Menuju konten utama

Tetes Peluh Warga Sumber Pinang Jember Berburu Air

Ratusan KK di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Jember harus rela menempuh jarak 1 km demi berburu air bersih akibat kemarau panjang.

Tetes Peluh Warga Sumber Pinang Jember Berburu Air
Suasana gersang inilah yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi ratusan warga di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. foto/Jember Yang Itu
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Teriknya matahari saat musim kemarau terasa begitu menyengat kulit. Di bawah langit yang bersih tanpa awan, embusan angin kering menerbangkan debu-debu jalanan yang kemudian menempel pada kulit yang basah oleh keringat. Suasana gerah dan gersang inilah yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi ratusan warga di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Kondisi alam yang ekstrem tersebut diperparah oleh krisis air bersih akibat mengeringnya sumur-sumur milik warga. Selama kurang lebih dua bulan terakhir, kehidupan sehari-hari warga di dusun ini berubah menjadi perjuangan fisik yang melelahkan. Demi menyambung hidup dan mendapatkan beberapa liter air bersih, mereka harus rela menempuh jarak hingga hampir satu kilometer setiap hari.

Sumur-sumur gali yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan di lingkungan mereka kini telah berubah menjadi lubang-lubang tanah yang gersang. Kalaupun ada satu atau dua sumur yang masih menyisakan sedikit air di dasarnya, kondisinya sama sekali tidak layak digunakan. Air yang keluar tampak keruh kecokelatan, bahkan kerap mengeluarkan aroma busuk dan anyir yang menyengat hidung. Jangankan untuk diminum atau memasak, untuk membasuh muka pun warga merasa enggan karena khawatir akan dampaknya bagi kesehatan kulit.

Krisis air bersih yang memprihatinkan ini dialami oleh sedikitnya sekitar 100 kepala keluarga (KK) yang menetap di sekitar kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Bagi warga Dusun Bunder, kedatangan musim kemarau seolah menjadi momok yang terus berulang setiap tahun tanpa ada jalan keluar yang permanen. Begitu musim hujan berlalu, sumber air yang semula melimpah perlahan-lahan menyusut hingga akhirnya habis sama sekali.

Sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam, pemandangan di sepanjang jalan dusun selalu sama, hilir mudik warga yang membawa galon plastik bekas berkapasitas sekitar 15 liter. Dengan mengendarai sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa mengangkut beban berat, mereka menyusuri jalanan berdebu demi berburu air.

Dalam sekali perjalanan, warga biasanya membawa tiga hingga lima galon sekaligus. Jumlah yang tidak seberapa itu dipaksa cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendasar di rumah, mulai dari menyeduh air minum, menanak nasi, hingga kebutuhan domestik lainnya. Warga harus sangat hemat dalam menggunakan air tersebut, sebab setiap tetesnya didapatkan dengan cucuran keringat dan sisa energi yang terkuras.

Mimpi Buruk Tahunan di Dekat TPA Pakusari

Kemarau Jember

Suasana gersang inilah yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi ratusan warga di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. foto/Jember yang itu

Ketua RT 003 RW 013 Dusun Bunder, Insiana (43), menuturkan bahwa dampak kekeringan mulai mencekik kehidupan warga sejak memasuki awal musim kemarau. Situasi ini sudah berlangsung kira-kira dua bulan yang lalu.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannya, perempuan yang akrab disapa Bu Yesi ini berkisah dengan tubuh yang tampak lelah dan wajah yang dipenuhi peluh serta debu tipis. Ia mengaku bahwa hampir seluruh sumur milik warga di wilayahnya sudah tidak lagi mampu menyediakan air bersih yang layak.

“Setiap memasuki musim kemarau, polanya selalu sama, air langsung hilang dan sumur-sumur kering. Akhirnya, kami terpaksa numpang mengambil air di sekitar kawasan TPA untuk memasak. Kalau untuk mandi, warga juga terpaksa ke sana,” jawab Bu Yesi dengan tatapan mata murung, mencerminkan keletihan mendalam yang dirasakan oleh seluruh warganya.

Menguras Tabungan demi Memperdalam Sumur

Kemarau Jember

Suasana gersang inilah yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi ratusan warga di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. foto/Jember yang itu

Menurut Bu Yesi, warga setempat sebenarnya tidak tinggal diam meratapi nasib. Berbagai upaya mandiri telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tahunan ini, salah satunya dengan memperdalam sumur gali mereka. Secara swadaya, warga merogoh kocek yang tidak sedikit untuk menyewa jasa tukang sumur guna menggali lebih dalam ke perut bumi.

Variasi kedalaman sumur yang awalnya hanya sekitar 10 meter terus ditambah hingga mencapai 16 meter. Namun, usaha keras tersebut tetap tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Pasokan air yang diharapkan muncul nyatanya hanya keluar sedikit dan langsung kering kembali dalam waktu singkat. Alih-alih mendapatkan air bersih yang melimpah, warga justru harus menelan kekecewaan di tengah tabungan yang terkuras untuk biaya penggalian.

“Sudah dicoba diperdalam berkali-kali, tapi hasilnya tetap saja sama. Kalau sudah telanjur masuk musim kemarau, airnya langsung amblas tidak ada sisa,” kata Bu Yesi sembari mengernyitkan dahi, menyeka keringat yang menetes di pelipisnya.

Dapur Mengepul, Baju Kotor Menumpuk

Dampak krisis air ini merembet ke segala sektor kehidupan domestik. Tak hanya untuk urusan dapur seperti memasak dan minum, warga Dusun Bunder juga harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci pakaian.

Mengapa demikian? Sebab air galon yang dibawa pulang ke rumah diprioritaskan penuh untuk konsumsi, aktivitas mandi dan mencuci pun terpaksa dialihkan ke luar dusun.

Sebagian besar warga memilih untuk menuju ke aliran sungai yang berada di belakang Mapolsek Pakusari. Setiap pagi dan sore, aliran sungai tersebut ramai dikunjungi warga yang datang membawa tumpukan pakaian kotor serta perlengkapan mandi. Mereka harus bolak-balik mengendarai sepeda motor mengangkut keranjang pakaian karena di rumah mereka tidak ada satu tetes pun air yang tersisa di dalam bak mandi.

Di pemukiman warga, pemandangan tumpukan pakaian kotor dan peralatan makan yang menumpuk di sudut dapur kini menjadi pemandangan yang biasa dan jamak dijumpai. Warga sengaja membiarkannya hingga berhari-hari sampai tiba waktunya mereka memiliki waktu luang untuk membawanya ke sungai. Menjaga dapur agar tetap mengepul dengan air bersih jauh lebih penting daripada memikirkan cucian yang menumpuk.

Menanti Dropping Air Bersih yang Tak Kunjung Datang

Kemarau Jember

Suasana gersang inilah yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi ratusan warga di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. foto/Jember yang itu

Pada tahun-tahun sebelumnya, beban warga Dusun Bunder sedikit teringan karena adanya respons cepat dari pihak terkait. Biasanya, begitu dampak kemarau mulai terasa memukul kehidupan masyarakat, bantuan pasokan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember akan segera datang. Truk-truk tangki air bersih akan rutin masuk ke dusun untuk mendistribusikan air secara gratis.

Namun, entah mengapa, hingga akhir Juni ini tanda-tanda kedatangan bantuan air bersih tersebut belum juga tampak. Warga mulai merasa cemas karena cadangan air tanah semakin menipis sementara cuaca justru semakin panas.

“Biasanya kalau sudah masuk puncak kemarau seperti sekarang ini, kita selalu dibantu pasokan air bersih lewat dropping dari BPBD. Bantuan itu alhamdulillah sangat membantu mengurangi beban warga. Tapi untuk musim kemarau tahun ini, sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda bantuan air datang,” ungkap Bu Yesi pasrah.

Keluhan yang sama juga diutarakan oleh Hosna (65), seorang lansia yang tinggal di dusun setempat. Di usianya yang sudah senja dan fisiknya yang tidak lagi seprima dulu, Hosna harus rela bolak-balik memikul atau mengangkut air dari sekitar kawasan TPA maupun titik-titik lain yang disinyalir masih memiliki sumber air aktif. Aktivitas fisik yang menguras tenaga ini kini menjadi rutinitas wajib yang amat berat baginya.

“Kalau sudah musim kemarau ya begini ini, semuanya kering. Air untuk mandi, wudu, dan kebutuhan harian lainnya terpaksa ambil dari sana [sekitar TPA]. Kalau untuk minum, saya harus cari ke tempat yang lebih jauh lagi yang airnya benar-benar bersih dan tidak bau,” tutur Hosna dengan suara yang agak bergetar.

Sumur gali di rumahnya Hosna memiliki kedalaman sekitar 12 meter hanya bisa diandalkan ketika musim penghujan tiba. Begitu kemarau datang, sumur itu langsung mogok mengeluarkan air. Kalapun dipaksakan untuk ditimba, air yang terangkat kondisinya sangat memprihatinkan, berwarna keruh, berlumpur, dan mengeluarkan aroma tidak sedap yang membuatnya tidak berani menggunakannya, bahkan sekadar untuk menyiram toilet.

“Sekarang kalaupun ada air di dalam sumur, kondisinya bau dan kotor sekali. Tidak ada yang berani pakai,” ucapnya dengan raut wajah kecewa yang mendalam.

Untuk mendapatkan air yang layak konsumsi, Hosna harus merasakan kegetiran yang sama dengan tetangga-tetangganya yang berusia lebih muda. Perempuan lansia itu mengaku harus berjalan kaki atau meminta bantuan kerabatnya untuk menempuh perjalanan hingga hampir satu kilometer. Bagi warga yang fisiknya masih kuat, mengendarai sepeda motor menuju fasilitas umum seperti masjid desa yang memiliki sumur bor dalam menjadi pilihan terbaik demi mendapatkan air yang lebih higienis.

“Jauh sekali jalannya. Mungkin ada kalau satu kilometer berjalan bolak-balik,” tambahnya lirih.

Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Jember dalam beberapa pekan terakhir kian memperparah penderitaan warga Dusun Bunder. Mayoritas penduduk setempat menggantungkan hidup mereka sebagai buruh tani. Saban hari, mereka harus memeras keringat di bawah terik matahari, mencangkul dan merawat sawah milik orang lain demi upah yang tidak seberapa.

Beban hidup mereka seolah berlapis-lapis. Setelah seharian kelelahan bekerja sebagai buruh tani di sawah dalam kondisi cuaca panas menyengat, mereka tidak bisa langsung beristirahat saat tiba di rumah. Sisa-sisa tenaga yang ada harus kembali diperas untuk mengangkut galon-galon air demi mencukupi kebutuhan dasar anak dan istri di rumah. Potret kehidupan yang ironis dan memprihatinkan ini terus berulang dan menjadi kelaziman yang menyakitkan setiap harinya.

Meskipun krisis air bersih ini telah menjelma menjadi bencana tahunan yang sudah diprediksi, warga Dusun Bunder sangat berharap agar bantuan pasokan air bersih dari pemerintah daerah atau BPBD Jember bisa segera disalurkan ke kampung mereka. Bagaimanapun, air adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda pemenuhannya.

Di samping mengharapkan bantuan jangka pendek berupa dropping air tangki, warga juga menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengupayakan solusi jangka panjang. Mereka mendambakan adanya pembangunan infrastruktur jaringan air bersih yang permanen, seperti pembuatan sumur bor dalam komunal atau instalasi pipa air bersih.

Warga berharap, sentuhan program pemerintah tersebut dapat menyudahi penderitaan menahun mereka, sehingga di musim kemarau mendatang, mereka tidak perlu lagi menempuh jarak berkilo-kilometer hanya demi membawa pulang beberapa galon air bersih.

==============

Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait DAMPAK MUSIM KEMARAU atau tulisan lainnya dari Jember Yang Itu

tirto.id - News Plus
Kontributor: Jember Yang Itu
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Siti Fatimah