Menuju konten utama

BMKG: Juli 2026 Jadi Bulan Juli Terkering Sejak 1991

BMKG turut memperkirakan El Nino masih berpotensi menguat menjadi kategori sangat kuat pada Agustus-Oktober 2026.

BMKG: Juli 2026 Jadi Bulan Juli Terkering Sejak 1991
Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 sehingga berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering sejak 1991. Kondisi itu disebut dipengaruhi fenomena El Nino kuat yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif sehingga menekan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Fachri Radjab, berujar berdasarkan hasil analisis, rata-rata curah hujan nasional pada Juli 2026 menempati peringkat pertama sebagai Juli terkering dalam lebih dari tiga dekade terakhir.

"Ternyata bulan Juli 2026 ini adalah bulan Juli terkering peringkat satu sejak tahun 1991," urai Fachri dalam dialog Memperkuat Respons Lintas Sektor Menghadapi Dampak El Nino Kuat, Selasa (4/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi El Nino di Samudera Pasifik, tetapi juga IOD positif di Samudera Hindia. BMKG turut memperkirakan El Nino masih berpotensi menguat menjadi kategori sangat kuat pada Agustus-Oktober 2026.

Fachri mengatakan IOD positif yang berkembang di sebelah barat Indonesia turut memperparah kondisi kering karena ikut mengurangi curah hujan selama musim kemarau.

"Saat ini El Nino memang dalam kategori kuat dan berpotensi untuk meningkat di bulan Agustus, September, dan Oktober ini menjadi kategori sangat kuat. Ada sekitar 75 persen probabilitas kita untuk bisa El Nino ini berkembang menjadi sangat kuat," sebut Fachri.

"Sementara di sisi barat, fenomena IOD pun menunjukkan indikasi yang mirip, IOD positif, yang juga turut berkontribusi terhadap pengurangan jumlah curah hujan di Indonesia," lanjutnya.

Ia menyebutkan, BMKG juga mencatat dampak kekeringan mulai terlihat dari meningkatnya jumlah lokasi yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut.

Berdasar catatan BMKG, sebanyak 322 titik mengalami HTH selama 21-30 hari, 1.657 titik mengalami HTH selama 31-60 hari, serta 306 titik mengalami HTH ekstrem atau lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Fachri mengatakan kondisi paling ekstrem tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah mengalami 90 hari berturut-turut tanpa hujan.

"Dari catatan kami, terpanjang itu hari berturut-turut tanpa hujan itu 90 hari ada di Kabupaten Bantul, Jogja. Itu 90 hari berturut-turut tanpa hujan," ujarnya.

Kata dia, banyaknya titik yang mengalami HTH ekstrem menunjukkan kekeringan di wilayah selatan Indonesia sudah terjadi dan perlu terus diantisipasi.

"HTH ekstrem panjang lebih dari 60 hari berturut-turut itu ada 306 titik di seluruh Indonesia. Ini fakta yang menunjukkan bahwa memang kekeringan khususnya di wilayah selatan Indonesia memang sudah terjadi," tutur Fachri.

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto