Menuju konten utama

Ancaman El Nino 2026: Kasus ISPA & Karhutla Berpotensi Melonjak

Bappenas ingatkan pesan Presiden Prabowo agar anomali iklim tak ganggu stabilitas nasional. Kementerian diminta bangun sistem respons dini El Nino.

Ancaman El Nino 2026: Kasus ISPA & Karhutla Berpotensi Melonjak
Foto udara kebakaran hutan dan lahan di perbatasan Desa Soren-Camba Kecamatan Kota Besi Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (8/7/2026). (ANTARA/HO-BPBD Kotim)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengatakan, fenomena El Nino berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dampak anomali iklim itu disebut mulai dirasakan seiring curah hujan yang terjadi pada Juli-Oktober 2026.

Rachmat bilang, dampak El Nino telah terlihat dari terganggunya ketersediaan air bersih dan mulai bermunculannya titik panas di sejumlah wilayah. Pemerintah disebut akan mengantisipasi imbas El Nino yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat atau meningkatkan risiko karhutla.

"Potensi curah hujan saat ini di bawah normal yang terjadi sepanjang periode Juli hingga Oktober. Bahkan dampaknya telah mulai terbukti sampai hari ini, ketersediaan air bersih terganggu, titik panas mulai bermunculan, kasus ISPA cepat atau lambat akan ada, dan karhutla mulai meningkat," ujarnya dalam dialog Memperkuat Respons Lintas Sektor Menghadapi Dampak El Nino Kuat yang disiarkan melalui YouTube, Selasa (4/8/2026).

Arahan Presiden Prabowo Mengenai Stabilitas Iklim Nasional

Rachmat menyatakan, Presiden Prabowo Subianto telah beberapa kali mengingatkan agar persoalan iklim tidak sampai mengganggu stabilitas nasional. Tanpa penanganan maksimal, anomali iklim disebut juga berpotensi menghambat pencapaian target-target strategis pemerintah.

Karena itu, Rachmat meminta kementerian/lembaga tidak lagi hanya merespons ketika dampak El Nino sudah terjadi. Kementerian/lembaga disebut harus membangun sistem respons dini yang terpadu, terukur, dan berbasis analisis iklim.

"Karena forum ini adalah forum yang menyangkut momentum strategis dan kita harus memastikan bahwa respon yang kita bangun tidak hanya lagi bersifat reaktif, melainkan sebuah aksi dini atau early action yang terpadu, terukur, dan berakar kuat pada analisis iklim kita," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Rachmat juga meminta penguatan sistem respons puskesmas dan fasilitas kesehatan sebagai langkah antisipasi meningkatnya dampak El Nino.

Skema Pendanaan Alternatif dan Mobilisasi Pembiayaan Iklim

Di sisi lain, Rachmat berujar, penanganan dampak perubahan iklim juga tidak bisa hanya mengandalkan pendanaan dari APBN. Lembaga terkait dinilai perlu mencari sumber pembiayaan dengan mengoptimalkan berbagai instrumen pendanaan dari dalam maupun luar negeri untuk memperkuat anggaran dana menghadapi dampak El Nino.

"Selain mengoptimalkan instrumen pendanaan domestik dan pooling fund kebencanaan, kita perlu memperluas mobilisasi pembiayaan iklim, memanfaatkan peluang Adaptation Fund, Fund for Responding to Loss, and Damage atau FRLD, serta sinergi dunia usaha melalui program tanggung jawab bersama," tuturnya.

"Ini adalah pembuktian, kalau ini bisa kita kerjakan bersama, atas komitmen kita bersama untuk menjaga stabilitas nasional, memastikan trayektori pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas tetap berada di jalur yang tangguh, aman, dan berkelanjutan," lanjut Rachmat.

Baca juga artikel terkait DAMPAK EL NINO atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah