tirto.id - Jam menunjukkan pukul 02.52 dini hari Waktu Arab Saudi (WAS) saat kami tiba di area kaki Jabal Nur. Malam itu, kami dari Media Center Haji (MCH) 2026 berniat ingin napak tilas perjalanan Nabi Muhammad SAW yang biasa berkontemplasi di puncak Jabal Nur hingga menerima wahyu pertama dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril.
Malam itu, udara Makkah sangat sejuk. Angin sepoi-sepoi mengiringi langkah kaki secara perlahan menaiki anak tangga satu demi satu. Malam cukup pekat dan sunyi. Beruntungnya, dari kejauhan terlihat gemerlap cahaya Kota Makkah yang begitu indah.
Kaki terus melangkah menaiki tangga yang seakan tak ada ujungnya. Napas mulai ngos-ngosan saat mendekati pos pemberhentian pertama. "Masih jauhkah Gua Hira," saya bertanya kepada Abdul Kholiq, tim MCH 2026, pemilik akun @kabarmekkah, yang kebetulan 9 tahun kuliah di Universitas Ummul Qura, Makkah.
"Masih jauh. Ini baru 10 persen perjalanan menuju puncak. Kalau capek, kita istirahat dulu sambil foto-foto Makkah dari sini," kata Kholiq yang memimpin ekspedisi kami malam itu.
Di tempat pemberhentian ini, Kota Makkah terlihat jelas. Lampu-lampu bangunan segi empat di penjuru kota seolah-olah memanjakan mata di malam yang pekat. Clock Tower di area Masjidil Haram tampak megah. Saat kamera HP menge-zoom bangunan tersebut, terlihat samar-samar jarum jam di menara yang dikenal jemaah Indonesia sebagai Zamzam Tower.
Kami istirahat sejenak di lokasi tersebut. Sebagian teman-teman MCH membuat LOT (Live on Tape), sebagian lagi mengambil gambar untuk keperluan visual artikel dan media sosial.
Menaklukkan Fobia Ketinggian demi Capai Gua Hira
Sejumlah umat Islam berdoa dan menikmati suasana fajar saat menziarahi Gua Hira di puncak Jabal Nur, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (18/6/2026). Foto: Tim MCH 2026

Tujuan kami satu: Gua Hira. Namun untuk sampai ke tujuan, kita mesti menaklukkan dulu puncak Jabal Nur atau gunung cahaya dengan ketinggian sekitar 624 meter di atas permukaan laut dengan bebatuan yang terjal melapisi permukaannya.
Sebab, letak Gua Hira berada sekitar empat hingga enam meter dari puncak Jabal Nur di sisi barat, sementara kita mendaki dari sisi timur. Sehingga, jika kita ingin menuju gua yang menjadi tempat pertama kali Nabi Muhammad menerima waktu, maka kita harus melalui puncak Jabal Nur terlebih dahulu.
Saat mau mendaki ke puncak gunung cahaya tersebut, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah "seberapa tinggi?" "Butuh waktu berapa lama?" dan "Berapa kilo jarak tempuhnya?"
Jemaah haji, lebih-lebih para petugas, tentu sudah mempersiapkan fisik selama berbulan-bulan. Kami paham betul bahwa ibadah haji, 90 persen adalah aktivitas fisik. Kami dituntut mampu berjalan kaki belasan hingga puluhan kilo meter. Sehingga waktu tempuh sekitar 1 jam atau jarak tempuh kurang lebih 1-4 km, semestinya bukan persoalan.
Akan tetapi, lain cerita jika harus mendaki Jabal Nur dengan jalanan yang menanjak dan berliku serta bebatuan yang curam. Apalagi bagi yang memiliki fobia ketinggian seperti saya. Jika melihat ke bawah, tiba-tiba lutut terasa lemas dan tangan keluar keringat dingin.
Saya hampir putus asa saat sampai di jalan berkelok dan menanjak tajam. Ingin rasanya balik arah. Saya sempat berhenti lama karena merinding membayangkan rute menuju puncak yang harus dilalui. Beruntung saya mendaki di saat petang, sehingga pandangan ke bawah terhalang, yang terlihat hanya lampu-lampu di kejauhan.
Setelah lebih dari satu jam mendaki, akhirnya saya sampai puncak. Rasanya lega dan di kepala hanya ada satu kata: Gua Hira. Saat itu, saya tidak hanya bisa sampai puncak Jabal Nur, tapi juga sukses melawan fobia ketinggian yang selama ini selalu mengikuti.
Cerita yang hampir sama dialami Sanib, jurnalis MUI TV. Ia bahkan sempat tremor saat melakukan on cam sampai di puncak Jabal Nur.
"Saya keringat dingin," kata Sanib mengenang pengalamannya menaklukkan puncak Jabal Nur.
Sanib bersyukur bisa sampai puncak Jabal Nur meski takut ketinggian. Sepanjang perjalanan, ia berusaha tidak melihat ke bawah. Ia hanya fokus pada tangga demi tangga serta tujuan utama: Gua Hira.
Saat saya tanya "mengapa memaksakan diri naik ke puncak meski fobia ketinggian?" Sanib hanya menjawab singkat "Gua Hira. Ya, karena sudah di situ, harus bisa sampai melihat langsung."
Motivasi Sanib ingin melihat langsung Gua Hira sangat masuk akal. Ia melawan fobia ketinggian tersebut agar saat ia menjelaskan kepada murid-muridnya di kelas, tidak hanya berdasarkan teori di buku, tapi melalui pengalaman langsung.
"Jadi besok kalau ngajar anak-anak/jemaah bisa cerita real," kata Sanib yang juga berprofesi sebagai guru di Jakarta.
Gua Hira Destinasi Favorit Umat Islam
Gua Hira memang menjadi salah satu destinasi favorit bagi jemaah haji dan umrah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada Kamis (18/6/2026) dini hari, saat mendaki Jabal Nur, saya bertemu dengan berbagai jemaah dari banyak negara, seperti Turki, Pakistan, India, Bangladesh, hingga Afrika.
Jemaah dari Indonesia juga tidak kalah banyak. Salah satunya adalah Ali Mukti, jemaah haji asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia bersama rombongannya, memulai perjalanan menuju Jabal Nur sekitar pukul 01.00 Waktu Arab Saudi (WAS) dan tiba di puncak satu jam kemudian.
Meski medan pendakian cukup menantang, Ali meyakini siapa saja dapat mencapai Gua Hira selama memiliki niat yang kuat serta mempersiapkan diri dengan baik. Menurut dia, kondisi fisik yang prima dan bekal makanan maupun minuman yang cukup menjadi faktor penting untuk menunjang perjalanan menuju lokasi bersejarah tersebut.
"Innamal a'malu binniyat dan selawat Shollu ala Sayyidina Muhammad," kata Ali mengutip salah satu hadis dan berselawat.
Ali menuturkan, berkat niat yang kuat dan memperbanyak selawat, dirinya bersama rombongan akhirnya berhasil masuk ke Gua Hira. Rasa syukur pun tak dapat disembunyikan ketika berhasil mencapai tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW tersebut.
Setibanya di Gua Hira, Ali dan rombongan memanfaatkan kesempatan itu untuk melaksanakan salat sunnah dan memanjatkan doa. Suasana khusyuk dan haru menyelimuti para jemaah yang datang dari berbagai daerah dan negara untuk mengenang jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Menurut Ali, selain niat dan persiapan yang matang, kesabaran juga menjadi kunci utama selama menjalani pendakian menuju Jabal Nur.
Saksi Ketulusan dan Kesetiaan Siti Khadijah

Selain bergantian memanjatkan doa, berselawat, dan melaksanakan salat sunnah seperti yang dilakukan Ali, sebagian jemaah tampak menitikkan air mata. Mereka larut dalam rasa haru saat membayangkan perjuangan Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pertama dan memulai dakwah Islam.
Namun, Gua Hira tidak hanya menyimpan kisah tentang awal kenabian Muhammad SAW. Tempat ini juga menjadi saksi ketulusan dan kesetiaan seorang perempuan agung, Siti Khadijah.
Sebelum menerima wahyu, Rasulullah SAW diketahui kerap menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk merenungkan berbagai persoalan kehidupan. Aktivitas tersebut dilakukan berulang kali dalam waktu yang tidak singkat.
Di tengah proses itu, Khadijah selalu hadir mendampingi perjuangan suaminya. Berbagai riwayat menyebutkan ia harus bolak-balik mendaki Jabal Nur untuk mengantarkan makanan dan kebutuhan Rasulullah SAW.
Tidak hanya harus menghadapi medan yang berat, Khadijah juga harus menjaga keselamatan dirinya dan Rasulullah SAW dari ancaman kaum Quraisy yang memusuhi dakwah Islam.
Perjalanan yang kini ditempuh sekitar satu setengah jam terasa jauh lebih ringan dibandingkan kondisi pada masa itu. Karena itulah, banyak jemaah yang tiba di Gua Hira kemudian merenungkan besarnya pengorbanan Khadijah dalam mendampingi Rasulullah SAW.
Kesetiaan itulah yang membuat nama Khadijah selalu dikenang dalam sejarah Islam. Siti Khadijah bukan hanya istri pertama Rasulullah SAW, tetapi juga sahabat, penyemangat, sekaligus pendukung utama perjuangan dakwah beliau pada masa-masa paling sulit.
Di balik bebatuan Jabal Nur dan sempitnya Gua Hira, tersimpan pelajaran tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan iman. Tempat ini menjadi pengingat bahwa perjalanan besar Rasulullah SAW tidak pernah dilewati seorang diri. Ada sosok Khadijah yang setia mendampingi setiap langkah perjuangan, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh begitu terjal dan penuh risiko.
Karena itu, bagi banyak jemaah yang berhasil mencapai Gua Hira, perjalanan tersebut bukan sekadar wisata religi, melainkan kesempatan untuk menapak tilas lahirnya risalah Islam sekaligus mengenang keteladanan Khadijah.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




























