Menuju konten utama

Siapa Andrea Bocelli & Kenapa MUI Desak Pembatalan Konsernya?

Rencana konser Andrea Bocelli ditentang MUI. Bocelli selama ini dikenal pro-Israel. Ia bahkan pernah menggalang dana untuk tentara IDF. Simak profilnya.

Siapa Andrea Bocelli & Kenapa MUI Desak Pembatalan Konsernya?
Andrea Bocelli, tampil di hadapan Paus Leo XIV dalam sebuah konser di Borgo Laudato Si'—sebuah pusat pendidikan dan lingkungan seluas 55 hektare di Castel Gandolfo—pada tanggal 29 Juli 2026. foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak rencana konser musisi Andrea Bocelli di Indonesia dibatalkan. Bocelli disebut MUI memiliki rekam jejak dukungan kepada Israel dalam perang melawan Palestina. Namun, siapa sebenarnya Bocelli, benarkah ia memang punya rekam jejak dukungan terhadap negara Zionis itu?

Sebelumnya, konser Andrea Bocelli di Indonesia direncanakan digelar di dua tempat, yakni Magelang, Jawa Tengah pada 31 Oktober mendatang dan Jakarta pada 3 November setelahnya. Acara ini turut didukung pemerintah melalui Kementerian Pariwisata; Kementerian Ekonomi Kreatif; dan Danantara.

Kemudian pada Sabtu (10/10/2026), MUI merilis pernyataan untuk menolak pelaksanaan konser tersebut. Dalam keterangan tersebut, MUI menilai bahwa konser penyanyi ternama asal Italia itu perlu dibatalkan karena Bocelli merupakan figur pendukung Zionisme.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto Abdul Hakim menyatakan bahwa Indonesia secara historis dan konstitusional telah menentang penjajahan dan penindasan, termasuk terhadap bangsa Palestina. Menurut Sudarnoto, pelaksanaan konser Bocelli hanya akan mencederai hal tersebut.

“Harus dibatalkan demi menjaga prinsip keberpihakan kita pada kemanusiaan,” kata Sudarnoto, dikutip dari laman resmi MUI.

Profil Andrea Bocelli dan Rekam Jejaknya Terkait Israel

Andrea Bocelli dikenal secara global sebagai musisi. Ia merupakan penyanyi kelahiran Lajatico, Italia pada 1958 lalu.

Bocelli buta sejak usia 12 tahun. Sejak lahir, Bocelli mengalami kondisi glaukoma kongenital yang membuat bola matanya tertekan. Namun, benturan dalam sebuah pertandingan sepak bola pada usia 12 tahun kemudian membuat Bocelli buta.

Dalam keadaan buta tersebut, Bocelli kemudian masuk kuliah pada dekade 1980-an. Di sana ia berkenalan dengan industri musik. Ia mulai tampil di berbagai bar piano di Italia dan dari sana namanya mulai dikenali.

Pada 1993, Bocelli menandatangani kontrak rekaman untuk pertama kalinya. Setelah itu, musik-musik yang ia produksi laku keras di pasaran dan membuatnya dapat berkolaborasi dengan berbagai penyanyi besar di dunia.

Hal itu seperti tampak pada perilisan lagu “Con Te Partirò” pada 1995. Lagu itu kini dikenal sebagai salah satu hits dari Bocelli yang mendunia setelah dirilis ulang dalam versi duet bersama Sarah Brightman. Selain lagu itu, Bocelli juga turut dikenal lewat kolaborasinya dengan Céline Dion lewat lagu “The Prayer” pada 1998.

Akan tetapi, kendati tak sedikit karyanya diakui secara global, Bocelli merupakan sosok yang dikenal sebagai musisi dengan rekam jejak dukungan terhadap Israel. Bagi para aktivis pro-Palestina, Bocelli dikenal sebagai pesohor yang justru mendukung Tentara Pertahanan Israel (IDF) beroperasi.

MUI turut menyebutkan keterkaitan Bocelli dengan IDF itu dalam keterangannya pada Sabtu lalu. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto menyebut Bocelli pernah terlibat dalam acara penggalangan dana untuk tentara IDF di Los Angeles pada 2010 lalu.

Acara yang disinggung Sudarnoto itu merupakan acara penggalangan dana sebuah organisasi yang berbasis di AS yang kerap melakukan acara penggalangan dana untuk kesejahteraan tentara IDF. Bocelli tercatat pernah menjadi salah satu penampil dalam acara tersebut.

Akan tetapi, acara penggalangan dana itu bukan satu-satunya peristiwa yang menunjukkan kedekatan Bocelli dengan Israel. Pada 2022 lalu, ia tampil di sebuah stadion di Tel Aviv di hadapan para penonton termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Hal itu terjadi di tengah aksi para aktivis pro-Palestina menyerukan pemboikotan Israel.

Kini, Bocelli juga tampak memiliki hubungan yang baik dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang dikenal sebagai suporter Israel. Ia merupakan salah satu dari sedikit musisi internasional yang tampil untuk Trump dalam beberapa tahun terakhir ini.

Rekam jejaknya terkait dengan Israel tersebut kemudian membuat Bocelli menuai reaksi keras dari berbagai wilayah di dunia. Seruan yang dilakukan MUI di Indonesia rupanya bukan satu-satunya reaksi yang dialamatkan ke Bocelli.

Konser Bocelli di Indonesia pada 31 Oktober dan 3 November mendatang sejatinya merupakan bagian dari rangkaian tur dunia musisi tersebut pada 2026. Selain di Indonesia, rencana konser Bocelli juga ditentang di Yordania.

Menukil Arab News, Rabu (7/10), kelompok aktivis pro-Palestina di Yordania turut menyerukan pembatalan rencana konser Bocelli di sana. Gerakan Boikot, Divestasi, Sanksi (BDS) di Yordania juga menyerukan agar rencana itu “diboikot” karena riwayat dukungan Bocelli yang lama terhadap Israel.

Baca juga artikel terkait ANDREA BOCELLI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar