tirto.id - Selama ini, alergi sering dianggap sebagai sesuatu yang menyerang kita pada waktu bayi atau kanak-kanak, lalu ketika kita tumbuh dewasa kondisi itu bisa bertahan, bisa pula tidak. Alergi terhadap makanan, misalnya, bisa hanya terjadi pada masa kanak-kanak, lalu hilang saat seseorang telah tumbuh dewasa.
Lalu, ada pula alergi yang, celakanya, dapat bertahan seumur hidup. Misalnya, alergi terhadap kacang, meskipun ada pula orang yang "kehilangan" alergi ini saat tumbuh dewasa. Selama ini, kira-kira begitulah penilaian atau pemahaman sebagian besar orang terhadap alergi.
Sederhananya, alergi berlangsung dalam dua tahap. Pertama, sistem imun tubuh "salah menilai" zat yang sebenarnya tidak berbahaya, misalnya serbuk sari atau protein makanan. Dari situ, tubuh lalu membuat antibodi bernama imunoglobulin E, disingkat IgE. Fase ini disebut sensitisasi.
Tahap kedua terjadi saat zat yang sama masuk lagi. Ketika itu terjadi, tubuh melepas histamin dan zat peradangan lain. Hasilnya, pembuluh darah melebar, lendir keluar, kulit terasa gatal, dan jaringan saluran napas membengkak hingga membuat seseorang kesulitan menghirup udara.
Untuk memicu alergi itu tidak dibutuhkan dosis besar. Untuk kasus serbuk sari ragweed, misalnya, alergi sudah bisa muncul ketika seseorang terpapar tak lebih dari satu mikrogram per tahun. Siapa yang menderita alergi dan tidak karena paparan tersebut ditentukan oleh apakah tubuh menghasilkan IgE untuk merespons itu atau tidak.
Namun, gen tidak sama dengan takdir. Pada anak kembar identik, contohnya, apabila ada satu yang mengidap asma, kembarannya belum tentu merasakan hal yang sama. Tingkat konkordansinya (ukuran seberapa sering sepasang subjek memiliki ciri atau diagnosis yang sama) hanya sekitar 50 persen dan itu berarti faktor lingkungan juga sangat menentukan.
Apa Penyebab Alergi?
Alergi, bisa dibilang, "identik" dengan anak-anak. Ini tidak berlebihan mengingat, pada tahun 2001, ada sebuah ulasan akademis yang memperkirakan bahwa alergi menyerang 30 sampai 35 persen anak-anak. Untuk usia bayi, biasanya alergi yang terjadi adalah alergi makanan seperti susu sapi dan telur.
Prediksi tersebut sedikit banyak terbukti dalam sebuah studi yang dilakukan di Surabaya. Pada 2019 lalu, tim peneliti Universitas Airlangga menemukan bahwa 21,9 persen anak SD, 28,9 persen pelajar SMP dan SMA, dan 45,3 persen mahasiswa positif terhadap setidaknya satu dari 45 alergen. Sayangnya, studi ini bersifat potong lintang (cross sectional) sehingga tidak bisa menentukan mana yang datang lebih dulu, paparannya atau penyakitnya.
Lantas, bagaimana dengan orang dewasa? Dalam warta yang disampaikan Universitas Harvard tahun 2024, disebutkan bahwa Lisa, yang kala itu berusia 40 tahunan, sudah terbiasa menyantap pelbagai hidangan laut, mulai dari udang, kerang, kepiting, hingga lobster. Namun, pada suatu hari, dia mengalami pembengkakan bibir dan lidah, kulit biduran, dan muntah-muntah. Setelah dirawat dan menjalani tes, ditemukan bahwa kerang, yang juga merupakan favoritnya, tiba-tiba saja "berkhianat". Setelah seumur hidupnya tak pernah mengalami masalah, Lisa dinyatakan alergi terhadap kerang.

Kasus semacam ini ternyata cukup jamak. Di AS, 11 persen orang dewasa punya alergi makanan dan, rupanya, hampir separuh dari mereka baru merasakan gejala saat sudah dewasa. Yang jadi persoalan, tidak ada jawaban pasti mengapa alergi-alergi semacam ini bisa datang terlambat. Walau demikian, seiring dengan makin banyaknya studi, sejumlah faktor sudah mulai tampak.
Faktor pertama adalah sejarah masa lalu. Apabila seseorang di masa kecilnya pernah mengalami reaksi alergi berat, bahkan sekali saja, kansnya untuk mengidap alergi saat sudah tumbuh dewasa otomatis akan meningkat. Frekuensi bertemu alergen juga punya pengaruh. Misalnya, apabila seseorang dengan potensi untuk alergi terhadap kerang hanya memakannya beberapa kali dalam setahun, kemungkinan alergi muncul belakangan akan semakin besar.
Faktor kedua adalah perubahan dalam hidup. Misalnya, saat pindah ke tempat baru dan tubuh terpapar dengan tumbuhan tertentu yang sebelumnya tidak pernah dijumpai. Keputusan untuk memelihara hewan untuk pertama kali juga acap jadi pemicu. Selain itu, turunnya sistem imun serta kehamilan juga dapat membuka jalan bagi alergi.
Berikutnya ada infeksi. Studi di Journal of Allergy and Clinical Immunology yang terbit 2026 menganalisis rekam medis lebih dari 118 juta pasien di Amerika Serikat. Peneliti membandingkan 973.794 orang dewasa yang terinfeksi COVID-19 dengan orang yang tidak terinfeksi maupun divaksin.
Selama tiga bulan pemantauan, risiko asma pada kelompok terinfeksi naik 65,6 persen, risiko rhinitis alergi (hay fever) naik 27,2 persen, dan risiko rinosinusitis kronis naik 74,4 persen. Di sini, mekanismenya memang belum bisa dipastikan, tetapi Ruchi Gupta dari Universitas Northwestern memperkirakan, saat tubuh kewalahan melawan virus, alergen yang kebetulan masuk ikut dianggap ancaman.
Selain itu, ada pula pengaruh obat, khususnya antibiotik. Studi di Inggris terhadap 1.091.449 anak menemukan bahwa konsumsi antibiotik sebelum usia dua tahun berkaitan dengan risiko asma 24 persen lebih tinggi dan alergi makanan 33 persen lebih tinggi. Semakin banyak periode durasi minum antibiotik (antibiotic course), semakin tinggi kaitannya. Hal ini juga turut ditemukan dalam studi di Surabaya tadi.
Gupta menduga, antibiotik mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, yaitu koloni bakteri yang membantu mengatur kerja sistem imun. Oleh karena itu, dia menyarankan agar selama periode durasi konsumsi antibiotik berlangsung, seseorang juga mesti mengonsumsi probiotik, prebiotik, yogurt, atau makanan fermentasi untuk meningkatkan kesehatan usus.
Kemudian, yang tak boleh dikesampingkan pula adalah faktor hormon. Pada sekitar sepertiga perempuan yang sudah punya alergi lingkungan, gejala alergi memburuk saat mereka sedang hamil. Selain itu, menopause, yang umumnya terjadi pada perempuan sekitar usia 50, juga dicurigai jadi penyebab alergi.
Menopause terjadi ketika rahim berhenti memproduksi hormon reproduktif, estrogen dan progesteron. Berhentinya produksi estrogen, menurut studi kolaborasi Bulgaria-Spanyol yang terbit pada 2026, mengubah kerja sel mast, yaitu sel yang melepas histamin. Studi ini menyatakan, menopause dapat memperburuk alergi yang sudah ada serta memicu kemunculan alergi baru, meski, lagi-lagi, mekanismenya belum diketahui secara pasti.
Faktor terakhir yang memicu alergi di masa dewasa adalah gigitan kutu. Jadi, ada kutu bernama kutu lone star yang membawa gula bernama alfa-gal dalam air liurnya. Gula ini sebenarnya diproduksi kebanyakan mamalia. Namun, manusia sendiri kehilangan kemampuan memproduksinya sekitar 10 juta tahun lalu. Hasilnya, ketika seseorang digigit kutu tersebut, sistem imun bisa menilai alfa-gal sebagai ancaman dan akhirnya muncullah alergi terhadap daging merah. Di AS, dari 2017 sampai 2022, penderitanya mencapai 90 ribu orang.
Apakah Alergi Bisa Sembuh?
Menurut Gupta, sampai saat ini belum ada obat yang bisa membalikkan alergi. Dalam uji klinis fase 3 terhadap 177 anak dan remaja dengan banyak alergi makanan, omalizumab, obat penghambat IgE, membuat 67 persen peserta sanggup menelan minimal 600 miligram protein kacang tanah tanpa gejala berat. Pada kelompok plasebo, angkanya hanya 7 persen.
Angka itu jelas menjanjikan, tetapi masih dengan catatan. Perlindungan yang diberikan membutuhkan dosis berkelanjutan dan, ditambah lagi, hanya ada tiga orang dewasa yang mengikuti uji klinis. Maka, bisa dikatakan, sampai sekarang alergi masih sama seperti sebelumnya. Ada yang bisa hilang dengan sendirinya seiring pertambahan usia, seperti alergi susu, telur, dan kedelai. Namun, ada yang bertahan seumur hidup, misalnya alergi kacang, ikan, dan hidangan laut.

Per data Mayo Clinic, 60 sampai 80 persen anak "sembuh" dari alergi susu dan telur dengan sendirinya pada usia 16 tahun. Sementara itu, untuk kacang tanah, angkanya cuma sekitar 20 persen, sementara ikan dan kerang hanya 4-5 persen.
Untuk alergi yang muncul saat usia dewasa pun tidak ada angka yang pasti mengenai "kesembuhannya". Tapi, alergi bisa "sembuh sendiri" ketika seseorang mulai menginjak paruh baya. Menurut Dr. Camellia Hernandez, ini terjadi karena pada usia seperti itu fungsi imun mulai menurun sehingga "provokasi" dari alergen tak lagi direspons.
Di hidung, lendir yang seharusnya menyapu bersih partikel asing bergerak makin lambat, sementara kulit kehilangan sebagian daya lindungnya sehingga alergen lebih gampang menembus. Satu hal yang tak boleh diabaikan, seiring bertambahnya usia, kadar IgE dan reaktivitas kulit cenderung menurun. Akibatnya, banyak alergi pada lansia yang akhirnya luput dari diagnosis.
Dengan demikian, cara terbaik menghadapi alergi saat ini adalah bersiap sedia. Untuk itu, pertama, kita mesti mengenali polanya. Bersin dan mata berair yang muncul setelah bertemu kucing dan hanya bertahan beberapa jam, misalnya, lebih mengarah ke alergi ketimbang flu yang biasanya berlangsung berhari-hari. Alergi makanan lebih mudah ditebak karena gejalanya muncul dalam hitungan menit sejak makanan itu disantap. Namun, semua itu jelas memerlukan diagnosis pasti dari dokter atau ahli kesehatan profesional.
Nah, apabila memang ternyata kita mengidap alergi, langkah berikutnya adalah menyediakan suntikan epinefrin otomatis dan memberi tahu orang sekitar. Segera cari pertolongan darurat bila muncul pembengkakan lidah atau tenggorokan, biduran di seluruh tubuh, pusing hebat, atau sesak napas. Imunoterapi atau suntik alergi juga bisa dipertimbangkan, tetapi efeknya baru bisa dirasakan setelah bertahun-tahun. Sekali lagi, langkah semacam ini juga mesti didiskusikan dengan dokter juga.
Pada akhirnya, ya, memang serumit itulah alergi. Masih ada banyak sekali yang belum kita ketahui tentangnya. Meski demikian, dalam wawancara dengan BBC, Gupta menyatakan optimismenya. Menurutnya, kini progres pada studi dan uji klinis terhadap alergi sudah sangat berkembang. Dia memang tidak menyatakan kapan bakal ada pengetahuan pasti soal mekanisme dan cara membalikkan alergi. Namun, seiring dengan semakin banyaknya riset, kita punya alasan kuat untuk turut merasakan optimisme yang sama.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































