tirto.id - Di tengah perbincangan mengenai tren penurunan jumlah santri di berbagai daerah, tidak semua pondok pesantren mengalami kondisi yang sama. Penelusuran Tirto menemukan sejumlah pesantren justru mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan minat masyarakat. Ada pula yang sengaja membatasi jumlah santri demi menjaga kualitas pembelajaran.
Benang merahnya serupa. Di tengah perubahan preferensi orang tua, perkembangan teknologi, serta meningkatnya tuntutan terhadap kualitas dan keamanan pendidikan, pesantren-pesantren ini memilih beradaptasi tanpa meninggalkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam.
Adaptasi itu diwujudkan melalui beragam cara, mulai dari mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, membuka jalur pendidikan vokasi, memperkuat kompetensi nonkeagamaan, hingga membangun sistem perlindungan santri yang lebih ketat.
Bagi banyak pengasuh pesantren, perubahan tersebut bukan sekadar mengikuti tren. Mereka melihat orang tua kini menginginkan lembaga yang tidak hanya mampu membentuk karakter dan pemahaman agama, tetapi juga membekali anak dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia modern.
Menjaga Tradisi, Menyambut Modernitas
Salah satu upaya itu terlihat di Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta. Pesantren ini mengembangkan pendidikan berbasis teknologi dan digital, namun tetap mempertahankan tradisi pengkajian kitab turats melalui metode sorogan. Dalam berbagai materi publikasinya, Daarul Rahman memperkenalkan diri sebagai pesantren yang ramah teknologi.
Teknologi diposisikan bukan sekadar sebagai alat, melainkan sarana membangun karakter. Seorang santri yang memegang kamera, misalnya, diajarkan bahwa yang direkam bukan sekadar gambar, melainkan amanah. Begitu pula setiap unggahan di media sosial dipandang bukan hanya sebagai informasi, tetapi juga membawa nilai.
Guru Pondok Pesantren Daarul Rahman, Muhammad Hilman, mengatakan pesantrennya berupaya mengambil jalan tengah: mempertahankan tradisi keilmuan klasik sekaligus membekali santri dengan kompetensi yang kini banyak dicari orang tua.
"Orang tua kini menginginkan lembaga yang tidak hanya kuat dalam pembinaan agama, tetapi juga mampu membekali anak dengan kompetensi bahasa, kepemimpinan, teknologi, dan kesiapan menghadapi dunia global," kata Hilman kepada Tirto, Rabu(5/8/2026).
Prinsip itu diterjemahkan ke dalam kurikulum yang memadukan penguasaan bahasa Arab dan Inggris dengan pendalaman kitab kuning. Menurut Hilman, model tersebut merupakan warisan tradisi keilmuan pendiri Daarul Rahman, KH Syukron Ma'mun, yang menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pesantren Salafiyah Sidogiri.
Kombinasi dua tradisi tersebut, kata dia, tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, manajemen, serta tanggung jawab melalui pengalaman sehari-hari di lingkungan pesantren.
"Kombinasi dari Pesantren Modern Gontor dan Pesantren Salafiyah Sidogiri itu membentuk santri yang belajar kepemimpinan, manajemen, komunikasi, dan tanggung jawab melalui pengalaman langsung," ujarnya.

Bagi Daarul Rahman, kemajuan teknologi tidak dipandang sebagai ancaman bagi tradisi pesantren. Tantangannya justru terletak pada bagaimana nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi ketika teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para santri.
Pandangan itu tercermin dalam berbagai kegiatan pesantren. Pada Juli 2026, misalnya, Daarul Rahman menggelar Student Esports League (SEL) 2026. Kompetisi gim Mobile Legends tersebut tidak hanya menjadi ajang adu strategi, tetapi juga sarana melatih kemampuan berbahasa. Selama pertandingan berlangsung, para pemain hingga komentator diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam setiap percakapan.
"Pesantren tidak boleh diposisikan sebagai lembaga yang berhadapan dengan modernitas. Teknologi bukan musuh agama," tegas Hilman.
Dari Kitab Kuning hingga Robotik
Meski demikian, teknologi bukan satu-satunya bentuk adaptasi yang dilakukan pesantren. Di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, modernisasi diterjemahkan lebih luas sebagai upaya menyiapkan santri menghadapi kehidupan setelah lulus tanpa mengurangi porsi pendidikan agama.
Salah satu santri yang merasakan perubahan itu adalah Diego Naufal Ben Abdillah. Santri kelas XII tersebut mengaku minatnya di bidang robotik berkembang selama belajar di Al-Hamidiyah. Di sela-sela kegiatan mengaji dan mengikuti pelajaran sekolah, ia mendapat kesempatan mendalami teknologi hingga dipercaya mengikuti kompetisi robotik di Malaysia.
"Saya belajar di Al-Hamidiyah alhamdulillah robotik dapat. Insyaallah tanggal 10 Agustus akan lomba di Malaysia," kata Diego kepada Tirto, Jumat (31/7/2026).

Menurut Diego, kehidupan di pesantren juga membentuk kemampuan lain yang tak kalah penting, terutama kepemimpinan dan kepercayaan diri. Setiap pekan, para santri mendapat giliran mengikuti muhadharah atau latihan pidato di hadapan teman-temannya. Dari kegiatan itu mereka belajar menyusun argumentasi, berbicara di depan publik, sekaligus menerima kritik dan evaluasi.
"Jadi setiap malam kita diasah kemampuan buat muhadharah ini. Entah ceramah atau pidato, intinya belajar berbicara di depan umum," ujarnya.
Bagi Diego, pengalaman tersebut menjadi jawaban atas anggapan bahwa pesantren identik dengan pendidikan yang tertutup terhadap perkembangan zaman. Putra seorang diplomat yang pernah tinggal di Australia dan Abu Dhabi itu justru menilai kehidupan berasrama memberinya bekal yang sulit diperoleh di sekolah umum.
"Kebaikan pesantren itu underrated, tapi kesalahannya dibuat overrated. Di sini kita belajar hidup dalam komunitas. Tutup mata buka mata tetap ketemu teman. Itu mengasah mental untuk hidup sendiri nanti di dunia luar," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Pengasuh Bidang Pengasuhan dan Pembinaan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, KH Abdul Rasyid Marhaly. Menurutnya, pesantren tidak lagi cukup hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga harus memberi ruang bagi santri untuk mengembangkan minat dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Al-Hamidiyah membuka berbagai kegiatan pengembangan diri, mulai dari robotik hingga forum-forum diskusi yang mendorong santri menyampaikan pendapat secara terbuka. Namun, kebebasan tersebut tetap dibangun di atas tradisi keilmuan pesantren.
"Santri itu bebas mengeluarkan pendapatnya, tapi setiap pendapat harus memiliki rujukan yang kuat. Al-adabu fauqal 'ilmi, ‘adab itu di atas ilmu’," kata Rasyid.

Menurut Rasyid, kemampuan beradaptasi menjadi syarat penting agar pesantren tetap relevan. Karena itu, selain mengembangkan kompetensi santri, Al-Hamidiyah juga memperkuat tata kelola lembaga, termasuk melalui sertifikasi mutu internasional ISO. Sejumlah alumninya bahkan telah bekerja di berbagai perusahaan teknolog raksasai di luar negeri.
"Kalau kita masih mengandalkan pola-pola lama, ya hilang, kita tergerus," ujarnya.
Temuan Tirto di Daarul Rahman dan Al-Hamidiyah menunjukkan pola yang serupa. Keduanya tidak memosisikan teknologi sebagai pengganti pendidikan agama, melainkan sebagai pelengkap. Penguasaan bahasa asing, literasi digital, robotik, hingga kepemimpinan diperkenalkan sebagai bekal bagi santri menghadapi dunia modern, sementara tradisi pengajian kitab, pembinaan adab, dan kehidupan berasrama tetap dipertahankan sebagai fondasi pendidikan pesantren.
Membuka Jalur Vokasi Tanpa Melepas Marwah Pesantren
Meski demikian, tidak semua pesantren memilih jalur teknologi digital untuk menjawab perubahan zaman. Sebagian lainnya mencoba memperluas daya tarik melalui pendidikan vokasi, dengan harapan lulusan pesantren tidak hanya memiliki bekal keagamaan, tetapi juga keterampilan yang dapat digunakan di dunia kerja.
Salah satu yang menempuh jalur tersebut adalah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Pesantren yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Jawa Timur itu mengembangkan pendidikan kejuruan melalui SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng.
Berbeda dengan sekolah kejuruan pada umumnya, para siswa di SMK tersebut tetap diwajibkan menjadi santri. Selain mempelajari bidang keahlian seperti penyiaran (broadcasting) dan desain komunikasi visual (DKV), mereka juga mengikuti kajian keagamaan dan pendalaman kitab kuning yang menjadi bagian dari tradisi pesantren.
Mudir II Bidang Pendidikan Pesantren Tebuireng, Gus Muhammad Hasyim, mengatakan model tersebut dirancang agar pendidikan vokasi berjalan beriringan dengan pembentukan karakter keagamaan."SMK Khoiriyah Hasyim ini termasuk SMK yang wajib berada di pesantren. Mereka diberi materi-materi diniyah yang dilaksanakan pada sore hari," kata Gus Hasyim kepada Tirto, Rabu (29/7/2026).

Menurut Gus Hasyim, langkah tersebut merupakan upaya menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Pesantren tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang memahami agama, tetapi juga memiliki kompetensi praktis yang relevan dengan perkembangan industri.
Namun, transformasi tersebut tidak selalu berjalan mudah. Sejak didirikan pada 2009, SMK Plus Khoiriyah Hasyim belum sepenuhnya mendapat antusiasme masyarakat. Jumlah peserta didik masih belum memenuhi kapasitas yang tersedia setiap tahun ajaran.
Gus Hasyim menyebut salah satu tantangannya adalah masih adanya persepsi bahwa pendidikan pesantren dan sekolah kejuruan merupakan dua jalur yang berbeda dan sulit digabungkan.
"Kalau terkait dengan kuota, itu sebenarnya di SMK tidak penuh. Karena sampai saat ini masih ada stigma bahwa SMK dengan pesantren itu belum menemukan titik temu yang bagus," ujarnya.
Meski demikian, Tebuireng terus melakukan analisis demi mengembangkan pendidikan vokasi agar lebih maju dan diminati masyarakat. Dia menjelaskan bahwa dalam pemahaman masyarakat pendidikan pesantren dan SMK adalah dua entitas yang berbeda dan tidak bisa dipadukan menjadi satu, sehingga menjadi tantangan Tebuireng hingga saat ini.
Karena itu, Tebuireng terus melakukan evaluasi terhadap program vokasi yang dikembangkan. Jurusan yang sebelumnya berfokus pada multimedia kemudian diarahkan menjadi desain komunikasi visual dan broadcasting, menyesuaikan kebutuhan masyarakat.
"Awalnya berangkat dari multimedia, sekarang menjadi DKV sama broadcasting. Tapi ternyata memang minat untuk dua konsentrasi itu masih kurang. Sehingga kita hari ini masih melakukan analisis untuk kira-kira apa yang bisa dikembangkan," kata Gus Hasyim.

Tidak Mengejar Jumlah, Menjaga Mutu Pendidikan
Berbeda dengan sejumlah pesantren yang berupaya memperluas daya tarik melalui inovasi program, Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an dan Bahasa Arab Bina Madani di Bogor memiliki cerita yang berbeda. Pengelola pesantren ini mengaku sama sekali tidak merasakan fenomena penurunan santri, justru karena sejak awal memilih jalur yang sangat spesifik yaitu tahfidz Al-Qur’an.
Pimpinan dan pendiri Bina Madani, KH Masrur Syamhari, mengatakan pesantrennya tidak pernah menjadikan jumlah santri sebagai target utama. Kapasitas penerimaan ditentukan berdasarkan kemampuan sumber daya manusia, terutama jumlah pengajar yang mendampingi proses hafalan Al-Qur’an.
Setiap tahun, kata Masrur, jumlah pendaftar yang datang mencapai lebih dari 200 orang. Namun, pesantren hanya menerima sekitar 40 santri putra karena mempertimbangkan rasio pembimbing dan peserta didik dalam halaqah tahfidz.
"Kita menerima santri sesuai SDM. Kalau gurunya terbatas, jumlah santri tidak boleh lebih, atau kualitas akan menurun. Jadi kalau ditanya apakah jumlah santri turun? Secara statistik mungkin iya, tapi itu karena seleksi kami yang tidak menyentuh plafon. Kami tidak bisa memaksakan itu," kata Masrur kepada Tirto, Minggu (2/8/2026).

Menurut Masrur, pembatasan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan. Dalam pembelajaran tahfidz, jumlah santri dalam satu kelompok belajar menjadi faktor penting karena setiap peserta membutuhkan pendampingan intensif dari pengajar.
Berdasarkan pantauan Tirto pada dashboard EMIS Kementerian Agama, jumlah ustaz yang tercatat memang jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah santri. Pada tahun ajaran 2026/2027 semester ganjil, misalnya, EMIS mencatat 92.723 ustaz berbanding 2.552.162 santri. Namun, sebagaimana dijelaskan Kementerian Agama, data tersebut masih bersifat sementara karena proses pembaruan dan sinkronisasi pelaporan dari pesantren belum sepenuhnya selesai.
Model yang diterapkan Bina Madani menunjukkan bahwa sebagian pesantren tidak melihat persaingan pendidikan hanya dari sisi jumlah peserta didik. Bagi lembaga yang memiliki fokus khusus, mempertahankan mutu justru menjadi strategi agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
"Kalau lebih itu akan terjadi kekacauan. Kualitasnya akan menurun karena setiap halaqah nanti lebih dari delapan orang, itu mengganggu kualitas," ujarnya.

Membangun Kembali Kepercayaan terhadap Pesantren
Di tengah upaya pesantren menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kepercayaan masyarakat. Bagi lembaga pendidikan berbasis asrama, rasa aman menjadi salah satu pertimbangan utama orang tua ketika memilih tempat belajar bagi anaknya.
Bagi beberapa pengasuh pesantren, perubahan tersebut bukan berarti meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi identitas lembaga pendidikan Islam. Justru kemampuan beradaptasi dipandang sebagai bagian dari cara pesantren mempertahankan relevansinya.
Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, KH Luqman Harits Dimyati, mengutip kaidah klasik pesantren al-muhafadzatu 'ala al-qadimi ash-sholih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah—menjaga tradisi lama yang baik sembari mengambil hal baru yang lebih baik.
Menurut Luqman, pesantren harus mampu membaca perubahan generasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasinya. Santri hari ini, kata dia, tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, sehingga pendekatan pendidikan juga perlu menyesuaikan."Santri sekarang ini juga santri zaman generasi Gen Z, generasi Alfa, generasi Beta, dan lain-lain. Sehingga pengaruh terhadap ini semua juga sangat berpengaruh," kata Luqman kepada Tirto, Jumat (31/7/2026).
Selain menyesuaikan metode pembelajaran, Luqman yang turut menggagas gerakan “Ayo Mondok”, menilai pembenahan pesantren juga harus menyentuh aspek lingkungan belajar, mulai dari fasilitas hingga sistem pengasuhan. Menurutnya, masyarakat kini semakin memperhatikan kualitas hunian dan kesehatan lingkungan ketika memilih pendidikan berbasis asrama.
Menurutnya, selama bertahun-tahun sejumlah pesantren menghadapi persoalan klasik berupa kepadatan hunian. Kamar yang seharusnya ditempati beberapa santri terkadang harus menampung lebih banyak penghuni, sehingga berdampak pada kenyamanan, sanitasi, dan kualitas pembinaan.
"Justru menurunnya santri ini untuk menuju keidealan pesantren itu sendiri. Taruhlah kamar idealnya ditempati lima santri, tapi selama ini diisi 15. Ini saatnya berbenah menuju keidealan fasilitas, toilet yang bersih, dan lingkungan yang sehat," ujar Luqman kepada Tirto, Rabu (29/7/2026).
Selain pembenahan fasilitas, sejumlah pesantren mulai memperketat aturan perlindungan terhadap santri. Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, misalnya, menerapkan aturan interaksi yang lebih ketat antara pengajar dan santri sebagai langkah pencegahan terhadap penyalahgunaan relasi kuasa.
Wakil Pengasuh Bidang Pengasuhan dan Pembinaan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, KH Abdul Rasyid Marhaly, mengatakan setiap bentuk interaksi antara pengajar dan santri, terutama santri putri, harus memiliki batas yang jelas.
"Kalau bersalaman cukup dari jauh tanpa harus mencium tangan. Siapa pun dia, kiai, kepala pengasuh, atau guru, ketika berhadapan dengan santri putri harus ada aturan-aturannya. Itu untuk menghindari hal-hal yang negatif," kata Rasyid.
Menurut Rasyid, pesantren juga menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap pelaku kekerasan. Guru maupun santri yang terbukti melakukan pelanggaran berat akan dikenai sanksi tegas, termasuk dikeluarkan dari lingkungan pesantren.
"Kalau ada guru yang melakukan hal seperti itu, langsung kami rekomendasikan untuk dikeluarkan. Itu pelanggaran yang fatal," tegasnya.
Langkah serupa juga dilakukan Bina Madani. KH Masrur Syamhari mengatakan pesantrennya menerapkan sejumlah kebijakan preventif untuk menjaga relasi yang sehat antara pengajar dan santri. Salah satunya dengan menetapkan bahwa pengajar yang membimbing santri putri telah berstatus menikah."Yang bisa mengajar di putri adalah guru yang sudah menikah. Jadi tidak ada guru yang belum menikah mengajar di tempat mereka," ujar Masrur.
Pesantren Masih Diminati, tetapi Ekspektasi Masyarakat Berubah
Isu penurunan jumlah santri dalam beberapa tahun terakhir memang memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan pesantren. Namun, sejumlah temuan menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana berkurangnya minat masyarakat terhadap pendidikan berbasis pesantren.
Riset Alvara Research Center bertajuk "Generasi Muda dan Pesantren" pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap pesantren masih cukup kuat. Dari 790 responden, sebanyak 60,9 persen Generasi Z menyatakan berminat menyekolahkan anaknya di pesantren pada masa depan. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan generasi milenial sebesar 59,8 persen dan Generasi X sebesar 58,6 persen.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak menginginkan pesantren meninggalkan identitas keagamaannya. Sebanyak 79 persen responden menginginkan kombinasi pelajaran agama yang lebih besar dibandingkan pelajaran umum.
Namun, ketika berbicara mengenai ilmu umum yang diharapkan hadir di pesantren, kebutuhan masyarakat mulai bergeser. Ilmu komputer, teknologi informasi, dan digitalisasi menjadi bidang yang paling banyak diharapkan responden dengan angka 60,5 persen. Setelah itu disusul ilmu ekonomi dan manajemen sebesar 56,7 persen, ilmu pengetahuan alam 53 persen, ilmu kesehatan 48,9 persen, dan matematika 46,3 persen.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak sedang meminta pesantren berubah menjadi sekolah umum. Sebaliknya, mereka menginginkan lembaga pendidikan Islam yang tetap kuat dalam pembentukan karakter dan agama, tetapi mampu memberikan bekal menghadapi dunia modern.

Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), A.M. Wibowo, mengatakan pesantren perlu menyelaraskan kurikulum keagamaan klasik dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Menurutnya, apabila pesantren tidak melakukan penyesuaian, masyarakat memiliki pilihan lain berupa sekolah Islam terpadu (full day school) yang menawarkan pendidikan karakter Islam tanpa mengharuskan anak tinggal di asrama.
"Sebab jika pesantren tidak berbenah dalam menyelaraskan kurikulumnya, masyarakat akan terus beralih ke alternatif lembaga pendidikan baru, seperti Sekolah Islam Terpadu (Full Day School) yang menawarkan pembentukan karakter Islam tanpa harus mewajibkan anak tinggal di asrama," kata Wibowo kepada Tirto.

Ia juga menyoroti tantangan pesantren dalam menghadapi generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital. Menurutnya, pembatasan teknologi tanpa diikuti literasi digital justru dapat membuat pesantren dipersepsikan kurang adaptif.
"Ditambah generasi Z dan Alpha yang tumbuh dalam ekosistem digital yang interaktif dan serba cepat. Aturan pesantren yang sangat ketat seperti pembatasan total akses teknologi tanpa substitusi literasi digital yang adekuat, kadang dipersepsikan kurang adaptif bagi pola belajar generasi muda saat ini," ujarnya.
Pada akhirnya, persoalan pesantren bukan semata-mata tentang bertambah atau berkurangnya jumlah santri. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam ini menjawab perubahan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan karakter yang menjadi kekuatannya.Pesantren yang mampu menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi teknologi, keterampilan, keamanan, dan tata kelola yang lebih baik menunjukkan bahwa lembaga pendidikan ini masih memiliki tempat dalam pilihan keluarga Indonesia. Seperti kaidah yang selama ini hidup dalam tradisi pesantren: menjaga nilai lama yang baik, sembari mengambil hal baru yang lebih baik.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id




































