Menuju konten utama

Karhutla Merajalela, Apa yang Harus Dilakukan Agar Tetap Sehat?

Ribuan titik api karhutla kembali mengepung Indonesia. Dengan dampak buruk yang menyertainya, polusi udara PM2.5, bagaimana panduan keselamatan diri kita?

Karhutla Merajalela, Apa yang Harus Dilakukan Agar Tetap Sehat?
ilustrasi karhutla. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari tahun ke tahun menyergap Indonesia. Namun, hari-hari ini, ketika ribuan titik api muncul di wilayah Sumatra, Kalimanta, Jawa, Maluku, hingga Papua, dampaknya yang menghantam mata dan telinga membuat siapa pun sadar alam sedang tidak baik-baik saja.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan RI per Rabu (26/8/2026),

mengacu citra satelit NASA NOAA-20, terdapat total 3841 titik api di seluruh Indonesia, dengan 73 di antaranya adalah hotspot dengan level kepercayaan tinggi, 3.702 titik medium, dan 66 titik low. Wilayah dengan titik api terbanyak adalah Ketapang, Kalimantan Barat dengan 455 titik medium.

Tingkat kepercayaan titik panas terbagi menjadi tiga skala, yakni low (0-29 persen potensi karhutla), medium (30-79 persen), dan high (80-100 persen). Skala ini menunjukkan probabilitas titik panas kebakaran di lapangan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan titik panas, semakin tinggi pula potensi titik panas benar-benar karhutla yang sedang terjadi.

Dokumen Monitoring dan Potensi Karhutla yang berlaku untuk periode 26 Agustus-1 September 2026 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan dalam rentang 24 jam pada Selasa (25/8/2026) terdapat 331 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high) di Sumatera, 324 titik di Kalimantan, serta 179 titik di Papua dan Maluku. Wilayah dengan titik panas tinggi terbanyak adalah Sumatera Selatan (298 titik), Kalimantan Tengah (113 titik), dan Kalimantan Selatan (89 titik).

Menukil dari data yang sama, berdasarkan Fire Weather Index (FWI), potensi terjadinya karhutla berkategori rendah hingga sangat tinggi terdeteksi di berbagai titik di Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.

Di tengah situasi karhutla yang semakin kompleks, penting bagi masyarakat untuk memahami sejumlah pedoman keselamatan agar tetap sehat dan terlindungi. Pedoman keselamatan ini dapat dilakukan secara personal dengan mudah.

Kenali Karhutla dan Bahayanya untuk Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah terbakarnya kawasan hutan maupun lahan secara luas.

Secara alami, karhutla dapat dipicu oleh terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Saat kemarau tiba, vegetasi yang ada di sekitar hutan dan lahan kehilangan kadar air dalam jumlah masif yang menyebabkan kekeringan. Akibatnya, daun, rumput, dan ranting lebih mudah terbakar. Ini berpotensi membuat api lebih cepat merambat.

Selain itu, fenomena El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. El Nino adalah fenomena iklim global ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik lebih panas daripada rata-rata normalnya.

Suhu laut hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan. Hal ini membuat awan hujan turut bergeser menjauh dari wilayah Indonesia. Akibatnya, risiko berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia jadi meningkat, diiringi dengan kemarau panjang hingga kekeringan.

Kondisi alam seperti kemarau panjang dan El Nino memang jadi faktor yang memperbesar kerentanan wilayah mengalami karhutla. Namun, di Indonesia, faktor-faktor tersebut bukanlah pemicu utama. Sebagian besar kejadian karhutla justru tidak terlepas dari faktor non-alam, yakni berbagai aktivitas manusia.

Pemadaman karhutla di lahan gambut Jambi

ilustrasi karhutla. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU

Berdasarkan data WHO, diperkirakan sekitar 80 hingga 95% kebakaran hutan di seluruh dunia dipicu oleh aktivitas manusia, jauh di atas faktor alam. Sementara itu, pada 2019 lalu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat itu, almarhum Doni Monardo menyatakan 99 persen karhutla terjadi karena ulah manusia.

“Saya mempunyai data, penyebab Karhutla adalah 99% ulah manusia ada yang disengaja ada yang lalai, dan 80% lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun,"paparnya dikutip dari laman Setkab.

Dalam Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebakaran Hutan Di Indonesia Dan Implikasi Kebijakannya karya Sigit Andy Cahyono dkk. (2015), disebutkan bahwa risiko kebakaran hutan meningkat seiring adanya konversi hutan alam menjadi hutan tanaman dan perkebunan.

Untuk membersihkan lahan hutan menjadi area siap tanam tersebut, para pengusaha terbiasa menggunakan sistem tebas dan bakar (slash and burn) karena dinilai memerlukan biaya yang relatif murah.

Praktik pembukaan lahan dengan cara ini kerap kali tak terkendali, memicu kebakaran berskala luas, dan berujung pada bencana karhutla yang merugikan banyak pihak.

Kerusakan alam karena kebakaran hutan dan lahan memang signifikan. Mengutip Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, karhutla dapat menghasilkan asap yang mengandung partikel halus yang berbahaya. Polutan udara tersebut di antaranya Particulate Matter 2.5 (PM2.5), PM10, serta berbagai gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂).

Secara kimiawi, PM2.5 tersusun atas sulfat, nitrat, karbon organik, hingga karbon elemental. Ini berbahaya bagi kesehatan. PM2.5 berukuran sangat kecil, melayang di udara, dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Jika disederhanakan, diameter 2,5 mikrometer kurang lebih 1/30 dari tebal helai rambut manusia.

Paparan polutan ini menyebabkan kualitas udara memburuk serta berdampak langsung terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat sehari-hari. Pada tahap tertentu, polutan udara akibat karhutla memicu gangguan kesehatan, seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, sakit kepala, mudah lelah, hingga menurunnya konsentrasi.

Pemadaman karhutla di Tanjung Jabung Timur

Petugas gabungan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Rawasari, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Rabu (26/8/2026). Upaya pemadaman di lahan gambut yang terjadi sejak Selasa (25/8) sore dan telah menghanguskan 7 hektare lahan itu terus dimaksimalkan oleh tim gabungan dari TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, Satpol PP, petugas kecamatan, dan warga. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nz.

Hal ini juga diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama.

"Karena kecilnya partikel ini maka dapat masuk jauh ke dalam paru ke bagian yang disebut alveol paru, dan dampaknya dapat menyebar melalui peredaran darah dan mencetuskan terjadinya inflamasi atau peradangan," ujar Prof. Tjandra Yoga Aditama, dikutip Antara pada Senin (24/8).

Selain kesehatan, asap karhutla juga menyebabkan terbatasnya jarak pandang. Ini akan menghasilkan efek beruntun, yaitu mengganggu mobilitas, juga menghambat aktivitas belajar dan bekerja, serta meningkatkan risiko kecelakaan.

Tak hanya bagi manusia, dampak karhutla juga berdampak pada ekologis dan kerusakan lingkungan. Menukil laman Kementerian Kesehatan, karhutla dapat menciptakan erosi karena hutan dan tanaman yang melindunginya telah hilang.

Karhutla juga mengganggu ekologi hutan, yang pada titik tertentu dapat menimbulkan bencana seperti longsor, banjir hingga kekeringan. Beberapa spesies endemik flora maupun fauna juga akan kehilangan habitatnya. Yang lebih parah, hutan akan semakin rapuh dan kemampuannya untuk menyimpan karbon semakin menurun.

Karhutla juga mengakibatkan penurunan kualitas dan produktivitas tanah, menurunnya ketinggian permukaan tanah, menurunnya mutu air, kehilangan biodiversitas, dan meningkatnya emisi gas rumah kaca.

Amankan Rumah dan Lindungi Diri Jika Terpaksa Keluar

Mengingat asap karhutla yang membahayakan, masyarakat perlu waspada agar tetap aman. Kelompok yang paling rentan terdampak asap karhutla yaitu bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru-paru, dan penyakit jantung. Kelompok rentan ini harus menjadi prioritas selama terjadi paparan asap Karhutla.

Laporan Centers for Disease Control and Prevention membagikan sejumlah panduan keselamatan untuk menghadapi karhutla. Apabila masyarakat tinggal di lokasi karhutla, segera patuhi instruksi dari otoritas terkait untuk melakukan penyelamatan. Di sisi lain, jika dampak karhutla masih terasa minim, masyarakat tetap perlu berhati-hati. Pastikan asap karhutla tidak terjebak di dalam rumah.

Caranya, pastikan ruangan rumah ditutup rapat agar udara luar tidak masuk. Lalu, gunakan pembersih udara portabel atau filter untuk menjaga kebersihan udara di ruangan tersebut.

Agar asap tak semakin banyak, kurangi atau hindari membakar apa pun di dalam ruangan. Termasuk tidak merokok, tidak menggunakan kompor untuk memasak, atau tidak menggunakan penyedot debu, membakar lilin, gas, dupa, atau kayu.

Aktivitas ini dapat menjaga kualitas udara dalam ruangan tetap aman dan sehat. Jika rumah menggunakan sistem AC sentral, pilih filter berefisiensi tinggi untuk membantu membersihkan udara. Kita juga dapat mengatur sistem ke mode resirkulasi atau tutup katup (damper) saluran masuk udara luar. Cara ini dapat menyaring sebagian partikel dengan cara mensirkulasikan kembali udara dalam ruangan melalui filter.

Jika ada kebutuhan mendesak dan terpaksa ke luar rumah, gunakan masker atau respirator sekali pakai secara benar dan rapat. Hal ini dapat melindungi seseorang dari partikulat dan berfungsi untuk menyaring asap sebelum menghirupnya.

Saat bepergian dengan kendaraan, pastikan menutup jendela dan nyalakan AC mode resirkulasi untuk mengurangi masuknya asap. Jika kondisi asap karhutla semakin parah dan tak terkendali, segara mengungsi ke area dengan kualitas udara yang lebih baik, terutama bagi penderita penyakit paru-paru kondisi rentan lainnya.

Lalu segera mandi dan ganti pakaian yang bersih setelah beraktivitas di luar rumah yang terdampak asap karhutla. Tujuannya agar polutan udara yang menempel di pakaian tidak terhirup oleh tubuh.

Terakhir, periksa secara rutin indeks kualitas udara secara mandiri melalui berbagai aplikasi resmi. Hal ini dapat membantu masyarakat untuk mengambil keputusan yang tepat sebelum beraktivitas di luar rumah.

Perkuat Daya Tahan Tubuh agar Selamat dan Tetap Sehat

Di tengah bencana karhutla, masyarakat perlu melakukan deteksi dini keluhan yang muncul akibat asap karhutla. Lakukan pengobatan jika tubuh mulai kewalahan dengan polutan yang ada, khususnya bagi kelompok rentan.

Pastikan pula obat-obatan yang dikonsumsi rutin cukup banyak tersedia di dalam rumah. Segera ke dokter atau pelayanan kesehatan terdekat apabila terjadi masalah kesehatan yang mengganggu. Tak hanya itu, masyarakat juga perlu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh agar tetap sehat dan bugar. Caranya dengan menerapkan perilaku pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Misalnya dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang setiap harinya. Termasuk makanan yang penting bagi kebugaran tubuh seperti sayuran, buah-buahan, protein tanpa lemak, serta biji-bijian.

Berikutnya perbanyak minum air putih untuk membantu menjaga fungsi organ, melancarkan metabolisme, dan mencegah tubuh mengalami dehidrasi. Lakukan olahraga ringan secara rutin untuk meningkatkan kebugaran dan mendukung sistem imun tubuh.

Seiring dengan karhutla yang belum juga usai, kita mungkin saja resah dan khawatir. Namun, pastikan dapat mengelola stres dan dapat tidur dengan cukup. Meski tampak tak terlihat, hal ini berpengaruh dalam menjaga daya tahan tubuh.

Saat matahari mulai meninggi, lakukan olahraga ringan yang langsung terpapar dengan sinar matahari agar tubuh dapat memproduksi vitamin D dengan optimal. Jika diperlukan, konsumsi vitamin E dan C atau suplemen lain untuk antioksidan.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya & Fitra Firdaus