tirto.id - Joanna Wietrzyk harus menempuh total delapan kilometer lari yang diselingi delapan stasiun latihan dalam kejuaraan Hyrox di Beijing, Cina. Di tengah perlombaan itu, ia buang air besar tanpa disengaja.
Insiden itu terekam kamera. Namun Wietrzyk tidak berhenti. Ia tetap berlalu, mendayung, mendorong beban, melewati setiap stasiun, lalu berlari hingga garis finis. Wietrzyk akhirnya memenangi lomba divisi Pro Wanita dengan catatan waktu 1 jam 1 menit.
Setelah perlombaan, Wietrzyk mengunggah foto dirinya di ranjang rumah sakit dengan selang infus. Ia menuliskan pesan singkat tentang kemenangannya. Insiden tersebut kemudian ramai di media sosial.
Namun, dorongan untuk buang air besar ketika berolahraga bukan fenomena yang aneh. Keluhan saluran pencernaan justru cukup sering dialami atlet, terutama mereka yang melakukan olahraga ketahanan seperti lari.
Olahraga Mengubah Kerja Saluran Pencernaan
Saat tubuh berolahraga, darah tidak lagi dialirkan dengan pola yang sama seperti ketika kita beristirahat. Otot yang sedang bekerja membutuhkan lebih banyak oksigen dan zat gizi. Suhu tubuh juga meningkat sehingga tubuh harus membuang panas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sistem saraf simpatik mengatur ulang distribusi aliran darah.
Salah satu perubahan yang terjadi adalah penyempitan pembuluh darah menuju organ-organ pencernaan. Proses ini disebut vasokonstriksi splanknik. Pada saat yang sama, aliran darah ke otot yang bekerja meningkat, sementara pembuluh darah di kulit dapat melebar untuk membantu melepaskan panas. Semakin berat dan lama olahraga dilakukan, semakin besar pula perubahan aliran darah tersebut. Dalam kondisi tertentu, aliran darah splanknik bahkan dapat turun hingga 80 persen atau lebih.
Perubahan tersebut tidak serta-merta membuat seseorang ingin buang air besar. Jika penurunannya cukup berat, jaringan usus dapat mengalami kekurangan oksigen atau iskemia. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi normal usus, termasuk penyerapan dan pergerakan isi saluran pencernaan.
Pada olahraga yang sangat berat, terutama dalam kondisi panas, tekanan terhadap dinding usus dapat meningkat. Penelitian Sarah Chantler dkk. (2021) menemukan bahwa olahraga akut dapat meningkatkan permeabilitas usus dan kadar intestinal fatty acid-binding protein (I-FABP), salah satu penanda yang digunakan dalam penelitian untuk melihat kerusakan sel usus.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis tersebut mencakup 35 studi dan menemukan peningkatan penanda kerusakan serta permeabilitas usus setelah olahraga. Efek kerusakan usus juga lebih besar ketika olahraga dilakukan dalam kondisi panas.

Perubahan pada penghalang usus juga dapat membuat komponen yang berada di dalam saluran pencernaan lebih mudah melewati dinding usus. Salah satunya adalah lipopolisakarida, komponen dari membran luar bakteri Gram-negatif.
Namun, rangkaian perubahan tersebut bukan satu-satunya alasan seseorang bisa tiba-tiba ingin buang air besar. Erick Prado de Oliveira dan kolega (2014) membagi penyebab keluhan pencernaan selama olahraga menjadi tiga kelompok besar: fisiologis, mekanis, dan nutrisi. Berkurangnya aliran darah termasuk faktor fisiologis. Dua faktor lainnya tergantung jenis olahraga yang dimainkan.
Hal itu dibuktikan lewat penelitian Peters dan rekan-rekannya (1999) terhadap 606 atlet terlatih. Pada pelari, 71 persen melaporkan gejala saluran pencernaan bagian bawah selama berolahraga, lebih tinggi daripada gejala bagian atas yang mencapai 36 persen. Pada pesepeda, kedua kelompok gejala hampir seimbang, masing-masing 64 dan 67 persen.
Pada triatlet, pola serupa terlihat ketika mereka berlari, yakni gejala bagian bawah mencapai 79 persen, sedangkan gejala bagian atas 54 persen. Gejala yang dimasukkan ke dalam kelompok bawah antara lain kembung, kram, nyeri perut samping, dorongan untuk buang air besar, BAB, dan diare.
Kalau begitu, mengapa lari lebih sering berkaitan dengan keluhan di bagian bawah saluran pencernaan?
Gerakan, Saraf, dan Intensitas Ikut Berperan
Olahraga bukan hanya soal detak jantung dan pernapasan. Ketika seseorang berlari, tubuh juga menghadapi ribuan gerakan dan benturan yang berulang. Setiap langkah menghasilkan gaya yang diteruskan melalui kaki dan batang tubuh. Organ-organ di dalam rongga perut pun bergerak mengikuti tubuh. Akibatnya dapat meningkatkan tekanan mekanis pada saluran pencernaan.
Pada saat yang sama, olahraga juga mengubah aktivitas sistem saraf yang mengatur fungsi usus. Saluran pencernaan memiliki jaringan saraf sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Jaringan ini membantu mengatur gerakan, sekresi, dan fungsi lain di sepanjang saluran pencernaan.
Olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengubah motilitas (pergerakan usus) saluran pencernaan secara berbeda pada bagian yang berbeda. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh intensitas dan durasi latihan, kondisi tubuh, serta apa yang dikonsumsi sebelum dan selama olahraga. Karena itu, rasa ingin buang air besar, diare, kram, mual, dan keluhan lainnya tidak selalu memiliki satu penyebab yang sama.
Ada satu bagian dari anatomi yang membantu menjelaskan bagaimana rasa ingin buang air besar muncul. Ketika isi saluran pencernaan mencapai rektum (bagian usus besar untuk menampung feses), dindingnya meregang. Peregangan ini memicu rangkaian refleks yang melibatkan saraf di sekitar rektum dan anus. Salah satunya adalah rectoanal inhibitory reflex atau RAIR, yaitu relaksasi sementara sfingter anal internal (otot dalam anus) setelah rektum mengalami distensi.
Relaksasi tersebut membantu tubuh mengenali isi rektum, apakah berupa gas, cairan, atau feses. Informasi itu kemudian diteruskan ke otak sebagai bagian dari sensasi ingin buang air besar.
Pada saat yang sama, sfingter anal eksternal yang berada di bawah kendali sadar dapat tetap berkontraksi untuk menahan pengeluaran feses. Dalam kondisi normal, mekanisme itu memungkinkan seseorang menunda buang air besar sampai menemukan toilet.
Tetapi ketika seseorang sedang berlari, berbagai tekanan terjadi bersamaan. Gerakan tubuh terus berulang, tekanan di dalam rongga perut berubah, sementara saluran pencernaan sedang mengalami perubahan aliran darah dan motilitas. Jika rektum semakin teregang, sensasi ingin buang air besar dapat menjadi semakin kuat.
Di sini dapat dibedakan rasa ingin buang air besar, proses buang air besar tanpa sengaja, dan diare. Ketiganya dapat muncul dalam olahraga, tetapi tidak berarti memiliki mekanisme yang sama.
Diare berkaitan dengan perubahan konsistensi dan pergerakan isi usus. Ketika olahraga berat mengganggu fungsi saluran pencernaan, penyerapan cairan dan nutrisi dapat ikut berubah. Karbohidrat dalam minuman olahraga, misalnya, tidak selalu diserap dengan sempurna.
Sementara itu, buang air besar tanpa disengaja berarti kemampuan mempertahankan isi rektum tidak lagi mencukupi.
Menurut penelitian Parnell dan kolega (2020) terhadap 388 pelari ketahanan, sebanyak 22 persen responden melaporkan dorongan untuk BAB, sementara 42 persen melaporkan kram perut sebagai salah satu keluhan gastrointestinal yang mereka alami saat berlari.
Apa yang Dimakan Juga Berpengaruh
Faktor fisiologis dan mekanis memang dialami semua atlet. Namun, respons tubuh tidak selalu sama. Salah satu pembeda penting ada pada apa yang masuk ke saluran pencernaan sebelum dan selama olahraga. Makanan dan minuman dapat menentukan seberapa berat pekerjaan yang harus dilakukan lambung dan usus ketika tubuh sedang berlari.
Parnell dan rekan-rekannya menemukan sebagian atlet menghindari makanan tertentu sebelum berlomba. Sebanyak 32 persen menghindari daging, 31 persen produk susu, 28 persen ikan atau makanan laut, 24 persen unggas, dan 23 persen makanan tinggi serat. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa makanan-makanan itu pasti menyebabkan keluhan pencernaan.
De Oliveira dan koleganya menyimpulkan jenis-jenis makanan yang memengaruhi kerja lambung seperti serat, produk susu, protein, dan makanan tinggi lemak.

Serat juga dapat menjadi persoalan bagi sebagian pelari. Sebagian jenis serat tidak dicerna sepenuhnya di usus halus dan kemudian difermentasi oleh mikroorganisme di usus besar. Proses tersebut dapat menghasilkan gas dan membuat perut terasa penuh atau kembung.
Produk susu memiliki persoalan lain, terutama pada orang yang memiliki toleransi laktosa rendah. Gula susu yang tidak terserap dengan baik dapat mencapai usus besar dan kemudian difermentasi oleh bakteri. Akibatnya, gas, kembung, nyeri perut, atau diare dapat muncul.
Makanan tinggi lemak cenderung memperlambat pengosongan lambung. Protein dan lemak dalam jumlah besar juga dapat membuat makanan bertahan lebih lama di saluran pencernaan. Jika makanan dalam jumlah besar dikonsumsi terlalu dekat dengan latihan, risiko mual, rasa penuh, dan ketidaknyamanan dapat meningkat.
Begitu juga minuman yang dikonsumsi selama olahraga. De Oliveira menyarankan para atlet untuk mengonsumsi karbohidrat bersama air yang cukup, atau pilih minuman dengan konsentrasi karbohidrat yang lebih rendah untuk mencegah konsentrasi dan osmolalitas yang terlalu tinggi di dalam lambung. Karena itu, komposisi minuman, jumlah yang diminum, serta kebutuhan cairan atlet perlu disesuaikan dengan intensitas dan durasi olahraga.
Faktor lainnya ialah obat pereda nyeri. Obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS, termasuk ibuprofen, dapat mengganggu perlindungan saluran pencernaan. Prostaglandin (senyawa peradangan) yang produksinya ditekan oleh obat ini memiliki berbagai fungsi, termasuk membantu mempertahankan aliran darah dan perlindungan mukosa (selaput lendir organ). Ketika olahraga sendiri sudah mengurangi aliran darah ke saluran pencernaan, penggunaan OAINS dapat menambah tekanan tersebut.
Efeknya telah terlihat dalam penelitian eksperimental. Dalam sebuah studi terhadap sembilan pria terlatih, konsumsi ibuprofen sebelum bersepeda meningkatkan penanda cedera usus dan permeabilitas usus dibandingkan olahraga tanpa ibuprofen.
Riset lain pada pelari juga menemukan bahwa penggunaan ibuprofen sebelum olahraga dapat meningkatkan permeabilitas saluran cerna, terutama pada bagian gastroduodenal, yakni lambung dan usus dua belas jari.
Panas dapat memperburuk kondisi tersebut. Ketika suhu lingkungan tinggi, tubuh harus meningkatkan pelepasan panas melalui kulit. Bersamaan dengan olahraga dan dehidrasi, kondisi ini dapat memperbesar tekanan pada sistem sirkulasi dan saluran pencernaan. Penelitian pada pelari menunjukkan bahwa olahraga intens dalam kondisi panas dapat meningkatkan sejumlah penanda gangguan integritas usus dan permeabilitas gastrointestinal.
Namun, saluran pencernaan dapat beradaptasi dengan latihan. Konsep ini dikenal sebagai gut training. Atlet terlatih dapat membiasakan tubuh menerima cairan dan karbohidrat selama latihan, bukan baru mencobanya ketika lomba. Dengan paparan yang bertahap dan teratur, toleransi gastrointestinal dapat meningkat dan kemampuan tubuh menangani asupan selama olahraga dapat menjadi lebih baik.
Asker Jeukendrup (2017) merangkum sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa latihan dengan asupan karbohidrat dapat membantu meningkatkan toleransi dan kemampuan saluran pencernaan dalam menangani nutrisi selama olahraga.
Ketika otot bekerja keras, saluran pencernaan ikut beradaptasi terhadap perubahan aliran darah, gerakan, makanan, cairan, dan panas. Pada sebagian orang, yang dirasakan hanya sedikit rasa mulas. Yang lainnya mungkin segera menghentikan olahraga, lalu bergegas mencari toilet.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































