Menuju konten utama

Ekonomi Sirkular yang Tumbuh di Akar Rumput Lapak Rongsok Depok

Wisata Rongsok dan Mall Rongsok berhasil meniupkan nyawa pada sampah anorganik yang menunggu giliran menuju ajal di tempat pembuangan akhir.

Ekonomi Sirkular yang Tumbuh di Akar Rumput Lapak Rongsok Depok
Mall Rongsok di Depok, Rabu (12/8/2026). tirto.id/khaila adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Riuh klakson di Jalan Bungur Raya mendadak lumat begitu kaki melangkah masuk ke dalam tumpukan mesin ketik tua, barisan kursi kafe, hingga tumpukan telepon kabel yang berdebu. Di sudut pinggiran Depok ini, sampah anorganik tidak sedang menunggu giliran menuju ajal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Lewat papan nama bertuliskan "Mall Rongsok" dan "Wisata Rongsok", sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang mandiri justru sedang bernapas. Kehadirannya telah menghidupi ruang-ruang akar rumput selama lebih dari dua dekade.

Bisnis barang bekas di Depok ini hadir dengan dua konsep. Kedua lapaknya pun menawarkan petualangan yang berbeda.

Di tepi Jalan Bungur Raya, Mall Rongsok berdiri sebagai pusatnya. Di sini, semua barang bekas sudah dikelompokkan rapi berdasarkan jenisnya. Namun, jika berjalan maju sedikit lalu berbelok kiri ke Jalan Palakali, suasananya segera berubah. Wisata Rongsok justru sengaja membiarkan barang-barang bercampur baur. Di sana, pengunjung dibebaskan berkeliling dan berburu sendiri harta karun yang dicari.

Bento (56), karyawan bagian penjualan, menjelaskan perbedaan konsep tersebut melalui nama yang disematkan pada masing-masing lokasi. Mall Rongsok dibuat dengan konsep seperti mal yang menyediakan beragam jenis barang dalam satu tempat. Pengunjung dapat langsung menuju bagian yang sesuai dengan barang yang mereka cari.

Sedangkan di Wisata Rongsok, barang-barang sengaja tidak diklasifikasikan. Pengunjung harus menyusuri tumpukan dan melihat-lihat barang yang tersedia. Menurut Bento, cara tersebut membuat pengunjung terkadang menemukan barang yang sebenarnya tidak mereka cari, tetapi sudah lama mereka inginkan.

Berburu Barang Bekas hingga Properti Syuting Film

Mall Rongsok di Depok

Mall Rongsok di Depok, Rabu (12/8/2026). tirto.id/khaila adinda

Bento berkisah bahwa "harta karun" yang memenuhi lapak Wisata Rongsok datang dari berbagai penjuru. "Macam-macam, yang pertama dari rumah tangga, terus tempat usaha itu antara lain ada dari kantor, dari restoran, dari hotel, macam-macam sih," ujarnya sembari menuntun saya menelisik langsung seisi lokasi, pada Rabu (12/8/2026).

Soal cara menentukan barang mana yang layak langsung dijual dan mana yang perlu dibersihkan atau diperbaiki dulu, Bento menjelaskan ada dua patokan utama yang ia pakai.

"Pada saat kita beli, yang pertama kita harus tahu harga barunya. Harga barunya, terus setelah tahu harga barunya, kita lihat ini mudah dijual atau barang yang lama dijual. Jadi ada istilah fast moving atau slow moving, ya kan,” sebutnya.

“Nah, terus kedua itu kualitasnya. Kualitasnya masih layak untuk dijual atau enggak. Karena di sini kita jarang memperbaiki, paling kita jualnya apa adanya, paling dibersihin aja. Tapi kalau untuk restorasi yang besar kita enggak, paling perbaikan-perbaikan kecil oke gitu," imbuhnya menjelaskan.

Kisah tentang berdirinya Mall Rongsok diceritakan langsung oleh sang pemilik lapak, Sulis (51). Dia pertama kali membuka lapak pada 2004, sebelum akhirnya lapak itu berjodoh dengan nama "Mall Rongsok" pada 2017.

Isi dari “pusat belanja” barang bekas ini menjajakan berbagai barang. Sebagiannya, merupakan buangan dari jenama tersohor.

"Dari mana-mana, kayak kursi ini dari KFC, kalau ini kursi kantor dari bank DBS, dari bank BRI, ada nih dari restoran yang di Kemang, ada dari food court Margo City, macam-macam," katanya sambil menunjuk sejumlah furnitur di lapaknya di samping saya, Depok, Rabu (12/8/2026).

Sulis kemudian mengungkap, pola perolehan barang di Mall Rongsok sebagian besar melalui lelang. "Enggak, mereka itu kan lelang. Heeh, kan biasanya kan ada kalau di kayak KFC itu kan dia peremajaan barang. Jadi barang-barang lama itu dilelang, diganti," jelasnya.

Bagi Sulis, kamus barang bekas di lapaknya tidak mengenal istilah "tidak layak jual". Bahkan, barang yang sudah rusak total sekalipun tetap memiliki pembeli setia, terutama dari kalangan pelaku industri kreatif.

"Di sini enggak ada yang enggak layak, semuanya itu masih ada yang nyari. Kadang-kadang kalau ini yang printilan-printilannya kan kadang-kadang buat properti syuting. Kayak ada syuting bikin robot apa, sinetron apa yang dibanting-banting, yang mati-mati kan enggak mungkin kan kalau sinetron itu istilahnya banting HP yang baru, pasti yang udah mati kan," ungkapnya pada saya dengan santai.

Soal kondisi barang yang masuk, Sulis bilang variasinya cukup luas. "Beda-beda. Kadang ada yang masih bagus, ada yang rusak. Kalau rusak paling kita reparasi sedikit ya, kadang-kadang ada yang kayak kafe baru buka, baru 6 bulan, 5 bulan kan masih bagus tuh, tutup, kita lelang, itu masih bagus. Tapi kebanyakan kalau emang dari KFC, dari kantor gitu-gitu masih layak pakai.” katanya.

Strategi Harga Murah dan Jurus Bertahan Saat Sepi

Mall Rongsok di Depok

Mall Rongsok di Depok, Rabu (12/8/2026). tirto.id/khaila adinda

Soal harga, Bento menjelaskan sistem yang diterapkan cukup sederhana di Wisata Rongsok. "Enggak jauh [dari harga barang baru]. Di sini paling dari harga barunya paling tinggi 50 persennya dari harga baru, rata-rata. Cuman rata-ratanya sih 30 persen," ujarnya saat ditanya apakah harga barang di lapaknya bersaing dengan barang baru.

Bento turut akui, junjungannya pada komitmen soal kepuasan pelanggan, termasuk kebijakan pengembalian barang. “Ada aja [yang minta refund], tapi kita garansinya kembali 100 persen. Kalau memang pelanggan enggak puas kita kembalikan, duitnya kita kembalikan enggak kita kurangi sama sekali. Karena kan namanya orang macam-macam ya, gitu. Makanya yang kita jaga di sini adalah kepuasan pelanggan." akunya.

Sementara itu di Mall Rongsok, ihwal reparasi, Sulis selaku pemilik mengungkapkan bahwa mall rongsok punya tim internal yang justru sengaja merekrut pekerja tanpa keahlian khusus.

"Kita ada tim khusus. Kalau di sini kan karyawan itu kita ngambil kan bukan yang udah ahli. Jadi kita ngambil karyawan itu yang bener-bener belum bisa apa-apa dan di sini kita ajarkan untuk jadi istilahnya mandiri, kreatif.” tutur Sulis.

Kalau perihal omzetnya, Sulis mengatakan bisnis tersebut tidak dijalankan dengan kalkulasi ketat seperti usaha pada umumnya. Ia mengaku tidak pernah menghitung secara rutin berapa pendapatan maupun keuntungan yang diperoleh. Tak muluk.

Uang yang didapat, kata Sulis, digunakan bersama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika pemasukan sedang ada, mereka menikmatinya bersama. Jika sebaliknya, mereka memilih menjalaninya tanpa banyak perhitungan.

“Enggak bisa dihitung, enggak pernah ngitung. Pokoknya kalau dapat duit ya kita bagi-bagi buat makan bareng. Kalau enggak dapat duit ya nikmatin aja,” katanya.

Setelah bertahun-tahun menjalankan usaha, Sulis juga melihat jumlah pembeli tidak selalu sama. Ada masa ketika pembeli ramai, ada pula saat transaksi menurun.

Belakangan, kondisi ekonomi yang menurutnya sedang sulit turut terasa di lapak. “Semuanya lagi pada nyungsep ya menurun,” ujarnya.

Meski pembeli sedang berkurang, Sulis tidak menjadikan angka penjualan sebagai satu-satunya ukuran untuk menjalankan usaha. Ia memilih terus membuka lapak dan menunggu datangnya rezeki.

“Pokoknya kita berjalan aja bagaikan air mengalir,” katanya.

Sulis juga belum terpikir untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah. Padahal, aktivitas bisnis yang dijalankannya turut membuat barang-barang bekas kembali memiliki nilai guna dan mengurangi barang yang berakhir menjadi limbah.

Namun, ketika ditanya apakah berharap usaha tersebut mendapat perhatian atau dilirik pemerintah, Sulis tak banyak berkomentar.

“Enggak tahu ya,” jawabnya singkat.

Pahlawan Lingkungan Tanpa Gaji dari Negara

Mall Rongsok di Depok

Mall Rongsok di Depok, Rabu (12/8/2026). tirto.id/khaila adinda

Gerakan Mall Rongsok ini mendapat perhatian dari Ignasius D.A. Sutapa, Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan BRIN. Menurutnya, lapak rongsokan ini adalah potret sekaligus wajah nyata dari ekonomi sirkular yang hidup di tingkat akar rumput.

"Alih-alih membuang barang yang sudah tidak dipakai ke Tempat Pembuangan Akhir, masyarakat memilih menjualnya. Pelaku informal di dalamnya, mulai dari pengepul, teknisi reparasi, hingga pedagang eceran, menjalankan fungsi reuse, repair, dan refurbish yang menjadi prinsip utama ekonomi sirkular. Tanpa subsidi pemerintah, tanpa teknologi mahal, mereka menyelamatkan ribuan ton barang anorganik setiap tahun agar tidak menjadi beban lingkungan," terang Sutapa pada saya, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, dari sembilan strategi "R" dalam kerangka ekonomi sirkular yakni: refuse, rethink, reduce, reuse, repair, refurbish, remanufacture, repurpose, recycle, hingga recover, praktik seperti Mall Rongsok justru menempati posisi tertinggi dalam hierarki, yakni reuse dan repair.

"Memperpanjang umur produk, TV, kulkas, meja, buku yang masih layak pakai tidak langsung jadi sampah. Ini paling efisien karena energi untuk membuat produk baru = 0,” tuturnya.

Sutapa pun turut menilai model bisnis semacam ini punya keunggulan struktural dibanding program daur ulang formal, karena tidak bergantung pada birokrasi maupun dana negara.

"Menutup loop di tingkat lokal. Tidak perlu pabrik daur ulang besar. Cukup ada 'lapak', teknisi, dan pembeli. Nilai ekonomi tetap berputar di Depok," katanya.

Dia lantas menambahkan, "Berbasis pasar, bukan subsidi. Tidak tergantung APBN. Harga ditentukan permintaan. Ini yang membuat sektor ini sangat tangguh."

Secara akademis, kata Sutapa, para pelaku usaha barang bekas ini layak disebut sebagai aktor utama ekonomi sirkular versi Indonesia karena mereka menjalankan 3R (reduce, reuse, recycle), sebelum pemerintah bicara 3R.

Ia turut menyandingkan data timbulan sampah nasional dari SIPSN KLHK 2024 yang mencatat sampah nasional mencapai 35,3 juta ton per tahun, dengan komposisi terbesar berupa sisa makanan (41,4 persen), plastik (18,3 persen), kertas (11,6 persen), kayu (6,2 persen), dan logam (4,3 persen).

Merujuk pada studi ITB tahun 2023 tentang pemulung dan lapak di kawasan Jabodetabek, Sutapa bilang, "Sektor informal menyelamatkan 15-20 persen timbulan sampah anorganik agar tidak ke TPA."

Menurut Sutapa, persoalannya bukan memilih antara pengolahan limbah melalui sektor formal atau informal, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan.

Sektor formal dapat mengisi kebutuhan edukasi dan data, sementara sektor informal dapat memotori eksekusi di lapangan sekaligus menopang ekonomi. “Sektor formal bagus untuk edukasi & data. Sektor informal bagus untuk eksekusi & ekonomi. Keduanya harus dihubungkan, bukan dilawan,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait DAMPAK SAMPAH atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - News Plus
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Siti Fatimah