tirto.id - Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga memutus pasokan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih. Di Desa Golo Lanak, Cibal Barat, Manggarai, krisis air bersih ini begitu terasa.
Efridus Jerahi, salah satu warga terdampak gempa di Desa Golo Lanak, menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup di tengah reruntuhan tanpa akses air yang memadai.
Desa Golo Lanak memang sudah dilanda krisis air sebelum terjadinya gempa bumi pada Sabtu (15/8/2026). Warga harus menempuh jarak sekitar lima kilometer menuju Desa Latung, desa tetangga yang menyimpan mata air dengan aliran melimpah.
"Memang sumber air (yang melimpah) di Desa Golo Lanak itu tidak ada, maka harus mengambil air dari desa lain yang memang jaraknya lumayan jauh. Itu sumbernya di desa Latung, desa tetangga tapi lumayan," kata Efridus saat ditemui Tirto, Rabu (20/8/2026).
Perjalanan mendapatkan air itu bukan perkara mudah. Jalan rusak dan tanjakan terjal memakan waktu serta tenaga warga yang ingin mendapatkan air bersih. Sebelum gempa, warga masih bisa nekat mengambil air di mata air. Kini, bayang-bayang trauma dan takut akan gempa susulan membuat warga tak berani mendekati area mata air.
Di posko pengungsian, setidaknya butuh 100 liter air per hari hanya untuk memasak dan mencuci piring. Jumlah itu belum termasuk kebutuhan mandi dan sanitasi. Jika ingin mandi, warga harus siap merogoh kocek pribadi.
Bantuan pemerintah yang minim memaksa warga mengandalkan dana pribadi. Satu tandon air berkapasitas besar dihargai sekitar Rp150 ribu. Kualitas airnya pun tidak sepenuhnya sempurna, meski terbilang bersih. Kandungan kapurnya cukup tinggi, hingga menyisakan kerak putih di dasar periuk usai dimasak.
"Ada saat kapurnya sedikit. Kalau kita masak itu tampak di bagian bawah periuk itu ada muncul seperti kapurnya," tutur Efridus.

Namun, di situasi darurat ini tak ada pilihan lain. Untuk urusan buang air di malam hari, jika stok air di WC pengungsian habis, sebagian warga terpaksa lari ke semak-semak atau hutan.
Kebutuhan air mendesak ini menjadi krusial, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Di tengah ketidakpastian, hadirnya uluran tangan dari lembaga kemanusiaan dan yayasan swasta seperti bantuan air kemasan hingga pengiriman tandon air menjadi penyambung asa yang sangat disyukuri oleh warga.
Tanpa rencana pasti dari pemerintah untuk jangka panjang, warga Golo Lanak terancam terus menguras tabungan pribadi demi membeli air bersih.
Efridus berharap pemerintah menyediakan armada kendaraan tangki air yang rutin menyuplai kebutuhan mereka. Bagi mereka, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan penentu bertahan hidup.
"Ya paling tidak kalau memang bantuan dari pemerintah belum sampai ataupun tidak ada, ya, terpaksa kami harus merogoh kocek pribadi untuk pengadaan air. Karena itu (air) kebutuhan yang sangat mendesak," kata Efridus.
Hemat Air demi Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
Tak hanya Efridus, Kamelus Lahut, warga Golo Lanak, yang lain juga terpaksa menghemat air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia bersama keluarganya menggunakan air dari jeriken untuk memasak dan mencuci peralatan di halaman rumah.
Sejak gempa merusak sumber air di desanya, Kamelus dan warga lain bergantung pada bantuan air bersih yang datang tidak menentu. Air bersih kini menjadi barang paling langka. Untuk minum dan masak saja harus diatur, sementara untuk MCK masih menjadi persoalan.
Bagi Kamelus beserta warga kampungnya, air bersih kini menjadi kebutuhan mendesak yang kian sulit didapatkan. Jauh sebelum bencana gempa NTT melanda, urusan memenuhi kebutuhan air sudah menjadi perjuangan tersendiri. Warga harus rela mengantre selama satu hingga dua jam di mata air hanya untuk mendapatkan giliran menimba.
"Sebelum gempa antre 1-2 jam," keluh Kamelus, saat berbincang dengan Tirto, Kamis (20/8/20260).
Guncangan gempa kini memperparah keadaan, sumber mata air utama mereka kini berdampak keras. Air yang biasanya mengalir perlahan kini berubah keruh dan kotor, tak lagi layak dikonsumsi. Rasa takut dan kondisi mata air yang rusak membuat warga sama sekali tidak bisa lagi menimba air ke sana.
"Terdampak di mata air. Airnya tidak bersih kotor selama masa gempa," tutur Kamelus.

Di tengah situasi darurat ini, setiap kepala keluarga sebenarnya hanya membutuhkan sekitar 15 hingga 25 liter air per hari untuk bertahan hidup. Jumlah yang terbilang sederhana itu pun sama sekali tidak terpenuhi sejak gempa terjadi.
Tak ada pilihan lain bagi Kamelus selain menggantungkan harapan pada uluran tangan pihak luar. Dengan penuh harap, ia menyampaikan permohonan terbuka kepada pemerintah.
Kamelus berharap pesan dan jeritan warga kampungnya ini dapat terdengar hingga ke pemerintah pusat, agar bantuan pasokan air bersih bisa segera didistribusikan langsung ke desa mereka sebelum krisis ini makin memburuk.
"Selama gempa di kampung ini kami tidak bisa pergi timba air di mata air. Kami minta tolong kepada pemerintah, tolong bantu kami kirimkan air," harap Kamelus.
1.506 Jiwa Terdampak Krisis Air dan Janji Pemerintah
Sebastianus Mbaik, Kepala Desa Golo Lanak, mencatat sebanyak 383 KK atau 1.506 jiwa warganya kini terjebak dalam ancaman krisis air.
Kerusakan fatal melanda empat titik sumber mata air utama desa membuat aliran air kini berubah keruh, kotor, dan tak lagi layak guna.
"Ada empat sumber titik air karena gempa. Air sudah tidak jernih. Rusak parah efek gempa ini," kata Sebastianus.
Jauh sebelum gempa, masalah air sudah menjadi beban tersendiri bagi warga Golo Lanak. Mereka biasa membeli air dari Desa Latung seharga Rp150 ribu per 1.100 liter--air yang sebenarnya berkualitas kurang ideal karena tinggi kandungan kapur.
Dalam kondisi normal, satu profil air habis dalam enam hari untuk mencukupi konsumsi harian rumah tangga sebesar 180 liter per hari.
Pascagempa, keadaan memburuk secara drastis. Akses menuju lembah tempat mata air berada kini sangat berbahaya akibat ancaman longsor dan guguran batu dari atas bukit. Dusun Gurung 1 dan Gurung 2 menjadi wilayah yang paling kritis terdampak krisis air.
"Kendala akses jalan serta takut karena di pegunungan banyak batu yang jatuh dari bukit ke lembah. Di desa ini semua mata air di lembah," ucap Sebastianus.

Keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2026 membuat pihak desa tak bisa serta-merta mengalihkan dana darurat untuk pengadaan air, karena seluruh anggaran telah teralokasi ketat sesuai petunjuk teknis.
Kementerian Pekerjaan Umum dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026), berjanji mempercepat pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak gempa.
Menteri PU, Dody Hanggodo saat meninjau warga terdampak gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, mengatakan pemenuhan air bersih menjadi salah satu prioritas dalam penanganan masyarakat terdampak bencana.
"Kita pastikan kebutuhan air masyarakat terpenuhi sekarang, sekaligus kita siapkan sumber air yang dapat mendukung kebutuhan mereka dalam jangka panjang," kata Dody dilansir dari Antara.
Andalkan Bantuan Pihak Swasta
Di tengah kebuntuan tersebut, uluran tangan datang dari yayasan kemanusiaan seperti Plan International Indonesia dan Kitabisa, serta aksi solidaritas putra daerah Golo Lanak yang merantau di Jawa, Manado, Papua, hingga Bali.
Bantuan mengalir mulai dari uang tunai, sembako, hingga pasokan air tangki. Plan telah menyuplai sekitar 5.500 liter air, sementara para perantau mengirimkan hingga 27 profil air.
Pasokan tersebut masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar memasak, minum, mencuci, hingga sanitasi di WC darurat yang sebagian besar ikut rusak.
Karena keterbatasan armada dan volume air, pemerintah desa terpaksa menerapkan mekanisme distribusi skala prioritas, mengarahkan pasokan air langsung ke titik-titik dusun yang paling langka, ketimbang membaginya secara merata.
Bagi Sebastianus, berpacu dengan waktu dan keterbatasan anggaran adalah perjuangan nyata demi menjaga ribuan warganya tetap bertahan hidup di tengah trauma pascabencana.
"Kami tidak bagi rata (air), fiber air kurang kami salurkan ke situ. Dusun kurang kasih (salurkan) di situ air," tutur Sebastianus.
Salah satu pihak swasta yang bergerak cepat di Kecamatan Cibal Barat yaitu Plan Indonesia. Mereka menyalurkan bantuan tanggap darurat di lima desa di Kecamatan Cibal Barat, yakni Lenda, Latung, Wae Codi, Timbu, dan Golo Lanak.
Emergency Team Leader Plan Indonesia, Fredrika Rambu, mengatakan tim kemanusiaan memprioritaskan pendampingan bagi pengungsi di titik-titik komunal.
Berbeda dengan posko pengungsian terpusat yang lebih mudah dijangkau bantuan pemerintah, pengungsian komunal mulai dari dua hingga 90 kepala keluarga yang mendirikan tenda swadaya di halaman rumah kerap kesulitan mendapatkan pasokan logistik.
Pasokan air bersih menjadi prioritas paling mendesak. Plan Indonesia menyuplai 22.000 liter air bersih per hari melalui 20 tandon berkapasitas masing-masing 1.100 liter untuk wilayah Cibal Barat. Distribusi ini mengacu pada standar kebutuhan minimal 15 liter per jiwa per hari, dengan fokus perlindungan utama pada anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Selain air, disalurkan pula paket kebersihan (hygiene kit), paket Manajemen Kebersihan Menstruasi, serta shelter kit berisi tikar, selimut, terpal, dan alat penerangan.
Penyediaan perlengkapan sanitasi seperti sabun, handuk, dan sarung menjadi krusial untuk menekan risiko penularan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta batuk pilek yang mulai mengancam pengungsi akibat lingkungan terbuka yang berdebu.
"Kami memang mau memastikan bahwa setiap orang yang ada di pengungsian itu bisa tetap sehat, tetap bersih supaya tidak mendatangkan penyakit atau gangguan lainnya. Karena sekarang itu di beberapa tempat sedang terancam ISPA karena situasinya di luar tenda itu berdebu," kata Frederika, saat ditemui Tirto di Desa Golo Lanak, Rabu (19/8/2026) malam.

Proses distribusi di lapangan menghadapkan tim pada tantangan berat. Akses jalan yang rusak, jembatan yang nyaris putus, serta terbatasnya armada tangki air dari vendor kerap memicu keterlambatan.
Meski demikian, Frederika menegaskan komitmen Plan Indonesia untuk terus mendistribusikan air bersih serta merencanakan pemulihan sarana air permanen dalam jangka panjang. Bagi warga terdampak, keberlanjutan bantuan ini menjadi jaminan keselamatan dan perlindungan mendasar di tengah ketidakpastian pascabencana.
"Akses jalan rusak juga cukup memperlambat untuk distribusi air. Kemudian, kalau untuk dukungan air sendiri itu, memang masyarakat sebenarnya mengeluhkan misalnya lambat. Kami punya vendor tangki air atau yang distribusi air ini cukup terbatas," pungkas Frederika.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































