Indeks Kesehatan Mental

Mengapa Ada Pasangan Berpura-pura Bahagia demi Menjaga Citra?
Beberapa alasannya adalah merasa takut dihakimi dan khawatir jika hubungan yang gagal akan menjadi beban bagi keluarga dan teman di sekitar.

Demi Meredam Sakit Hati, Kita Memindahkan Lukanya ke Kaki
Sakit hati kerap kali menerpa sebab kita tak punya kendali atas faktor penyebabnya. Lalu kenapa banyak orang memilih mekanisme koping aktivitas fisik?

Seperti Hailey Bieber, Kamu Pernah Merasa Takut Punya Anak?
Ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan perempuan untuk menunda kehamilan atau bahkan menolak menjadi ibu. Apa saja itu?

Anticipatory Anxiety, Kenapa Kita Cemas sebelum Sesuatu Terjadi?
Proses menunggu (the waiting) hampir selalu lebih menakutkan daripada kenyataan saat menghadapinya (the doing).

Merawat Diri sebagai Caregiver untuk Orang Tua dengan Demensia
Merawat pasien demensia bukan berarti harus mengorbankan seluruh diri. Caregiver juga perlu istirahat, berbagi peran, dan meminta bantuan.

Menghadapi Masa Sulit: Kamu Tidak Harus Melaluinya Sendirian
Begitu “terpancing” oleh pikiran dan perasaan negatif, kita biasanya akan mengambil jarak, termasuk menjauhi orang-orang terdekat.

Semangat Hidup Meredup: Pertanda Tubuh Butuh Pertolongan
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai, kata dr. Rachmawaty, adalah mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi harian, seperti mandi, makan, bekerja.

Mindfulness: Antara Perawatan Diri & Kritik Budaya Produktivitas
Dalam realitas masyarakat pekerja modern yang kewalahan di bawah tekanan "hustle-culture", mindfulness mendulang popularitas sebagai "obat penawar".

Happiness Guilt: Mengapa Kita Bisa Merasa Bersalah saat Bahagia?
Pernah merasa bersalah karena menikmati waktu istirahat di tengah tuntutan kerja yang tinggi? Atau bersalah setelah menerima rezeki di saat situasi krisis?

Masalah Keluarga Jadi Faktor Utama Kasus Krisis Healing 119
Persoalan hubungan keluarga, bullying, dan ekonomi menjadi yang paling banyak ditemukan dalam kasus krisis yang ditangani Healing 119.

Lurking: Mengamati Konten Medsos Tanpa Komentar atau Interaksi
Orang yang memilih tak mau berinteraksi di media sosial atau disebut lurker, biasanya karena mereka takut akan penilaian publik.

Anak Punya Teman Imajiner, Kapan Orang Tua Harus Concern?
Menurut studi, pada usia 7 tahun sekitar 37 persen anak membawa permainan imajinatif mereka secara mendalam dengan menciptakan teman yang tak terlihat.

"Klemar-Klemer": Mengapa Kita Bisa Kehilangan Sense of Urgency?
Menjadi lebih responsif dan tidak "klemar-klemer" bukan berarti hidup dalam stres permanen, melainkan sebuah keputusan untuk belajar menghargai waktu.

Tidak Mau Melakukan Apa-Apa? Ya, Tidak Apa-Apa
Secara biologis, saat tekanan hidup menumpuk terlalu lama, sistem saraf kita bisa masuk ke dalam apa yang disebut sebagai "respons beku" (freeze response).

Mengapa di Usia 30 dan 40-an Kita Sering Kehilangan "Spark"?
Memasuki usia 30-an, kita mulai mengevaluasi keputusan masa lalu dengan sudut pandang lebih matang, bahkan menganggap pilihan masa muda tak lagi relevan.

Tren TikTok: Ngopi bareng Dirimu di Masa Lalu
Tren ini mengajak kita kembali menemui diri kita di masa lalu dan membayangkan sedang bercakap-cakap dengan sendiri di masa muda.

Sisi Lain Menyibukkan Diri: Ada Masalah yang Ingin Dihindari?
Saat menyibukkan diri, otak kita bisa jadi menciptakan "baju besi" emosional untuk menjaga jarak dari memori pahit atau emosi negatif yang membuat gelisah.

Ada Apa di Balik Tekanan Berat Mahasiswa saat Susun Skripsi?
Skripsi yang semula menjadi gerbang masa depan, kini kerap menjelma beban mental yang meremukkan.

Mengapa Kasus Bunuh Diri di Indonesia Masih Sulit Dicegah?
Tekanan pekerjaan, perundungan, hingga cara seseorang merespons tekanan hidup dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bunuh diri.

Grup Orang Tua-Wali Murid: Ruang Komunikasi atau Sumber Tekanan?
Jika ingin keluar dari grup sosial yang toxic, mulailah dengan mengurangi frekuensi membalas pesan grup dan menolak undangan pertemuan secara bertahap.
Masuk tirto.id





