tirto.id - Sekitar dua bulan terakhir, Thania Ang (29), hidup dalam kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pagi, siang, sore hingga malam, asap menjadi bagian dari kesehariannya. Rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung pun tak selalu mampu membendung asap yang masuk.
Kecemasan Thania kian besar karena ia memiliki dua anak yang masih kecil. Anak pertamanya pernah mengalami pneumonia. Pada awal September 2026, kedua anaknya juga sempat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Anakku yang pertama pernah kena pneumonia dan awal bulan lalu, kedua anakku sakit ISPA. Untungnya segera ditangani, jadi untuk kegiatan luar ruangan demi perkembangan anakku itu sih dikurangin,” cerita Thania kepada Tirto, Senin (21/9/2026).
Bagi Thania, asap karhutla bukan sekadar angka dalam laporan kualitas udara. Asap membatasi ruang geraknya sehari-hari. Menurut pengalamannya, kondisi di Banjarmasin memang belum separah yang dirasakan warga di sejumlah daerah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Namun, udara yang buruk membuatnya harus mengurangi aktivitas di luar rumah.
Terlebih, Thania memiliki asma yang kondisinya memburuk ketika terpapar asap. Masalahnya, menghindari asap sepenuhnya bukan pilihan yang tersedia baginya.
Sebagai ibu tunggal sekaligus pekerja lapangan yang berprofesi sebagai jurnalis, Thania tetap harus keluar rumah untuk bekerja. Ia mengaku sempat mengalami penurunan kondisi kesehatan ketika beraktivitas di tengah paparan asap.
“Anak-anak aku serempak sakit, dan aku sempat drop juga karena aku juga ada penyakit bawaan asma. Cuma demi pekerjaan, ya mau tidak mau kita ke lapangan,” ujarnya.

Kekhawatiran Thania bukan tanpa alasan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut paparan asap kebakaran hutan dapat menyebabkan penurunan fungsi paru dan peningkatan hipereaktivitas saluran napas.
Kemenkes juga menyebut asap kebakaran hutan mengandung bahan karsinogen, seperti polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Namun, Kemenkes menegaskan belum ada bukti dan laporan mengenai terjadinya kanker akibat pajanan asap kebakaran hutan.
Untuk karbon monoksida (CO) pada konsentrasi rendah, Kemenkes menyebut sejumlah laporan mengenai efek jangka panjang, antara lain sakit kepala menetap, mual, depresi, gangguan neurologis, serta perburukan gejala pada orang dengan penyakit jantung koroner.
Kelompok balita, anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih dalam situasi paparan asap. Di titik itu, karhutla bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Bagi Thania, asap juga menjadi persoalan ekonomi.
Sebagai pekerja lapangan, ia harus tetap bekerja meski mengetahui risiko paparan asap yang mengintai.
“Tantangan terberat di masa seperti ini jelas ekonomi. Kalau enggak dipaksain ke lapangan, kita makan apa,” ujarnya.

Kalimantan Terbakar, Warga Terkepung Asap
Kisah Thania hanyalah satu potongan dari persoalan yang lebih besar. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Luas lahan yang terbakar terus bertambah, sementara jumlah titik panas berfluktuasi hingga September 2026.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 1 Agustus hingga 14 September 2026, luas lahan terbakar di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur mencapai 32.896,67 hektare. Luasan itu hampir dua kali luas Kota Bandung.
Jika dihitung sejak awal tahun hingga 14 September 2026, luas lahan terbakar di empat provinsi tersebut mencapai 48.535 hektare di Kalimantan Barat, 15.976,1 hektare di Kalimantan Tengah, 19.303,99 hektare di Kalimantan Selatan, dan 5.761 hektare di Kalimantan Timur. Artinya, dalam waktu kurang dari sembilan bulan, lebih dari 89 ribu hektare lahan di empat provinsi tersebut telah terbakar.
Namun, luas lahan yang terbakar belum sepenuhnya menggambarkan beban yang harus ditanggung warga. Ada persoalan lain yang muncul setelah api membakar lahan: asap yang menyebar, partikulat yang bertahan di udara, dan polusi yang akhirnya dihirup masyarakat.
Data BMKG mengenai kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5 pada 21 September 2026 menunjukkan 25 wilayah di Kalimantan berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya. Sebanyak 16 wilayah masuk kategori tidak sehat, lima wilayah sangat tidak sehat, dan empat wilayah berada pada kategori berbahaya.
Di Palangka Raya, misalnya, konsentrasi PM2.5 yang tercatat pada 21 September 2026 disebut mencapai 785,1 mikrogram per meter kubik. Sebagai konreks, PM2.5 merupakan partikel halus berukuran sangat kecil yang konsentrasinya dinyatakan dalam mikrogram per meter kubik (µg/m³). Semakin tinggi konsentrasinya, semakin banyak partikulat halus yang berada di udara dan semakin besar potensi paparannya.
Jika angka 785,1 µg/m³ tersebut merupakan pengukuran yang dapat dibandingkan dengan pedoman rata-rata 24 jam, nilainya sekitar 52 kali pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15 µg/m³. Namun, perbandingan itu perlu mempertimbangkan periode averaging pengukuran agar tidak membandingkan angka dengan dasar waktu yang berbeda.
Di Kalimantan Selatan, episode polusi udara tinggi juga tercatat pada waktu berbeda. Pada 19 Agustus, Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan mencatat rata-rata harian PM2.5 sebesar 104,96 µg/m³. Konsentrasinya bahkan mencapai 412,80 µg/m³ pada pukul 05.00 WITA. Pada rentang pukul 04.00-09.00 WITA, konsentrasi PM2.5 berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan puncak 412,80 µg/m³ pada pukul 05.00.

