tirto.id - Suara bising gerinda terdengar dari kejauhan saat Uli (40) mengasah pahat besi. Tatah itu sudah nampak mengkilap dan menandakan layak digunakan.
Ketukan palu beriringan ketika Uli memahat kayu balok berukuran satu meter hingga terbentuk ukiran halus di bagian tengah dan masing-masing ujung. Dia mengikuti pola ukiran yang sebelumnya dibuat. Setelah jadi, balok itu dipasang di bagian haluan dengan fungsi sebagai pijakan. Bentuknya sangat unik.
Di sisi lain, anak buahnya telaten menambal celah papan. Tak seinci pun terlewatkan, semuanya dilakukan secara teliti dan detail.
Ya, Uli merupakan satu dari dua perajin perahu getek, alat transportasi sungai khas Palembang yang masih tersisa di Kelurahan 2 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Sejak lama, daerah yang berada di tepian Sungai Musi itu dijuluki sebagai Kampung Perahu.
Belasan tahun silam, di bantaran Sungai Musi itu terdapat banyak lapak pembuatan perahu getek. Perajin sengaja mendirikan bangunan semi permanen di atas sungai dengan puluhan tiang kayu sebagai penyangga.
Banyak faktor pemilihan lokasi. Dua di antaranya untuk memudahkan dalam pengangkutan bahan baku melalui sungai dan perahu getek yang sudah jadi dapat langsung didorong ke air, tanpa memerlukan tenaga lebih.
Namun, saat ini kondisi itu sudah jauh berubah. Perlahan perajin memilih menutup usahanya dengan berbagai alasan. Ada yang bangkrut akibat tidak seimbangnya pendapatan dengan biaya produksi, merantau dan mencari usaha lain, hingga pindah karena tempat produksi semakin menyurut lantaran pertumbuhan rumah-rumah penduduk.
Termasuk juga Uli. Tapi dia tidak pindah profesi melainkan pindah posisi. Meski tidak jauh, ia memilih beraktivitas di daratan, karena tempatnya dulu sering terkena air pasang.
Dia memanfaatkan areal kosong di bawah Jembatan Musi VI Palembang. Banyak keuntungan yang ia dapatkan memilih tempat itu, yakni tak perlu menambah biaya membangun tempat khusus dan menyewa tempat. Ia juga tak perlu kepanasan kena sinar matahari langsung saat cuaca terik dan basah ketika turun hujan karena beratapkan jembatan.
Tempat itu menjadi berkah bagi Uli meski milik pemerintah. Namun dengan penuh kesadaran, dia siap angkat kaki jika keberadaannya dianggap menggangu kenyamanan.

Tetap Utamakan Kualitas meski Tak Lagi Berjaya
Uli mengingat sudah 25 tahun menggeluti usaha itu, dimulai sejak tamat SMP. Ia bercerita tak bisa memilih pekerjaan lain dan harus menuruti permintaan ayahnya untuk ikut menjadi perajin perahu getek.
Dari situ, satu per satu kapal ia buat. Uli akhirnya diberikan amanat melanjutkan usaha turun-temurun dari kakeknya itu.
"Saya ini generasi ketiga. Entah sejak kapan, kakek saya bikin usaha perahu di sini, sampai ke ayah, dan sekarang saya yang meneruskan," ungkap Uli kepada Tirto, Kamis (17/9/2026).
Uli bercerita, pada masa jayanya, ia mampu memproduksi empat sampai delapan perahu getek per bulan. Ia sampai membayar tukang harian demi menyelesaikan target yang dijanjikan kepada pemesan.
Seiring waktu, permintaan semakin berkurang. Perahu getek yang sedang ia kerjakan sekarang bukanlah pesanan pembeli, melainkan sengaja ia siapkan dengan harapan jika ada yang berminat bisa langsung dibawa.
"Biasanya sebulan ada dua yang pesan, sekarang belum ada. Tapi saya tetap bikin buat stok saja karena tidak ada pekerjaan lain," kata Uli.
Berkurangnya minat perahu getek disebabkan banyak faktor. Uli menduga semakin banyaknya pilihan transportasi ditambah semakin terbukanya akses seperti pembangunan jalan darat di daerah perairan menjadi yang cukup berpengaruh.

Perahu getek yang sejatinya berguna dalam mengangkut barang dan orang mulai ditinggalkan. Orang lebih memilih mobil dengan banyak keunggulan, ketimbang perahu getek.
"Kalau saingan dengan perahu terbuat dari piber atau yang modern tidak juga, orang pasti milih perahu getek karena lebih awet dan muatannya jauh lebih banyak dari buatan fiber," kata Uli.
Selain itu, semakin mahal dan sulitnya mendapatkan bahan baku berkualitas juga menjadi pemicunya. Harga yang mahal otomatis mempengaruhi nilai jual perahu getek.
Uli mengaku tidak sembarang memilih bahan baku. Dia tetap mengutamakan kualitas dengan menggunakan kayu-kayu kelas satu yang teruji ketahanannya terhadap cuaca apapun.
Biasanya, Uli menggunakan kayu meranti dan merawan untuk bodi dan bungur, kulim, serta leban sebagai tulangan.
Selain jenisnya, ketebalan papan yang dipakai masih diutamakan. Dia sengaja memilih papan ukuran minimal tiga sentimeter sehingga lebih awet dipakai.
Namun, pasokan kayu-kayu itu kini semakin berkurang sehingga harganya pun lebih mahal, Rp5 juta hingga Rp7 juta per kubik. Dengan demikian, harga perahu getek mau tak mau menyesuaikan dengan modal.
Untuk perahu getek ukuran 12x3 meter yang sedang dibuat Uli memerlukan paling tidak membutuhkan empat kubik kayu. Waktu pengerjaan satu perahu memakan waktu sekitar satu bulan dan dijual seharga Rp25 juta, di luar mesin.
"Paling saya untung enam sampai tujuh juta per unitnya, itu pun masih kotor, belum dihitung upah anak buah kalau pakai, biaya makan sehari-hari, rokok, kopi," kata pria keturunan Pemulutan, Ogan Ilir, itu.

Meski demikian, Uli berusaha tetap menekuni usaha ini semampunya. Dia meyakini perahu getek masih sangat dibutuhkan, terutama di daerah perairan dan menjadi transportasi alternatif masyarakat.
Sejauh ini pemesan masih berasal dari petani di Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir. Pemesan menggunakan perahu getek untuk mengangkut hasil pertanian, seperti padi, kelapa, dan sawit.
"Yang masih banyak pakai orang jalur (Banyuasin), terutama saat musim panen. Kalau di Palembang sudah jauh berkurang, yang ada sekarang buatan lama-lama dulu, tidak ada yang beli lagi," kata Uli.
Khawatir Tak Ada Lagi Mewarisi Perajin Perahu Getek
Melihat kondisi ini, Uli pesimistis warisan nenek moyang ini ujung-ujungnya tidak ada lagi yang bersedia melanjutkanya. Dia sendiri melihat dari pola pandang anak-anaknya yang sama sekali tidak berminat menekuni usaha ini.
Pengaruh perubahan zaman dan minimnya pendapatan dari pembuatan perahu getek atau tidak bikin kaya menjadi faktor utamanya. Anak-anak kekinian lebih senang dengan pekerjaan yang menghasilkan uang dari gaji bulanan, bukan usaha sendiri.
"Cuma saya ingin didik anak saya yang sulung jadi juragan perahu getek. Walaupun dia tidak mau jadi tukang atau pembuatnya, tapi harus pandai mengolah bisnisnya, ya bisa dibilang jadi bosnya begitu," harap bapak enam orang anak ini.
Nasib yang sama diutarakan Madun (60), satu-satunya perajin perahu getek yang masih eksis di bantaran Sungai Musi Kelurahan 2 Ulu Palembang. Madun yang sudah 50 tahun sejauh ini belum terpikirkan meninggalkan usaha itu, seperti teman-teman seprofesinya dulu.
Bagi Madun, melestarikan kecakapan yang didapat dari nenek moyang menjadi sebuah kebangaan tersendiri. Dengan maksud menguatkan hati, Madun berpikir tidak sembarang orang juga diberi kemampuan membuat perahu.
Bapak lima anak ini dibilang sudah makan asam garam dalam dunia perahu getek. Sebab sejak SD ia sudah diajarkan ayah dan kakeknya menjadi tukang kayu. Kepandaian itu kini diturunkan kepada dua anaknya yang membuka usaha serupa di kawasan Kelurahan 16 Ulu Palembang.
Namun, tak jarang dia mendapat keluhan dari anak-anaknya tentang minimnya pesanan dan mahalnya harga kayu.
"Saya terus kasih semangat dan sabar, namanya juga usaha pasti ada pasang surut. Tidak mungkin lancar terus, tinggal kita mau tekun atau tidak dan menjaga kualitas," kata Madun.

Berbekal pengalaman dan sudah punya nama, Madun masih tetap dipercaya konsumen dibuatkan perahu getek. Dalam satu bulan, Madun menerima dua pesanan perahu getek.
Meski jumlah pesanan jauh berkurang dari tahun ke tahun, bagi Madun sudah lebih dari cukup untuk sekedar menghidupi keluarganya. Usahanya itu juga bisa membuat dapur seorang pekerjanya mengepul setiap hari.
"Mau lebih itu harapan semua orang, tapi yang ada sekarang kita syukuri saja," kata Madun.
Modal Menipis, Berharap Ada Bantuan dari Pemerintah
Madun menyinggung terbatasnya permodalan. Selama ini, ia dan sesama perajin perahu getek tak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah.
Padahal modal pembuatan perahu itu cukup besar dan tak jarang menjadi kendala perajin. Belum lagi tradisi perahu getek merupakan warisan budaya leluhur sebagai daerah maritim.
"Dari dulu tidak pernah dikunjungi orang pemerintahan, mau kasih bantuan atau tawaran pinjaman modal tidak pernah. Saya bingung kenapa bisa begitu," kata Madun.
"Jadi kami bertahan dengan modal seadanya, pakai uang muka dari pemesan, diputar begitu saja," kata Madun.

Sementara Munandar (27), berharap usaha pembuatan perahu getek tetap dilestarikan. Saat ini perekonomian keluarganya masih bergantung dari usaha itu, meski hanya sebagai buruh harian dari bisnis milik Madun.
Munandar mengaku belum memiliki biaya dan kepercayaan diri untuk membangun usaha sendiri. Butuh waktu cukup lama dalam mengasa keahlian pembuatan perahu getek, mulai dari pemilihan jenis kayu, merangkai, hingga pengecatan.
"Kebetulan baru ikut kerja, sambil belajar gitu, belum siap usaha sendiri, tidak mudah juga," kata Munandar.
Munandar mengaku memilih menekuni tukang kayu karena tidak ada keahlian lain. Lagi pula pekerjaan seperti tukang bangunan sudah sangat banyak sehingga persaingan semakin sulit dalam mendapatkan borongan pekerjaan.
"Ya mudah-mudahan saja usaha ini terus lancar, yang pasti saya masih bergantung di sini. Saya yakin ada saja jalannya," kata Munandar.
Penulis: Irwanto
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id































