tirto.id - Bagi Farabiani Subki (29), olahraga kini menjadi bagian dari rutinitas di tengah kesibukannya sebagai konten kreator di Jakarta. Ia bergantian melakukan yoga, pilates, latihan kekuatan, hingga hot mat pilates.
Dari berbagai aktivitas tersebut, yoga menjadi olahraga yang paling sering ia lakukan. Dalam sepekan, Biani bisa mengikuti kelas yoga dua hingga tiga kali dengan biaya sekitar Rp150 ribu per sesi. Selain yoga, ia juga mengikuti hot mat pilates dengan tarif sekitar Rp290 ribu-Rp350 ribu.
“Alasannya yang pasti faktor kesehatan. Kalau rutin olahraga itu badan lebih segar, tidak gampang sakit, tidak gampang lemas, tidur juga lebih teratur, makan juga lebih teratur,” ujarnya kepada Tirto, Kamis (11/9/2026).
Olahraga bagi Biani bukan sekadar cara mengisi waktu luang. Ia mengaku merasakan perubahan pada kondisi tubuh sejak rutin berolahraga, terutama setelah menambahkan latihan kekuatan.
Sebelumnya, saat menstruasi, rasa sakit yang dialaminya kerap membuatnya tidak dapat beraktivitas. Setelah rutin melakukan latihan kekuatan, ia merasa keluhan tersebut berkurang.
Namun, menjaga kebugaran juga membutuhkan biaya. Selain kelas olahraga, Biani pernah mengikuti yoga privat dengan biaya sekitar Rp800 ribu-Rp1 juta per bulan dan membeli matras seharga sekitar Rp1,5 juta. Kini ia tidak lagi mengikuti kelas privat dan menyesuaikan aktivitas olahraga dengan kebutuhan serta kesibukannya.
"Dulu pas privat sempat 2-3 tahunan aku privat yoga, itu sebenarnya lebih murah harganya sebulan itu Rp800 ribu-Rp1 juta tergantung berapa orang yang di dalamnya. Itu sebulan empat kali, pokoknya seminggu sekali," ucapnya.

Pengalaman serupa dialami Heri Purnomo (29). Pekerja swasta di Jakarta itu kembali rutin bersepeda sejak masa kuliah. Kini, karena waktu kerja yang tidak menentu, ia lebih sering bersepeda pada akhir pekan.
Bersepeda awalnya dilakukan karena kesenangan dan keinginan berkumpul dengan komunitas. Namun, kebiasaan tersebut kemudian membuat Heri lebih memperhatikan pola hidupnya. Ia menghindari begadang ketika berencana bersepeda pada pagi hari.
“Dari senang dan ada kegiatan olahraganya maka banyak tuh manfaatnya. Ketemu temen dari sepeda, hidup yang bisa lebih sehat. Pasalnya, kalau mau sepedaan kan biasanya pagi tuh. Dari situ, saya kalau mau gowes enggak begadang,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Heri juga menghabiskan lebih dari Rp15 juta untuk sepeda dan perlengkapannya.
Bagi Biani dan Heri, olahraga bermula dari pilihan personal: mencari kesenangan sekaligus menjaga kebugaran. Fenomena semacam itu semakin mudah ditemui. Gym, lari, pilates, yoga, bersepeda, hingga padel kini menjadi bagian dari keseharian sebagian masyarakat, terutama di perkotaan.
Sejumlah indikator menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktivitas olahraga. Berdasarkan Laporan Indeks Pembangunan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, indeks partisipasi masyarakat dalam berolahraga meningkat dari 0,254 pada 2023 menjadi 0,263 pada 2024, atau bertambah 0,009 poin.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tren serupa. Pada 2024, sebanyak 37,16 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas tercatat melakukan olahraga dalam seminggu terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan 27,14 persen pada 2021, atau bertambah sekitar 10,02 poin persentase dalam tiga tahun.
Tren tersebut turut tercermin dalam survei platform olahraga dan kebugaran. Survei Populix bertajuk “Understanding Indonesia's Sports Trends” pada 2025 terhadap 1.030 responden menemukan bahwa mayoritas responden memiliki ketertarikan terhadap olahraga. Setahun kemudian, data Populix 2026 menunjukkan 81 persen pekerja kantoran rutin berolahraga di tengah kesibukan mereka.

Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas olahraga yang tercatat di sejumlah platform. Garmin, misalnya, mencatat aktivitas lari luar ruangan meningkat 65 persen pada 2024. Sementara Strava mencatat partisipasi dalam komunitas lari di Indonesia meningkat 83 persen.
Olahraga yang relatif baru populer di Indonesia, padel, bahkan menunjukkan perkembangan infrastruktur yang lebih agresif. Menurut data Growell dalam Indonesia Padel Report 2025, jumlah lapangan padel di Indonesia melonjak dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, atau tumbuh sekitar 295 persen dalam setahun.
Tetapi ada pertanyaan lain di balik tren tersebut. Jika semakin banyak orang mulai berinvestasi untuk menjaga kesehatan, apakah perubahan perilaku itu pada akhirnya juga dapat mengurangi kebutuhan masyarakat untuk berobat?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika biaya pelayanan kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus meningkat. BPJS Kesehatan mencatat biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan sepanjang 2025 mencapai Rp191,33 triliun. Nilai tersebut melampaui pendapatan iuran yang terkumpul sebesar Rp176,72 triliun, sehingga terdapat selisih sekitar Rp14,61 triliun.
Dari total biaya tersebut, penyakit katastropik menyerap 26,28 persen. Penyakit jantung menjadi penyumbang biaya terbesar dengan Rp17,3 triliun, disusul gagal ginjal Rp13,3 triliun, kanker Rp10,3 triliun, dan stroke Rp7,2 triliun.
Di satu sisi, negara mengeluarkan biaya besar untuk mengobati penyakit. Di sisi lain, masyarakat mulai mengeluarkan uang dan waktu untuk menjaga kebugaran.
Lantas, seberapa jauh perubahan perilaku menuju hidup sehat dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang? Dan yang lebih penting, apakah investasi tersebut benar-benar dapat membantu menekan beban pembiayaan JKN?
Penyakit Kronis dan Beban JKN
Meningkatnya biaya pelayanan kesehatan JKN tidak serta-merta berarti masyarakat semakin sakit. Bertambahnya jumlah peserta, semakin mudahnya akses terhadap layanan kesehatan, hingga meningkatnya pemanfaatan fasilitas kesehatan juga dapat mendorong kenaikan biaya.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengakui meningkatnya beban pelayanan menjadi tantangan bagi keberlanjutan JKN. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga mencerminkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Artinya, meski pendapatan iuran JKN tumbuh 6,88 persen dari Rp165,34 triliun pada tahun sebelumnya—diikuti tingkat kolektibilitas iuran yang naik dari 99,17 persen menjadi 99,49 persen—kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi pertumbuhan biaya pelayanan kesehatan seiring meningkatnya pemanfaatan layanan JKN.
Terlebih, sebanyak 38 persen pemanfaatan layanan tersebut berasal dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara ruang peningkatan penerimaan dari kelompok ini bergantung pada kebijakan dan kapasitas fiskal pemerintah.
Sepanjang 2025, pemanfaatan layanan kesehatan melalui JKN mencapai 725,3 juta kali, naik dari 673,9 juta kali pada 2024.
"Dalam setiap hari terdapat lebih dari 1,99 juta pemanfaatan,” ujar Prihati dalam Public Expose Pengelolaan Program dan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025, dikutip Selasa (7/7/2026).
Namun, besarnya porsi penyakit katastropik dalam pembiayaan JKN menunjukkan persoalan lain. Sebagian penyakit yang membutuhkan pengobatan mahal dan berlangsung panjang berkaitan dengan penyakit tidak menular yang faktor risikonya dapat dicegah atau dikendalikan.Penyakit jantung, stroke, diabetes, dan penyakit ginjal kronis, misalnya, memiliki sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah, berat badan, pola makan, merokok, serta kurangnya aktivitas fisik.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan tingginya sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular di masyarakat. Prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Namun, hanya 8,6 persen yang mengaku pernah didiagnosis hipertensi oleh dokter.
Pada diabetes, prevalensi berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk berusia 15 tahun ke atas tercatat 2,2 persen. Namun, berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, angkanya mencapai 11,7 persen.
Persoalan juga terlihat dari status gizi. Prevalensi obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Sementara itu, 36,8 persen penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami obesitas sentral.
Aktivitas fisik juga belum merata. SKI 2023 mencatat 62,6 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas memiliki aktivitas fisik yang tergolong cukup. Artinya, sekitar 37,4 persen belum memenuhi kategori tersebut.Dari mereka yang tidak melakukan aktivitas fisik, 48,7 persen menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan. Faktor risiko lain juga masih tinggi. Sekitar 27 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas tercatat sebagai perokok aktif, terdiri atas 22,46 persen perokok setiap hari dan 4,56 persen perokok sesekali.
Pola makan pun menjadi persoalan. Sebanyak 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas tergolong kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai batas kecukupan yang digunakan dalam SKI 2023.
Artinya, persoalan pembiayaan JKN tidak hanya berada di hilir, ketika seseorang sudah membutuhkan pengobatan. Ada persoalan di hulu: seberapa banyak penyakit dapat dicegah atau ditemukan lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan perawatan mahal?
Beban JKN dan Persoalan di Hulu
Pakar kesehatan masyarakat sekaligus anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Iqbal Mochtar, menilai perubahan pendekatan dari kuratif menuju promotif dan preventif bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Menurut dia, ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut, beban yang harus ditanggung tidak hanya berupa biaya pengobatan. Pasien juga harus menyediakan waktu untuk berobat, membayar transportasi, menjalani tindakan medis, hingga dalam kondisi tertentu harus menjalani perawatan berulang.
“Penyakit-penyakit seperti ini itu kalau sudah tiba pada stadium-stadium lanjut, itu memang magnitudenya itu sudah luar biasa besar,” ujar Iqbal saat dihubungi Tirto, Rabu (9/9/2026).
Ia menilai pencegahan memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan menunggu penyakit berkembang. Dalam konteks ekonomi kesehatan, manfaat tersebut dapat dilihat melalui konsep return on investment, yakni seberapa besar manfaat yang diperoleh dari setiap investasi yang dikeluarkan.“Nah, ternyata itu kenyataannya menunjukkan bahwa kita membelanjakan satu rupiah untuk tindakan preventif, itu return of investment-nya itu berkali-kali lipat,” tuturnya.
Namun, persoalannya tidak sesederhana meminta masyarakat lebih rajin berolahraga. Kebiasaan hidup sehat mencakup berbagai hal sekaligus: aktivitas fisik, pola makan, tidak merokok, tidur yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan untuk menemukan faktor risiko atau penyakit sejak dini.
Associate Professor Public Health Monash University Indonesia, Grace Wangge, mengatakan kebiasaan hidup sehat yang dibangun sejak usia mudaberpotensi memberikan dampak besar terhadap kesehatan ketika seseorang memasuki usia paruh baya.
Ia lantas merujuk pada studi di Amerika Serikat (AS), Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA), yang mengamati sekitar 5.100 orang dewasa muda berusia 18–30 tahun selama 35 tahun.
"Pada mereka yang konsisten menjalankan kebiasaan hidup sehat, misalnya jaga pola makan, aktivitas fisik, tidak merokok, dan cukup tidur dan menjaga IMT normal, kadar kolesterol non-HDL tinggi, kadar glukosa darah stabil, dan tekanan darah stabil," ujar Grace kepada Tirto, Kamis (10/9/2026).
Penelitian tersebut mengungkap, kelompok yang konsisten menjalankan kebiasaan tersebut memiliki peluang jauh lebih besar untuk mencapai usia paruh baya dengan kondisi kardiovaskular yang lebih baik.
"Peluangnya 20 kali lebih besar untuk mencapai usia paruh baya dengan penyakit kardiovaskular yang lebih sedikit, dibandingkan dengan mereka kurang atau tidak sama sekali melakukan kebiasaan dan menjaga kestabilan parameter kesehatan tersebut," ujarnya.
Grace mengatakan aktivitas fisik seperti gym, lari, dan pilates dapat menjadi bagian dari upaya mencegah penyakit kronis. Namun, perubahan perilaku tersebut perlu berjalan bersama intervensi kesehatan lainnya.
“Investasi tidak lebih murah mungkin, tapi akan lebih efektif secara cost. Ketika kita bicara murah, tidak bisa dihitung dari jumlah uang, tapi uang itu efisien menurunkan berapa angka kesakitan,” kata Grace.

Menurut Grace, program pencegahan bahkan dapat membutuhkan biaya besar pada tahap awal. Skrining kesehatan, misalnya, membutuhkan anggaran untuk menemukan masyarakat yang memiliki faktor risiko atau penyakit sebelum kondisinya berkembang.
Tetapi ukuran keberhasilannya tidak semata-mata berapa rupiah yang dikeluarkan untuk skrining. Yang perlu dilihat adalah apakah intervensi tersebut pada akhirnya menurunkan angka kesakitan dan mencegah lebih banyak orang membutuhkan pengobatan.
“Di awal mungkin akan kelihatan biayanya besar hanya untuk skrining dan lain-lain, tapi long run-nya akan menurunkan cost secara per pasien, karena yang sehat lebih banyak dari yang sakit,” ujarnya.
"Perlu ada pembatasan garam-gula dan lemak, itu enggak bisa cuma promotif, ngarepin orang skrining dan nurunin konsumsi," sambung Grace.
Mencegah Sebelum Terlambat
Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah masyarakat semakin rajin berolahraga, tetapi apakah sistem kesehatan sudah cukup mendorong masyarakat untuk mencegah penyakit sebelum membutuhkan pengobatan.
Iqbal menilai salah satu tantangannya adalah masyarakat masih cenderung mencari layanan kesehatan ketika sudah mengalami keluhan.
“Masyarakat kita itu memang punya budaya curative-seeking behavior,” ujar Iqbal.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti kebiasaan memeriksakan gigi. Seseorang umumnya baru datang ke dokter ketika giginya sudah sakit. Padahal, ketika tidak ada keluhan, pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan justru penting dilakukan agar masalah dapat ditemukan lebih awal.
“Padahal sebenarnya justru dalam kondisi seperti itu kita harus mempertahankan, harus datang untuk mencari hal tersebut, agar supaya tindakan pencegahannya atau promosinya bisa jalan,” katanya.
Persoalannya, manfaat pencegahan tidak selalu terlihat secara langsung. Berbeda dengan pengobatan yang hasilnya dapat dirasakan ketika keluhan berkurang, manfaat dari olahraga, pola makan sehat, berhenti merokok, maupun skrining lebih mungkin terlihat dalam jangka panjang.Karena itu, menurut Iqbal, kebiasaan hidup sehat perlu dibangun sejak usia muda. Aktivitas fisik menjadi salah satu bagian dari kebiasaan tersebut, bersama pola makan sehat dan perilaku lain yang dapat menurunkan faktor risiko penyakit.
“Kebiasaan yang dimulai dari kecil, kebiasaan hidup sehat ya, itu akan memberikan dampak yang sangat signifikan,” ujarnya.
Ia menilai konsistensi menjadi kunci. Ketika perilaku sehat sudah terbentuk sebagai kebiasaan, seseorang akan lebih mudah mempertahankannya hingga dewasa.
“Kalau orang sudah terbiasa untuk tiap hari misalnya jalan kaki atau lari, itu kalau satu hari aja dia enggak lari, itu terasa ada yang kurang. Jadi, konsistensi itu perlu, dan memang konsistensi itu harus dibangun sejak kecil,” tuturnya.
Namun, membangun kebiasaan sehat tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada individu. Grace Wangge dari Monash University mengatakan masyarakat membutuhkan lingkungan dan sistem kesehatan yang membuat perilaku preventif lebih mudah dilakukan. Menurut dia, layanan kesehatan selama ini masih lebih mudah ditemukan ketika seseorang sudah sakit.
“Memang pastinya karena kebiasaan, karena dulu kan kita memang ke rumah sakit kalau sakit, tapi tidak bisa disalahkan juga, akses kesehatan banyak hanya disediakan dan dipermudah untuk mereka yang sudah sakit,” kata Grace.

Karena itu, fasilitas pemeriksaan dan pencegahan perlu diperluas. Skrining kesehatan, misalnya, tidak seharusnya hanya mengandalkan masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi dapat dilakukan di berbagai lingkungan tempat masyarakat beraktivitas.
Grace menilai sekolah dan tempat kerja dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
“Mendorong skrining juga, kalau cuma dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan enggak akan cukup,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga perlu dilakukan sepanjang daur hidup. Pendidikan mengenai pola hidup sehat dapat dimulai sejak sekolah, kemudian dilanjutkan melalui lingkungan kampus, tempat kerja, hingga komunitas.
“Penyediaan layanan kesehatan preventif itu memang harus sepanjang daur hidup, tidak bisa sepotong-potong supaya orangnya konsisten hidup sehat,” tutur Grace.
Selain skrining, pencegahan penyakit tidak menular juga membutuhkan perubahan pada lingkungan tempat masyarakat membuat pilihan sehari-hari.
Grace mencontohkan konsumsi garam, gula, dan lemak. Masyarakat memang dapat didorong untuk mengurangi konsumsinya, tetapi pilihan tersebut juga dipengaruhi oleh makanan yang tersedia, harga, informasi, hingga kebijakan pemerintah.“Perlu ada pembatasan garam-gula dan lemak, itu enggak bisa cuma promotif, ngarepin orang skrining dan nurunin konsumsi,” katanya.
Artinya, upaya preventif tidak cukup hanya dengan kampanye agar masyarakat berolahraga lebih sering. Pemerintah juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan hidup sehat, sementara sistem kesehatan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi deteksi dini dan pencegahan.
Hal tersebut menjadi penting karena faktor risiko penyakit tidak menular sering kali tidak langsung menimbulkan keluhan. Seseorang dapat merasa sehat, tetapi pada saat yang sama memiliki tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang meningkat, berat badan berlebih, atau faktor risiko lainnya.
Di titik inilah olahraga memiliki posisi penting, tetapi bukan sebagai satu-satunya jawaban. Aktivitas fisik dapat membantu menjaga kebugaran dan menurunkan sejumlah risiko penyakit. Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal jika berjalan bersama pola makan sehat, tidak merokok, tidur yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dengan demikian, meningkatnya jumlah masyarakat yang berolahraga belum dapat langsung diterjemahkan sebagai keberhasilan pencegahan penyakit.
Yang perlu dilihat adalah apakah kebiasaan tersebut bertahan, apakah faktor risiko penyakit ikut menurun, dan apakah semakin banyak penyakit ditemukan sebelum berkembang menjadi kondisi berat.

Grace menilai, jika masyarakat semakin aktif berolahraga dan menjaga pola hidup, kebutuhan pengobatan untuk penyakit kronis berat dan katastropik berpotensi menurun, terutama pada kasus yang sudah mengalami komplikasi.
“Kebutuhan pengobatan pada penyakit kronis yang berat dan katastropik akan turun, artinya bukan berarti nol, tapi beban kesehatan untuk menangani pasien yang kasusnya berat dan banyak komplikasi akan menurun,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kesehatan masyarakat juga dipengaruhi faktor di luar perilaku individu. Polusi udara, perubahan iklim, panas ekstrem, hingga lingkungan tempat tinggal dan bekerja dapat ikut memengaruhi risiko kesehatan.
“Intinya tidak bisa hanya mengharapkan masyarakat merubah pola hidup saja secara individu, tapi secara ekosistem harus mendukung,” katanya.
Dengan begitu, pergeseran masyarakat menuju gaya hidup yang lebih aktif dapat menjadi salah satu modal penting untuk membangun kesehatan preventif. Tetapi perubahan tersebut baru akan memberikan dampak lebih besar jika diikuti sistem yang mampu menemukan penyakit lebih awal dan lingkungan yang membuat hidup sehat lebih mudah dijalankan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar berapa banyak orang yang kini memenuhi gym, lapangan padel, atau komunitas lari. Yang lebih penting adalah apakah perubahan tersebut dapat diterjemahkan menjadi penurunan faktor risiko, berkurangnya kasus penyakit berat, dan lebih sedikit masyarakat yang harus menjalani pengobatan ketika penyakit sudah berkembang.
Jika itu terjadi, olahraga dan gaya hidup sehat tidak lagi sekadar menjadi tren konsumsi atau bagian dari identitas anak muda. Ia dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang—bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi keberlanjutan pembiayaan JKN.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id



