Asap Tak Langsung Hilang Ketika Api Padam
Meski titik panas dan luas lahan terbakar dapat menurun, kondisi itu tidak otomatis mengakhiri persoalan asap. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, partikulat hasil karhutla memiliki dinamika atmosfer yang membuatnya tidak serta-merta hilang ketika api atau titik panas telah padam.
“Konsentrasi PM2.5 tidak otomatis langsung turun saat api atau titik panas (hotspot) padam. Partikulat halus berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memiliki dinamika atmosferik yang memungkinkan mereka tetap bertahan, tersuspensi, dan melayang di udara selama beberapa hari hingga beberapa minggu,” kata Ardhasena saat dihubungi Tirto, Kamis (17/9/2026).
Menurut Ardhasena, lamanya partikulat bertahan di udara dan seberapa jauh PM2.5 berpindah dipengaruhi kombinasi faktor meteorologi, karakteristik fisik partikulat, serta karakteristik kebakaran.
“Di atmosfer, PM2.5 dapat bertahan melayang mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu, serta mampu mengudara sejauh puluhan hingga ribuan kilometer, mencapai skala lintas batas negara/interkontinental,” jelasnya.

Kondisi tersebut, menurut Ardhasena, berkaitan antara lain dengan dominasi kebakaran gambut bawah permukaan atau smoldering/subsurface combustion, kemungkinan terjadinya inversi suhu, mixing height yang sangat rendah, serta fenomena long-range transport atau asap kiriman regional.
Dengan demikian, durasi paparan tidak selalu sama dengan durasi api yang terlihat. Karakteristik gambut menjadi salah satu faktor penting. Kebakaran bawah permukaan dapat membuat proses pembakaran dan pelepasan partikulat berlangsung berbeda dibandingkan dengan kebakaran yang hanya terjadi di permukaan.
Kondisi atmosfer juga menentukan apakah partikulat akan cepat terdispersi atau justru bertahan di lapisan udara dekat permukaan. Inversi suhu dan mixing height yang rendah, misalnya, dapat membuat konsentrasi polutan bertahan lebih lama. Paparan pun tidak hanya berasal dari partikulat yang masih melayang di udara. Partikel yang telah mengendap di tanah dan vegetasi dapat kembali terangkat melalui proses 
Kementerian Kesehatan menyebut PM2.5 dan abu halus yang mengendap di tanah maupun vegetasi dapat kembali masuk ke udara ketika tertiup angin atau terinjak. Endapan abu dan polutan yang terbawa angin atau hujan juga berpotensi mencemari air permukaan dan sumur warga.
Artinya, padamnya api tidak otomatis menjadi tanda berakhirnya seluruh paparan. Ada jeda antara hilangnya api, membaiknya kualitas udara, dan berkurangnya partikulat yang masih berada di lingkungan.
Lalu, ketika karhutla membuat udara Kalimantan dipenuhi PM2.5, sebenarnya seberapa besar dampaknya terhadap kesehatan warga?
Ketika Asap Menggerus Umur Warga Kalimantan
Dampak kesehatan akibat asap karhutla dapat dibedakan menjadi efek yang muncul dalam waktu relatif singkat dan dampak yang berpotensi berlangsung lebih lama. Guru Besar dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekaligus pakar kesehatan lingkungan, Budi Haryanto, mengatakan dampak karhutla terhadap kesehatan perlu dilihat dalam dua rentang waktu.
“Kita bisa lihat kalau dampak itu ada dua, akibat dari kebakaran hutan terhadap kesehatan itu ada jangka pendek, jangka panjang. Kalau jangka pendek itu yang langsung terlihat ya, batuk, pilek, tenggorokan kering, gatal, dan sebagainya. Kalau kemudian jangka panjangnya, itu kan masuk ke dalam tubuh ya, senyawa-senyawa kimianya,” jelas Budi saat dihubungi Tirto, Kamis (17/9/2026).
Dalam jangka pendek, paparan asap dapat berkaitan dengan munculnya atau memburuknya gangguan pernapasan. Kelompok tertentu, seperti anak-anak, lansia, orang dengan penyakit pernapasan, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, dapat memiliki risiko lebih tinggi.Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan dampak kesehatan karhutla dapat muncul dalam beberapa bentuk.
“Tentang dampaknya, dampak akut seperti terjadi ISPA dll. Dampak lanjutan, seperti perburukkan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi,” kata Tjandra kepada Tirto, Kamis (17/9/2026).
Temuan serupa terlihat dalam kajian literatur mengenai hubungan PM2.5 dan gangguan pernapasan pada kelompok rentan.
Penelitian Aisyah Luna Lampard dkk. (2026), berjudul “Paparan PM2.5 dan Risiko Penyakit Pernapasan pada Kelompok Rentan di Wilayah Urban: Systematic Review”, menganalisis 13 artikel dari 5.086 artikel yang ditemukan melalui Google Scholar dan ScienceDirect.
Sebagian besar penelitian yang dikaji menemukan hubungan positif antara paparan PM2.5 dan peningkatan risiko gangguan pernapasan. Pada anak-anak, gangguan yang dilaporkan antara lain ISPA, asma, pneumonia, bronkitis, batuk, sesak napas, dan penurunan fungsi paru.
Pada lansia dan orang dengan penyakit penyerta, paparan PM2.5 juga dikaitkan dengan memburuknya kondisi pernapasan dan meningkatnya risiko kematian. Namun, kajian tersebut menekankan bahwa dampak PM2.5 tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi polutan. Kondisi fisiologis, penyakit penyerta, perilaku, kondisi sosial ekonomi, dan aktivitas luar ruangan turut memengaruhi risiko.

Menariknya, salah satu penelitian yang ditinjau menggunakan data PM2.5 berbasis satelit dengan resolusi grid 1 kilometer × 1 kilometer dan menemukan hubungan antara paparan PM2.5 dengan peningkatan mortalitas, terutama pada lansia dan kelompok dengan status sosial ekonomi rendah.
Temuan-temuan tersebut membawa pembahasan pada pertanyaan yang lebih jauh: apakah paparan PM2.5 juga berhubungan dengan berkurangnya harapan hidup?
Penelitian Putri Sabila dkk. (2025) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai hubungan konsentrasi PM2.5 dengan harapan hidup di negara-negara ASEAN menggunakan data 10 negara ASEAN pada 2005–2020 dan model fixed effects. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif dan signifikan antara PM2.5 dan harapan hidup. Dalam model tersebut, kenaikan konsentrasi PM2.5 sebesar 1 µg/m³ dikaitkan dengan penurunan harapan hidup sebesar 0,145 tahun.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menghitung berapa tahun usia hidup warga Kalimantan yang hilang akibat karhutla. Penelitian itu menggunakan data 10 negara ASEAN dalam periode 2005–2020 dan mengukur hubungan PM2.5 dengan harapan hidup pada tingkat negara. Dengan demikian, angka 0,145 tahun bukan estimasi langsung mengenai berkurangnya harapan hidup warga Kalimantan akibat karhutla 2026.
Meski demikian, penelitian tersebut menunjukkan mengapa PM2.5 relevan ketika membicarakan harapan hidup. Paparan PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan, yang pada tingkat populasi dapat tercermin dalam perubahan harapan hidup.
Studi lain memberikan gambaran yang lebih dekat dengan konteks kebakaran gambut di Kalimantan. Dalam penelitian Assessing the health impacts of peatland fires: a case study for Central Kalimantan, Indonesia, Uda dkk. (2019) menggunakan model HYSPLIT untuk memodelkan penyebaran asap dari hotspot gambut selama 2011–2015. Model tersebut kemudian digunakan untuk mengestimasi konsentrasi PM2.5 dan dampaknya terhadap kesehatan hingga tingkat desa.Peneliti memperkirakan kebakaran gambut menyebabkan tambahan rata-rata 26 µg/m³ PM2.5 per tahun di Kalimantan Tengah. Mereka juga mengestimasi sekitar 648 kematian prematur per tahun, atau sekitar 26 kematian per 100.000 penduduk, yang berkaitan dengan paparan tersebut.
Studi lain, “Catastrophic impact of extreme 2019 Indonesian peatland fires on urban air quality and health” oleh Mark dkk. (2024), yang diterbitkan di Communications Earth & Environment, secara khusus menganalisis dampak kebakaran gambut Indonesia pada 2019 dengan menggunakan data PM2.5 dari model CAMS.
Penelitian tersebut memperkirakan lebih dari 1.200 kematian berlebih di Palangka Raya, lebih dari 3.200 di Kalimantan Tengah, dan lebih dari 87.000 secara nasional pada 2019 yang berkaitan dengan paparan PM2.5 dari kebakaran.

Sementara itu, studi “The health impacts of Indonesian peatland fires”(2022) mencakup Sumatra dan Kalimantan. Penelitian tersebut menggunakan konsentrasi PM2.5 dari citra satelit yang dikalibrasi dengan data pemerintah Indonesia, kemudian menghubungkannya dengan studi epidemiologi dan karakteristik populasi.
Estimasi penelitian itu mencakup sekitar 33.100 kematian prematur orang dewasa per tahun, 2.900 kematian prematur bayi per tahun, 4.390 rawat inap tambahan akibat penyakit pernapasan, 635.000 kasus asma berat pada anak, serta sekitar 8,9 juta hari kerja yang hilang.
Namun, penulis juga menekankan adanya ketidakpastian dalam estimasi tersebut. Salah satu sumber ketidakpastian terbesar berasal dari concentration-response functions yang digunakan. Rentang estimasi kematian prematur orang dewasa, misalnya, mencapai sekitar 19.900-64.800 per tahun.
Meski yang harus menjadi catatan, angka-angka dari penelitian tersebut tidak dapat dipindahkan begitu saja menjadi jumlah kematian atau tahun kehidupan yang hilang di Kalimantan pada 2026. Setiap studi menggunakan periode, wilayah, model, sumber data, dan asumsi yang berbeda.
Namun, keseluruhannya memperlihatkan bahwa dampak asap karhutla tidak berhenti pada keluhan batuk atau sesak napas. Paparan partikulat dapat membawa konsekuensi kesehatan yang jauh lebih panjang.
Lantas, apakah beban kesehatan itu sudah terlihat dalam data penyakit di Kalimantan pada 2026?
Ketika Kasus ISPA Meningkat
Data Kemenkes menunjukkan peningkatan kasus ISPA di provinsi-provinsi yang terdampak karhutla sepanjang Juli-September 2026. Hingga 13 September 2026, kasus ISPA secara kumulatif mencapai 129.652 kasus di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 30.194 kasus terjadi pada kelompok usia hingga lima tahun dan 99.458 kasus pada kelompok usia di atas lima tahun.
Kalimantan Selatan mencatat 35.606 kasus, disusul Kalimantan Barat 29.523 kasus, Sumatera Selatan 26.426 kasus, Riau 14.875 kasus, Kalimantan Timur 11.672 kasus, dan Kalimantan Tengah 11.550 kasus.
Selain ISPA, Kemenkes mencatat 356 kasus pneumonia, 1.801 kasus diare akut, 226 kasus penyakit kulit, 133 penyakit mata, dan 41 kasus influenza-like illness. Kemenkes menyatakan peningkatan ISPA mulai terlihat signifikan sejak akhir Juli dan masih tinggi hingga 13 September 2026.
“Kasus ISPA akibat karhutla terus meningkat signifikan sejak akhir Juli 2026 dan masih tinggi hingga 13 September 2026, Kalimantan Selatan sebagai wilayah dengan kasus tertinggi, sementara upaya mitigasi kesehatan (distribusi masker, oksigen, posko kesehatan) terus berjalan di seluruh 7 provinsi terdampak karhutla,” tulis Kementerian Kesehatan dalam keterangan yang diterima Tirto, Kamis (17/9/2026).

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, Kemenkes menyebut kasus ISPA pada Agustus–September 2026 secara konsisten lebih tinggi di tujuh provinsi terdampak, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Tren harian juga menunjukkan peningkatan mulai akhir Agustus dibandingkan Juli. Di Kalimantan Selatan, kasus ISPA berada di kisaran 1.500–2.000 kasus per hari. Pola serupa terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, dan Sumatera Selatan.
Namun, peningkatan kasus tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa karhutla menyebabkan seluruh kasus ISPA. Kemenkes mengakui ISPA, ILI, dan pneumonia memang secara alami cenderung meningkat pada Agustus. Karena itu, pembanding dengan pola musiman menjadi penting.
Menurut Kemenkes, kenaikan kasus pada 2026 berada di atas pola musiman tersebut dan pencemaran udara akibat karhutla menjadi faktor tambahan. Penjelasan itu didukung pemantauan ISPU yang menunjukkan kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya di sejumlah wilayah.
Budi Haryanto juga menekankan keterbatasan dalam mengukur dampak jangka panjang. Masyarakat telah lama terpapar berbagai sumber pencemar udara, sehingga dampak kronis tidak dapat secara eksklusif dikaitkan dengan karhutla.
“Efek jangka panjang ini sangat sulit dibuktikan eksklusif disebabkan oleh karhutla,” ucap Budi.

Salah satu indikator yang lebih mudah diamati adalah apakah kasus penyakit mulai turun setelah sumber paparan berkurang. Sementara itu, dampak jangka panjang membutuhkan pemantauan lebih lama terhadap kelompok penduduk yang sama.
“Nah, ketika karhutlanya mulai reda, nanti eksposurnya kan berkurang. Kalau ingin tahu, dilihat penyakit jangka pendek. Tentunya karena sumbernya sudah berkurang, ya mereka jumlah kasusnya mulai berkurang. Itu paling mudah untuk melihatnya,” kata Budi.
Jumlah kasus ISPA menunjukkan adanya beban kesehatan selama periode karhutla. Namun, angka tersebut belum menjawab pertanyaan yang lebih panjang: berapa banyak kematian yang mungkin terjadi lebih dini akibat paparan asap, dan apakah paparan berulang ikut memengaruhi harapan hidup?
Untuk menjawabnya, jumlah kasus ISPA saja tidak cukup. Sebab, tubuh manusia tidak berada dalam ruang hampa. Sebelum karhutla datang, masyarakat telah lebih dulu menghirup berbagai jenis polutan. Asap kebakaran kemudian menjadi tambahan terhadap beban pencemar yang sudah diterima tubuh.

Budi mengibaratkan kondisi itu dengan manusia yang bukan “kertas putih”.
“Sementara selama ini kan selama hidup ini mereka-mereka ini kan juga sebelum kebakaran juga udah menghirup udara tercemar kendaraan bermotor, tercemar macam-macam kan. Itu kan nyampur. Orang-orang ini kan bukan dari kertas putih, ya, artinya hanya pada saat mulai saat itulah dia tercemar gitu kan,” kata Budi.
Tubuh memang memiliki mekanisme untuk membersihkan sebagian partikulat. Ketika seseorang yang sebelumnya terpapar asap kemudian berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih, paru-paru dapat melakukan proses pembersihan terhadap sebagian partikulat yang masuk.
“Jadi misalnya orang yang terpapar oleh asap karhutla terus-terusan ketika dia di luar atau di jalanan, terus kemudian kan sampai sesak napasnya, sesak dan batuk. Tapi ketika kemudian dia berada di tempat yang oksigennya bagus, terus kemudian tertutup rapat, dan bersih dalam beberapa waktu ya, sejam dua jam, paru-parunya itu melakukan pembersihan sendiri,” jelas Budi.
Namun, mekanisme tersebut tidak berlaku sama untuk seluruh zat yang terkandung dalam asap. Asap juga membawa berbagai senyawa kimia, termasuk hidrokarbon, sulfur, dan nitrogen oksida atau NOx. Menurut Budi, senyawa tertentu dapat bertahan dan terakumulasi sehingga berpotensi berkontribusi terhadap gangguan kesehatan kronis.
“Jadi nempel di tubuh, nempel di organ tubuh, lama-lama kemudian menyebabkan gangguan. Gangguan kesehatan yang kronis istilahnya,” katanya.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id



































