Menuju konten utama

Mimpi Sederhana Warga Kalimantan: Bernapas Tanpa Asap

Berbulan-bulan hidup di tengah kabut asap, warga Kalimantan harus tetap bekerja, mengurus keluarga, dan menghadapi naiknya biaya kebutuhan.

Mimpi Sederhana Warga Kalimantan: Bernapas Tanpa Asap
Header Decode 3 Hidup di Bawah Asap Karhutla. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setiap pagi, Widia (30) harus lebih dulu melihat kondisi langit sebelum memutuskan apa yang bisa dilakukan hari itu. Bukan sekadar memastikan apakah cuaca akan hujan atau panas, melainkan mengukur seberapa tebal asap yang menggantung di atas Pontianak, Kalimantan Barat.

Lebih dari dua bulan, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti kota tersebut. Pada tahun-tahun sebelumnya, asap biasanya mulai menghilang pada akhir Juli atau Agustus. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Kabut asap bertahan lebih lama dan, menurut Widia, mencapai tingkat terparah yang ia rasakan dalam 11 tahun terakhir.

“Asap karhutla ini terjadi setiap tahun selama musim kemarau. Biasanya itu mulai akhir Juli sampai Agustus saja. Tapi tahun ini lebih dari biasanya. Sudah 2 bulan lebih belum juga reda, bahkan asap lebih parah. Sempat mencapai indeks kualitas udara di angka >2.000. Asap karhutla tahun ini paling parah sejak 11 tahun lalu,” kata Widia saat dihubungi Tirto, Senin (21/9/2026).

Kabut asap karhutla di Lintang Batang Kalbar

Sejumlah kendaraan melintasi jalan yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (31/8/2026). ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.

Asap tidak hanya mengubah pemandangan dari balik jendela rumah. Kehadirannya perlahan mengubah banyak bagian kehidupan sehari-hari: sekolah, olahraga, perjalanan akhir pekan, hingga pengeluaran rumah tangga.

Widia bercerita, anak-anak di Pontianak telah menjalani pembelajaran daring selama tujuh minggu. Sementara bagi warga yang tetap harus bekerja, pilihan untuk berdiam diri di rumah tidak selalu tersedia.

“Kalau untuk bekerja itu normal seperti biasanya. Sedangkan bepergian seperti jalan-jalan weekend tentu dibatasi karena untuk menjaga kesehatan. Untuk olahraga, dari pemda menutup kegiatan Car Free Day (CFD) sampai kualitas udara membaik,” ujarnya.

Setiap kali harus keluar rumah, Widia menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Ia juga sempat mengalami hidung perih akibat kualitas udara yang buruk.

Di tengah kondisi tersebut, persoalan lain ikut muncul. Air bersih semakin sulit diperoleh, sementara harga sejumlah kebutuhan sehari-hari meningkat.

“Untuk biaya tambahan tentu ya. Dari masker, vitamin, sampai ke kebutuhan pokok seperti air. Karena kami di sini krisis air bersih juga. Air PDAM selama kemarau ini jadi asin. Lalu air galon jadi langka karena banyak orang pakai untuk mandi dan cuci. Jadi harga air galon itu naik,” katanya.

Menurut Widia, harga sayur dan sejumlah kebutuhan dapur juga ikut meningkat. Para petani, kata dia, mengeluhkan kemarau panjang yang menyebabkan banyak tanaman sayuran rusak.

Setiap hari, Widia rutin memantau kondisi udara melalui aplikasi IQAir. Namun, mengetahui angka kualitas udara tidak serta-merta membuat seseorang bisa memilih untuk tetap berada di rumah. Bagi sebagian warga, pekerjaan tetap menuntut mereka keluar meski udara sedang buruk.

Dampak kabut asap dari karhutla di Kalsel

Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap akibat karhutla berdampak pada terbatasnya jarak pandang bagi pengguna jalan nasional yang menjadi jalur penghubung Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.

Dalam Tiga Bulan, Hanya Dua Hari Menghirup Udara Bersih

Pengalaman Widia bukan satu-satunya. Di Kalimantan Tengah, Linda (24), pegawai perusahaan ekspedisi di Kabupaten Gunung Mas, mengatakan paparan asap sudah ia rasakan sejak Juni 2026.

Selama sekitar tiga setengah bulan, ia hanya dua kali merasakan udara yang menurutnya benar-benar lebih lega. Selebihnya, asap menjadi bagian dari keseharian.

“Sangat sering bahkan sudah berlangsung dari bulan Juni. Daripada pertanyaannya seberapa sering terpapar, lebih baik tanyakan seberapa sering udaranya sedikit lega untuk bernapas. Saya akan jawab, selama 3 bulan setengah ini hanya 2 kali udara yang bersih dan matahari bisa menembus asap,” kata Linda, Selasa (22/9/2026).

Asap tidak berhenti di luar rumah. Menurut Linda, kabut asap juga masuk ke tempat tinggalnya. Ia, anggota keluarganya, dan sejumlah tetangga mengalami keluhan yang serupa, mulai dari batuk hingga sesak napas, terutama pada malam hari.

“Saya dan anggota keluarga bahkan tetangga saya punya keluhan sama. Kami batuk-batuk, napas sesak setiap malam saat tidur karena asap itu sudah masuk ke rumah warga. Bahkan sisa bakaran hutan yang hitam-hitam itu juga masuk ke rumah. Setiap keluar mata perih dan bau asap yang menyengat,” ujarnya.

Feature Hidup di Bawah Asap

Lingkungan tempat tinggal Linda (24) yang masih diselimuti asap, Jumat (25/9/2026). tirto.id/linda

Meski kondisi udara memburuk, Linda tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia mengatakan tidak mendapat bantuan dan memilih bertahan dengan kemampuannya sendiri.

“Kami jarang berdiam di rumah karena kami harus tetap bekerja dan menyambung rezeki untuk kami sendiri. Kami tidak mendapat bantuan apa pun, jadi kami harus mandiri karena di sini selain asap dan kebakaran kami menghadapi masalah kesulitan air bersih,” kata Linda.

Pada 22 September, asap kembali sangat pekat. Langit, menurut Linda, berubah menjadi oranye dan bahkan sempat terlihat merah.

Fenomena Matahari Merah

Fenomena alam matahari berwarna merah di Kalimantan. (Sumber: thread@yiarapsza)

Kondisi serupa dirasakan Dika (30), kreator konten yang bekerja di sebuah kedai kopi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pekerjaannya mengharuskannya berada di lapangan untuk mengambil foto dan video sekaligus mengerjakan desain.

“Asap pasti masuk ke ruangan. Terus dalam segi kegiatan ya banyak banget yang menghambat mobilitas. Apalagi kami yang suka olahraga di luar ruangan, itu sangat terasa hambatannya. Tidak bisa lari, dipaksakan pun napas terasa engap dan sesak,” kata Dika, Jumat (25/9/2026).

Dika pun tetap bekerja di tengah kualitas udara yang tidak sehat. Tuntutan ekonomi membuat aktivitas sehari-hari tidak bisa begitu saja dihentikan.

Ibunya kerap mengalami sesak napas. Adiknya harus mengikuti pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap. Di sisi lain, Dika tetap harus berada di luar rumah untuk bekerja.

“Tuntutan ekonomi terus ada dan kehidupan harus terus berjalan. Ini bukan pilihan tapi sebuah keharusan, dan tantangan terberat adalah bagaimana saya bisa bertahan dalam kondisi seperti ini terus tanpa ada solusi, hanya bisa menunggu. Ada sekolah yang harus menyesuaikan pembelajaran, olahraga yang dihentikan, masker dan vitamin yang harus dibeli, air bersih yang semakin sulit didapat, hujan turun,” ujarnya.

Dampak kabut asap dari karhutla di Kalsel

Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap akibat karhutla berdampak pada terbatasnya jarak pandang bagi pengguna jalan nasional yang menjadi jalur penghubung Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.

Ketika Kabut Asap Menggerus Penghasilan dan Kesehatan Warga

Di Pontianak, dampak kabut asap juga dirasakan warga yang penghasilannya bergantung pada aktivitas sehari-hari. Rani (27), misalnya, merupakan guru honorer di sebuah sekolah swasta. Di luar pekerjaan mengajar, ia berjualan nasi bungkus seharga Rp10.000 yang dititipkan di sejumlah tempat penjualan.

Kabut asap membuat kegiatan belajar-mengajar berhenti selama sekitar satu setengah bulan. Para siswa diliburkan atau mengikuti pembelajaran daring. Bagi Rani, penghentian kegiatan belajar juga berarti berkurangnya penghasilan karena gajinya sebagai guru honorer dihitung berdasarkan kehadiran.

“Karena aku masih guru honorer jadi untuk pembayaran gaji per kedatangan. Jadi selama libur gaji untuk mengajar tidak ada. Jadi aku hanya mengharapkan uang jualanku aja,” kata Rani saat dihubungi Tirto, Kamis (24/9/2026).

Asap di Kalbar

Jalan raya yang dilalui Rani untuk bekerja di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (24/9/2026). FOTO/Rani

Namun, berjualan pun bukan perkara mudah. Ketika asap semakin pekat, penjualan ikut menurun. Pada saat yang sama, harga bahan baku meningkat dan air bersih semakin sulit diperoleh.

Kebutuhan air bahkan menjadi pengeluaran tambahan. Harga air galon yang biasanya Rp6.000-Rp7.000 meningkat menjadi sekitar Rp10.000. Di sejumlah tempat, Rani menemukan harga hingga Rp15.000.

“Untuk galon saja biasanya hanya 6-7 ribu tapi sekarang naik jadi 10 ribu, bahkan ada yang jual sampai 15 ribu,” ujarnya.

Rani juga memiliki anak berusia 2,5 tahun. Karena itu, ia berusaha mengurangi aktivitas di luar rumah. Beberapa hari sebelumnya, ia memeriksa indeks kualitas udara melalui IQAir dan mendapati angkanya mencapai lebih dari 1.000, bahkan mendekati 2.000.

Asap kemudian masuk ke rumah, termasuk kamar tempat anaknya berada. Situasi itu membuat Rani merasa tidak lagi memiliki ruang yang benar-benar aman untuk melindungi anaknya.

“Jujur kondisi saat ini aku menangis karena kesal. Aku ngerasa tempat yang aman untuk anakku hanya di kamar, tapi saat asap masuk aku kebingungan ke mana lagi anakku harus berlindung dari paparan asap,” kata Rani.

Asap di Kalbar

Jalan raya yang dilalui Rani untuk bekerja di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (24/9/2026). FOTO//Rani

Di Palangka Raya, Misda (28) menghadapi persoalan serupa. Ia bekerja di bidang aftermarket aksesori dan modifikasi mobil, pekerjaan yang membuatnya berada di luar ruangan sejak pagi hingga sore.

“Karena aku kerjanya outdoor dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, otomatis 12 jam aku di luar ruangan hirup asap. Apalagi kalau sudah menjelang siang ke sore asap makin tebal,” kata Misda, Jumat (25/9/2026).

Pada Kamis (24/9/2026), asap masih memenuhi kawasan di depan toko aksesori dan modifikasi mobil tempat Misda bekerja di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

asap di Kalteng

Bagian depan toko aksesori dan modifikasi mobil tempat Misda bekerja yang masih diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (24/9/2026). FOTO//Misda 4

Bagi Misda, asap bukan hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga pekerjaan. Matanya terasa perih saat bekerja, sementara penjualan di tempatnya bekerja disebut turun sekitar 50 persen dibandingkan sebelumnya. Air purifier miliknya bahkan sempat menunjukkan angka 600 pada 24 September 2026.

Anaknya yang masih berusia sembilan bulan juga sempat sakit akibat paparan asap. Meski kini telah sehat, memburuknya kembali kualitas udara membuat kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang.

“Aku cuma berharap pemerintah gerak cepat menangani masalah karhutla ini,” ujarnya.

Asap di Kalteng

Air purifier milik Misda menunjukkan angka 600, Kamis (24/9/2026). FOTO/Misda

Ketika Udara Buruk Menjadi Masalah Kesehatan & Ekonomi

Dampak kabut asap memang tercermin dalam data kesehatan pemerintah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi-provinsi yang terdampak karhutla sepanjang Juli-September 2026.

Hingga 13 September 2026, kasus ISPA secara kumulatif mencapai 129.652 kasus di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 30.194 kasus terjadi pada kelompok usia hingga lima tahun, sedangkan 99.458 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Kalimantan Selatan mencatat 35.606 kasus, disusul Kalimantan Barat dengan 29.523 kasus, Sumatera Selatan 26.426 kasus, Riau 14.875 kasus, Kalimantan Timur 11.672 kasus, dan Kalimantan Tengah 11.550 kasus.

Kabut asap karhutla di Palangka Raya

Sejumlah pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (12/9/2026). Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat jarak pandang hanya 500 meter pada Sabtu (12/9) pukul 15.24 WIB akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.

Selain ISPA, Kemenkes mencatat 356 kasus pneumonia, 1.801 kasus diare akut, 226 kasus penyakit kulit, 133 penyakit mata, dan 41 kasus influenza-like illness.

Kemenkes menyatakan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat signifikan sejak akhir Juli dan masih tinggi hingga 13 September 2026.

“Kasus ISPA akibat karhutla terus meningkat signifikan sejak akhir Juli 2026 dan masih tinggi hingga 13 September 2026, Kalimantan Selatan sebagai wilayah dengan kasus tertinggi, sementara upaya mitigasi kesehatan (distribusi masker, oksigen, posko kesehatan) terus berjalan di seluruh 7 provinsi terdampak karhutla,” tulis Kementerian Kesehatan dalam keterangan yang diterima Tirto, Kamis (17/9/2026).

Asupan tambahan jaga kesehatan orang utan terdampak asap

Sejumlah individu orang utan (Pongo pygmaeus) mengikuti pengasuhnya di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

Dampak paparan partikulat halus juga menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian. PM2.5, partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

Penelitian Uda (2019), misalnya, mengestimasi sekitar 648 kematian prematur per tahun, atau sekitar 26 kematian per 100.000 penduduk, yang berkaitan dengan paparan tersebut.

Studi lain berjudul “Catastrophic impact of extreme 2019 Indonesian peatland fires on urban air quality and health” oleh Mark dkk. (2024), yang diterbitkan di Communications Earth & Environment, secara khusus menganalisis dampak kebakaran gambut Indonesia pada 2019 dengan menggunakan data PM2.5 dari model CAMS.

Penelitian tersebut memperkirakan lebih dari 1.200 kematian berlebih di Palangka Raya, lebih dari 3.200 di Kalimantan Tengah, dan lebih dari 87.000 secara nasional pada 2019 yang berkaitan dengan paparan PM2.5 dari kebakaran.

Terbaru, dalam kajian “Yang Sesak Napas dan Yang Membayar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan - Valuasi Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan Indonesia Januari s.d. Agustus 2026”, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.

Kabut asap karhutla di Palangka Raya

Sejumlah kapal bersandar di Sungai Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (12/9/2026). Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat jarak pandang hanya 500 meter pada Sabtu (12/9) pukul 15.24 WIB akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.

Pemerintah Sempat Klaim Kondisi Normal

Cerita Widia, Linda, Dika, Rani, dan Misda hanyalah sebagian kecil dari pengalaman warga Kalimantan di tengah meluasnya karhutla sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 1 Agustus hingga 14 September 2026, luas lahan terbakar di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur mencapai 32.896,67 hektare. Luasan tersebut hampir setara dengan dua kali luas Kota Bandung.

Di tengah keluhan warga mengenai kualitas udara dan dampak karhutla, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto sebelumnya melaporkan kondisi masyarakat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas pada Rabu (23/9/2026).

Suharyanto menyebut aktivitas dasar masyarakat, seperti lalu lintas, toko, dan rumah makan, masih berjalan. Menurutnya, gangguan terutama terjadi pada akses keluar-masuk wilayah akibat kabut asap yang mengganggu penerbangan.

“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi lalu lintas, toko-toko, rumah makan, dan lain sebagainya juga biasa, Bapak Presiden, tidak ada yang terganggu,” kata Suharyanto pada Rabu, 23 September 2026.

Dampak kabut asap bagi penerbangan di Bandara Tjilik Riwut

Sebuah pesawat udara terparkir di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (24/9/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.

Dua hari kemudian, Suharyanto memberikan klarifikasi mengenai penggunaan kata “normal” tersebut melalui unggahan akun Instagram resmi BNPB Indonesia, Jumat (25/9/2026).

Ia menjelaskan bahwa istilah “normal” yang dimaksud merujuk pada indikator yang terbatas, yakni aktivitas dasar masyarakat yang masih berjalan. Istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi lingkungan ataupun keseluruhan kehidupan masyarakat yang terdampak kabut asap.

“Perlu saya jelaskan bahwa konteks kata ‘normal’ yang dimaksud adalah indikator terbatas terkait aktivitas dasar masyarakat, seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan masyarakat, yang masih tetap berjalan,” kata Suharyanto dalam pernyataannya, Jumat (25/9/2026).

Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan untuk menyimpulkan kondisi lingkungan telah kembali normal ataupun mengabaikan kesulitan yang dialami masyarakat.

“Pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa kondisi lingkungan telah normal, dan mengabaikan kondisi faktual terkait kesulitan dan penderitaan masyarakat terdampak. Dan bukan juga dimaksudkan untuk mereduksi fakta menurunnya kualitas hidup masyarakat terdampak karhutla dan kabut asap,” ujarnya.

Karhutla membakar belasan makam Katolik

Suasana pascakebakaran hutan dan lahan di Pemakaman Katolik Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (2/9/2026). Belasan makam umat Katolik terbakar akibat rembetan kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah tersebut pada Minggu (30/8/2026). ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/nym.

Setelah Asap Hilang

Persoalan kabut asap tidak selalu selesai ketika api atau titik panas menghilang. Partikel hasil pembakaran dapat tetap berada di atmosfer dan terbawa angin ke wilayah lain.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, PM2.5 yang berasal dari karhutla dapat tetap tersuspensi di atmosfer selama beberapa hari hingga beberapa minggu setelah api atau hotspot padam. Partikulat tersebut juga dapat berpindah sejauh puluhan hingga ribuan kilometer.

“Konsentrasi PM2.5 tidak otomatis langsung turun saat api atau titik panas (hotspot) padam. Partikulat halus berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memiliki dinamika atmosferik yang memungkinkan mereka tetap bertahan, tersuspensi, dan melayang di udara selama beberapa hari hingga beberapa minggu,” kata Ardhasena saat dihubungi Tirto, Kamis (17/9/2026).

Karena itu, kehidupan di Kalimantan selama musim karhutla bukan sekadar perkara menunggu langit kembali biru. Ada sekolah yang harus menyesuaikan pembelajaran. Ada kegiatan olahraga yang dihentikan. Ada masker dan vitamin yang harus dibeli. Ada air bersih yang semakin sulit diperoleh dan harga kebutuhan dapur yang ikut meningkat.

Ada pula pertanyaan yang jauh lebih sederhana, tetapi penting bagi warga: kapan anak-anak bisa kembali belajar di sekolah? Kapan warga bisa keluar rumah tanpa terlebih dahulu memeriksa angka kualitas udara?

Dampak kabut asap dari karhutla di Kalsel

Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap akibat karhutla berdampak pada terbatasnya jarak pandang bagi pengguna jalan nasional yang menjadi jalur penghubung Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.

Widia masih bekerja seperti biasa. Ketika pekerjaan mengharuskannya keluar rumah, ia tetap berangkat. Namun, aktivitas lain yang tidak mendesak sebisa mungkin dibatasi.

“Pertimbangan tetap keluar rumah karena harus bekerja ya. Karena tidak ada arahan untuk WFH. Tidak seperti sekolah yang melakukan pembelajaran daring. Tapi kalau untuk bepergian jalan-jalan sangat dibatasi,” kata Widia.

Di rumah, ia menutup ventilasi ketika asap sedang pekat. Air purifier digunakan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan, sementara masker selalu disiapkan ketika ia harus keluar.

“Untuk mengurangi paparan asap tentu menggunakan masker saat keluar rumah, di rumah pun kami menutup ventilasi dan juga menggunakan air purifier,” ujarnya.

Semua itu dilakukan agar kehidupan tetap berjalan di tengah udara yang belum sepenuhnya aman.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - Decode
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Alfitra Akbar