tirto.id - Umumnya sejarah cengkih Nusantara membawa kita ke Maluku Utara. Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bacan dikenal sebagai pulau-pulau penghasil cengkih. Antonio Pigafetta, yang mengikuti pelayaran Ferdinand Magellan, mencatat kelima pulau itu ketika rombongannya tiba di kawasan Maluku pada 1521.
Sebelumnya, saat masih berada di kawasan Filipina, ia menyebut nama Sanghir, yang merujuk pada kepulauan Sangihe, wilayah yang berada di utara Maluku.
"Akhirnya, kami tiba di sebuah pulau yang sangat indah bernama Sanghir. Namun, karena angin bertiup berlawanan arah dan menghalangi kami untuk memutari tanjung, kami terpaksa berlayar bolak-balik di dekat pulau tersebut," tulis Pigafetta.
Enam puluh tahun kemudian, nama Sanghir muncul lagi dalam catatan perjalanan utusan Spanyol. Kali ini kepulauan di bibir Samudra Pasifik itu disebut sebagai salah satu tempat penghasil cengkih.
Sangihe dalam Jalur Pelayaran Menuju Maluku
Francisco de Dueñas dikirim Gubernur Filipina Gonzalo Ronquillo de Peñalosa sebagai utusan untuk mengetahui keadaan di Maluku dan Makau. Dalam suratnya kepada Felipe II pada 16 Juni 1582, Ronquillo melaporkan pengiriman Dueñas dan informasi yang dibawanya dari perjalanan tersebut.
"Ia telah dibekali instruksi yang jelas mengenai langkah-langkah yang harus diambil," tulis Penalosa.
Misi itu berlangsung tidak lama setelah Felipe II mengambil alih takhta Portugal pada 1580. Penyatuan mahkota Spanyol dan Portugal menempatkan jaringan kekuasaan kedua kerajaan dalam satu dinasti, tetapi tidak serta-merta menghapus kepentingan dan persaingan yang telah terbentuk di Asia. Bagi Pemerintah Spanyol di Manila, mengetahui keadaan Maluku tetap penting karena kawasan itu merupakan pusat perdagangan cengkih.
Dueñas kemudian berlayar dari Manila ke selatan menuju kawasan Maluku. Ia melewati sejumlah pulau di antara Mindanao dan Maluku. Pada Maret 1582, ia telah mencapai Tidore. Lewat surat bertanggal 19 Juni 1582 kepada Felipe II, ia mengabarkan sejumlah pulau itu merupakan penghasil cengkih, lalu menjalin persahabatan dengan penduduknya.
Menurut Isacio Rodríguez Rodríguez dalam Historia de la Provincia Agustiniana del Santísimo Nombre de Jesús de Filipinas (1981:145), dalam suratnya itu, Dueñas menggambarkan pulau-pulau tersebut sangat indah dan damai.
Ia lalu melanjutkan dalam suratnya, "Pulau-pulau yang dihuni oleh penduduk tampaknya tidak gemar berperang dan belum pernah dikunjungi siapa pun sebelumnya—serta tiga pulau penghasil cengkih yang terletak lebih dari tujuh puluh legua [satuan jarak yang digunakan dalam navigasi Iberia] dari Maluku dan tiga puluh legua dari Mindanao, wilayah yang belum pernah dicapai oleh orang Portugis."
Dalam bagian lain laporan tersebut, salah satu nama pulau yang muncul adalah Sangihe. Letaknya dianggap strategis, menjadikannya bagian dari jalur maritim antara Filipina selatan dan kawasan Maluku. Kapal-kapal yang bergerak dari utara menuju kepulauan rempah dapat melewati kawasan ini sebelum mencapai pusat perdagangan cengkih di Maluku. Hubungan antarpulau di kawasan ini sendiri telah berlangsung sebelum kedatangan Spanyol.
