Menuju konten utama

14 Ribu Warga Cirebon Terancam Krisis Air Bersih akibat Kemarau

Selain dampak el nino, krisis air bersih juga diperparah dengan masih banyak warga yang tidak mendapatkan akses air bersih dari PDAM.

14 Ribu Warga Cirebon Terancam Krisis Air Bersih akibat Kemarau
Pengisian air bersih di RT 05 RW 08 Cadas Ngampar Kelurahan Argasunya Kota Cirebon. Foto: CirebonBanget/Wibawa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Musim kemarau baru berjalan beberapa pekan, tetapi dua kelurahan di Kota Cirebon, Jawa Barat, sudah kembali mengandalkan bantuan air bersih untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Dua kelurahan tersebut adalah Kelurahan Argasunya dan Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Kedua kelurahan tersebut notabenenya berada di tempat tinggi yang sulit mengakses air baik dari sumur artesis maupun lainnya.

Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon, Arief Adhitya Firmansyah, mengatakan terdapat kurang lebih 14 ribu jiwa yang terdampak kekeringan dan krisis air bersih setiap tahunnya.

“Untuk Kelurahan Argasunya sendiri biasanya ada sekitar 5 RW atau sekitar 13.322 jiwa dan untuk Kelurahan Kalijaga hanya 1 RW dengan korban terdampak 528 jiwa,” kata Arief, Senin (3/8/2026).

Meskipun tren kekeringan sempat menurun pada 2025 lalu, BPBD Kota Cirebon selalu mewaspadai el nino yang saat ini sedang melanda beberapa daerah.

Dari data BPBD Kota Cirebon, kekeringan terparah terjadi pada 2023 dan 2024 lalu. Dalam satu wilayah, pihaknya melakukan pendistribusian air sebanyak 342.000 liter air dengan warga yang terdampak sebanyak 13.322 jiwa.

Sementara data pada 2024 menunjukkan kekeringan meluas tidak hanya di 5 RW saja di Kelurahan Argasunya, akan tetapi terdapat juga 528 jiwa yang mengalami kekeringan di Kelurahan Kalijaga, sementara di Kelurahan Argasunya terdapat 3.924 jiwa yang terdampak kekeringan.

“Selain dampak cuaca el nino, krisis air bersih juga diperparah dengan masih banyak warga yang tidak mendapatkan akses air bersih dari PDAM,” jelasnya.

Beberapa indikator kekeringan terjadi adalah mengeringnya sumur-sumur air milik warga serta adanya surat permohonan bantuan air dari warga.

Di tahun ini, Pemerintah Kota Cirebon sudah memberikan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran lahan, melalui Keputusan Wali Kota Nomor 179 Tahun 2026 yang berlaku sampai dengan 30 September 2026 mendatang.

“Untuk lokus siaga bencana kekeringan ada di 5 kecamatan di Kota Cirebon, yakni Kecamatan Harjamukti, Kecamatan Kesambi, Kecamatan Lemahwungkuk, Kecamatan Pekalipan, dan Kecamatan Kejaksan,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, mengaku Pemerintah Kota Cirebon sudah turun tangan untuk menghadapi bencana kekeringan yang terjadi.

“Kami sudah berikan tadi kurang lebih 8.000 liter air bersih untuk RT 05 RW 08 Cadas Ngampar Kelurahan Argasunya Kota Cirebon, memang di sini setiap tahun mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih,” katanya.

Di RT 05 RW 08 Cadas Ngampar sendiri, terdapat kurang lebih 3.000 kepala keluarga (KK) yang harus dipenuhi kebutuhan air bersihnya. Memang terdapat penampungan air yang berisikan kurang lebih 15.000 liter air yang seharusnya diisi setiap minggunya.

Namun, selain kesulitan air bersih, warga juga membutuhkan pipa air untuk menyalurkan air bersih dari penampungan air ke setiap rumah masyarakat.

“Tapi tiga ribu KK tersebut tidak semua bisa menikmati air bersih di rumah masing-masing, yang tersalur melalui pipa sendiri ada kurang lebih hanya 90 KK, nanti ada pengajuan untuk pengiriman air bersih lagi disini,” paparnya.

Warga Butuh Bantuan Penggantian Pipa Paralon

Ketua RW 08 Kampung Kopiluhur, Khaerudin, mengungkapkan bak penampungan yang sempat kosong kini kembali terisi sehingga kebutuhan warga di sekitar lokasi dapat terbantu.

"Warga sangat berterima kasih sekali. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Wakil yang telah membantu mengisi bak-bak penampungan yang kosong. Terima kasih," katanya.

Meski demikian, ia menyampaikan masih ada persoalan yang perlu segera ditangani yakni penggantian pipa paralon sehingga distribusi air bisa maksimal.

Dirinya mengaku, pipa paralon yang ada ukurannya kecil, sehingga alirannya kecil. Khaerudin mengaku saat musim kemarau panjang, debit air sumur mengalami penurunan sehingga pasokan air menjadi terbatas.

"Tidak bisa dikatakan terdampak kekeringan parah, karena pasokan air sebenarnya masih ada. Hanya saja karena musim kemarau panjang, volumenya menjadi terbatas," jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sebagian besar warga masih mengandalkan air dari sumur bor maupun sumur gali.

Selain itu, ia menyebutkan masih terdapat titik tertentu di kawasan Maja Pasir, yang memiliki karakteristik air sumur terasa asin.

"Untuk air asin itu ada di wilayah RT 05 bagian Maja Pasir. Namun kalau untuk kebutuhan memasak, warga tetap menggunakan air sumur," ujarnya.

Baca juga artikel terkait MUSIM KEMARAU atau tulisan lainnya dari Cirebon Banget

tirto.id - Flash News
Kontributor: Cirebon Banget
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Bayu Septianto