tirto.id - Emosi negatif, baik yang muncul akibat pupusnya hubungan asmara ataupun duka ditinggal orang terkasih, kerap memicu respons fisik yang spontan pada diri seseorang. Tidak sedikit individu yang akhirnya memilih meluapkan luka batin melalui aktivitas fisik berintensitas tinggi, seperti lari maraton, mendaki gunung, atau menghabiskan waktu berjam-jam di studio kebugaran.
Fenomena koping emosional itu terekam jelas dalam catatan autobiografis Bella Mackie dalam artikel The Guardian (2019). Ia menceritakan pengalaman pahit saat pernikahannya berakhir di usia 29 tahun. Keruntuhan rumah tangga tersebut membuatnya tak lagi sanggup menanggung kecemasan yang bertahan sejak kecil, disertai episode panik berulang yang melumpuhkan aktivitas hariannya.
Tanpa riwayat berolahraga berat sebelumnya, Mackie secara impulsif mengenakan pakaian seadanya, lalu mulai berlari di lorong gelap dekat tempat tinggalnya. Hal itu dilakukannya demi melarikan diri dari pusaran pikiran negatif.
Gejala itu barangkali berakar pada kecenderungan menerjemahkan penderitaan emosional yang abstrak menjadi pengalaman jasmani yang nyata dan terukur. Kendati demikian, dorongan berolahraga secara intens setelah perpisahan tidak jarang berujung pada perilaku ekstrem yang justru tidak sehat.
Kelelahan Fisik Meredam Kebisingan Kognitif
Keretakan hubungan emosional hampir selalu meninggalkan efek samping kognitif berupa ruminasi, yakni pola pikir pasif yang berulang-ulang mengarahkan fokus seseorang pada emosi negatif, penyesalan masa lalu, serta penyebab dan konsekuensi dari rasa sakit hati yang dialami.
Penelitian Shimeng Wang dkk., di PLOS ONE(2025: 11) menunjukkan, aktivitas fisik berintensitas sedang hingga tinggi dapat membantu mengurangi pikiran negatif yang berulang. Efek yang lebih kuat ditemukan pada aktivitas yang dilakukan selama 30 hingga 60 menit per sesi, tiga sampai lima kali seminggu, dan berlangsung dalam jangka panjang.
Manfaat tersebut lebih banyak dan kuat dirasakan oleh orang dengan depresi atau gangguan kecemasan. Sementara itu, pada orang sehat secara mental, manfaatnya cenderung lebih kecil dan bervariasi.
Saat seseorang melamun, meratapi nasib, atau terjebak dalam pikiran yang itu-itu saja, ada sebuah jaringan di dalam otak yang sedang menyala terang. Jaringan itu bernama Default Mode Network (DMN), yakni jaringan otak yang aktif saat otak dalam keadaan istirahat, berperan dalam proses-proses seperti refleksi diri, pemrosesan emosi, interaksi sosial, dan eksplorasi mental.
Peneliti Junyu Bai dan Jinqiao Zhang (2026: 6) mencatat bahwa jaringan otak yang terlanjur “panas” karena luapan emosi negatif sebenarnya bisa didinginkan kembali melalui aktivitas fisik berintensitas tinggi. Ketika tubuh dipaksa bergerak aktif, otak secara otomatis akan memindahkan fokusnya dari memori masa lalu (yang negatif) menuju kendali gerakan fisik yang nyata.
Proses pengalihan fokus itulah yang tecermin dalam kisah Mackie. Saat ingatan buruk tentang perceraian memenuhi isi kepalanya, ia secara spontan memilih berlari keluar rumah.
Langkah impulsif itu memberikan efek instan. Mackie menceritakan, dalam sesi lari pertamanya, ia mampu berhenti terobsesi pada kegagalan pernikahannya. Dengan memusatkan pandangan pada irama kaki yang menghantam trotoar, ia berhasil memaksa otaknya berhenti meratap.

Berakhirnya sebuah hubungan juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas situasi yang sebelumnya ia jalani. Dalam kondisi serba tidak pasti, olahraga menawarkan aktivitas konkret yang dapat dikendalikan sendiri. Seseorang dapat menentukan jarak lari, durasi latihan, jumlah repetisi beban, hingga kecepatan gerak.
Studi terbitanBMC Psychology (Volume 14, article number 662, 2026), yang menguji seribu lebih sampel partisipan mahasiswa dari sejumlah kampus di Cina, mengonfirmasi kesimpulan tersebut. Bahwasanya latihan fisik tidak hanya berhubungan langsung dengan tingkat ketahanan psikologis yang lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan hubungan tidak langsung dengannya lewat kaitannya dengan dukungan sosial dan pengendalian diri.
Namun demikian, perasaan memegang kendali tersebut bisa berbalik menyerang diri sendiri tanpa disadari. Begitu olahraga diandalkan sebagai satu-satunya mekanisme pertahanan hidup, batas antara pemulihan dan kompulsi mengabur secara perlahan.
Ambang Batas Antara Penyembuhan dan Kompulsi
Ketika seseorang menyadari bahwa kelelahan fisik mampu membungkam kebisingan di kepala akibat patah hati, tubuh secara otomatis merekam kenyamanan tersebut. Pelampiasan darurat yang semula hanya menjadi katarsis sesaat, perlahan menjelma sebagai rutinitas harian yang mengikat akibat "candu" terhadap ketenangan instan.
Pergeseran itu kerap digerakkan oleh faktor psikologis yang tidak disadari: ketakutan bahwa rasa sepi dan kesedihan akan kembali menyerang pikiran saat tubuh berhenti bergerak. Ketika dorongan emosional menuntut pelampiasan tanpa jeda, seseorang bisa saja masuk dalam lingkup olahraga berlebihan.
Penelitian bertajuk "Excessive Exercise—A meta-review" oleh Flora Colledge dkk. (2020: 7) mengidentifikasi, sejumlah bahaya laten mulai terlihat ketika dorongan berlatih memaksa seseorang mengabaikan sinyal sakit atau cedera fisik, memicu rasa bersalah yang berat ketika melewatkan satu sesi latihan, bahkan mulai mengorbankan fungsi hubungan sosial dan pekerjaan sehari-hari.
Namun, itu tidak jauh berbeda dari gejala olahraga berlebihan pada orang pada umumnya, meski bukan berlandaskan sakit hati. Selain itu, para ahli mengingatkan agar publik tidak menyematkan label psikologis candu secara gegabah.
Colledge dkk. (2020: 11) mencatat, bukti ilmiah yang ada saat ini belum cukup kuat untuk mengategorikan olahraga berlebihan sebagai gangguan adiktif resmi. Alih-alih penyakit mental, fenomena tersebut lebih tepat dilihat sebagai pola koping yang berlebihan, saat olahraga berubah fungsi dari sarana penyembuhan menjadi pelarian baru yang tidak sehat.
Berolahraga memang tidak lantas menyembuhkan depresi atau patah hati seketika. Namun, aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara mengelola emosi dan memberi seseorang jarak sejenak dari rasa sakit. Tolok ukur olahraga yang sehat di tengah krisis bukan semata-mata jarak atau intensitas latihan, melainkan dampaknya terhadap kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.
Keranjingan berolahraga secara tiba-tiba saat hati hancur lebur memang dapat menjadi salah satu cara menghadapi rasa sakit emosional. Ketika rasa sakit di dalam dada terlalu abstrak dan tak bisa disembuhkan dalam sekejap, orang cenderung mencari kendali pada satu-satunya hal yang masih bisa mereka atur: tubuh mereka sendiri.
Langkah kaki yang beradu dengan aspal bukan lagi sekadar urusan membakar kalori, melainkan cara menerjemahkan kepedihan emosional yang tidak kasatmata menjadi perjalanan fisik yang nyata, bisa diukur, dan yang terpenting: punya "garis finis" yang jelas.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