Penelitian K.A. Steenbrink & J.S. Aritonang pada bab "Catholic Converts in the Moluccas, Minahasa and Sangihe-Talaud, 1512–1680" dalam A History of Christianity in Indonesia (2008) menunjukkan bahwa Sangihe-Talaud berada dalam jaringan pergerakan manusia, perdagangan, dan misi keagamaan yang menghubungkan Sulawesi Utara, Maluku, dan Filipina selatan sejak abad ke-16.
Menariknya, sebelum cengkih Sangihe muncul, Francisco de Dueñas sudah lebih dulu berlayar di perairan kepulauan itu. Pada 1581, utusan gubernur Filipina tersebut tiba di Siau, sebuah pulau yang berada di gugusan Kepulauan Sangihe. Juan Carlos Rey Salgado dan kolega dalam Sebuah Aliansi di Laut Sulawesi: Siau dan Spanyol (1581-1677)(2025:62)mencatat kedatangannya di pulau itu pada 1581 sebagai bagian dari misi yang disiapkan Gubernur Ronquillo. Ia bertemu dengan Raja Siau, Jerónimo I Pasumah.
Dua catatan perjalanan Dueñas itu memberi Pemerintah Spanyol informasi mengenai pulau, penduduk, sumber daya, dan jalur pelayaran, yang dapat menjadi bahan bagi kebijakan Spanyol di masa yang akan datang.
Di tengah perjalanannya menuju pusat perdagangan rempah di Maluku, Dueñas mencatat sebuah pulau yang menghasilkan cengkih. Ia singgah, berinteraksi, dan diberi makan oleh penduduk setempat.
Sangihe dan Cengkih dalam Catatan Dueñas
Nama Sangihe muncul dalam laporan perjalanan Dueñas bersama keterangan mengenai kondisi pulau tersebut. Sumber-sumber Eropa kerap menggunakan beberapa sebutan untuk kepulauan ini. Kajian toponimi pada Juli 2025 mencatat variasi Zanger, Sanger, Sangir, Sanguin, Sangil, dan Sangi. Sejarawan asal Madrid Antonio C. Campo membaca kata Desanguin sebagai rujukan kepada Sangihe.
Dalam uraian mengenai pulau tersebut, Dueñas juga menuliskan kata clabo, bentuk ejaan lama yang merujuk pada clavo atau cengkih. Dalam catatannya, cengkih tumbuh di pergunungan dan penduduk setempat membawakannya dalam keadaan hijau, baru selesai dipetik.
Ia kemudian mencatat musim panennya, yang menurutnya berlangsung pada waktu yang sama dengan musim cengkih di Kepulauan Maluku, sekitar Februari hingga Maret dan masih dapat berlanjut sampai April. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa cengkih di pulau itu memiliki siklus panen yang dikenali dan bertepatan dengan musim yang berlaku di pusat produksi cengkih Maluku.
Cengkih terdapat di banyak bagian pulau, meskipun jumlahnya tidak banyak. Menurutnya, penduduk setempat belum menekuni tanaman tersebut. Pohon cengkih, tulisnya, bahkan masih ditebang seperti pohon-pohon lain di hutan ketika masyarakat membuka lahan untuk kebun. Pemanfaatannya sebagai komoditas perdagangan pun belum berkembang.
Ada hal lain yang dicatat Dueñas dan memperlihatkan keadaan Sangihe pada masa itu. Dalam bagian lain dari laporannya, seperti dikutip Hubert Jacobs dalam Documenta Malucensia II (1974), ia menyebut permukiman Kristen di bagian timur Sangihe. Menurutnya, masyarakat di sana sebelumnya telah dibaptis oleh para misionaris yang datang bersama Portugis. Ketika Dueñas tiba, perang telah membuat keadaan berubah dan masyarakat tersebut kembali seperti sebelumnya.
Cengkih Sangihe di Tengah Perebutan Rempah
Sejak abad ke-16, Spanyol memiliki hubungan dengan Kesultanan Tidore, yang menjadi sekutu dalam menghadapi Portugis dan Ternate. Setelah Perjanjian Zaragoza pada 1529, Spanyol melepaskan klaimnya atas Maluku dan Portugis tetap mempertahankan kedudukannya di kawasan itu.
Perubahan itu membuat Manila kembali memperhatikan Maluku. Pada 20 Maret 1582, Diego de Azambuja, kapten Portugis di Tidore, menulis dari sana dan menyebut kedatangan Francisco de Dueñas. Ia membawa kabar mengenai keadaan Maluku sekaligus memberi tahu pihak Portugis mengenai penyatuan mahkota Spanyol dan Portugal.
Azambuja menerima banyak informasi mengenai Maluku dan pulau-pulau lain di kawasan tersebut. Ia lalu menitipkan sejumlah cengkih melalui Dueñas yang akan kembali ke Spanyol, termasuk cengkih hijau yang telah diasinkan untuk dibuat manisan.
Beberapa bulan kemudian, laporan Dueñas kepada Felipe II memberikan gambaran lain tentang pulau-pulau yang dilaluinya, termasuk keberadaan cengkih di Sangihe.
Dengan demikian, perjalanan Dueñas bukan hanya perjalanan menuju pusat perdagangan rempah. Ia berlangsung ketika hubungan kekuasaan di Maluku sedang berubah. Informasi mengenai pulau-pulau di sekitar kawasan itu menjadi penting bagi Pemerintah Spanyol di Manila untuk memahami keadaan Maluku dan posisi Portugis di dalamnya.
Pada akhir abad ke-16, cengkih merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan Maluku. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan pencarian wilayah baru, tetapi juga dengan upaya menguasai perdagangan rempah. Maluku Utara menjadi salah satu pusat utama perdagangan cengkih dan menjadi arena persaingan Portugis, Spanyol, kesultanan setempat, serta kekuatan Eropa lainnya.
Dalam situasi tersebut, informasi mengenai pulau lain yang menghasilkan cengkih tentu memiliki arti tersendiri. Catatan Francisco de Dueñas tidak menunjukkan bahwa Spanyol menemukan pusat produksi baru yang dapat menandingi Ternate atau Tidore. Ia tidak memberi gambaran lengkap mengenai pertanian cengkih Sangihe. Tidak ada data produksi, luas kebun, atau jumlah pohon.
Keterangan tersebut menarik jika dibandingkan dengan kondisi Sangihe pada masa kini. Cengkih masih menjadi bagian dari kegiatan pertanian masyarakat di kepulauan itu. Penelitian Frit J. Simon, Jelie V. Porong, dan Tommy B. Ogie (2022), misalnya, mengkaji teknik budidaya Syzygium aromaticum di Desa Kuma, Kecamatan Tabukan Tengah. Penelitian tersebut melibatkan 48 petani dan menemukan bahwa praktik budidaya yang mereka amati telah sesuai dengan teknik budidaya cengkih yang dianjurkan.
Penelitian lain memperlihatkan hubungan ekologis yang lebih spesifik. Pada 2024, Jackson Watung dan sejumlah peneliti mendeskripsikan Cryptophasa warouwi, spesies ngengat yang ditemukan di Pulau Sangihe dan hidup sebagai hama pada pohon cengkih. Peneliti menyebutnya sebagai hama cengkih endemik Sangihe.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pohon cengkih memiliki hubungan ekologis dengan lingkungan Sangihe hingga sekarang. Namun, temuan itu tidak dapat digunakan untuk menentukan sejak kapan cengkih tumbuh di pulau tersebut. Keberadaan serangga endemik bukan bukti bahwa pohon cengkih telah berada di Sangihe selama ribuan tahun.
Sejarah perdagangan Maluku tetap memiliki pusat-pusat utama yang sudah dikenal dalam berbagai sumber awal Eropa. Yang ditambahkan oleh laporan Dueñas adalah satu potongan informasi dari wilayah yang berada di luar pusat tersebut. Kepulauan Sangihe pada masanya termasuk dalam catatan Eropa tentang wilayah tempat cengkih tumbuh.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






























