tirto.id - Sungai Musi yang membelah Kota Palembang ternyata tidak hanya menjadi pusat jalur transportasi dan perdagangan di masa lalu. Topografi wilayah berupa dataran rendah yang dikelilingi rawa dan sungai dimanfaatkan ulama dalam penyebaran agama Islam di Palembang tempo dulu.
Penyebaran agama Islam melalui jalur sungai di Palembang dibuktikan dengan keberadaan masjid-masjid tua yang dibangun di tepian sungai.
Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo atau dikenal dengan nama Masjid Agung Palembang salah salah satunya. Masjid yang berdiri di tepian Sungai Musi itu sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Masjid yang berlokasi di titik nol Palembang ini sempat terbakar pada tahun 1659 Masehi. Kemudian, Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo membangun kembali pada 1738 M dan diresmikan pada 1748 M.
Masjid tertua kedua di Kota Palembang yang juga terletak di pinggir sungai adalah Masjid Ki Marogan. Masjid yang berlokasi di di Kertapati, Palembang itu dibangun secara mandiri oleh ulama sekaligus saudagar ternama, Masagus H Abdul Hamid bin Masagus H Mahmud atau lebih dikenal Ki Muara Ogan atau Ki Marogan.
Masjid Ki Marogan didirikan pada 1871 M atau pada masa Kesultanan Palembang. Ki Marogan membangun tempat ibadah ini sebagai sarana dakwah yang ia lakukan sekaligus menampung umat Islam di kawasan seberang ulu Palembang.
Berhasil dengan syiarnya, Ki Marogan kembali membangun satu masjid lagi untuk kawasan seberang ilir Palembang, yakni Masjid Lawang Kidul. Keputusan Ki Marogan mendirikan masjid itu lantaran daya tampung Masjid Agung tidak seimbang dengan banyaknya jemaah.
Masjid Lawang Kidul berada di bantaran Sungai Musi di Jalan Slamet Ryadi, Lorong Lawang Kidul, Ilir Timur II, Palembang. Masjid ini dibangun pada 1880 dan selesai pembangunan pada 1310 Hijriah atau 1890 M. Bentuk bangunan Masjid Lawang Kidul sama persis dengan Masjid Agung dan Masjid Ki Marogan. Hanya bangunannya lebih kecil dibanding dua masjid penduhulunya.
Material Masjid Lawang Kidul terbuat dari campuran batu kapur dengan putih telur dan pasir. Sementara rangka bagian dalam sampai ke atap berbahan kayu unglen atau ulin. Di bagian dalam masjid, terdapat empat tiang besar dari kayu unglen berbentuk segi delapan sebagai penyangga utama atap. Tiang ini kokoh berdiri dengan ketinggian sekitar 8 meter. Keempat tiang utama dikelilingi 12 tiang penyangga setinggi sekitar 6 meter dari jenis kayu yang sama. Ukuran keliling tiang-tiang itu lebih kecil dari empat tiang di bagian tengah.
Bangunan induk masjid sebagian besar tetap terjaga keasliannya. Hingga kini, masih difungsikan satu mimbar kokoh seperti awal mula masjid ini berdiri dengan ukiran kayu membentuk sulur-sulur bunga sangat kental dengan budaya melayu dan memiliki empat anak tangga.
Masjid itu terdapat banyak pintu dan jendela yang berukuran sama besarnya. Kusen dan daun pintu maupun jendela berbahan kayu unglen yang dikenal tahan air dan panas hingga masih utuh sampai sekarang.
Di bagian luar, Masjid Lawang Kidul memiliki menara yang mirip dengan menara Masjid Agung dengan tiga undakan. Tak heran masjid ini disebut sebagai miniatur Masjid Agung yang memiliki arsitektur perpaduan budaya China dan Palembang. Tiga undakan juga terdapat di bagian atap bangunan. Uniknya, setiap undakan tidak menutupi undakan lainnya. Barulah di puncak atap terpasang bulan sabit. Sementara itu, sisi paling depan dibangun lebih mencolok sebagai tempat imam memimpin salat berjamaah. Bagian dinding terdapat jendela berbahan kayu dan di atasnya ada ornamen bintang dan bulan sabit.
Hingga kini, bentuk asli bangunan Masjid Lawang Kidul tetap dipertahankan. Hanya dinding dan lantai saja yang dipasang granit.Ada juga penambahan pembangunan di bagian sayap dan dua lantai di bagian belakang tetapi tanpa merubah bentuk asli bangunan. Penambahan dilakukan karena menyesuaikan jumlah jemaah semakin bertambah seiring pertumbuhan pemukiman di sekitar.

Pengurus Bagian Peribadatan Masjid Lawang Kidul Palembang, Kiagus Muhammad Fauzi bercerita banyak kepada Tirto, Rabu (23/9/2026). Dia merupakan suami dari keturunan kelima Ki Marogan, yakni bernama Masayu Saba binti Masagus H Muhammad Soleh bin Masagus Habiburrahman bin Masagus Abu Mansyur bin Masagus H Abdul Hamid (Ki Marogan).
Kiagus Muhammad Fauzi juga didaulat sebagai imam tetap salat rawatib di Masjid Lawang Kidul, khusus Dzuhur dan Ashar. Sedangkan tiga salat wajib lain diimami oleh tiga orang hafidz Alquran dengan bacaan menyambung sampai khatam 30 juz. Kiagus Muhammad Fauzi mengungkapkan, sejarah yang dimiliki Masjid Lawang Kidul membuat keberkahan tersendiri bagi lingkungan sekitar. Ramainya jemaah yang melaksanakan ibadah secara tidak langsung mempengaruhi perekonomian warga setempat.
Dalam momen tertentu, puluhan bahkan ratusan jemaah asal beberapa negara tetangga hingga Arab Saudi berkunjung ke masjid itu. Belum lagi saat digelar perayaan keagamaan sehingga mengundang ribuan orang.
"Ini menjadi salah satu keberkahan Masjid Lawang Kidul, 24 jam sehari selalu ramai jamaah, sampai kami tidak mengunci pintu dan gerbang utama masjid," ungkap Kiagus Muhammad Fauzi.
Fauzi menyebut pintu utama Masjid Lawang Kidul dulunya menghadap ke Sungai Musi, sesuai maknanya pintu selatan yang selaras dengan pintu masuk berkembangnya Islam di Palembang. Tujuan posisi pintu itu untuk memudahkan kapal Ki Marogan bersandar di tangga masjid ketika ingin berdakwah.
Fauzi mengatakan, Ki Marogan mensyiarkan agama Islam melalui jalur sungai sehingga membangun masjid di tepian sungai. Tak hanya di Palembang, Ki Marogan juga kerap kali berdakwah ke daerah-daerah pelosok hingg ke Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan sekitarnya yang umumnya berada di dekat aliran sungai.
Konon, Ki Marogan juga mendirikan tempat ibadah di tempat-tempat yang ia singgahi. Itu lakukan untuk memudahkan dirinya dalam berdakwah dan mengajak umat Islam memakmurkan tempat ibadah.
"Banyak musala di tepian sungai dibangun Ki Marogan, semuanya dari biayanya sendiri. Beliau tidak mau ada yang nyumbang," kata Fauzi.
Untuk mengenang perjuangan dakwah Ki Marogan semasa hidupnya, digelar napak tilas setiap tahunnya. Acara ini merupakan bagian rangkaian peringatan haul akbar Ki Marogan yang biasa dilaksanakan pada bulan Rajab.
Dalam napak tilas itu, ribuan masyarakat melakukan pelayaran menggunakan kapal tongkang menyusuri Sungai Musi dengan titik awal keberangkatan di Masjid Lawang Kidul menuju Masjid Ki Marogan. Acara ini menjadi agenda tahunan wisata religi.
"Napak tilas ini bertujuan untuk mengenang jalur dakwah Ki Marogan melalui sungai dan juga mempererat sesama kaum Muslim di Palembang," kata Fauzi.
Sejarawan Palembang, Dedi Irwanto, menjelaskan, Ki Marogan adalah ulama terkemuka dan saudagar ternama pada zamannya. Ki Marogan lahir pada 1811 M yang tercatat sebagai keturunan Kesultanan Palembang dari Sunan Cinde Balang. Ki Marogan belajar agama Islam di tanah Arab cukup lama saat masih berusia remaja. Di sana, Ki Marogan menggali ilmu agama dari banyak ulama besar, salah satunya Syeikh Abdul Somad Alpalembani, seorang ulama asal Palembang.
Sejarawan dari Universitas Sriwijaya Palembang itu menerangkan, Masjid Lawang Kidul didirikan Ki Marogan atas keperihatinannya terhadap minimnya masjid di Palembang saat itu, sementara umat Islam sangat banyak. Dia pun membangunnya setelah berjarak sekitar 10 tahun dari Masjid Ki Marogan, sebagai masjid pertama yang dibangunnya.

Pertimbangan lain Ki Marogan membangun Masjid Lawang Kidul di antaranya berada di daerah asal istri pertamanya, Masayu Maznah, dan banyaknya umat Islam tinggal di sana, tetapi ada pembatasan pembangunan masjid oleh kolonial Belanda. Selama dibuka untuk umum, salat wajib di masjid itu kerap kali diimami langsung oleh Ki Marogan. Hal itu sebagai bukti perjuangan Ki Marogan dalam mendakwakan agama Islam di kota kelahiran.
"Ki Marogan wafat tahun 1901 Masehi, beliau mengimami salat di Masjid Lawang Kidul lebih kurang 10 tahun," ungkap Dedi Irwanto.
Selain tempat berdakwah, Masjid Lawang Kidul juga memiliki peranan penting dalam aktivitas masyarakat, seperti perdagangan dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dapat dikatakan, masjid itu menjadi pusat kajian keagamaan seperti pondok pesantren pada masa sekarang.
"Sebelum ada pendidikan formal di Palembang, salah satu pendidikan normal terbesar di Palembang itu ada di Masjid Lawang Kidul," kata Dedi.
Selain itu, Masjid Lawang Kidul menjadi markas perjuangan melawan kolonial. Sepeninggal Ki Marogan, pejuang tetap menggunakan masjid untuk mengatur strategi dalam peperangan, termasuk Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1 hingga 5 Januari 1947.
"Pejuang kita seperti TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bermarkas di Masjid Lawang Kidul. Karena itu masjid ini memiliki nilai historis yang tinggi, baik dakwah maupun perjuangan melawan penjajah," kata Dedi Irwanto.
Sementara itu, Ketua Tim Registrasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Palembang, Kiki Fitria Rizki, menjelaskan, Pemko Palembang telah menetapkan Masjid Lawang Kidul senagai bangunan cagar budaya pada 2024. Penetapan itu karena dari kajian cukup lama menyimpulkan nilai sejarah dan keaslian arsitektur tetap terjaga lebih dari 100 tahun.
"Masjid Lawang Kidul sudah jadi bangunan cagar budaya tingkat kota pada 2024 lalu, tahun berikutnya ditetapkan status yang sama untuk Masjid Ki Marogan, kalau Masjid Agung sudah lebih dulu," kata Kiki.
Kiki menyebut sejauh ini ada 25 situs bersejarah di Palembang yang telah ditetapkan cagar budaya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, tujuan utama penetapan cagar budaya adalah untuk memberikan kepastian hukum, pelindungan, pelestarian, serta mengatur pengembangan dan pemanfaatan warisan sejarah demi kesejahteraan masyarakat.
"Cagar budaya memungkinkan pelestarian bangunan lebih optimal dan tentunya pemerintah akan mudah menentukan skala proritas dalam perawatan dan pemeliharaan," pungkas Kiki.

Penulis: Irwanto
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id































