Menuju konten utama

Diserang Petisi Karhutla, Gubernur Sumsel Gratiskan Obat ISPA

Warga Sumsel luncurkan petisi karhutla imbas lambannya penanganan asap. Gubernur Herman Deru langsung siagakan Puskesmas & gratiskan obat ISPA.

Diserang Petisi Karhutla, Gubernur Sumsel Gratiskan Obat ISPA
Warga bersepeda menembus kabut asap di kawasan Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada 5 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Selatan bergerak ke arah barat laut–utara, sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara bergerak ke arah utara–timur laut. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gelombang mosi tidak percaya warga terhadap Pemerintah Provinisi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel) atas penanganan kebakaram hutan dan lahan (karhutla) diluapkan lewat petisi. Menanggapi protes masyarakat, Gubernur Herman Deru menginstruksikan seluruh Puskesmas siaga 24 jam dan menjamin seluruh pengobatan pasien ISPA gratis.

Petisi itu dibuat pada Jumat (2/10/2026). Hingga pukul 17.20 WIB, Petisi telah dibagikan 932 kali dan telah ditandatangani oleh 794 orang.

Pembuat petisi, Anisa Irawan, menyebut petisi sebagai respons masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lamban dalam penanganan karhutla. Masyarakat merasa prihatin dengan karhutla yang terjadi terus-menerus selama musim kemarau tahun ini hingga menimbulkan asap dan berujung pada terganggunya kesehatan.

"Sayangnya, respons pemerintah setempat seringkali minim koordinasi dan kurang transparan. Masyarakat hampir tidak mendapatkan informasi yang cukup terkait tindakan pencegahan dan penanggulangan karhutla. Lebih jauh lagi, sedikit saja yang tahu tentang langkah-langkah pemerintah untuk menginvestigasi dan menindak tegas para pelaku pembakaran hutan secara ilegal," tulis pembuat petisi, Anisa Irawan, Jumat (2/10/2026).

Lonjakan Kasus ISPA dan Desakan Transparansi Publik

Anisa menyebut Sumsel menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kebakaran hutan tertinggi di Indonesia. Pada 2022, lebih dari 5.000 hektare lahan dilalap api, menyebabkan peningkatan dramatis dalam kasus penyakit pernapasan akut (ISPA).

"Ini bukan sekadar angka, ini adalah ancaman nyata bagi kehidupan kita sehari-hari dan untuk generasi mendatang," kata dia.

Karena itu, warga mendesak pemerintah mengambil langkah konkrit dengan melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan penanganan karhutla. Transparansi dalam penegakan hukum juga harus ditingkatkan dengan membuka akses informasi kepada publik.

Selain itu, pemerintah harus memperkuat pertanggungjawaban dengan memberikan laporan rutin kepada masyarakat tentang progres dan rencana tindak lanjut yang dilakukan. Pemerintah didesak bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait dan masyarakat sipil untuk mengembangkan strategi pencegahan sejak dini dan memperkenalkan teknologi ramah lingkungan yang dapat membantu deteksi dini kebakaran.

"Ini adalah panggilan dari kami, masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan, untuk masa depan yang lebih sehat dan aman. Dengan menandatangani petisi ini, Anda mendukung perjuangan kami untuk udara bersih dan lingkungan yang sehat. Marilah kita bergerak bersama untuk perubahan yang lebih baik," kata Anisa.

Respons Herman Deru dan Instruksi Puskesmas Siaga 24 Jam

Gubernur Sumsel Herman Deru

Gubernur Sumsel Herman Deru memantau kondisi karhutla di wilayahnya. FOTO/Humas Pemprov Sumsel

Gubernur Sumsel Herman Deru mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di wilayah Sumsel akibat yang ditimbulkan dari karhutla. Dia mengaku turut mengalami apa yang dialami masyarakatnya selama ini.

"Ya ampun. Jangan sampai ada prasangka kalau kita ini enggak prihatin. Saya sebagai kepala daerah, begitu juga dengan bupati, wali kota, ini kan punya masyarakat yang dipimpin secara personal. Kita juga punya keluarga, punya anak, punya cucu," kata Deru.

Deru mengatakan, kabut asap di Palembang disebabkan banyak faktor, terutama kondisi tofografi yang rendah dan pengaruh arah angin dari titik karhutla menuju Palembang.

"Palembang menjadi tempat berkumpulnya asap karena topografi yang rendah," kata dia.

Deru memastikan masyarakat yang mengalami ISPA akibat asap akan ditangani dengan baik. Dia menjamin pengobatan pasien ISPA tidak dikanakan biaya alias gratis.

Deru juga menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas, untuk siaga 24 jam. Tim medis harus bergerak cepat melayani pasien dengan keluhan pernapasan.

"Untuk ISPA, utama yang diakibatkan oleh asap ini, saya instruksikan untuk sama sekali tidak dipungut biaya, kita gratiskan," tegas Deru.

Baca juga artikel terkait DAMPAK KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah