Menuju konten utama
GWS

Menjalani Hidup Sehat ala Nenek-Nenek Italia

Hidup sehat, yang sebenarnya merupakan laku umum orang zaman dulu, kini menjadi tren, seolah itu bukan hal lumrah sejak awal. Nonnamaxxing salah satunya.

Menjalani Hidup Sehat ala Nenek-Nenek Italia
ilustrasi hidup sehat ala nenek nenek. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Beberapa tahun terakhir, media sosial tidak pernah kehabisan istilah tentang maxxing. Ada cozymaxxing, yang mengajak orang membikin rumah atau kamar tidur senyaman mungkin; fibermaxxing, yang mendorong konsumsi serat lebih banyak; sampai knowledge-maxxing, yang menyuruh kita rajin mempelajari hal baru untuk melawan pandemi digital bernama brain rot. Meski berbeda tujuan, semuanya berangkat dari logika yang sama, yaitu mengoptimalkan satu aspek hidup sampai maksimal.

Tren maxxing terbaru, meski sebenarnya sudah viral sejak awal 2026, adalah nonnamaxxing. Kata nonna berarti nenek dalam bahasa Italia. Jadi, nonnamaxxing kurang lebih berarti hidup semaksimal mungkin seperti nenek-nenek asal Italia.

Menurut Forbes, titik viral tren tersebut bisa dilacak sejak unggahan Instagram merek skincare Tallow Twins pada 24 Februari 2026. Unggahan itu berisi semacam manifesto gaya hidup, mulai dari resep turun-temurun, bahan makanan yang segar, memasak dengan lemak alami, sampai ajakan menjauh dari media sosial. Postingan itu disukai oleh hampir 60 ribu akun dan pencarian kata nonna maxxing di Google melonjak 700 persen seminggu setelahnya.

Begitu viral, isi konten soal itu cukup gampang ditebak. Kaum muda, kebanyakan perempuan, merekam dirinya membuat ragù (saus kental khas Italia berbahan dasar daging dan tomat) yang dimasak perlahan, menggulung gnocchi (pangsit atau sejenis pasta mini khas Italia)dengan tangan, merawat tanaman tomat, sampai menjemur cucian di halaman.

Estetikanya sangat khas Italia, Yunani, dan Balkan, dengan dapur berubin, cangkir espreso, minyak zaitun, serta resep warisan keluarga.

Walau namanya diambil dari bahasa Italia, gelombang komentar di unggahan akun Tallow Twins menunjukkan bahwa tren tersebut merambat lintas budaya.

Ada yang cerita soal baba atau neneknya dari budaya Slavia yang meninggal di usia 95 tahun, dan keluarganya sekarang menjatah sup peninggalannya sedikit demi sedikit. Ada juga yang minta versi yiayia maxxing untuk budaya Yunani, atau memere maxxing untuk budaya Prancis-Kanada.

Pendek kata, tren itu jadi ajang bernostalgia terhadap "dapur nenek" dengan sentuhan estetika yang terukur.

 ilustrasi hidup sehat ala nenek nenek

ilustrasi hidup sehat ala nenek nenek. foto/istockphoto

Mengapa Generasi Muda Tertarik pada Hal Semacam Itu?

Jawabannya ada di angka stres dan kelelahan digital. Survei Gallup menemukan, sebanyak 68 persen generasi Z dan milenial muda mengaku sering stres. Sementara itu, data Deloitte menyebut, sekitar 53 persen orang dewasa usia 18-40 tahun kesulitan membatasi waktu layar, dan lebih dari separuh generasi Z lebih sering berinteraksi lewat layar ketimbang tatap muka.

Psikoterapis Jonathan Alpert punya cara sederhana menjelaskan daya tarik itu kepada SELF. Menurutnya, nonnamaxxing sebenarnya tidak banyak berhubungan dengan nenek-nenek Italia sungguhan. Itu lebih tentang keinginan generasi muda kabur dari budaya hustle. "Daya tariknya adalah fantasi tentang hidup yang terasa membumi, hangat, dan tidak terburu-buru," katanya.

Namun, nonnamaxxing bukanlah fantasi estetika belaka. Di balik itu semua, ada kerja nyata yang, apabila diseriusi, bakal mendatangkan manfaat jauh lebih besar dari sekadar eskapisme sejenak.

Patronnya bisa dibilang di wilayah yang disebut Blue Zones, wilayah yang penduduknya diketahui hidup jauh lebih lama dari rata-rata dunia. Setidaknya ada lima wilayah, yaitu Sardinia di Italia, Ikaria di Yunani, Semenanjung Nicoya di Kosta Rika, Okinawa di Jepang, dan komunitas Adventis di Loma Linda, California.

Pengetahuan soal Blue Zones bermula dari ekspedisi National Geographic pimpinan Dan Buettner. Mereka menemukan sembilan kebiasaan yang mereka sebut Power 9, mulai dari bergerak alami setiap hari, punya rasa tujuan hidup, pola makan nabati, hingga koneksi sosial yang kuat.

Di Sardinia, rumah bagi pria dengan usia hidup terpanjang di dunia, rahasianya bukan olahraga berat, melainkan aktivitas harian seperti para gembala yang berjalan kaki minimal delapan kilometer setiap hari di daerah pegunungan. Pola makannya pun sederhana, didominasi roti gandum utuh, kacang-kacangan, sayur dari kebun sendiri. Daging hanya dikonsumsi pada Minggu atau acara khusus.

Riset lanjutan bernama CIAO Study, hasil kolaborasi Sanford Burnham Prebys, Sanford Stem Cell Institute di UC San Diego, dan Universitas La Sapienza di Roma, meneliti langsung para centenarian (orang berusia seratus tahun ke atas) di wilayah Cilento, Italia. Lewat analisis metabolomik berbasis AI, usia biologis para centenarian tersebut rata-rata 8,3 tahun lebih muda dibanding usia sebenarnya. Setelah ditelusuri, ternyata sekitar 90 persen dari mereka mengikuti pola makan Mediterania dan tetap aktif secara fisik maupun sosial.

Riset tersebut juga menyebut soal peradangan dalam tubuh para centenarian. Biasanya peradangan kronis dikaitkan dengan penuaan dan penyakit. Tapi, para lansia tersebut punya kadar penanda anti-peradangan yang tinggi, semacam penyeimbang yang mungkin melindungi mereka dari efek buruk peradangan. Sirkulasi darah mereka pun setara dengan orang yang tiga puluh tahun lebih muda.

Semua aktivitas oleh para centenarian itu sebenarnya merupakan hal dasar dalam hidup manusia. Jalan cepat, misalnya, terbukti menurunkan risiko kematian dini, meski hanya 15 menit sehari. Begitu juga dengan koneksi sosial, misalnya menjadi sukarelawan, yang bermanfaat serupa.

Percuma Jika Hanya Berniat Estetika dan Nostalgia

Sampai sini, setidaknya ada dua jenis kalangan yang melakukan nonnamaxxing. Yang pertama lebih condong kepada estetika, sedangkan yang kedua mempraktikkan secara nyata cara hidup nenek-nenek tersebut.

Namun, kalau praktiknya hanya berhenti di estetika, nonnamaxxing rawan mewujud sesuatu yang oleh akademisi Lisa Portolan disebut sebagai "nostalgia yang mengedit sejarah".

Dalam kolomnya di The New Daily, Portolan mengingatkan bahwa perempuan-perempuan migran Eropa Selatan, yang datang ke Australia pada era 1950 dan 1960-an, tidak hidup dalam gambaran sinematik ala TikTok. Banyak dari mereka datang dari masyarakat yang diguncang perang, kemiskinan, dan sistem patriarki yang mengakar kuat. Pada akhirnya, kerja-kerja domestik menjadi sebuah "keharusan" yang harus dipenuhi, tanpa tuntutan imbalan apa pun.

Kini, menurutnya sosok nonna yang dirayakan di internet berisiko berubah menjadi maskot estetik, bukan perempuan utuh dengan kompleksitas politik, emosional, dan sosialnya. Domestikasi, yang dulunya adalah kewajiban sosial akibat gender dan migrasi, sekarang dijual ulang sebagai pilihan gaya hidup yang menenangkan.

Portolan menyoroti soal kesulitan hidup nyata zaman dulu yang diubah menjadi mood board yang enak dipandang, sementara sejarah di baliknya sengaja atau tidak sengaja terlewat begitu saja.

 ilustrasi lansia belajar

ilustrasi lansia belajar. foto/istockphoto

Jadi, bagaimana sebenarnya hidup ala nenek-nenek Italia yang benar itu?

Nicole Karlis, jurnalis kesehatan yang tinggal di Italia dan menulis untuk SELF, mencoba mendefinisikan nonnamaxxing lewat perbincangan dengan nonna sungguhan.

Licia Fertz, nonna berusia 96 tahun asal Viterbo, mengatakan bahwa kuncinya adalah tidak pernah menganggap diri sendiri tua, karena semua orang lahir muda. Ia rutin berdandan dan mengenakan warna cerah, bahkan saat tidak keluar rumah. Menurutnya, tampil rapi adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Cara pandang Fertz itu didukung sebuah studi yang menemukan kaitan antara cara perempuan memandang proses menua dengan kecepatan penuaan biologis mereka sendiri.

Fertz juga menjelaskan alasan dirinya tidak pernah kesepian meski usianya sudah tua. Menurutnya, hal yang benar-benar membuat orang menjadi tua adalah rasa bosan, bukan angka usia. Maka itu, ia rutin mengasuh cicitnya, dan menyebut momen itu sebagai "hadiah yang tidak pernah berhenti membuatnya kagum". Lagi-lagi, cara hidup Fertz tersebut disokong sebuah temuan yang menunjukkan bahwa pengasuhan di usia tua bisa menghambat penuaan kognitif seseorang.

Ada banyak kebiasaan-kebiasaan lain Fertz yang bermakna, meski terlihat sepele, yakni tidak berhenti beraktivitas (khususnya secara fisik), makan makanan sehat dan alami, serta rajin bersosialisasi.

Nonnamaxxing, terutama yang benar-benar bermakna dan dimaksimalkan ke hal-hal fundamental sehari-hari, dapat bermanfaat selayaknya seorang nenek-nenek zaman dulu. Mungkin usia kita takkan melebihi 100 tahun, tetapi setidaknya kita bisa menua dengan lebih baik, lebih sehat, dan lebih bermakna.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP SEHAT atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin