Menuju konten utama

Mengenal Pesawat Pemadam Karhutla Malaysia, Kita Belum Punya?

Mengenal CL-415MP milik Malaysia yang ikut memadamkan karhutla Indonesia, serta keunggulan dan sejarah singkat pesawat amfibi pemadam kebakaran ini.

Mengenal Pesawat Pemadam Karhutla Malaysia, Kita Belum Punya?
Ilustrasi pesawat amfibi. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Indonesia mengerahkan 52 pesawat untuk mendukung penanganan karhutla Agustus 2026 di enam provinsi. Sekretariat Negara mencatat 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, 22 lainnya di Sumatera.

Armada-armada udara itu menjalankan berbagai misi, mulai dari patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), sampai pemadaman via water bombing. Untuk memperkuat operasi pemadaman Karhutla, Kementerian Perhubungan juga menerbitkan 35 izin penggunaan pesawat asing, total 36 helikopter dari 8 negara.

Di tengah kebutuhan armada udara, pesawat amfibi jadi salah satu solusi ideal untuk memadamkan kebakaran hutan. Contohnya yakni Pesawat CL-415MP milik Malaysia yang kini juga ikut berupaya memadamkan Karhutla Agustus 2026 di Indonesia.

Pesawat CL-415MP diketahui bisa mengambil air langsung dari perairan, lalu menjatuhkannya ke titik api tanpa perlu balik ke darat untuk isi ulang tangki. Yang lebih menarik, pesawat ini tidak asing bagi Indonesia. Sebab CL-415MP Malaysia sudah pernah dikerahkan membantu pemadaman karhutla di Sumatra pada 2015.

Mengenal CL-415MP, Pesawat Amfibi Multifungsi

Sebelum menilik lebih jauh varian CL-415MP yang dioperasikan Malaysia, penting untuk memahami rekam jejak silsilah keluarga besar pesawat amfibi yang jadi dasarnya.

Pesawat CL-415 merupakan hasil pengembangan dari Canadair CL-215, armada yang sejak awal didesain khusus untuk misi pemadaman kebakaran hutan dari udara. Selain penanggulangan bencana, pesawat ini juga dirancang multifungsi untuk mendukung operasi SAR dan mengangkut logistik.

Pengembangan CL-415 dimulai pada awal 1990-an, dipicu oleh keberhasilan program modernisasi CL-215 menjadi CL-215T, yang mengindikasikan tingginya kebutuhan pasar akan pesawat pemadam berteknologi turboprop. Pesawat CL-415 kemudian resmi masuk lini produksi sejak 2003 dengan sejumlah penyempurnaan, mulai dari peremajaan mesin, update sistem kokpit, hingga optimasi aerodinamika guna menunjang performa penerbangan.

Dinamika manufaktur pesawat ini beberapa kali berpindah kepemilikan. Sejak diproduksi awal oleh Canadair, kelanjutan program pesawat tersebut diambil alih oleh Bombardier sampai 2015. Pada 2016, Viking Air melebarkan sayapnya dengan menguasai lisensi CL-415, lalu mengembangkannya jadi pesawat CL-515. Belakangan, proyek tersebut bertransformasi jadi DHC-515 di bawah bendera De Havilland Canada.

Ilustrasi pesawat amfibi

Ilustrasi pesawat amfibi. FOTO/iStockphoto

Dari lini keturunan inilah lahir varian khusus CL-415MP yang kini dimiliki Malaysia. Meski menginduk pada cetak biru pesawat pemadam kebakaran hutan, varian Maritime Patrol (MP) sudah dibekali modifikasi sistem navigasi dan sensor tambahan, sehingga mampu melakoni cakupan misi patroli maritim yang lebih luas dan kompleks.

Merujuk laporan Aerial Fire Mag, Malaysia punya dua unit pesawat CL-415MP yang diperoleh pada 2008 dan 2009. Pesawat pertama (dinamai M71-01) diserahkan pada Desember 2008. Adapun pesawat kedua (dinamai M71-02) diterima Malaysia pada November 2009. Keduanya pakai mesin turboprop Pratt & Whitney PW123AF.

Berbeda dari CL-415 standar, varian MP dilengkapi perangkat untuk menunjang misi patroli maritim, seperti radar cuaca, Side Looking Airborne Radar (SLAR), Forward Looking InfraRed (FLIR), direction finder, sistem pemantauan maritim MSS 6000, serta kamera video. Karena konfigurasi itu, Malaysia memakainya untuk ragam kebutuhan, seperti pemadaman kebakaran, patroli maritim, SAR, sampai pemantauan pencemaran minyak.

Yang bikin pesawat CL-415MP relevan untuk memadamkan kebakaran hutan yakni statusnya sebagai pesawat amfibi. Pesawat CL-415MP bisa mendarat di permukaan air, langsung isi tangki pakai teknik water scooping, lalu lepas landas ke lokasi kebakaran. Pesawat tersebut diketahui mampu membawa sekitar 6.137 liter air dengan waktu pengisian hanya sekitar 12 detik.

Selama sumber air cukup dekat dengan titik api, pesawat tak perlu terus-menerus balik ke pangkalan.

Mengapa Pesawat Pemadam Kebakaran CL-415MP Efektif untuk Karhutla?

Keunggulan utama pesawat CL-415MP, selain soal kapasitas airnya, juga bisa isi ulang langsung dari permukaan perairan. Dalam operasi pemadaman udara, waktu untuk kembali mengisi tangki sangat menentukan efektivitas keseluruhan misi. Pesawat yang harus kembali ke pangkalan tiap kali tangki kosong butuh waktu lebih lama sebelum kembali menjatuhkan air.

Hanya saja, efektivitas itu tetap bergantung pada kondisi geografis. Kian dekat sumber air dengan lokasi kebakaran, semakin efisien pola operasinya. Pengalaman Malaysia di Kuala Baram pada 2019, misalnya, terbantu oleh keberadaan Sungai Baram yang menunjang pengisian air berulang

Meski demikian, CL-415MP bukan tanpa celah. Aerial Fire Mag mencatat pesawat itu sempat melakukan hampir 1.000 kali pendaratan di air pada tahun pertama operasinya, intensitas yang, terutama di perairan asin, memicu persoalan korosi pada badan pesawat dan mesin.

Ilustrasi pesawat amfibi

Ilustrasi pesawat amfibi. FOTO/iStockphoto

Kedua unit juga sempat mengalami masalah sistem pada tahun-tahun awal operasi. Pada Desember 2010, kontrak pemeliharaan kedua pesawat tersebut sempat disetop, sehingga aktivitasnya terhenti hampir setahun sebelum kontrak baru diselesaikan.

Dengan kata lain, efektivitas pesawat amfibi tetap bergantung pada kesiapan pemeliharaan, awak terlatih, ketersediaan sumber air, serta dukungan operasi di lapangan.

Apakah Indonesia Sudah Punya Pesawat Sejenis?

Indonesia sebenarnya sudah memiliki kemampuan pemadaman karhutla dari udara. Pada Agustus 2026, pemerintah mengerahkan 52 pesawat di enam provinsi untuk agenda patroli, OMC, dan water bombing.

Namun, Indonesia tidak pernah mengoperasikan CL-415 maupun varian CL-415MP. Pesawat pemadam kebakaran varian tersebut memang diproduksi terbatas, hanya sekitar tiga unit. Dua dipakai Malaysia, satu sisanya diketahui dipakai Yunani.

Indonesia sebenarnya pernah melangkah ke arah sana. Pada Juni 2019, Viking Air selaku produsen saat itu sempat mengumumkan kesepakatan pembelian dengan Kementerian Pertahanan RI untuk satu unit CL-415EAF (Enhanced Aerial Firefighter) dan enam unit CL-515.

Sebagian dari enam pesawat tersebut rencananya bakal dipakai untuk pemadaman kebakaran, SAR, dan patroli maritim. Pengiriman semula ditarget mulai 2024, tapi sampai Agustus 2026 belum ada kabar serah-terima pesawat ini. Singkatnya, Indonesia belum punya pesawat pemadam kebakaran hutan CL-415MP seperti Malaysia, tapi bukan berarti tak pernah berupaya mendapatkannya.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora