tirto.id - Seorang laki-laki terserang demam, sesekali bersin. Ia lalu berbaring di sofa seolah seluruh tubuhnya tak lagi sanggup diajak bekerja. Sementara perempuan, dalam kondisi yang sama masih sanggup beraktivitas seperti biasanya.
Budaya populer kemudian sering menjadikannya sebagai bahan candaan. Laki-laki kerap dianggap kurang tangguh dan sering berlebihan dalam menyikapi gejala tersebut jika dibandingkan dengan perempuan.
Cleveland Clinic pada 2025 secara eksplisit menyebut gambaran di atas dengan istilah flu pria (man flu). Namun, artikel itu menjelaskan belum ada cukup bukti ilmiah seorang pria benar-benar lebih menderita saat terkena penyakit infeksi seperti flu dan pilek.
Ketika Tubuh Laki-Laki Melawan Virus
Ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa hormon dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Penelitian David Furman dan tim (2014) menggunakan vaksin influenza sebagai cara yang lebih terkontrol untuk mengamati respons imun. Mereka melibatkan 53 perempuan dan 34 laki-laki sehat yang menerima vaksin influenza. Mereka kemudian membandingkan antibodi dan berbagai tanda aktivitas sistem imun dalam darah.
Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan secara umum menghasilkan respons antibodi yang lebih tinggi terhadap vaksin dan memiliki kadar sejumlah sitokin inflamasi yang lebih tinggi. Pada peserta laki-laki, kadar testosteron yang lebih tinggi berkaitan dengan respons antibodi yang lebih rendah.
Dengan analisis pembelajaran mesin (machine learning), peneliti menemukan kelompok gen yang terlibat dalam pembentukan lemak sel dan diketahui berkaitan dengan aktivitas hormon seperti testosteron. Aktivitas kelompok gen tersebut juga berkorelasi dengan rendahnya kemampuan antibodi menetralkan virus.
Temuan itu menunjukkan adanya hubungan antara androgen dan perbedaan respons imun. Akan tetapi, penelitian Furman mengukur respons terhadap vaksin, bukan seberapa berat seseorang mengalami demam ketika terkena influenza aktif. Selain itu, hasil riset menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa testosteron menyebabkan rendahnya respons imun.
Gagasan bahwa testosteron memiliki "biaya" bagi sistem imun dikenal sebagai Immunocompetence Handicap Hypothesis (ICHH). Hipotesis Yong Zhi Foo dan kolega (2016) menyatakan bahwa testosteron dapat membantu sifat yang berkaitan dengan kompetisi dan reproduksi, sekaligus membawa konsekuensi bagi sistem imun.
Namun, bukti pada manusia masih beragam. Studi terhadap 97 laki-laki sehat bahkan tidak mendukung anggapan bahwa androgen secara umum menekan kekebalan. Testosteron lebih tepat dipandang sebagai pengatur respons imun daripada sekadar hormon penekan kekebalan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Physiology – Lung Cellular and Molecular Physiology (2015) memberikan gambaran menarik tentang hormon estrogen. Peneliti menggunakan kultur sel epitel hidung manusia yang berasal dari donor laki-laki dan perempuan, kemudian menginfeksinya dengan influenza A.
Ketika diberi estradiol, salah satu hormon estrogen, jumlah virus menurun pada sel yang berasal dari donor perempuan, tetapi tidak pada sel dari donor laki-laki. Penelitian ini dilakukan pada sel di laboratorium, sehingga hasilnya belum bisa langsung diterjemahkan sebagai perempuan lebih terlindungi dari influenza dalam kehidupan sehari-hari.
Selain hormon, perbedaan sistem imun juga dipengaruhi kromosom seks. Perempuan umumnya memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Salah satu gen di dalam kromosom X adalah TLR7, yang membantu sel imun mengenali RNA virus.
Pada sebagian sel imun perempuan, TLR7 dapat tetap aktif dari kedua kromosom X. Sel-sel ini memiliki lebih banyak TLR7 dan dapat menghasilkan respons interferon tipe I, protein yang membantu tubuh memberi peringatan terhadap virus, dengan lebih kuat. Temuan ini tidak berarti seluruh sel imun perempuan memiliki TLR7 dua kali lebih banyak. Kondisi ini hanya ditemukan pada sebagian sel imun.
Laki-laki dan perempuan memang menghadapi virus dengan kondisi biologis yang berbeda. Hal itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa laki-laki pasti lebih menderita akibat gejala demam.
Tapi Benarkah Laki-Laki Lebih Tersiksa?
Untuk menjawabnya, peneliti membutuhkan kondisi yang lebih terkontrol daripada sekadar mengamati pasien di rumah sakit. Dosis virus, waktu paparan, usia, kondisi kesehatan, dan riwayat kekebalan dapat berbeda antara satu pasien dan lainnya. Salah satu cara mengurangi variasi tersebut adalah human challenge study, yaitu penelitian dengan relawan yang diseleksi secara ketat dan sengaja diberi paparan virus dalam kondisi terkontrol.
Salah satu penelitian influenza semacam itu dipublikasikan di The Journal of Infectious Diseases pada 2022. Peneliti menggabungkan data dari empat penelitian influenza challenge dan menganalisis 164 relawan sehat, terdiri atas 91 laki-laki dan 73 perempuan. Mereka mendapat paparan influenza A/H1N1 dengan dosis yang telah ditentukan, lalu dipantau untuk melihat pelepasan virus, gejala, serta respons antibodi.
Jika stereotipe man flu sepenuhnya benar, laki-laki seharusnya menunjukkan gejala lebih banyak atau lebih berat. Hasilnya justru berbeda. Perempuan lebih mungkin mengalami gejala influenza. Mereka juga memiliki jumlah jenis gejala yang lebih banyak. Namun, perbedaan keparahan penyakit ringan hingga sedang tidak signifikan secara statistik, begitu pula jumlah hari virus terdeteksi.

Yang paling mampu memprediksi hasil penelitian justru kadar antibodi penghambat neuraminidase (NAI) sebelum peserta terpapar virus. Neuraminidase merupakan salah satu protein influenza. Sebaliknya, jenis kelamin, kadar testosteron, dan estradiol bukan prediktor yang signifikan terhadap hasil tersebut.
Temuan juga memaparkan setelah terpapar virus, laki-laki memiliki kadar NAI yang lebih tinggi pada minggu keempat dan kedelapan. Walakin, NAI sebelum paparan pada awal penelitian tidak berbeda signifikan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, perbedaan respons setelah infeksi tidak dapat begitu saja dipakai untuk mengatakan bahwa laki-laki sejak awal memiliki perlindungan yang lebih baik.
Studi tersebut menunjukkan bahwa respons imun, jumlah virus, gejala, dan keparahan penyakit tidak selalu berjalan bersama. Batuk, nyeri, kelelahan, dan rasa tidak enak badan merupakan hasil gabungan dari virus dan respons tubuh terhadapnya. Banyak gejala tidak otomatis berarti sistem imun lebih lemah atau lebih kuat.
Respons imun juga berubah seiring usia. Perubahan ini berkaitan dengan penurunan fungsi imun dan meningkatnya peradangan kronis tingkat rendah. Pada perempuan, menopause turut mengubah lingkungan hormonal dan sejumlah fungsi imun. Tidak ada rumus sederhana bahwa laki-laki selalu lebih rentan terhadap semua infeksi.
Salah satu penelitian MRC Common Cold Unit di Inggris pada 1989 melibatkan sekitar 1.100 relawan untuk menilai sendiri keberadaan dan keparahan selesma yang mereka alami. Penilaian itu kemudian dibandingkan dengan penilaian pengamat klinis.
Hasilnya, penilaian peserta dan pengamat secara umum sangat berkorelasi. Laki-laki secara statistik lebih mungkin memberikan penilaian gejala yang lebih tinggi daripada penilaian pengamat. Temuan ini tidak membuktikan bahwa laki-laki berpura-pura atau melebih-lebihkan sakit. Penelitian hanya menunjukkan bahwa penilaian seseorang terhadap gejalanya tidak selalu sama dengan penilaian klinis.
Demam Membuat Laki-Laki Ingin Menyerah
Ketika tubuh mendeteksi infeksi, sistem imun bawaan melepaskan berbagai sinyal kimia. Di antaranya adalah sitokin proinflamasi seperti interleukin-1 beta (IL-1β), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosis factor alpha (TNF-α). Sinyal-sinyal ini membantu tubuh mengoordinasikan respons terhadap virus. Pada saat yang sama, sinyal inflamasi dari tubuh dapat diteruskan ke otak dan mengubah perilaku serta fungsi fisiologis.
Perubahan perilaku tersebut dikenal sebagai sickness behavior atau perilaku sakit. Seseorang menjadi lelah, mengantuk, kehilangan nafsu makan, mengurangi aktivitas, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami perasaan tidak enak badan secara umum. Ini bukan kumpulan gejala yang muncul secara acak. Sickness behavior merupakan respons tubuh terhadap infeksi yang membuat sistem imun dan otak mengubah perilaku secara bersamaan.
Saat badan mengalami demam, sistem pengaturan suhu tubuh mengubah titik pengaturannya. Bukti eksperimental menunjukkan bahwa sel endotel pada pembuluh darah otak berperan dalam proses ini dengan memproduksi prostaglandin E2 (PGE2). PGE2 kemudian bekerja pada hipotalamus dan menaikkan titik pengaturan suhu tubuh.
Suhu normal pun dianggap terlalu rendah sehingga tubuh mulai mempertahankan dan menghasilkan panas. Pembuluh darah kulit menyempit sehingga kehilangan panas berkurang. Otot dapat berkontraksi secara cepat dan berulang dalam bentuk menggigil untuk menghasilkan panas tambahan.
Itulah sebabnya seseorang yang sedang mengalami demam dapat merasa kedinginan dan menggigil meskipun suhu tubuhnya justru sedang naik. Ketika suhu tubuh akhirnya mencapai titik pengaturan suhu baru, menggigil biasanya berkurang. Setelah peradangan mereda dan PGE2 menurun, titik pengaturan suhu tubuh kembali turun. Tubuh kemudian melepaskan panas melalui pelebaran pembuluh darah kulit dan, pada kondisi tertentu, berkeringat.
Pada berbagai infeksi, suhu dalam rentang demam dapat memengaruhi interaksi antara virus dan sistem imun. Harvard Health menjelaskan bahwa menggigil, nyeri otot, berkeringat, kehilangan nafsu makan, serta lemas adalah gejala umum demam.
Jadi, apakah laki-laki memang memiliki sistem biologis yang membuat mereka lebih tidak berdaya ketika demam?
Sains belum memberikan bukti untuk menyimpulkan hal itu. Laki-laki tidak menjadi tak berdaya hanya karena mereka laki-laki. Sistem imunnya juga bekerja secara berbeda dengan perempuan, dan itu dapat mengubah cara tubuh saat menghadapi infeksi.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































