Menuju konten utama

Menantikan Listrik Menyala di Pulau Dambila & Pangabatang NTT

Ketika malam tiba, warga masih mengandalkan lampu tenaga surya sederhana, bahkan sebagian keluarga menggunakan pelita untuk menerangi rumah.

Menantikan Listrik Menyala di Pulau Dambila & Pangabatang NTT
Pesisir Pantai Dambila, Desa Parumaan. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai nelayan. (Foto: Mario Sina)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Persoalan layanan dasar masih menjadi pekerjaan rumah bagi warga di wilayah kepulauan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Selain kesulitan mendapatkan air bersih, warga Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, hingga kini belum menikmati akses penerangan listrik.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika malam tiba, warga masih mengandalkan lampu tenaga surya sederhana, bahkan sebagian keluarga menggunakan pelita untuk menerangi rumah.

Keterbatasan tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas rumah tangga, tetapi juga menyulitkan warga untuk menggunakan peralatan elektronik maupun mengisi daya telepon seluler.

Hal itu disampaikan Sumulia, warga Pulau Dambila, saat menerima bantuan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sikka, Kamis (10/9/2026).

Menurut Sumulia, persoalan air bersih sudah lama dirasakan warga Dambila. Tidak adanya sumber air tawar membuat warga harus mengambil air bersih dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

“Kami sudah lama mengalami kekurangan air bersih, di Dambila tidak ada sumber air bersih, air sumur yang ada hanya bisa dipakai untuk mandi dan cuci karena air payau, sementara untuk air bersih untuk makan minum mesti ambil di Desa Kojagete,” ungkap Sumulia.

Kebutuhan Listrik dan Air Bersih di Pulau Dambila

Tampak warga menenteng jeriken air bersih melintasi jalan rabat di Pulau Dambila, Desa Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. (Foto: Mario Sina)

Namun, kata dia, persoalan yang dihadapi warga tidak berhenti pada air bersih. Hingga kini, warga juga belum mendapatkan akses jaringan listrik.

Warga terpaksa menggunakan listrik tenaga surya berupa lempengan panel surya dan aki berkapasitas lima Ampere. Daya yang dihasilkan sangat terbatas dan hanya cukup untuk menyalakan sekitar tiga hingga empat bola lampu pada malam hari.

Sementara untuk mengoperasikan peralatan elektronik rumah tangga maupun mengisi daya telepon seluler, listrik tersebut tidak mampu digunakan.

“Kami berharap kepada pemerintah bantu kami listrik untuk penerangan dulu, sudah bertahun-tahun kami tinggal di Dambila tetapi tetap gelap dari dulu sampai sekarang, jadi sekali lagi kami minta pemerintah bantu kami penerangan listrik,” ungkap Sumulia.

Guru Jamila: Kami di Kepulauan Ini Belum Merdeka

Keterbatasan akses listrik juga dirasakan warga dan tenaga pendidik di Pulau Pangabatang. Guru SDN Pangabatang, Jamila, mengatakan kondisi tersebut membuat aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar mengajar tidak bisa dilakukan secara maksimal.

“Kami di kepulauan ini belum merdeka karena air juga belum ada, listrik juga belum ada. Malam kami harus pakai lampu tenaga surya hanya bisa 3-4 lampu,” ungkapnya.

Jamila mengatakan dirinya sebagai guru juga mengalami kesulitan ketika harus menyelesaikan pekerjaan sekolah di rumah. Karena tidak memiliki sumber listrik yang memadai, pekerjaan tersebut terpaksa dikerjakan di sekolah.

“Kalau saya selaku guru mau melakukan pekerjaan bahan sekolah di rumah tidak bisa, mesti dikerjakan di sekolah karena di sekolah ada genset sekolah,” ungkapnya.

Kebutuhan Listrik dan Air Bersih di Pulau Dambila

Guru Jamila, seorang guru di SDN Pangabatang, Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. (Foto: Mario Sina)

Untuk menghidupkan genset sekolah, pihak sekolah harus membeli bahan bakar. Dalam kegiatan selama satu hari, kebutuhan bahan bakar bisa mencapai lima liter.

“Ada genset sekolah, kami beli bensin, kalau kegiatan satu hari pagi sampai sore minimal satu jerigen 5 liter,” ungkapnya.

Kondisi keterbatasan penerangan juga membuat sebagian warga harus bergantung pada fasilitas listrik tenaga surya milik warga lain.

Jamila menuturkan, dirinya bahkan harus membayar untuk mendapatkan akses penerangan dari warga yang memiliki fasilitas tenaga surya.

“Untuk penerangan listrik lampu tenaga surya, saya nebeng di Bapak Haji mantan Kepsek SDN Permaan untuk 1 bulan mencapai Rp150 ribu. Itu pun pemakaian sampai pukul 10 malam,” ungkapnya.

Kebutuhan Listrik dan Air Bersih di Pulau Dambila

Warga menggunakan lempengan tenaga surya untuk penerangan lampu di malam hari di Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. (Foto: Mario Sina)

Kondisi tersebut dibenarkan Kepala Seksi Pelayanan Pemerintah Desa Parumaan, Karim. Ia mengatakan persoalan kebutuhan dasar di wilayah kepulauan, khususnya Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, telah berlangsung sebelum gempa bumi yang mengguncang Sikka pada 15 Agustus 2026.

Karim menjelaskan selain persoalan air bersih, warga di wilayah tersebut juga masih menghadapi keterbatasan akses listrik.

“Untuk memperoleh air bersih, kita mesti mengambil air bersih menggunakan perahu ke desa tetangga di Kojagete,” ujar Karim.

Menurut dia, kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang dirasakan hampir seluruh kepala keluarga di wilayah tersebut. Khusus Dusun C yang mencakup Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, terdapat lebih dari 200 kepala keluarga.

“Terkhusus Dusun C yang melingkup Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, masalah yang urgen dihadapi warga dan sudah terjadi bertahun-tahun adalah masalah air bersih dan kita sangat kekurangan listrik. Bahkan ade-ade yang belajar menggunakan lampu pelita masih ada,” ungkap Karim.

Kebutuhan Listrik dan Air Bersih di Pulau Dambila

Salah satu rumah warga yang belum ada penerangan listrik di Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. (Foto: Mario Sina)

Karim menegaskan sampai saat ini seluruh kepala keluarga di dua pulau tersebut belum menikmati penerangan listrik seperti masyarakat di wilayah yang telah terjangkau jaringan listrik.

“Semua KK di Pulau Dambila dan Pangabatang belum menikmati penerangan listrik,” ujarnya.

Untuk bertahan dengan kondisi tersebut, sebagian warga menggunakan lampu tenaga surya. Bahkan, kata Karim, ada warga yang harus patungan dengan beberapa keluarga lain agar bisa mendapatkan penerangan pada malam hari.

“Untuk saat ini ada warga yang pakai lampu tenaga surya, bahkan warga patungan 2-3 rumah hanya untuk listrik menyala lampu,” tuturnya.

Karim berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kepulauan.

“Selaku Pemdes Parumaan, pihaknya berharap baik pemerintah maupun yayasan atau pihak lainnya untuk bisa membantu kami di Dusun C untuk bisa mendapatkan akses air bersih dan penerangan listrik,” ungkapnya.

Baca juga artikel terkait LISTRIK atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - News Plus
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Bayu Septianto