Menuju konten utama
Horizon

Benarkah Jendela Nako Sudah Ketinggalan Zaman?

Yang dipersoalkan semestinya bukan tampilan jadul atau tempo dulu, tapi fungsinya. Tampilan modern belum tentu praktis dan aman. Begitu pun sebaliknya.

Benarkah Jendela Nako Sudah Ketinggalan Zaman?
Ilustrasi jendela nako. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada Juli 2026, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda datang meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Kukumutuk, Kecamatan Kao, Halmahera Utara. Inspeksi awalnya berjalan biasa. Ia bertanya kepada mandor tentang jumlah pekerja dan kendala di lapangan.

Saat memasuki salah satu ruang kelas yang hampir rampung, perhatiannya tertuju pada deretan bilah kaca horizontal di dinding. Masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai jendela nako.

Sherly mempertanyakan penggunaan jenis jendela yang dicapnya sebagai gaya "tempo dulu." Menurutnya, jendela nako rentan aus dan macet. Ia kemudian meminta spesifikasi jendela dikaji ulang dan diganti dengan model lain.

“Kaya gini bahaya buat anak-anak,” lanjutnya.

Memang, jendela nako telah lama identik dengan rumah kuno, sekolah dasar Inpres, atau rumah petak. Kini, jenis jendela tersebut sudah jarang terlihat pada bangunan-bangunan baru.

Namun demikian, di negara lain masih banyak yang menggunakannya, termasuk sekolah dan bangunan di Australia, Malaysia, Hawaii, serta wilayah beriklim hangat lainnya. Kemampuannya mengatur bukaan membuat udara dapat mengalir tanpa membutuhkan ruang sebesar jendela ayun.

Jika prinsip kerjanya masih digunakan pada bangunan modern, mengapa jendela nako justru telanjur dianggap usang di Indonesia?

Dari Nama Merek Menjadi Sebutan Jendela

Istilah nako begitu umum digunakan hingga sering dianggap sebagai nama baku untuk jendela berbilah kaca. Padahal, secara internasional sistem serupa lebih dikenal sebagai jalousie window atau louvre window.

Kata jalousie berasal dari bahasa Prancis yang berarti “kecemburuan”. Istilah tersebut kemudian digunakan untuk menyebut jendela berbilah yang memungkinkan penghuni melihat ke arah luar, tetapi sukar dilihat dari luar. Bilah semacam itu awalnya banyak terbuat dari kayu, seperti yang juga dikenal pada jendela krepyak, lalu berkembang menggunakan kaca sehingga cahaya tetap dapat masuk ke dalam ruangan.

Lalu, dari mana sebutan nako berasal?

Nama tersebut berkaitan dengan NACO, merek jendela louvre yang dikembangkan perusahaan Australia, N.V. Appleton Pty Ltd. Perusahaan yang didirikan Noel Vincent Appleton itu memproduksi sistem rangka jendela berbilah pada pertengahan abad ke-20.

NACO, yang juga merupakan produsen beragam barang rumah tangga lain, makin berkembang setelah Perang Dunia II, ketika pembangunan perumahan meningkat dan kebutuhan terhadap sistem ventilasi praktis ikut bertambah.

Desain jendela NACO relatif sederhana. Rangka dipasang pada kedua sisi kusen, sedangkan potongan kaca ditempatkan pada penjepit yang dapat digerakkan bersama. Sistem tersebut memudahkan pemasangan sekaligus memungkinkan sudut seluruh bilah diatur menggunakan satu mekanisme.

Menurut buletin Overseas Trading terbitan 24 Juli 1964, menjelang tahun 1961, produk jendela NACO telah dipasarkan ke lebih 100 negara, termasuk wilayah Asia Tenggara. Kondisi panas dan lembap membuat rumah membutuhkan bukaan yang mampu mengalirkan banyak udara. Jendela berbilah menawarkan fungsi tersebut tanpa membutuhkan ruang gerak sebesar jendela ayun.

Popularitas NACO akhirnya membuat nama dagangnya melekat pada produknya. Lini bisnis tersebut kemudian dikenal melalui merek Breezway.

Di Indonesia, namanya populer dengan sebutan nako dan digunakan secara umum untuk menyebut jenis jendela kaca berbilah horizontal.

Nako kemudian menjadi pemandangan umum di rumah, sekolah, kantor, dan banyak bangunan lain. Deretan bilah kaca menjadi bagian dari wajah arsitektur Indonesia pada masa ketika ventilasi alami masih berperan besar menjaga kenyamanan ruang.

Ilustrasi jendela nako

Ilustrasi jendela nako. FOTO/iStockphoto

Mengapa Arsitek Tropis Menyukai Jendela Nako?

Keunggulan jendela nako dapat dilihat jika membandingkan cara kerjanya dengan jendela ayun dan geser. Jendela ayun (casement window) mampu membuka hampir seluruh bidang kusen, tetapi membutuhkan ruang lebih. Sementara itu, jendela geser (sliding window) lebih hemat tempat, tetapi salah satu daun akan bertumpuk dengan daun lainnya. Pada sistem dua daun, bukaan yang tersedia umumnya hanya sekitar separuh bidang jendela.

Nako berbeda. Seluruh bilah berputar pada porosnya secara bersamaan sehingga sebagian besar bidang jendela dapat menjadi jalur ventilasi. Pemilik rumah bisa mengatur sendiri kemiringannya untuk menyesuaikan aliran udara. Bahkan, pada produk louvre modern, luas bukaan efektif dapat mencapai sekitar 75–80 persen, bahkan hingga 90 persen pada ukuran dan desain tertentu.

Sebuah studi terbitan 2021 menunjukkan, perubahan sudut bilah memengaruhi pola aliran udara yang melewati jendela louvre. Saat hujan, bilah dapat dimiringkan untuk mengurangi tempias tanpa harus menutup seluruh bukaan.

Karakter tersebut cocok dengan prinsip passive coolingatau pendinginan pasif. Salah satu caranya melalui ventilasi silang: udara masuk melalui bukaan pada satu sisi bangunan, mengalir melewati ruangan, lalu keluar melalui bukaan di sisi lain. Pergerakan udara membantu mengurangi panas dan meningkatkan kenyamanan tanpa bergantung pada AC.

Prinsip semacam itu telah lama digunakan dalam arsitektur wilayah beriklim hangat. Paul Rudolph, salah satu tokoh Sarasota School of Architecture di Florida, misalnya, banyak bereksperimen dengan bukaan dan jalousie pada bangunan yang dirancang untuk merespons kondisi subtropis.

Salah satu contohnya adalah Healy Guest House atau Cocoon House yang dibangun pada 1950. Penggunaan jalousie membuat batas antara ruang dalam dan lingkungan luar menjadi lebih terbuka sekaligus mendukung ventilasi alami.

Eksperimen serupa terlihat dalam karya Rudolph lainnya, termasuk Umbrella House. Selain bukaan yang memungkinkan ventilasi alami, rumah tersebut memiliki struktur peneduh besar untuk mengurangi paparan matahari. Bukaan dan peneduh "bekerja sama" menghadapi dua persoalan utama bangunan di wilayah panas: radiasi matahari dan kebutuhan mengalirkan udara.

Pendekatan terhadap iklim juga menjadi ciri karya Geoffrey Bawa di Sri Lanka. Tokoh penting Tropical Modernism tersebut merancang bangunan dengan mempertimbangkan matahari, hujan, vegetasi, dan pergerakan udara. Louvre menjadi salah satu elemen yang digunakan untuk menjaga hubungan antara ruang dalam dan lingkungan luar.

Oleh karena itulah masih banyak negara yang menerapkan sistem jendela macam itu untuk sekolah-sekolahnya. Ventilasi merupakan hal penting, terutama di ruang kelas yang ditempati banyak orang dalam waktu lama.

Penelitian yang dilakukan Ulla Haverinen-Shaughnessy dan koleganya (2006) menemukan, ada korelasi antara tingkat ventilasi ruang kelas dan hasil belajar siswa. Ruang dengan pasokan udara luar yang lebih baik berpengaruh positif pada capaian akademik siswa. Tanpa pertukaran udara memadai, karbon dioksida dan berbagai polutan dari dalam ruangan akan terakumulasi. Ventilasi alami menjadi salah satu cara memasukkan udara luar dan membuang udara dari dalam ruangan.

Jika Begitu Berguna, Mengapa Nako Dianggap Jadul?

Persoalannya, keunggulan prinsip kerja tersebut sangat bergantung pada material, mekanisme, pemasangan, dan perawatannya. Dan pengalaman "buruk" masyarakat Indonesia terhadap nako banyak dibentuk oleh masalah material dan perawatan, selain tren.

Jika tak dirawat dengan baik, rangka jendela nako jelas bakal korosi sehingga membuat sistemnya macet. Belum lagi apabila bahan komponennya kurang berkualitas dan mudah aus, fleksibilitas bilahnya akan berkurang.

Keamanan menjadi persoalan lain. Pada sebagian produk lama, bilah kaca dijepit pada kedua sisinya dengan lengkungan besi. Namun, karena jepitannya menyisakan ruang, ada kemungkinan lepas, apalagi jika memang diupayakan. Kekhawatiran semacam itulah yang jadi dalih untuk menghindari penggunaan nako di tempat banyak anak-anak.

Namun, persoalan tersebut perlu dibedakan: antara kelemahan prinsip jendela berbilah dan keterbatasan produk lama.

Sistem louvre modern telah berkembang. Baja yang rentan berkarat dapat digantikan aluminium, sementara mekanisme penggeraknya bisa dibuat lebih presisi. Bilahnya juga dapat menggunakan kaca yang lebih aman, dengan sistem penguncian lebih baik untuk mengurangi risiko dilepas dari luar.

Kemampuan menutup jendela pun diperbaiki dengan penggunaan segel pada pertemuan antarkomponen. Meski tidak serta-merta membuat semua louvre sekedap jenis jendela lain, perkembangan tersebut dapat mengurangi infiltrasi udara dan meningkatkan peredaman suara. Performanya bergantung pada desain, material, kualitas pemasangan, dan spesifikasi masing-masing produk.

Karena itu, bentuk jendela yang dianggap "tempo dulu," belum cukup menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa sistem nako tidak layak digunakan. Penilaian terhadap sebuah jendela seharusnya bertumpu pada performa dan spesifikasinya, bukan semata-mata pada usia teknologi atau kesan "kuno" visualnya.

Yang menua bukan prinsip kerja jendela nako, melainkan material dan teknologi lama yang selama puluhan tahun membentuk citranya sebagai barang “jadul”.

Baca juga artikel terkait ARSITEKTUR atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin