkan ke posko terpusat di Stadion Gelora Samador, Sikka pada Sabtu (15/8/2026) malam.

Pengungsi korban gempa di Manggarai Timur

Warga beraktivitas di tenda pengungsian korban gempa bumi di kawasan Ronting, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). BNPB mencatat sebanyak 15.465 orang mengungsi di Kabupaten Manggarai Timur, terdiri atas 14.499 orang yang mengungsi secara mandiri dan 966 orang yang mengungsi di sejumlah posko pengungsian. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Bukan Kali Pertama Flores Diguncang Gempa Besar

Gempa bumi besar yang melanda Pulau Flores bukan pertama kali terjadi. Pada 12 Desember 1992 lalu, masyarakat Flores juga pernah mengalami guncangan gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo. Meski begitu, menurut laporan Kompas (13/12/1992), lembaga geofisika Institut de Physique du Globe yang berkedudukan di Strasbourg, Prancis, mencatat magnitudonya mencapai skala 7,5.

Kala itu, gempa membuat ratusan bangunan di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, runtuh. Beberapa kampung pesisir pun tenggelam karena daratan yang ambles. Lalu, dalam beberapa menit, air laut perlahan naik dan gelombang tinggi menerjang pesisir setelahnya. Pada saat itu, gempa juga memicu longsor di area perbukitan.

Perekayasa utama Museum Geologi Bandung, Heriyadi Rachmad, menjelaskan, lokasi longsor paling parah ada di bagian tengah dan selatan Kota Maumere. Massa batuan vulkanik dan pasir di perbukitan di sekitar Maumere terpecah oleh getaran gempa. Material longsor membuat akses jalan yang menghubungkan Maumere dan kota-kota sekitarnya putus.

Penyisiran lokasi terdampak gempa

Personel Basarnas memeriksa kondisi bangunan yang rusak saat melakukan penyisiran di lokasi terdampak gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Penyisiran dilakukan di sejumlah titik terdampak gempa bumi untuk memastikan tidak ada korban yang masih belum dievakuasi. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Penelitian Pranantyo dan Cummins (2019) menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Flores pada 1992 lalu telah menyebabkan terjadinya retakan pada segmen tertentu dari sistem sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust).

Penelitian itu berpendapat bahwa geometri rinci Flores Back-Arc Thrust tersebut dapat memiliki implikasi penting terhadap bahaya gempa bumi dan tsunami, yakni dengan membatasi magnitudo maksimum serta mengarahkan perambatan retakan ke arah yang dekat dengan pusat-pusat permukiman di daratan.

Mengenal Flores Back-Arc Thrust

Penelitian Maulida dkk (2024) menjelaskan bahwa Bali dan Nusa Tenggara merupakan wilayah di Indonesia dengan tatanan tektonik yang kompleks. Kedua wilayah ini terletak di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di bagian selatan.

Interaksi antar-lempeng ini kemudian menyebabkan terbentuknya busur kepulauan Sunda dan Banda. Selain itu, pembentukan lempeng-lempeng kecil atau blok mikro di kawasan ini mengakibatkan munculnya retakan atau sesar di wilayah Nusa Tenggara.

Penelitian tersebut memaparkan, aktivitas tektonik memicu terbentuknya sesar geser dan sesar normal pada periode Tersier Akhir atau Kuarter Awal. Di samping itu, di belakang busur vulkanik Flores, terdapat sesar naik yang dikenal sebagai Flores Back-Arc Thrust yang juga berpotensi memicu gempa bumi.

Kawasan Flores Back-Arc Thrust merupakan salah satu tatanan tektonik yang kompleks di Indonesia. Secara geografis, Flores Back-Arc Thrust membentang dari Bali hingga Nusa Tenggara Timur. Aktivitas tektonik di wilayah ini disebut dapat menyebabkan pelepasan energi seismik dan pergeseran yang signifikan.

Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, Pulau Flores, dari sisi geologi, diapit oleh subduksi yang terjadi di sisi selatan dan Back-Arc Thrust di sisi utara.

“Nah, ini semakin kompleks karena adanya sesar mendatar dan deformasi dalam busur dan jajaran gunung api aktif di arah timur barat. Seperti kita ketahui bahwa gunung api itu adalah zona lemah. Jadi zona regangan yang ada di kawasan itu, itu menjadikan NTT punya gempa bumi yang sangat tinggi, khususnya Flores,” kata Eko saat dihubungi Tirto pada Selasa (18/8/2026).

Penyisiran lokasi terdampak gempa

Personel Basarnas dan SAR Polri memeriksa kondisi bangunan Puskesmas Dampek yang rusak saat melakukan penyisiran di lokasi terdampak gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Penyisiran dilakukan di sejumlah titik terdampak gempa bumi untuk memastikan tidak ada korban yang masih belum dievakuasi. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Menurut Eko, Flores Back-Arc Thrust memiliki peran penting karena sumber gempa tersebut berada relatif dekat dengan pusat permukiman.

Ia menyebut, kondisi tersebut membuat ancaman dari sesar naik Flores berbeda dengan ancaman dari zona subduksi di selatan NTT.

“Karena itu patahan-patahan di sana atau gempa-gempa di sana lebih banyak dipicu oleh patahan Flores di utara. Sesar naik Flores ini sering menjadi ancaman paling nyata bagi warga di pesisir utara,” tuturnya.

Pengalaman gempa Flores pada 1992, menurut Eko, semestinya menjadi pelajaran penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Sebab, tsunami yang bersumber dekat dengan daratan dapat tiba dalam waktu yang sangat singkat.

Selain guncangan gempa, tsunami juga dapat diperkuat oleh bahaya turunan seperti longsoran bawah laut. Akibat waktu tiba tsunami dapat sangat singkat, Eko menilai kemampuan masyarakat melakukan evakuasi mandiri menjadi sangat penting.

“Secara nyata ancaman itu ada, masyarakat segera perlu melakukan evakuasi sendiri enggak memikirkan apa-apa, tapi kan kehadirannya ancaman itu sering tidak terbayangkan,” tuturnya.

Sesar naik Flores juga tidak dapat dipandang sebagai satu garis patahan yang bekerja secara seragam. Eko menjelaskan, sistem tersebut terbagi menjadi sejumlah segmen yang memiliki karakteristik berbeda.

Ia menerangkan, perbedaan segmen juga membuat tingkat kecenderungan serta keterpaparan dari gempa bumi di masing-masing wilayah mengalami perbedaan.

Selain itu, kondisi geologi lokal yang berbeda-beda juga menentukan tingkat kerusakan yang terjadi ketika gempa mengguncang suatu wilayah. Sehingga apabila ada sejumlah wilayah yang mengalami gempa dengan magnitudo yang sama, tingkat keparahannya bisa berbeda.

“Kondisi geologi lokal, tanah, batuan itu juga tentu berpengaruh berperan pada amplifikasi guncangan gempa. Jadi kalau ada wilayah yang sama dapat guncangan atau magnitudo yang sama itu belum tentu punya kerusakan yang sama, jadi bisa saja punya kerusakan yang berbeda,” katanya.

Dampak gempa di Manggarai Timur

Warga mengamati tanah yang retak dan longsor akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Kondisi Geologi Lokal Pengaruhi Dampak Gempa Bumi

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, turut menyoroti faktor lain yang kerap luput dalam pembahasan gempa, yakni kondisi geologi setempat.

Jenis dan kepadatan lapisan batuan atau endapan disebutnya dapat memengaruhi derajat guncangan di permukaan. Lapisan lunak seperti endapan aluvial dapat mengalami amplifikasi guncangan sehingga bangunan menjadi lebih rentan.

Artinya, tingkat kerusakan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan gempa. Dua bangunan yang berada di wilayah berbeda dapat mengalami tingkat kerusakan berbeda meskipun sama-sama diguncang gempa.

“Tipikal kerusakan bangunan akibat kegagalan tiang kolom lantai dasar ini disebut soft column failure. Jadi kondisi batuan atau endapan akan menimbulkan kerusakan yang berbeda di setiap wilayah ketika terjadi gempa bumi,” kata Adrin kepada Tirto, Selasa (18/8/2026).

Bahaya turunan juga terlihat dalam sejarah kegempaan Flores pada 1992 lalu maupun gempa terbaru yang terjadi pada Sabtu (18/8/2026). Selain tsunami, pada 1992 lalu, likuifaksi pernah terjadi di kawasan pantai utara Maumere yang tersusun atas endapan aluvial atau pasir lepas.

Pada gempa terbaru, fenomena serupa dilaporkan berupa semburan air dan pasir di sejumlah lokasi di kawasan Waekokak-Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Dampak gempa di Manggarai Timur

Foto udara bangunan Masjid Al-Istiqomah Ronting yang rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Kondisi batuan yang lemah karena pelapukan juga dapat memicu longsor di lereng perbukitan. Material longsoran bahkan dapat menutup akses jalan utama, seperti yang dilaporkan terjadi di ruas Waigete–Galit, Kabupaten Sikka.

Dengan demikian, risiko gempa perlu dihitung secara lebih luas, bukan hanya dari kerusakan bangunan akibat guncangan langsung.

“Jadi, selain bahaya utama berupa guncangan kuat, gempa bumi juga dapat menimbulkan bahaya turunan lainnya yang juga menimbulkan risiko pada permukiman, infrastruktur, dan fasilitas penunjang lainnya,” sebutnya.

Pentingnya Penerapan Bangunan Tahan Gempa & Edukasi Masyarakat

Selain evakuasi, penguatan bangunan menjadi bagian penting dalam melakukan mitigasi dampak dari gempa bumi. Adrin mengatakan, pembangunan di wilayah rawan gempa seperti Pulau Flores perlu mengikuti standar bangunan tahan gempa.

“Pemerintah telah menerbitkan SNI 1726:2019 sebagai standar utama dan minimum perancangan ketahanan gempa untuk bangunan baru, juga SNI 9273 dan SNI 9274 sebagai standar baru yang terbit pada 2024, khusus untuk evaluasi dan rehabilitasi bangunan tahan gempa yang sudah ada,” jelasnya.

Penerapan standar tersebut penting terutama bagi fasilitas publik. Sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, dan bangunan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat harus memiliki tingkat keselamatan yang memadai karena akan menjadi tempat berkumpulnya banyak orang ketika bencana terjadi.

Sementara itu, untuk kawasan yang berpotensi tsunami, Adrin mendorong pengendalian pembangunan di pesisir. Zona bahaya tsunami sebaiknya tidak menjadi lokasi permukiman baru. Kawasan tersebut dapat dialihfungsikan menjadi kawasan konservasi, hutan mangrove, sabuk hijau seperti cemara laut, atau fasilitas publik non-permanen.

Dampak gempa di Manggarai Timur

Warga berjalan di dekat bangunan Masjid Al-Istiqomah Ronting yang rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Namun, tata ruang membutuhkan waktu dan komitmen. Perubahan pemanfaatan ruang tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kebijakan. Ia menekankan pentingnya kemauan politik pemerintah daerah, penguatan pelaksanaan aturan, serta koordinasi dengan pemerintah pusat.

Di sisi lain, edukasi mengenai kondisi wilayah juga perlu berjalan bersamaan dengan penyediaan bangunan bertingkat yang tahan gempa, yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara/TES ketika muncul ancaman tsunami.

“TES ini perlu dilengkapi dengan jalur naik yang ramah disabilitas dan juga pasokan logistik yang cukup untuk men-support pengungsi dalam beberapa hari,” ucapnya.

Pengungsian korban gempa di Manggarai Timur

Foto udara tenda pengungsian korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) di kawasan Ronting, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Selasa (18/8/2026). BNPB mencatat sebanyak 15.465 orang mengungsi di Kabupaten Manggarai Timur, terdiri atas 14.499 orang yang mengungsi secara mandiri dan 966 orang yang mengungsi di sejumlah posko pengungsian. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher