Menuju konten utama

Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi: Hibah Italia untuk Indonesia

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi pernah menjadi andalan Angkatan Laut Italia dan NATO untuk mengemban berbagai misi penting.

Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi: Hibah Italia untuk Indonesia
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi saat berlayar di Perairan Bangka, Bangka Belitung, Kamis (17/9/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Matahari pagi pesisir Jakarta belum terlalu terik pada 18 September 2026 itu ketika sosok kapal raksasa memasuki area dermaga Tanjung Priok. Dengan bobot lebih dari 10 ribu ton dan panjang hingga 180 meter, ITS Giuseppe Garibaldi telah menuntaskan rute pelayaran panjang selama 25 hari. Kapal induk hibah dari Italia ini tiba di Indonesia lebih cepat 2 hari dari yang dijadwalkan.

ITS Giuseppe Garibaldi memang bukan barang baru. Namun, kapal besar yang pertama kali diluncurkan pada 11 Juni 1983 ini pernah menjadi andalan Angkatan Laut Italia dan NATO untuk mengemban misi penting di berbagai belahan dunia, termasuk di Somalia, Yugoslavia dan Kosovo, Afghanistan, Lebanon, hingga Libya.

Setelah pensiun pada 2024 lalu, ITS Giuseppe Garibaldi kemudian dihibahkan kepada Indonesia dan merupakan kapal induk pertama yang dimiliki TNI. Di bawah naungan TNI, ITS Giuseppe Garibaldi bakal bersulih nama menjadi Kapal Republik Indonesia (KRI) Sriwijaya.

"KRI Sriwijaya merupakan kapal induk pertama di jajaran TNI Angkatan Laut, yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi (C551)," sebut Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada) RI dalam siaran pers di akun resmi sosial medianya.

Angkatan Laut Italia selama ini menggunakan ITS Giuseppe Garibaldi sebagai kapal induk untuk meluncurkan helikopter dan pesawat tempur. Rencananya, di tangan TNI AL, fungsi utama kapal ini akan bertransformasi menjadi pangkalan terapung untuk drone tempur dan helikopter.

Inspirasi Nama dan Jejak Aksi ITS Garibaldi

Pemilihan nama Giuseppe Garibaldi yang disematkan kepada kapal induk Italia itu tentunya bukan asal-asalan. Nama tersebut terinspirasi dari sosok Giuseppe Garibaldi (1807-1882), seorang jenderal legendaris yang berperan besar dalam perjuangan menyatukan Italia dan berbagai aksi heroik lainnya di Eropa hingga Amerika Selatan pada pertengahan abad ke-19.

Lantaran sepak-terjangnya di lintas benua itulah, seperti dikutip dari Enciclopedia De Agostini (2011), Giuseppe Garibaldi dijuluki sebagai “Pahlawan Dua Dunia” selain disematkan gelar “Bapak Pemersatu Italia”. Di kancah internasional kala itu, Garibaldi dikagumi sebagai simbol perjuangan melawan tirani dan penindasan.

Giuseppe Garibaldi pada 1860.

Giuseppe Garibaldi pada 1860. FOTO/wikipedia

Saking besarnya pengaruh dan pamor sang legenda ini, nama Giuseppe Garibaldi beberapa kali diabadikan untuk nama kapal militer Italia.

Pertama pada 1860, Angkatan Laut Kerajaan Italia meluncurkan kapal perang bertenaga uap frigat (frigate) dengan nama Giuseppe Garibaldi. Kedua, nama yang sama juga disematkan untuk kapal penjelajah lapis baja (armored cruiser) produksi tahun 1899. Kapal ini ikut terlibat di Perang Dunia I.

Yang ketiga, nama Giuseppe Garibaldi diabadikan untuk kapal penjelajah ringan (light cruiser) buatan 1936 yang aktif selama Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II usai, kapal ini dimodifikasi menjadi kapal penjelajah berpeluru kendali pertama Italia pada era Perang Dingin.

Dan yang keempat tentu saja kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang diresmikan pada 1983. Ini adalah kapal induk besar pertama dalam sejarah militer modern Italia yang dimiliki Angkatan Laut negara tersebut.

Tidak banyak negara di dunia ini yang bisa memiliki kapal induk. Kehadiran ITS Giuseppe Garibaldi pastinya menjadi kebanggaan Italia dan seringkali membantu aktivitas NATO alias aliansi militer internasional yang beranggotakan negara-negara Blok Barat, baik yang bersifat operasi militer maupun misi kemanusiaan, termasuk dari mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kapal ITS Giuseppe Garibaldi

Kapal ITS Giuseppe Garibaldi beroperasi bersama Kapal USS Harry S. Truman di Samudra Atlantik dekat lepas pantai Maroko pada 2004. FOTO/Wikiedia

Ketika terjadi konflik Balkan antara Yugoslavia dan Kosovo pada awal dekade 1990-an, misalnya, ITS Giuseppe Garibaldi ikut serta dalam operasi pemeliharaan perdamaian dan pengamanan di kawasan Adriatik.

Setelah itu, pada 1992 hingga 1993, PBB memberdayakan kapal induk Italia ini untuk mengamankan distribusi bantuan kemanusiaan dalam Operasi Restore Hope di Somalia.

ITS Giuseppe Garibaldi juga mengambil peran dalam upaya penyelesaian polemik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik Afghanistan (2001), Lebanon (2006), hingga Libya (2011).

Pada November 2015 sampai April 2017, ITS Giuseppe Garibaldi terlibat dalam Operasi SOPHIA yang dijalankan oleh negara-negara Uni Eropa. Ini adalah operasi militer di Laut Mediterania untuk menghentikan jaringan penyelundupan manusia dan perdagangan migran.

Dikutip dari laman Marina Militare Angkatan Laut Italia, dalam peringatan ulang tahun ITS Giuseppe Garibaldi yang ke-25 pada 5 Juli 2013, sang komandan kapal induk saat itu, Flavio Biaggi, mengatakan:

“ITS Garibaldi telah memberikan kontribusi dan tetap berkomitmen untuk memastikan negara kita dalam hal efisiensi dan efektivitas investasi publik, upaya mewujudkan keamanan dan manfaat, serta interaksi dan kerja sama dengan mitra internasional dalam menjamin perdamaian.”

Dengan demikian, ITS Giuseppe Garibaldi tidak hanya berperan untuk pertahanan dan keamanan atau kepentingan pertempuran. Kapal induk ini juga punya fungsi kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian internasional.

Kapal Induk Raksasa dengan Spek Tempur

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dibekali dengan spesifikasi tempur yang sangat mumpuni. Berdasarkan catatan resmi Angkatan Laut Italia, kapal ini mampu mengangkut satu skuadron udara yang terdiri dari kombinasi helikopter EH101, SH90A, dan AB212.

Selain helikopter, daya pukul udara kapal ini semakin mematikan berkat kemampuan mengangkut jet tempur taktis AV-8B Harrier II Plus, sebuah pesawat canggih berkemampuan lepas landas di landasan pendek dan mendarat secara vertikal (STOVL).

Untuk melindungi dirinya dari berbagai ancaman, kapal induk ini juga dipersenjatai dengan sistem persenjataan yang tangguh. Di dalamnya sudah terintegrasi rudal antikapal dan rudal antipesawat, serta dilengkapi dengan sistem pertahanan diri aktif maupun pasif guna menangkal serangan musuh di lautan.

Helikopter Sea King di Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi

Helikopter Sea King di Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi. FOTO/Wikipedia

Kapal raksasa ini memiliki panjang 180,2 meter dengan berat total saat muatan penuh mencapai 13.850 ton. Lebarnya 23,4 meter pada bagian garis air (lambung yang menyentuh air), namun dek penerbangannya dirancang lebih lebar, yaitu 30,4 meter dengan panjang landasan 173,8 meter. Sementara itu, bagian lambung kapal yang masuk ke dalam air (draft) memiliki kedalaman 6,7 meter.

Untuk dapur pacu, kapal ini menggunakan sistem mesin modern COGAG yang digerakkan oleh 4 turbin gas FIAT/GE LM-2500. Tenaga mesin ini disalurkan melalui 2 poros baling-baling tetap dan 2 unit transmisi pembalik (tosi reduktor).

Mesin raksasa tersebut mampu menghasilkan daya sebesar 60.400 kW (sekitar 81.000 HP), yang membuat kapal mampu melaju hingga kecepatan maksimal 30 knot (55 km/jam) dan memiliki jarak jelajah hingga 7.000 mil laut (sekitar 12.900 km).

Transformasi Taktis dan Adaptif di Indonesia

Di Indonesia, kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi diberi nama KRI Sriwijaya. Tak cuma sebutan saja yang baru, perannya pun akan bertransformasi. Alih-alih mempertahankan fungsinya sebagai peluncur jet tempur konvensional, TNI AL bakal merombak total kapal ini menjadi pangkalan terapung berbasis pesawat nirawak (drone) dan helikopter.

Kondisi ITS Giuseppe Garibaldi diklaim masih prima meskipun sudah berusia lebih dari 40 tahun. Mauro Manzini selaku wakil dari Fincantieri, perusahaan yang memproduksi kapal induk Italia itu, menegaskan bahwa ITS Giuseppe Garibaldi sangat adaptif untuk diintegrasikan dengan teknologi masa depan.

“Kapal Giuseppe Garibaldi dalam kondisi baik dan memiliki sisa masa operasional sekitar 15 hingga 20 tahun. Kapal tersebut dapat dialihkan setelah proses perbaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus Angkatan Laut Indonesia,” kata Manzini, dikutip dari Naval News, media analisis militer internasional.

Struktur desain kapal ini juga sangat fleksibel, terutama bagian dek yang memiliki landasan pacu melengkung (ski-jump) kemiringan 4 derajat. Desain ini dinilai sangat cocok untuk disesuaikan dengan teknologi masa depan, khususnya sebagai pangkalan operasional bagi pesawat atau drone nirawak.

Penyambutan ITS Giuseppe Garibaldi di Perairan Indonesia

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi-551 (kiri) disambut oleh KRI Brawijaya-320 (kanan) di Perairan Bangka, Bangka Belitung, Kamis (17/9/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.

Untuk menyulap kapal induk ini menjadi pangkalan drone terapung, Indonesia tengah menjajaki pengadaan 60 unit drone taktis Bayraktar TB3 dan 9 unit drone berat Akinci dari perusahaan dirgantara Baykar, Turki.

Varian Bayraktar TB3 menjadi pilihan utama karena memiliki kemampuan sayap yang bisa dilipat. Keunggulan ini membuat drone tersebut mampu lepas landas dan mendarat dengan aman di atas dek kapal yang pendek, tanpa memerlukan mesin peluncur bantuan (katapult).

Alih fungsi kapal ini menjadi pangkalan drone diikuti oleh persiapan di dalam negeri. Sementara pangkalan sandar raksasa untuk kapal ini sedang disiapkan di Teluk Ratai, Lampung, para penerbang TNI AL terus mengasah kemampuan mereka di Skuadron Udara 100 Wing Udara 2, Juanda.

Melalui alat simulasi geladak (helideck simulator), mereka melatih kemampuan untuk berbagai misi krusial, mulai dari operasi peperangan antikapal selam, misi penyelamatan (SAR) laut, evakuasi medis udara, hingga teknik mendaratkan drone tempur secara presisi di atas kapal di tengah terjangan ombak samudra.

Rencana transformasi kapal induk ini diamini oleh TNI AL. “Jadi, kita sesuaikan dengan kepentingan Angkatan Laut kita di Indonesia dengan situasi di laut tropis, kita sesuaikan apa yang perlu ditambahkan apa yang tidak perlu," ujar Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali dalam jumpa pers usai meninjau ITS Giuseppe Garibaldi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026).

Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Pelabuhan Tanjung Priok

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/agr

Kepemilikan ITS Giuseppe Garibaldi alias KRI Sriwijaya bukanlah tentang invasi atau ambisi ekspansionis. Bagi TNI AL, kapal induk ini adalah instrumen diplomasi pertahanan untuk membawa Indonesia menuju kelas Blue Water Navy, angkatan laut yang mampu beroperasi secara global lintas samudra lepas.

"Kita mungkin bisa menjadi Blue Water Navy, tapi bukan untuk invasi. Untuk melaksanakan kegiatan diplomasi yang sifatnya goodwill, port visit, misalnya operasi militer selain perang, bantuan kemanusiaan, itu sangat berfungsi dan bermanfaat," tegas Muhammad Ali dalam kesempatan yang berbeda, dilansir Antara, Kamis (23/7/2026).

Terlepas dari semua harapan dan tujuan mulia yang disematkan, seyogyanya patut diperhitungkan juga terkait dana yang dibutuhkan untuk merombak KRI Sriwijaya agar sesuai kebutuhan TNI AL, juga biaya perawatannya yang tentunya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Baca juga artikel terkait ANGKATAN LAUT atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Edusains
Penulis: Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya