Menuju konten utama

RSHS Bandung: 40 Dokter Tangani Korban Penyekapan Taufik Hidayat

RSHS Bandung kerahkan 40 tenaga medis tangani korban penyekapan. Rekonstruksi wajah diperkirakan berlangsung tiga bulan usai infeksi berat.

RSHS Bandung: 40 Dokter Tangani Korban Penyekapan Taufik Hidayat
Direktur Utama (Dirut) RSHS Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi dalam konperensi pers di Mapolda Jabar, Bandung, Jumat (26/6/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengerahkan 40 tenaga medis untuk menangani YTR (29), korban penyekapan dan penganiayaan berat. Sejak dirawat pada 10 Juni 2026, tim medis telah melakukan serangkaian tindakan untuk membersihkan infeksi pada tubuh korban.

Direktur Utama RSHS Bandung dr. Rachim Dinata Marsidi mengatakan luka paling parah yang dialami korban berada di bagian kepala. Saat pertama kali tiba di rumah sakit, kondisi luka sudah mengalami infeksi berat sehingga harus segera ditangani melalui operasi pembersihan.

"Boleh dikatakan bahwa ini [luka kepala] sangat-sangat infeksi hebat, boleh dikatakan, belatung mungkin sudah ada. Kami segera melakukan operasi pembersihan luka ini," ujar Rachim dalam konperensi pers di Mapolda Jabar, Bandung, Jumat (26/6/2026).

Selain kepala, korban juga mengalami kerusakan serius pada bagian wajah. Menurut Rachim, RSHS akan melakukan rekonstruksi wajah secara bertahap untuk memulihkan fungsi dan bentuk wajah korban.

"Ini direncanakan bertahap, namanya rekonstruksi. Ini adalah mengembalikan rekonstruksi itu supaya bisa lagi mendekati [bentuk semula]," tutur Rachim.

Ia memperkirakan proses rekonstruksi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Tindakan tersebut akan meliputi perbaikan pada bagian mulut, hidung, dan pipi.

Untuk mendukung penanganan korban, RSHS membentuk tim multidisiplin yang terdiri atas 40 tenaga kesehatan dari berbagai bidang, termasuk penyakit dalam, bedah mulut, bedah plastik, psikiatri, psikologi, dan gizi.

"Hasan Sadikin sudah membentuk 40 orang tim untuk menangani Ibu ini. Dari mulai penyakit dalam, bedah mulut, bedah plastik, penyakit dalam, kemudian psikiater, psikolog, ahli gizi kami," imbuhnya.

RSHS juga memperketat aturan kunjungan demi mencegah risiko infeksi yang dapat menghambat proses pemulihan dan operasi rekonstruksi.

"Memperketat tidak boleh ditengok. Karena yang datang nanti akan membawa kuman, sehingga kami tidak bisa melakukan rekonstruksi nanti oleh teman sejawat kami, bedah plastik. Karena kalau ada infeksi, pasti tidak akan bisa sembuh," tegas Rachim.

Baca juga artikel terkait PENGANIAYAAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Hendra Friana