tirto.id - Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki sejarah penting dalam peradaban. Kota itu menjadi pusat ibu kota Kerajaan Sriwijaya--kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Letak geografis yang dikelilingi Sungai Musi dan banyak anak sungainya membuat kota ini menjadi tujuan utama perdagangan rempah, baik dalam maupun luar negeri. Palembang bahkan menjadi tempat persinggahan bagi kapal-kapal besar sebelum melanjutkan perjalanan.
Kehadiran pendatang dalam waktu lama memicu pembangunan pemukiman di pinggir sungai. Salah satunya adalah perkampungan warga Tionghoa yang kini dikenal dengan sebutan Kampung Kapitan yang berada di Kelurahan 7 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang.
Lokasinya persis berada di pinggir Sungai Musi dan berseberangan langsung den Benteng Kuto Besak di seberang ilir. Sementara di bagian timur berdiri kokoh Jembatan Ampera.
Untuk menuju destinasi wisata itu bisa ditempuh sekitar 10 menit menggunakan perahu getek menyeberangi Sungai Musi dari dermaga Benteng Kuto Besak. Wisatawan akan dimanjakan dengan belasan warung pempek di sepanjang lorong menuju Kampung Kapitan.
Jika menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung dapat melewati bawah Jembatan Ampera ke arah Pasar 7 Ulu. Pelancong masuk lorong kecil dan hanya berjarak 50 meter dari jalan raya.
Kampung Kapitan merupakan kawasan pemukiman pertama kali warga Tionghoa yang menetap di Palembang pada masa kolonial Belanda pada 1644 Masehi. Kampung ini menjadi sentral para pedagang yang singgah atau menjajakan dagangan di Bumi Sriwijaya. Konon, terdapat 15 unit rumah berukuran besar dan mewah di Kampung Kapitan. Seiring waktu, kini hanya tersisa dua bangunan saja.
Bangunan pertama dengan mayoritas berbahan kayu kelas satu, seperti kayu onglen atau ulin, tembesu, dan petanang. Rumah ini memiliki luas 60x27 meter dengan bentuk panggung. Secara arsitektural, rumah tersebut memadukan unsur tradisional Palembang dan Tiongkok. Bagian depan dan dalam rumah berkarakter Tiongkok dan bagian atap berbentuk limas yang merupakan khas Palembang.
Sementara rumah kedua yang berada di sebelahnya berbahan beton dengan ukuran tidak jauh berbeda. Rumah ini konon dibangun belasan tahun setelah bangunan pertama dengan kombinasi rumah limas Palembang, Tiongkok, dan khas Belanda, dengan berdirinya pilar-pilar di bagian depan.

Kedua rumah itu dihubungkan oleh selasar di bagian depan yang digunakan saat diadakan pesta keluarga. Sementara di bagian tengah, terdapat ruang terbuka yang bertujuan untuk sirkulasi udara.
Kedua rumah legendaris itu hingga kini masih kokoh berdiri walaupun telah berumur 400 tahun lebih. Kini rumah itu ditempati oleh keturunan pemilik generasi ke-14 dan 15.
Meski menjadi rumah hunian, Kampung Kapitan tetap membuka kunjungan wisatawan. Umumnya, rumah kayu menjadi objek pelancong.
Di ruang depan rumah kayu, pengunjung akan disajikan dengan foto-foto tempo dulu pemilik rumah. Sementara di ruang tengah terdapat tempat sembahyang yang hingga kini masih dipertahankan kondisinya.
Hanya saja, tidak banyak benda antik yang dapat ditemukan di rumah ini. Kini, hanya tersisa tiga benda peninggalan bersejarah yang tersedia, yakni meja abu, altar sembayang, dan beberapa dokumentasi.
Namun, wisatawan akan takjub dengan kemegahan dan arsitektur rumah tersebut. Tingkat ketahanan material yang digunakan juga tak diragukan lagi karena 99 persen tetap bangunan asli. Hanya beberapa keping papan bagian lantai saja yang harus diganti karena keropos dimakan usia.
Rumah kayu Kampung Kapitan kini dihuni empat kepala keluarga yang semuanya keturunan pemilik. Mereka mendiami bangunan di bagian belakang yang langsung tersambung dengan ruang utama.
Untuk mempercantik, Pemerintah Kota Palembang membangun taman di depan dua rumah tersebut yang masih dalam kawasan. Taman itu dilengkapi dengan miniatur pagoda sehingga menambah keindahan wisata.
Surianto (77), salah satu penghuni bercerita sudah cukup lama diberi kepercayaan oleh keluarga untuk tinggal sekaligus mengurus rumah legendaris tersebut. Dia seorang menantu dari keturunan pemilik rumah.
"Istri saya keturunan asli, generasi ke-14. Tapi istri sudah meninggal, saya tinggal bareng anak dan keluarga yang lain, ada empat KK tinggal di sini," ungkap Surianto kepada Tirto, Rabu (13/9/2026).
Meski menggunakan biaya pribadi, keluarga tetap sepakat mengurus rumah peninggalan leluhur. Bagi dia, sebuah kebanggaan tersendiri dapat merawat warisan budaya dan sejarah masa lampau.
"Di sisa hidup, saya mau urus rumah ini, walaupun banyak kendala, terutama soal biaya perawatan," kata dia.
Surianto mengungkapkan keluarga tidak berani mematok besaran tiket masuk ke rumah Kampung Kapitan. Dia menyadari tidak banyak nilai sejarah yang bisa dijual ke wisatawan, kecuali foto-foto dan bentuk bangunannya sendiri.
Kondisi berbeda jika di dalam rumah terdapat banyak benda peninggalan, sehingga pengunjung merasa puas dan mendapat informasi baru dari perkampungan ini. Alhasil keluarga hanya menyediakan kotak zonasi di ruang sembahyang bagi siapa pun yang ingin menyumbang.
"Kami sadar dirilah, mau patok tarif tiket, tetapi kondisinya ala kadar. Jadi, siapa yang mau bantu silakan, besarannya juga sukarela, buat tambah biaya perawatan," kata Surianto.
Surianto mengatakan pengunjung Kampung Kapitan terbilang tidak begitu ramai, meski di waktu libur. Kalangan yang datang sering kali dari mahasiswa dan arsitek yang ingin meneliti bangunan.
"Pengunjung umum ada juga, tapi biasanya orang-orang pecinta sejarah yang datang, bahkan ada dari Cina, Eropa, sampai Afrika," kata dia.
Surianto bercerita beberapa tahun lalu ada pengusaha yang berminat membeli rumah Kampung Kapitan termasuk taman di depan. Harganya pun cukup fantastis, satu rumah ditawar Rp200 miliar.

Pengusaha tersebut ingin membangun sebuah hotel dan berjanji tidak akan mengubah bentuk asli bangunan. Hotel itu disebut-sebut bernuansa sejarah dengan panorama Sungai Musi dan Jembatan Ampera.
Namun keluarga sepakat menolak menjual rumah tersebut dengan harga berapa pun. Bagi mereka nilai sejarah rumah Kampung Kapitan tidak terhingga sehingga merawatnya adalah cara terbaik.
"Lagi pula seberapa mahal harganya dan banyak uang pasti habis juga, apalagi keturunan kami banyak, paling dapat tak seberapa, belum lagi ributnya," kata dia.
"Jadi lebih baik sampai kapan pun tidak bakal dijual. Kami keluarga masih sanggup merawatnya," sambung Surianto.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumsel, Mega Nugraha, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Pemko Palembang dalam upaya pelestarian Kampung Kapitan karena menjadi salah satu destinasi wisata warisan sejarah (heritage).
Kunjungan wisatawan ditarget terus meningkat seiring berdirinya kampung pempek Kampung Kapitan yang berada di sekitarnya. Dengan demikian penikmat kuliner dapat mampir ke wisata itu dan memberikan kontribusi bagi pemeliharaannya. Karena itu, dibutuhkan kerja sama yang saling menguntungkan antara pelaku usaha dan pengelola Kampung Kapitan.
"Ini nilai jualnya, pengunjung nikmati Sungai Musi sambil makan pempek, sekalian jalan-jalan ke Kampung Kapitan," kata Mega.
Jejak Sejarah Komunitas Tionghoa dan Kampung Kapitan
Sejarawan Palembang, Dedi Irwanto, menjelaskan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI membuka jalan bagi kedatangan bangsa Tiongkok ke nusantara. Lalu lalang warga Tiongkok ke Palembang makin intens di bawah Dinasti Ming pada abad XIV.
Dinasti Ming bahkan membentuk lembaga dagang, salah satunya berpusat di Palembang. Alhasil, pedagang Tiongkok makin banyak datang ke kota itu hingga menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat, termasuk menikahi gadis-gadis lokal.
Salah satu tokoh terkenal pada masa itu adalah Liang Taow Ming yang menjabat Kepala Kantor Dagang Cina. Dia berhasil menyatukan masyarakat Tiongkok di Palembang.
Posisi dan peran komunitas Tiongkok makin kuat pada masa penjajahan Belanda. Alhasil pemerintah Belanda mengangkat perwira Tiongkok berpangkat mayor untuk bertugas mengurus perdagangan, pajak, izin usaha, izin tinggal, hingga urusan pernikahan dan kelahiran. Jabatan tersebut dipegang oleh tokoh yang dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Magor Putih.
Jabatan ini berlaku turun-temurun hingga anak keturunannya. Pada 1830 M, jabatan tersebut dipegang oleh Tjoa Kie Cuan dan diteruskan kepada putranya Tjoa Ham Hin. Pada 1855 M, pemerintah kolonial Belanda memberi gelar kepada Tjoa Ham Hin berupa Kapitan Cina.

"Karena itulah, Kampung Kapitan merupakan sejarah besar etnis Tionghoa di Palembang pada masa kolonial Belanda," kata Dedi Irwanto,
Dedi Irwanto mengatakan penunjukan dua perwira Cina pertama oleh pemerintah Belanda menunjukkan gambaran kedudukan istimewa etnis Cina di Palembang. Akan tetapi, peran kapitan tidak hanya bekerja sama dengan kolonial Belanda, melainkan juga menjalin hubungan baik dengan warga pribumi.
"Pada saat itu banyak etnis Tiongkok menikah dengan gadis-gadis Palembang. Antar etnis harmonis dalam hal apa pun, termasuk juga digelar upacara keagamaan, artinya sudah rukun sejak lama," kata dosen Universitas Sriwijaya itu.
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






























