Menuju konten utama

Yang Bekerja untuk Kebersihan dan Kerapian

Arief dan Ojak tak pernah bercita-cita menjadi petugas cleaning service. Didesak kebutuhan ekonomi, keduanya menjalani profesi itu dengan ragam cerita.

Yang Bekerja untuk Kebersihan dan Kerapian
Abdul Rozak (41), seorang cleaning service yang bekerja di Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan (TGP), Politeknik Negeri Jakarta. tirto.id/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menjelang sahur, ruang bersalin yang semula tenang itu mendadak sibuk. Sebuah wadah penampung darah bocor. Cairan merah mengalir ke lantai, membentuk genangan yang harus segera dibersihkan. Arief, 26 tahun, terpaku beberapa detik. Perutnya mendadak mual. Nafsu makannya hilang.

Peristiwa itu terjadi pada hari-hari awal ia bekerja sebagai petugas cleaning service di Rumah Sakit Graha Permata Ibu, Depok. Malam itu bertepatan dengan bulan Ramadan 2024. Shift malam yang semula diperkirakan berjalan biasa mendadak menjadi pengalaman yang tak pernah ia lupakan.

"Pertama kali lihat darah, saya sampai enggak nafsu makan," kata Arief, dalam wawancara dengan Tirto Sabtu, (25/07/26).

Tak banyak orang membayangkan bahwa petugas kebersihan rumah sakit juga berhadapan dengan pemandangan seperti itu. Yang terlintas di kepala, mungkin hanyalah seseorang yang menyapu lorong, mengepel lantai, atau mengangkut sampah. Toh, tugas itu tak bisa ia tolak, sebagaimana ia tak bisa leluasa memilih profesi selain menjadi petugas kebersihan akibat kondisi ekonomi.

Arief mengaku membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk membiasakan diri. Yang berubah bukan hanya ketahanan mentalnya. Cara pandangnya terhadap pekerjaan juga ikut berubah.

Jika dulu darah membuatnya kehilangan selera makan, kini yang lebih ia pikirkan justru apakah seluruh prosedur sterilisasi sudah dijalankan dengan benar. Baginya, kebersihan di rumah sakit bukan lagi soal lantai yang mengilap, melainkan bagian dari keselamatan pasien.

Kesalahan kecil dapat berujung pada risiko yang jauh lebih besar. Dalam dua tahun terakhir, ruang Instalasi Gawat Darurat menjadi salah satu tempat yang paling sering ia datangi. Dari balik pintu, ia berkali-kali menyaksikan bagaimana tenaga medis berusaha menarik pasien kembali dari ambang kematian.

Salah satunya ketika tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dilakukan untuk mengembalikan fungsi nafas dan sirkulasi darah pasien yang mengalami henti jantung. Ruang yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi suara langkah kaki bisa mendadak sunyi. "Kalau lagi RJP, semua langsung diam," ujar Arief.

Menurut Arief, kabar pasien meninggal bisa datang beberapa kali dalam sehari. Tidak ada yang benar-benar terbiasa dengan kehilangan, tetapi pekerjaan menuntut semuanya tetap berjalan.

Lingkungan kerja seperti itu bukan bagian dari rencana karier Arief. Sebelum menjadi petugas kebersihan di Rumah Sakit Graha Permata Ibu, ia bekerja di bidang digital marketing, mengurus konten dan promosi. Setelah pekerjaan itu berakhir, Arief menerima tawaran bekerja di rumah sakit.

Keputusan itu tak lepas dari tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sebagai anak sulung yang belum menikah, Arief tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua adiknya yang masih bersekolah. Dari penghasilannya sekitar Rp4,1 juta per bulan, sebagian digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

"Saya masih tinggal sama ibu bapak. Kebetulan saya anak pertama, jadi rumah sebagian dari saya juga," ujarnya.

Kini, Arief bekerja delapan jam sehari dengan sistem tiga shift. Ada kalanya ia masuk pagi ketika sebagian besar orang baru memulai aktivitas. Ada pula saat harus bekerja semalaman hingga matahari terbit.

Cleaning service

Abdul Rozak (41), seorang cleaning service yang bekerja di Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan (TGP), Politeknik Negeri Jakarta. tirto.id/Putri Az zahra

Lain Arief, lain pula Abdul Rozak alias Ojak. Jika Arief bekerja dengan sistem shift di rumah sakit, rutinitas Ojak selalu dimulai pada pagi hari. Sebelum mahasiswa memenuhi Gedung TGP Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), ia sudah lebih dulu menyapu koridor, mengepel lantai, membersihkan toilet, dan menyiapkan ruang kelas. Ketika perkuliahan dimulai, hasil kerjanya langsung digunakan ribuan mahasiswa.

Ojak bercerita bahwa dirinya telah hampir sepuluh tahun menjadi cleaning service di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Lima tahun pertama ia bekerja di Gedung Teknik Elektro sebelum akhirnya dipindahkan ke Gedung TGP oleh manajemen perusahaan tempatnya bekerja.

Melakoni profesi itu membuat Ojak harus memulai hari lebih awal daripada kebanyakan orang. Setiap hari, ia berangkat dari rumahnya di Citayam sekitar pukul enam pagi. Jika lalu lintas lancar, perjalanan menuju kampus memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Meski jam kerjanya dimulai pukul 07.00 WIB, ia memilih tiba lebih awal untuk menghindari teguran atasan.

"Tantangannya paling ketika harus membubarkan mahasiswa yang masih di kelas setelah jam kuliah selesai," ujar Abdul Rozak, dalam wawancara di ruang cleaning service TGP, Jumat (24/07/26).

Menurut Ojak, tidak sedikit mahasiswa yang meminta tambahan waktu setengah jam untuk menyelesaikan tugas. Kenyataannya, mereka sering bertahan jauh lebih lama. Selama ruangan masih digunakan, Ojak belum bisa membersihkannya. Akibatnya, gedung juga belum dapat dikunci.

Namun waktu tambahan itu dihitung sebagai lembur. "Sering overtime. Tapi enggak ada gaji tambahan," katanya soal problem tersebut.

Seperti Arief, keluarga menjadi alasan Ojak bertahan menjalani pekerjaan ini. Ia merupakan ayah dari lima anak. Sulungnya telah berusia 13 tahun, sementara empat lainnya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Besaran penghasilan mereka pun nyaris sama, sekitar Rp4 juta per bulan. Jumlah itu memang naik dibanding saat pertama kali bekerja sebagai cleaning service, yang ketika itu sekitar Rp1,2 juta per bulan. Namun, menurut Ojak, kenaikan tersebut belum mampu mengejar kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Ojak mengaku bersama rekan-rekannya sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi kenaikan gaji kepada perusahaan dan hingga kini masih menunggu prosesnya.

Apakah penghasilannya saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Ojak melempar keluhan soal bahan pokok yang serba mahal dan membuatnya tak bisa menyisihkan uang.

"Buat makan masih bisa, tapi biaya sekolah anak cukup sulit dan juga nggak bisa menabung karena gajinya masih di bawah UMR Jakarta," tandasnya.

Baca juga artikel terkait RUMAH SAKIT atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Hendra Friana