tirto.id - Angin monsun bertiup membawa aroma rempah dan garam laut di Pelabuhan Cochin, India, pada awal April 1512. Di sebuah meja kayu, Afonso de Albuquerque, Gubernur Jenderal Portugis di Asia, menulis laporan panjang untuk rajanya.
Ingatannya masih segar tentang penaklukan Malaka yang berdarah beberapa bulan sebelumnya, kemenangan yang membuka jalan menuju Kepulauan Rempah. Dari semua rampasan perang, selain kepingan emas dan ukiran perunggu, ada selembar perkamen peta yang dianggapnya salah satu rampasan paling bernilai.
Dalam suratnya tertanggal 1 April 1512 kepada Raja Dom Manuel I, Albuquerque menulis, "Saya juga mengirimkan kepada Anda, Tuanku, sepotong peta yang diambil dari peta besar milik seorang navigator Jawa, yang memuat Tanjung Harapan, Portugal, dan daratan Brasil, Laut Merah, dan Laut Persia, Kepulauan Cengkeh (yaitu Kepulauan Rempah-rempah), navigasi orang Cina dan orang Gores, dengan garis arah angin dan rute langsung kapal-kapal mereka, serta daerah pedalaman, dan bagaimana kerajaan-kerajaan itu berbatasan satu sama lain. Menurut saya, Tuanku, ini adalah hal terbaik yang pernah saya lihat."
Warisan Austronesia
Sejak lama lautan Nusantara sudah menjadi pusat peradaban maritim yang sibuk dan maju, jauh sebelum kapal-kapal karak dan galiung orang Eropa membelah Asia Tenggara. Bagi nenek moyang Austronesia, laut merupakan ruang yang menghubungkan manusia, budaya, dan perdagangan. Untuk mengarungi perairan itu, mereka mengandalkan kapal raksasa bernama jong, dari bahasa Jawa Kuno joṅ yang berarti kapal.
Ukuran jong membuat pelaut Eropa terperangah. Kapal ini dibangun dengan lambung berlapis, dipasak kayu presisi tanpa paku besi, lentur sekaligus kedap air. Armada jong mampu mengangkut hingga seribu orang dan ratusan ton muatan. Kehidupan di dalamnya menyerupai desa terapung: keluarga ikut serta, lahir, bekerja, bahkan meninggal di atas geladak dalam pelayaran berbulan-bulan.
"Terdapat pula banyak kapal dari Jawa yang datang ke sana, yang memiliki empat tiang layar, sangat berbeda dengan kapal kita, dan terbuat dari kayu yang sangat tebal," tulis Duarte Barbosa dalam "A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century".
Barbosa merupakan penulis, birokrat, dan pelancong asal Portugis yang merampungkan laporannya sekitar tahun 1518. "Mereka membawa banyak beras, daging sapi, domba, babi, dan rusa, yang dikeringkan dan diasinkan, banyak ayam, bawang putih, dan bawang merah. Mereka juga membawa banyak senjata untuk dijual, yaitu tombak, belati, dan pedang, yang dihiasi dengan logam bertatahkan dan terbuat dari baja berkualitas sangat baik," sambungnya.
Keunggulan itu ditopang ilmu navigasi. Pelaut Nusantara membaca bintang, angin monsun, arus laut, dan warna air. Pada 1505, Ludovico di Varthema, bangsawan Italia, menumpang sebuah kapal lokal yang berlayar dari pesisir Kalimantan menuju Pulau Jawa. Dalam bukunya berjudul Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese yang diterbitkan di Roma pada tahun 1510, ia menulis bahwa nakhoda lokal menggunakan kompas magnetik dan peta navigasi dengan garis-garis orientasi, menunjukkan bahwa tradisi kartografi lokal telah berkembang sebelum kedatangan Portugis.
Navigasi lokal yang cerdas dan aktivitas dagang di sekitar Malaka yang kian ramai, kemudian melahirkan Undang-Undang Laut Melaka, disusun pada abad ke-15. Hukum ini mengatur hierarki perwira, sewa kargo, tata niaga, hingga sanksi atas kejahatan di kapal.
Itu semua menegaskan kejayaan maritim Nusantara, mulai soal kapal, senjata, hingga supremasi hukum, kartografi, dan budaya bahari yang mengakar, menjadikannya pusat peradaban air yang menggerakkan ekonomi dari barat hingga timur kepulauan.
Pengetahuan Eropa dengan Peta Jawa
Jatuhnya Malaka ke tangan armada Afonso de Albuquerque pada Agustus 1511 menjadi titik balik besar dalam sejarah Asia dan Eropa. Kemenangan itu memberi akses Portugis ke pengetahuan maritim yang selama ini dijaga rapat oleh pedagang Asia dan Arab.
Dari sekian rampasan, peta Jawa yang disebut Albuquerque dalam laporannya adalah harta paling berharga. Peta itu memuat jalur pelayaran dari Tanjung Harapan hingga Tiongkok, bahkan mencatat Brasil yang baru saja dijamah penjelajah Eropa, bukti betapa cepat jaringan informasi dagang lintas samudra bekerja pada awal abad ke-16.
Namun peta asli tak pernah sampai ke Lisbon. Albuquerque membawanya pulang dengan kapal karak Flor de la Mar, kapal terbesar Portugal saat itu. Di perairan Sumatra akhir 1511, badai menghantam, kapal karam, dan seluruh muatan emas, permata, serta peta Jawa tenggelam ke dasar laut. Kehilangan ini menjadi salah satu misteri penting dalam sejarah kartografi awal modern.
Untungnya, Albuquerque sudah mengantisipasi. Ia memerintahkan Francisco Rodrigues, mualim muda sekaligus pembuat peta, menjiplak bagian penting peta Jawa. Salinan inilah yang selamat dan dikirim ke Raja Manuel melalui Cochin pada April 1512. Rodrigues kemudian mengembangkannya menjadi 26 lembar peta dan puluhan sketsa pesisir dari Alor hingga Jawa, disusun antara 1513–1515 dalam Livro de Francisco Rodrigues. Manuskrip ini bertahan karena dijilid bersama karya Tomé Pires, Suma Oriental.
Keaslian salinan Rodrigues menjadi perdebatan sejarawan. J.H.F. Sollewijn Gelpke, dalam kajiannya bertajuk "Afonso de Albuquerque's Pre-Portuguese 'Javanese' Map, Partially Reconstructed from Francisco Rodrigues' Book" (1995), menunjukkan bahwa peta wilayah timur Nusantara bukan hasil observasi langsung ekspedisi António de Abreu. Menurutnya, itu jiplakan dari peta Jawa sebelum Flor de la Mar karam. Detail pulau seperti Buru, Ambon, Seram, dan Banda yang tak sepenuhnya dilalui ekspedisi Abreu memperkuat bukti itu.
Analisis Gelpke juga menyingkap tingginya literasi geografis Jawa awal abad ke-16. Peta itu memuat Portugal dan Brasil, menandakan informasi penemuan benua baru cepat menyebar lewat jaringan Arab dan Persia hingga ke pelabuhan Nusantara. Peta Jawa menyatukan empat kawasan maritim besar—Atlantik, Laut Merah dan Teluk Persia, Asia Tenggara, serta Tiongkok dan Ryukyu. Ia menjadi kunci bagi Portugis memahami jaringan pelayaran Nusantara.
Meski demikian, bangsa Eropa tidak datang tanpa bekal. Mereka telah menguasai pelayaran samudra melalui pengalaman di Atlantik dan pesisir Afrika dengan dukungan karavel, kompas, astrolabe, serta tabel astronomi. Seturut Sanjay Subrahmanyam dalam The Career and Legend of Vasco da Gama (1997), di Samudra Hindia, mereka juga menyerap pengetahuan dari navigator Arab, Gujarat, dan Melayu.
Kemunduran Maritim Nusantara
Berbekal salinan peta Jawa yang dijiplak Francisco Rodrigues dan panduan mualim lokal, Portugis segera menembus wilayah timur Nusantara. Ekspedisi pertama ke Kepulauan Rempah dipimpin António de Abreu pada akhir 1511, menuju Banda dan Ambon. Rodrigues ikut serta sebagai pembuat peta, ditemani pilot pribumi yang mengenal setiap arus dan karang. Berkat jalur yang telah lama dipakai pelaut Jawa, Melayu, dan Bugis, mereka menemukan pusat cengkih dan pala.
Sejak saat itu dimulai perampasan rempah secara sistematis yang mengubah geopolitik dan ekonomi dunia. Catatan Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515) menunjukkan betapa besar ketergantungan Eropa pada informasi lisan dan peta Asia. Meski ia mengkritik peta lokal yang tak memakai garis haluan ala Eropa, kenyataannya tanpa peta Jawa, penjelajahan Portugis akan tersendat.
Setelah kegagalan Sultan Agung merebut Batavia pada 1628–1629, Mataram semakin menyadari sulitnya menandingi keunggulan laut VOC. Kekalahan itu tidak serta-merta mengakhiri aktivitas maritim Jawa, tetapi menjadi titik balik yang memperlihatkan rapuhnya kekuatan laut Mataram di hadapan armada VOC.
Ketika Amangkurat I naik takhta (1646–1677), arah kebijakan kerajaan berubah. Demi memperkuat kendali dari pedalaman, ia membatasi peran pelabuhan-pelabuhan pantai utara, menekan para saudagar, serta mengurangi aktivitas pelayaran yang berpotensi memperkuat kekuatan pesisir. Kebijakan tersebut memang memperkokoh kontrol istana dalam jangka pendek, tetapi sekaligus melemahkan jaringan perdagangan maritim yang selama berabad-abad menjadi urat nadi ekonomi Jawa.
Akibatnya, kemampuan membangun kapal besar, mengelola pelabuhan, dan mempertahankan armada tidak lagi berkembang seperti pada masa sebelumnya. Kekosongan pengaruh di pesisir kemudian semakin mudah dimanfaatkan VOC untuk memperluas monopoli perdagangan dan penguasaan jalur laut. Meski demikian, kemunduran ini terutama terjadi di Jawa.
Pada saat yang sama, sejumlah kerajaan maritim lain di Nusantara, seperti Makassar hingga penaklukan 1669, Banten, Ternate, Tidore, serta komunitas pelaut Bugis dan Mandar, masih mempertahankan tradisi pelayaran dan perdagangan yang kuat.
Dominasi VOC yang terus meluas kemudian menggeser pusat-pusat kekuatan maritim di kepulauan ini. Sejak itu, pengetahuan bahari pelaut Nusantara perlahan kehilangan ruang untuk berkembang di bawah tatanan perdagangan kolonial baru.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































