Menuju konten utama

LPS Bantah Fenomena Makan Tabungan, Klaim Simpanan Tumbuh

Anggito menyatakan tabungan di bawah Rp100 juta itu tumbuh 5,16 persen secara tahunan sementara di bawah Rp5 juta tumbuh 7,36 persen. 

LPS Bantah Fenomena Makan Tabungan, Klaim Simpanan Tumbuh
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026). tirto.id/Muhammad Naufal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyanggah anggapan bahwa fenomena makan tabungan (mantab) mulai menghinggapi masyarakat. Alih-alih menemukan fenomena tersebut, LPS justru mencatat adanya peningkatan pada seluruh kelompok simpanan.

“Kalau secara agregat tadi sudah kami sampaikan, yang di bawah Rp100 juta itu tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Kemudian, di bawah Rp5 juta juga tumbuh 7,36 persen. Jadi, kita bicara data tahunan,” ungkapnya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kantor LPS, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026).

Menurut Anggito, pertumbuhan simpanan tidak hanya terjadi pada kelompok nasabah dengan jumlah simpanan kecil saja, tetapi juga pada simpanan dengan saldo di atas Rp5 miliar. “Data kami mengatakan bahwa seluruh lapisan, secara agregat, simpanan itu tumbuh,” katanya.

Meski begitu, Anggito tidak menampik bahwa secara individu memang ada masyarakat yang menggunakan tabungannya untuk berbelanja. Hanya saja, ia tidak bisa membeberkan tabungan individu tersebut.

“Tentu secara individu ada yang menggunakan tabungan, ada yang menambah tabungan, simpanan itu tumbuh. Tentu secara agregat, simpanan masih tumbuh,” tegas mantan Wakil Menteri Keuangan itu.

Selain fenomena makan tabungan, Anggito juga menyanggah adanya kenaikan indeks pinjaman seperti yang dicatat Mandiri Saving Index Juni 2026 oleh Mandiri Office of Chief Economist (OCE). Di mana indeks tabungan terkontraksi sebesar 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi 84,8.

Di sisi lain, indeks pinjaman yang merangkum fasilitas pinjaman online (pinjol) atau peer to peer (P2P) lending, kartu kredit, serta paylater dari perusahaan pembiayaan non-bank tumbuh pesat hingga 24,6 persen menjadi 157,7 persen. Menurutnya, data tersebut kurang tepat karena Mandiri Spending Index menggunakan basis perhitungan indeks sejak Januari 2022, sehingga ada perbedaan metodologi dengan data pertumbuhan tabungan yang dipaparkan LPS.

“Jadi, dia menghitung, sekarang dihitung dengan basis Januari 2022. Jadi, ini bukan perkembangan tabungan seperti yang tadi saya sampaikan. Jadi, dia menggunakan basis indeks. Tapi, pertanyaannya apakah datanya sama? Seharusnya sama, kalau kita menggunakan seluruh rekening yang ada,” jelas Anggito.

Dia mengaku tidak mengetahui data mana yang digunakan oleh lembaga riset Bank Mandiri tersebut, tetapi dia hanya memastikan, berdasarkan data yang dihimpun LPS, secara agregat seluruh lapisan tabungan di masyarakat mengalami pertumbuhan hingga paruh pertama 2026.

“Saya tidak tahu Mandiri menggunakan data apa, ya. Tapi, data kami mengatakan bahwa seluruh lapisan secara agregat simpanan itu tumbuh tahunan, ya. Jadi, ini agregat, ya bukan individu,” pungkas Anggito.

Baca juga artikel terkait TABUNGAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher