Menuju konten utama
GWS

Dokter Gigi Pertama di Dunia Bukan Berasal dari Spesies Kita

Nenek moyang kita, Homo sapiens, bukanlah pangkal ilmu pengetahuan modern. Bahkan, urusan perawatan gigi kita menyadur dari kerabat kita, Neanderthal.

Dokter Gigi Pertama di Dunia Bukan Berasal dari Spesies Kita
Praktik perawatan gigi Neanderthal Fig. 2. journals.plos.org/
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tak banyak orang tahu bahwa pada dekade 1990-an ada semacam stigma buruk melekat pada dokter gigi, yang kemudian diamplifikasi lewat produk-produk budaya populer. Dari film aksi menegangkan seperti Marathon Man (1976), hingga serial komedi situasi seperti Friends (1994-2004), dokter gigi digambarkan sebagai sosok yang tidak cuma sadis dan mengerikan, tetapi tidak bermoral dan tidak kompeten. Bahkan, olok-olok "dokter gigi bukan dokter" acap muncul dalam film dan serial televisi era tersebut.

Terlepas dari itu, bagi sebagian orang, pergi ke dokter gigi merupakan hal menakutkan. Ruangan yang dingin, desing bor yang memekikkan kuping, dan perasaan tidak berdaya dinilai menjadi alasan mengapa orang-orang merasa takut ke dokter gigi.

Bisa jadi karena itulah kemudian muncul mekanisme koping yang termanifestasikan dalam produk-produk budaya pop. Orang-orang berusaha mengelola ketakutannya dengan cara termudah: mengolok-olok pihak yang membuat mereka takut.

Sebenarnya, kampanye untuk melawan stigma dokter gigi melalui budaya pop sudah cukup berjalan. Dalam adegan serial televisi Ted Lasso (2020-sekarang), misalnya, kemenakan Roy Kent yang bernama Phoebe harus berkunjung ke dokter gigi dan, di situ, sang dokter digambarkan sebagai sosok penuh empati dan pandai berkomunikasi dengan anak-anak.

Namun ternyata, ketakutan terhadap dokter gigi dewasa ini masih bertahan. Hasil survei di Amerika Serikat (AS) pada September 2025 melaporkan, setidaknya 3 dari 4 orang merasa takut berobat ke dokter gigi dengan kadar yang berbeda-beda.

Padahal, perkembangan teknologi membuat praktik kedokteran gigi sudah tak lagi layak disebut mengerikan. Pemindaian modern membuat akurasi pengobatan lebih presisi. Teknologi laser membuat suara berdesing peralatan dokter tak lagi relevan. Teknik pembiusan modern pun tak lagi membutuhkan jarum suntik besar.

Jika itu semua masih terasa mengerikan, sekarang bayangkan rasanya pergi ke dokter gigi, tetapi bukan 10 tahun lalu, bukan 100 tahun lalu, melainkan 59.000 tahun lalu.

Nenek Moyang Dokter Gigi

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bukti bahwa praktik kedokteran gigi pertama kali dilakukan 59.000 tahun silam di Gua Chagyrskaya, Siberia, Rusia. Dan menariknya, spesies yang melakukannya bukan Homo sapiens,melainkan Homo neanderthalensis, atau Neanderthal, kerabat terdekat kita yang punah sekitar 40.000 tahun lalu.

Temuan bukti giginya adalah geraham kedua kiri bawah yang oleh para peneliti diberi kode Chagyrskaya 64. Gigi tersebut pertama kali ditemukan selama penggalian pada musim panas 2016. Ketika itu, para peneliti sempat dibuat bingung karena ada lubang dalam tidak biasa di permukaan mahkota gigi dan tidak jelas penyebabnya.

Tim peneliti pimpinan Alisa Zubova dari Akademi Sains Rusia, St. Petersburg, itu kemudian melakukan serangkaian analisis. Mereka menyingkirkan penjelasan-penjelasan alternatif satu per satu. Tidak mungkin gigi itu mengalami aus alami karena tujuh geraham lain dari gua yang sama tidak menunjukkan pola serupa. Kondisi seperti itu juga tak mungkin tersebab patah sebab retakan gigi biasanya meninggalkan tepi tajam dan tidak beraturan, sementara tepi lubang Chagyrskaya 64 halus dan membulat.

Praktik perawatan gigi Neanderthal Fig 11

Praktik perawatan gigi Neanderthal Fig. 11. journals.plos.org/

Setelah itu, mereka menggunakan analisis mikroskopis untuk memeriksa bekas-bekas di dalam dan sekitar lubang gigi. Hasilnya menunjukkan alur-alur halus yang konsisten dengan gerakan memutar alat batu tajam, mirip bor sederhana. Untuk memverifikasi hipotesis tersebut, Lydia Zotkina, salah satu penulis studi, mempraktikkan ulang prosedur tersebut menggunakan pecahan batu jasper pada tiga gigi manusia modern, termasuk satu gigi gerahamnya sendiri yang baru saja dicabut. Di bawah mikroskop, pola goresannya sangat mirip dengan yang ada pada Chagyrskaya 64.

Batu jasper dipilih karena memang ditemukan dalam jumlah banyak di Gua Chagyrskaya, bersama dengan berbagai alat batu lain yang menunjukkan industri Mecoquien, yakni teknologi khas Neanderthal yang juga ditemukan di Kaukasus dan Krimea. Artinya, alat yang digunakan untuk "mengebor" gigi itu kemungkinan besar adalah bagian dari peralatan sehari-hari yang sudah mereka kuasai.

Proses pengeboran gigi itu, menurut Zubova dkk., memakan waktu antara 35 dan 90 menit, dan dilakukan untuk mengurangi rasa sakit akibat karies gigi parah. Dengan membuka pulpa gigi (rongga dalam yang berisi saraf dan pembuluh darah), tekanan akibat infeksi mengendur sehingga rasa sakit pun berkurang. Bukti bekas gigitan di atas alur-alur pengeboran bahkan menunjukkan bahwa pemilik gigi tidak hanya selamat melewati prosedur tersebut, tetapi juga hidup cukup lama sesudahnya hingga aktivitas mengunyah normalnya mulai mengikis bekas-bekas operasi itu.

Meski amat, sangat primitif, hasil kerja Neanderthal itu sudah cukup baik, menurut profesor kedokteran gigi Universitas Newcastle bernama Justin Durham. Oleh karena itulah, itu sangat bisa disebut sebagai awal mula perawatan saluran akar gigi.

Homo sapiens "Terlambat" Puluhan Ribu Tahun

Kini pertanyaannya, seberapa jauh praktik gigi Neanderthal mendahului praktik serupa yang dilakukan Homo sapiens? Bukti tertua kedokteran gigi pada manusia modern selama ini merujuk pada spesimen Villabruna dari Italia Utara, yang berusia sekitar 14.000 tahun. Dengan kata lain, Neanderthal melakukan praktik tersebut sekitar 45.000 tahun lebih awal. Jarak tahun tersebut sekaligus mengguncang asumsi lama bahwa tindakan medis invasif adalah monopoli Homo sapiens.

Neanderthal bukan sekadar manusia gua bodoh yang tidak punya keahlian atau peradaban. Sebaliknya, Homo neanderthalensis adalah spesies dengan kapasitas kognitif dan kebudayaan yang bisa dibilang maju untuk ukuran zamannya. Praktik kedokteran gigi menambah daftar bukti kemajuan peradaban Neanderthal, mulai dari seni perhiasan dari cakar elang hingga praktik penguburan yang kaya akan simbolisme.

Ada pula bukti bahwa Neanderthal menunjukkan empati dan kepedulian sosial. Seorang anak Neanderthal dengan sindrom Down mampu hidup hingga usia enam tahun, meski kondisi medis membuatnya sangat bergantung pada orang lain. Para peneliti menyimpulkan, ia hanya bisa bertahan berkat perawatan kelompok yang penuh kasih.

Kehidupan sosial mereka pun ternyata cukup kompleks. Analisis DNA dari Neanderthal Siberia menunjukkan bahwa mereka hidup dalam kelompok kecil berisi sekitar 20 individu, dengan pola migrasi perempuan dewasa ke kelompok pasangan mereka. Artinya, ada struktur sosial teratur di dalamnya.

Semua itu memperkuat gambaran bahwa Neanderthal berada pada tingkat kemajuan yang tidak jauh berbeda dengan Homo sapiens pada masa tertentu. Bahkan, ada bukti bahwa keduanya berinteraksi lebih intim dengan berkawin silang.

Analisis genetika menunjukkan, Homo sapiens dan Neanderthal pernah berbaur sekitar 45.000–50.000 tahun lalu, dan persilangan itu tak hanya satu kali. Penelitian terbaru menggunakan genome sequencing dari lebih dari 300 sampel manusia purba dan modern memperkirakan, aliran gen tersebut berlangsung sekitar 47.000 tahun lalu dan bertahan selama kurang lebih 7.000 tahun.

Hasilnya masih bisa dirasakan hingga kini. Manusia modern keturunan populasi yang bermigrasi keluar dari Afrika membawa sekitar 1 hingga 4 persen DNA Neanderthal dalam genomnya. DNA itu pun, menurut penelitian Universitas Cornell, secara aktif memengaruhi sejumlah sifat biologis kita, mulai dari laju metabolisme hingga ketahanan imun terhadap penyakit tertentu. Bahkan, ada varian Neanderthal yang dikaitkan dengan kerentanan atau perlindungan terhadap COVID-19 pada populasi Eurasia.

Dengan kata lain, pada satu titik dalam sejarah, Homo sapiens dan Homo neanderthalensis berada pada level sama. Sama-sama mampu beradaptasi, sama-sama berbudaya, dan bahkan sama-sama berbagi kehidupan intim. Sebagian dari "mereka" itu, dalam arti yang paling harfiah, merupakan bagian dari "kita".

Penemuan praktik kedokteran gigi 59.000 tahun lalu hanyalah satu fragmen dari mosaik besar yang menunjukkan bahwa sejarah manusia tidaklah linear. Ia penuh cabang, persilangan, dan eksperimen. Neanderthal memang sudah punah. Akan tetapi, jejaknya tetap hidup dalam DNA kita, dalam artefak yang mereka tinggalkan, dan tentu saja dalam lubang kecil pada sebuah gigi geraham.

Baca juga artikel terkait DOKTER GIGI atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin