Menuju konten utama

Polisi Periksa Dokter dan Bukti CCTV Usut Kematian Sutrimo

Proses penyelidikan saat ini berfokus pada pencarian fakta mengenai wajar atau tidaknya kematian Sutrimo.

Polisi Periksa Dokter dan Bukti CCTV Usut Kematian Sutrimo
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (31/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya tengah menyelidiki kasus kematian seorang pria bernama Sutrimo alias S. Proses penyelidikan saat ini berfokus pada pencarian fakta mengenai wajar atau tidaknya kematian tersebut, termasuk mendalami dugaan keterkaitan almarhum dengan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, membenarkan bahwa tim penyelidik gabungan dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan sedang bekerja keras mengungkap misteri kematian ini.

"Intinya kita melakukan penyelidikan terkait tentang wajar atau tidak wajarnya meninggal seseorang bernama S. Ini masih kami dalami. Tidak ada kendala. Polri selalu mengedepankan nurani di dalam proses penyelidikan dan penyidikan," ujar Budi Hermanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Kasus ini menyita perhatian publik setelah muncul kabar dari pihak keluarga yang menyebut bahwa almarhum Sutrimo merupakan pekerja di kediaman seorang mantan Jampidsus.

Terlebih lagi, lokasi tempat kejadian perkara (TKP) disebut-sebut sangat berdekatan dengan rumah Febrie Adriansyah.

Budi menegaskan kepolisian belum bisa mengambil kesimpulan secara prematur karena proses pengumpulan alat bukti masih berlangsung, termasuk menunggu hasil pemeriksaan dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri.

"Ini masih dalam proses penyelidikan yang sedang berjalan, dilakukan oleh tim penyelidik gabungan. Termasuk hasil labfor ini juga belum keluar, kita masih menunggu hasil tersebut," ungkap Budi.

Lebih lanjut, Budi menanggapi pernyataan dari pihak keluarga maupun pihak kejaksaan yang sudah beredar luas di ruang publik.

"Mungkin teman-teman sendiri sudah mendapat statement dari pihak keluarga maupun dari pihak kejaksaan. Kami masih mendalami substansi dari proses awal informasi sampai dengan saat sekarang. Ini masih berproses," tegas Budi.

Terkait barang bukti elektronik seperti ponsel dan riwayat panggilan korban di sekitar TKP, Budi memastikan bahwa hal sekecil apa pun akan ditelusuri oleh penyidik.

Namun, kepolisian enggan membeberkan substansi materi secara rinci ke publik demi menjaga kerahasiaan penyelidikan yang sedang berlangsung.

Berdasarkan temuan awal kepolisian, almarhum Sutrimo diketahui dibawa menggunakan ambulans dari Klinik Modern menuju Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 09.10 WIB, sebelum akhirnya jenazah dipulangkan ke Banyumas, Jawa Tengah.

Tim gabungan telah melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti sejak Senin (27/7/2026).

Hingga saat ini, penyidik telah memintai keterangan dari lima orang saksi guna mengurai rentetan peristiwa tersebut.

Para saksi yang diperiksa mencakup berbagai pihak yang terlibat pada hari kejadian, mulai dari para pengemudi ambulans yang membawa jenazah korban hingga sosok yang melihat korban untuk terakhir kalinya di sekitar area klinik kecantikan.

"Saudara MA, pihak yang mengenal almarhum dan melihat saksi terakhir kali yaitu Rabu 22 Juli 2024 sekira pukul 20.00 di depan Klinik Mordent," ujar Budi.

Di luar pemeriksaan terhadap para saksi mata dan petugas ambulans, polisi juga tengah memverifikasi kebenaran sejumlah bukti visual yang beredar di masyarakat, termasuk foto kondisi jenazah dan rekaman CCTV dari pihak rumah sakit.

Hal ini dilakukan untuk menjawab spekulasi publik mengenai kondisi Sutrimo saat pertama kali ditemukan.

"Penyelidik sudah mengirim undangan klarifikasi kepada dokter yang memeriksa. Makanya nanti akan didalami dulu proses tersebut. Teman-teman juga sudah melihat ada foto yang beredar, tetapi kan harus kita klarifikasi, apakah benar itu kondisi awal, benar nggak itu merupakan sosok almarhum S atau bukan," papar Budi.

Penyidik juga sedang mencocokkan video keranda jenazah dan rekaman CCTV rumah sakit dengan fakta di lapangan.

Budi menekankan bahwa kepolisian membutuhkan persesuaian yang solid antara rekaman yang beredar luas di media sosial dengan data CCTV asli yang telah diamankan oleh tim penyelidik.

"Pada dasarnya Polda Metro Jaya menyampaikan rasa belasungkawa atas peristiwa yang terjadi. Semoga keluarga Bapak almarhum S dapat sabar dan menerima kekuatan," ujar Budi.

Berikut lima orang yang telah dimintai keterangan oleh penyelidik:

1. (AZ), pengemudi ambulans yang membawa jenazah menuju Banyumas;

2. (MOP), pengemudi ambulans tujuan Banyumas yang bertemu dengan seseorang bernama Mahmud (M) di RS Muhammadiyah Taman Puring dan membantu memindahkan jenazah dari ruang pemandian ke mobil ambulans;

3. (MZ), pemilik PT Zen Ambulance yang dihubungi oleh (S) yang merupakan pemilik PT Bintang Medika Ambulance, untuk mengantar jenazah ke Banyumas;

4. (MA), pihak yang mengenal almarhum dan diketahui terakhir bertemu dengannya pada Rabu, 22 Juli 2026 sekitar pukul 20.00 WIB di depan Klinik Mordent;

5. (AAS), pengemudi ambulans yang membawa almarhum dari Klinik Mordent menuju RS Muhammadiyah Taman Puring.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN JENAZAH atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - Flash News
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto