tirto.id - Ajang HYROX Beijing di China pada 12 September 2026 lalu mendadak viral di ranah maya. Atlet elite asal Australia, Joanna Wietrzyk, mengalami diare parah di tengah perlombaan. Namun, ia tetap gigih melanjutkan pertandingan bahkan tampil sebagai juara kategori tunggal putri.
Kegigihan Wietrzyk bersikukuh menuntaskan lomba meskipun dalam kondisi diare parah —terlihat dengan ceceran tinja yang tampak di kakinya maupun di arena— menjadi perdebatan warganet di sosial media. Banyak yang memberikan apresiasi kegigihan sang atlet, tapi tidak sedikit juga yang melancarkan kritik bahkan menghujat.
Menanggapi kejadian tersebut, penyelenggara HYROX Beijing memberikan penjelasan bahwa peralatan yang terkontaminasi telah disingkirkan, jalur lomba yang terdampak ditutup untuk sanitasi, serta prosedur penggantian karpet dan pembersihan menyeluruh dijadwalkan untuk dilakukan sepanjang malam.
HYROX Official juga menegaskan bahwa pihaknya memiliki prosedur medis dan biokontaminan yang jelas. Kendati sejumlah protokol telah dirancang, komunitas ini tidak menutup mata adanya insiden tersebut yang menimbulkan ambiguitas dalam penerapan dan pemahamannya.
"Kami menyadari bahwa hal ini wajar jika memicu frustrasi, pertanyaan, dan pandangan yang tajam di dalam komunitas kami," tulis Komunitas HYROX dunia melalui unggahan resminya @HYROXworld, Senin (14/9).
"Kekhawatiran tersebut sah dan, sebagai penyelenggara, kami harus siap untuk mendengarkannya, memeriksa apa yang terjadi, dan bertanggung jawab untuk terus melakukan perbaikan. Dan kami akan melakukannya," lanjutnya.

Pihak panitia juga meminta agar tetap menghargai para atlet yang telah mempertaruhkan diri, bertanding, dan berkompetisi. HYROX dunia turut menyesalkan berbagai pihak yang melakukan ancaman kekerasan atau dorongan untuk menyakiti atlet.
"Siapa pun yang teridentifikasi melakukan perilaku ini —baik melalui komentar, pesan langsung, atau media sosial— akan diblokir secara permanen dari semua acara HYROX. Kami saat ini sedang meninjau dan mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab, dan tindakan tegas akan diambil," tegas ultimatum tersebut.
Gangguan pencernaan, termasuk diare parah, kerap kali dialami oleh atlet yang tengah melakukan olahraga dengan ketahanan ekstrem seperti yang dialami di kompetisi HYROX. Kasus Wietrzyk bukan yang pertama kali, ada sederet kejadian serupa juga yang pernah terjadi.
Apa Itu HYROX alias Hybrid Fitness yang Kini Jadi Tren?
Salah satu perlombaan olahraga populer yang digeluti oleh masyarakat beberapa tahun terakhir yaitu HYROX yang dalam bahasa umumnya dikenal sebagai Hybrid Fitness. Melansir laman resmi HYROX, HYROX sebenarnya bukan nama cabang olahraga, melainkan label untuk ajang kompetisi kebugaran (fitness racing).
Secara konsep, jenis olahraga ini memadukan lari dengan berbagai stasiun latihan fungsional yang dilakukan secara terstruktur. Mengingat format perlombaannya sangat spesifik, komunitas kebugaran kini sering menyebutnya latihan HYROX.
Asal istilah penyebutan HYROX sendiri terdiri dari dua kata, yakni hybrid dan rox. Hybrid secara umum dapat diartikan sebagai penggabungan dua atau lebih sistem, cara, teknologi, atau sumber daya yang berbeda untuk mencapai satu tujuan yang lebih efisien.
Sedangkan rox, menurutpenuturan pendirinya, Christian Toetzke, dikutip dari laman Hybrid Athlete Club, sengaja ditambahkan untuk memberikan kesan nama yang modern, tajam (edgy), dan terdengar kuat. Para pelaku HYROX pun menyebut dirinya sebagai roxstar!

Format perlombaan HYROX dapat diikuti oleh atlet pemula maupun profesional dengan kategori individu, ganda wanita, pria, maupun campuran, dan estafet.
Peserta berlari sejauh 1 km yang diikuti oleh satu stasiun latihan fungsional, dan rangkaian ini diulang sebanyak 8 kali. Kompetisi ini berlangsung di dalam ruangan yang luas dan menciptakan suasana lomba yang penuh semangat.
Latihan fungsional yang pertama yaitu menggunakan alat latihan kardio yang disebut SkiErg sejauh 1.000 meter. SkiErg dapat melatih otot lengan, bahu, dan otot inti. Jika dilakukan dengan teknik yang efisien, gerakan ini juga melibatkan otot tubuh bagian bawah bahkan latihan untuk seluruh tubuh.
Gerakan kedua yaitu Sled Push sejauh 50 meter yang bertujuan untuk melatih otot tubuh bagian bawah, khususnya seluruh otot rantai posterior, otot inti, dan otot paha bagian depan.
Latihan ketiga yaitu Sled Pull 50 meter untuk melatih otot bokong punggung, bisep, dan seluruh otot batang tubuh. Pos latihan keempat adalah Burpee Broad Jump sejauh 80 meter.
Kelima yaitu mendayung menggunakan alat ergometer sejauh 1000 meter yang juga menandai dimulainya paruh kedua lomba HYROX. Latihan berikutnya Farmers Carry sejauh 200 meter yang diperlukan melatih aktivasi otot punggung bagian atas, otot inti, serta kekuatan genggaman.
Selanjutnya yaitu Sandbag Lunges 100 meter. Peserta membawa beban 10, 20, atau 30 kilogram di punggung saat melakukan gerakan lunge yang menargetkan otot paha dan bokong.
Gerakan terakhir sebelum mencapai garis finis yaitu Wall Ball sebanyak 100 kali yang menjadi stasiun penutup untuk menguji daya tahan otot dan kebugaran secara keseluruhan.
Kaitan HYROX dengan Gangguan Pencernaan
Diare parah kerap dijumpai di berbagai ajang olahraga ketahanan ekstrem, tak terkecuali saat latihan HYROX dan lari jarak jauh. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dari iskemik usus, guncangan fisik, stres saat akan menghadapi kompetisi, atau asupan makanan maupun minuman.
Melansir laman healthline, berbagai studi menyebutkan 30–50% pelari jarak jauh mengalami gejala gangguan pencernaan saat berolahraga, dan diare adalah salah satu yang paling umum terjadi. Dalam istilah medis, ini disebut dengan kolitis pelari (runner’s colitis) atau diare pelari (runner’s trots).
Secara umum, olahraga HYROX membuat tubuh mengalirkan lebih banyak darah ke otot yang sedang bekerja dan menjauhkannya dari sistem pencernaan. Akibatnya terjadi guncangan berulang pada usus, serta memberikan tekanan intens terhadap makanan, kopi, minuman olahraga, atau gel energi yang baru saja dikonsumsi.
Selain diare parah, rasa ingin buang air besar yang mendesak, kram, perut kembung, dan mual sering kali menyertai gangguan pencernaan akibat olahraga. Salah satu faktor terjadinya diare parah saat HYROX yaitu adanya perubahan permeabilitas usus saat melakukan olahraga ketahanan berat.
Olahraga dengan intensitas tinggi dapat merusak usus halus untuk sementara waktu, sehingga meningkatkan jumlah zat yang berpindah dari usus ke dalam aliran darah. Secara medis, diare parah saat HYROX terjadi karena tiga mekanisme fisik yang terjadi bersamaan, sebagaimana dimuat di laman thronescience.

Pertama, adanya pengalihan aliran darah. Saat berolahraga HYROX, tubuh mengalihkan 50–80% aliran darah dari sistem pencernaan menuju otot-otot yang sedang bekerja. Berkurangnya aliran darah atau iskemi ini dapat merusak lapisan usus dan meningkatkan permeabilitas usus, sehingga memungkinkan cairan merembes masuk ke dalam usus.
Sederhananya, berkurangnya aliran darah ini dianggap sebagai salah satu penyebab gejala pencernaan akibat olahraga, dan dampaknya semakin signifikan seiring meningkatnya intensitas, durasi, dan suhu panas.
Kedua, terjadinya guncangan mekanis yang mempercepat motilitas atau kontraksi usus besar. Akibatnya, makanan dan sisa pencernaan bergerak lebih cepat dari biasanya.
Faktor ketiga adalah terjadi perubahan hormonal. Laman Mavr.app menjelaskan lahraga dapat memicu pelepasan vasoactive intestinal peptide (VIP) dan hormon lain yang meningkatkan sekresi usus serta mempercepat waktu transit. Dengan begitu, tubuh akan memberi sinyal kepada saluran pencernaan untuk mengosongkan isinya.
Ketiga faktor di atas dapat menyebabkan diare parah dengan dipicu oleh asupan makanan pada 24 jam sebelumnya. Pada metabolisme tubuh, sisa makanan berserat tinggi tidak tercerna menjadi makanan bagi bakteri usus, menghasilkan gas, dan menambah volume tinja hingga 18–24 jam.
Lalu, makanan tinggi lemak dapat meningkatkan pelepasan hormon usus dan merangsang pergerakan usus hingga 4–6 jam. Berikutnya, makanan dengan fruktosa berlebih juga sulit diserap dan menarik air ke dalam usus (efek osmotik) pada kurun waktu 4–6 jam.

Tak hanya itu, kafein juga merangsang kontraksi usus besar dan mempercepat waktu transit makanan. Pada saat berolahraga, seseorang lebih sering dehidrasi. Pada titik tertentu, dehidrasi dapat mengurangi volume darah, memperparah kerusakan akibat iskemia pada lapisan usus.
Rasa gugup saat lomba juga dapat memperparah keadaan di atas. Sebab, stres dapat mengubah kecepatan pergerakan usus dan meningkatkan urgensi untuk buang air.
Dengan demikian, olahraga yang berlangsung lama dan berat meningkatkan beban kerja usus secara keseluruhan. HYROX dan lari jarak jauh memiliki kaitan yang sangat erat dengan gejala gangguan saluran pencernaan bagian bawah.
Bagaimana Agar Diare Parah Tak Terjadi Saat HYROX atau Lari?
Insiden diare parah dapat dialami siapa pun saat berolahraga. Selain di HYROX Beijing kemarin, tragedi ini juga pernah terjadi di Maraton London 2005. Atlet bernama Paula Radcliffe sempat berhenti di pinggir jalan untuk buang air besar.
Yohann Diniz, pelari asal Prancis juga mengalami peristiwa buang air besar di celananya. Tak hanya itu, ia juga beberapa kali pingsan karena gangguan pencernaan. Dalam kondisi tersebut, ia dapat melanjutkan larinya dan mampu finis di urutan 8.
Fenomena "cepirit" ini juga pernah terjadi saat Event HYROX Jakarta pada Juni 2026 lalu. Sebuah unggahan di sosial media memotret tinja yang berada di alat latihan HYROX Jakarta menuai banyak sorotan.
Meskipun begitu, gangguan pencernaan termasuk diare parah saat HYROX atau lari dapat diminimalisir dengan berbagai langkah, di antaranya adalah sebagai berikut:
Hindari mengonsumsi kopi, produk susu, serat, gluten, gel, dan menu sarapan secara bersamaan dan sesuaikan makanan pra-lari. Meski seorang atlet tidak mengetahui pasti makanan mana yang memicu diare parah, menghindarinya menjadi hal yang patut untuk dicoba.

Berikutnya, pastikan tubuh terhidrasi dengan baik saat memulai, namun jangan memaksakan asupan cairan. Sebab, memulai lari dalam kondisi kurang cairan akan menambah beban tubuh. Di samping itu, minum terlalu banyak atau mengonsumsi produk dengan konsentrasi tinggi juga dapat menimbulkan masalah tersendiri.
Dalam sebuah survei tahun 2020, pelari jarak jauh pada hari-hari menjelang lari umumnya menghindari makan daging, produk susu, ikan/makanan laut, unggas, dan makanan tinggi serat. Lalu batasi minuman berkarbohidrat tinggi (konsentrat tinggi), seperti jus buah, soda manis, dan minuman olahraga yang mengandung gula, kafein, dan sukrosa.
Selain faktor makanan, pakaian juga penting. Pilihlah pakaian yang dikenakan saat berlari dan berlatih HYROX. Pakaian yang terlalu ketat di bagian tengah tubuh dapat menghambat aliran darah ke saluran pencernaan dan membuatnya terasa lebih tidak nyaman.
Metode pencegahan diare parah pada saat lari dan HYROX bervariasi pada setiap individu. Lakukan peninjauan kembali pola makan sebelum berlari guna mengidentifikasi makanan yang berpotensi memicu kondisi tersebut.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id
































